
Reynand Pov
Siapa yang tidak terkejut melihat pemandangan itu? Sepasang pria dan wanita yang sama-sama kami kenal. Dengan mata dan kepala sendiri, kami melihat pria itu melingkarkan tangan pada pinggang ramping wanitanya. Keduanya terlihat sangat mesra.. Bahkan aku sangat yakin Sheryl pun merasakan hal yang sama. Ia pasti tak kalah terkejutnya dariku.
"Kayla? David?" lirih Sheryl.
Aku mendengar suara lirihnya. "Tunggu sebentar!" kataku. Sheryl seketika mengangguk.
Keterkejutan kami membawa langkahku mendekat kepada mereka. Tak peduli lagi dengan Sheryl yang akan kutinggalkan di tengah galeri, aku meraih pergelangan tangan Kayla. Wanita itu sontak menoleh, menatap dengan keterkejutan yang sama.
"Rey? Sedang apa kau di sini?" tanyanya.
"Ikut aku!" sahutku tak peduli dengan pertanyaannya.
Kayla tampak kikuk. Apalagi saat pandangannya mengedar dan mengarah pada Sheryl yang membeku di tengah galeri. "Kau bersamanya?" tanya Kayla lagi.
Aku tidak menjawab dan malah menarik lengan Kayla, hendak membawanya menjauh. Namun sayangnya, David mencegah tindakanku.
"Kayla … kau mau membawanya ke mana, hah?" Sorot matanya begitu tajam menatapku.
"Aku harus berbicara dengannya." Aku menyahut dengan tatapan yang sama.
"Kau tidak bisa memaksanya, Rey!" katanya dengan pandangan yang sontak mengarah pada tautan tanganku kepada Kayla. Aku mendengus, lalu dengan cepat melepaskan Kayla. Tak sekalipun tatapanku berpaling dari mereka.
"Apa kau juga ingin berbicara dengannya?" tanya David dengan sorot matanya yang berubah menjadi lembut menatap wanita di sampingnya.
"Bisakah kau menungguku sebentar?" balas Kayla dan langsung dijawab dengan sebuah anggukan dari David.
Tanpa berasa-basi lagi, aku menarik Kayla dan membawanya keluar dari galeri Freddy. Kami berdiri tak jauh dari tempat itu. Kayla menarik tangannya lepas dariku. Air mukanya terlihat jengkel memandang.
"Kau sangat aneh. Ada apa sih, Rey?!"
"Kay, aku tidak masalah jika melihatmu bersama dengan pria lain. Tapi dengan dia … ck! Apa kau tidak tahu siapa pria itu?" Aku mulai membuka pembicaraan yang terdengar meledak-ledak.
"David Bintang Berlin. Seorang pengusaha di bidang entertainment. Dia juga seorang produser. Dan aku mengenalnya, Rey."
Mendengar jawaban Kayla membuatku menengadah sedikit frustrasi. "Oh, my God! Dia sudah beristri! Kau tahu?!"
"Salahnya di mana? Tindakanku sekarang tidak jauh berbeda denganmu, Rey. Kau tidak sadar, huh? Kau sedang menghabiskan waktu bersama istri orang lain sekarang." Kayla membalas dengan seringai miringnya. Sindirannya cukup menohok.
"Tidak! Ini sama sekali berbeda, Kay. Sheryl … aku hanya menghiburnya sekarang."
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang ada dalam kepalamu? Kau bilang kalau kau menghibur, tapi di sisi lain aku tahu kau pun mengharapkan balasan cintanya, 'kan?"
__ADS_1
"Tid-"
"Cukup!" Kayla memotong ucapanku. Dia mengarahkan kelima jemarinya tepat di depan wajahku. Pandangannya bergetar menatap dengan kedua sudut mata yang bersiap mengalirkan cairannya. "Kau tahu, Rey? Melihat kalian berdua tadi makin membuatku semakin yakin kalau kalian adalah pasangan yang paling menjijikkan. Aku tidak akan mengharapkanmu lagi. Dan asal kau tahu, David dan istrinya akan segera resmi bercerai."
Deg!
Bercerai?
Sedetik kemudian Kayla memutar tubuhnya berbalik meninggalkanku pergi.
***
Sheryl Pov
Aku rasa, bukan aku saja yang terkejut dengan pemandangan sepasang pria dan wanita yang sangat mesra. Berada dalam satu tempat yang sama dengan kami, David merangkul pinggang Kayla di depan mata kepalaku dan Reynand.
Reynand memintaku menunggunya sebentar. Pria itu berjalan menghampiri Kayla dan David. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkinkah ia cemburu melihat mereka?
Aku ingin menyusulnya, tapi tak bisa. Kaki ini mendadak tak bisa digerakkan. Seolah terpaku di tengah galeri, aku hanya bisa memperhatikan ketiga orang itu berinteraksi. Reynand dan Kayla tampak sedikit berselisih paham, sementara David mencoba ikut campur dalam pembicaraan mereka. Entah bagaimana ceritanya, Reynand tiba-tiba membawa Kayla keluar dari galeri.
Sepeninggal mereka, tak ada kata yang terucap. Aku dan David saling melemparkan pandangan. Suami Felicia itu tampak santai seolah tidak keberatan teman istrinya memergoki ia bersama wanita lain. Oh, ****! Maksudku kami tidak lagi berteman. Aku sudah mencoret namanya dari lingkaran pertemanan sejak ia mencium Baruna.
David tiba-tiba mengulas setengah senyumnya. Tatapan matanya terasa tajam menusuk. Pria itu lalu berjalan mendekat ke arahku.
"Sheryl, apa kabar?"
David menyapa dengan bahasanya yang santai. Tangannya terulur mengajak bersalaman. Aku menarik garis bibirku, meraih telapak tangannya, dan kami pun bersalaman.
"Baik. Bagaimana kabarmu?" Aku mencoba untuk lebih santai menghadapinya.
"Yah, lumayan. Walaupun akhir-akhir ini situasinya sangat berat. Namun aku bersyukur keadaan Rafael yang akhirnya bisa stabil," sahut David mengangguk-angguk, "… dan ini berkat Baruna."
"Baruna?"
Aku teringat Baruna yang masih berada di Jepang. Dia yang berjanji akan pulang setelah kesehatan Rafael menjadi lebih stabil. Dan sayangnya aku tidak menyukai tindakannya itu.
Selang beberapa saat, aku melihat raut wajah David yang berubah. Bola matanya memutar seakan ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Ehm, kalian hanya berdua saja?" tanyanya.
"Aku?" Aku menunjuk diri sendiri tak paham.
"Ya. Kau dan Reynand," sahutnya.
__ADS_1
Dia pasti sudah berpikiran macam-macam terhadapku dan Rey, batinku menebak.
"Ehm ...." Aku sedikit ragu menjawab. Kami memang datang hanya berdua saja, tapi aku benar-benar tak ingin David menganggap kami memiliki suatu hubungan spesial.
"Tak apa jika kau tidak ingin menjawabnya." Pria itu menempelkan kedua tangannya di pinggang, "aku mengerti situasinya." David menambahkan.
Situasinya? Tunggu! Kau tidak benar-benar berpikir kami memiliki suatu hubungan spesial, bukan?
Keningku seketika mengernyit, makin tak paham.
"Maksudmu? Ka-kau pasti sudah salah paham."
Bukannya menjawab, David malah menarik senyum kecilnya. Dengan cepat pria itu berbalik melangkah pergi seolah ingin menghindari pertanyaanku.
Jantungku berdegup kencang. Rasa penasaran yang merasuk dalam dada seketika membuat benakku tak nyaman. Aku harus meluruskannya.
"Tunggu, David! Apa maksudmu?"
Aku mengejar David. Memanggilnya dengan suara yang cukup keras. Pria itu akhirnya berhenti. Dengan cepat membalik badannya kembali.
"Aku rasa, posisi kita sama, Sheryl. Aku dan Kayla, lalu kau dengan kakak iparku itu." Sebelah alis lebatnya terangkat.
"Tidak! Kau salah paham."
David sepertinya tidak peduli dengan ucapanku. Dia malah menambahkan suatu pernyataan, "Hanya satu yang membedakan aku dan kau,"
Apa lagi ini? Apa maksudnya? Aku benar-benar tidak sepertimu dan Felicia!
Aku terus berucap dalam hati. Menyanggah tiap pernyataan yang mungkin melintas dalam pikiran pria ini. Pandanganku bergetar menatap, menunggu David menanggapi sanggahanku.
"Aku sudah memilih untuk melepaskan Fely. Membiarkan ia mengejar pria yang membuatnya tergila-gila sesuka hatinya."
Apa aku tidak salah mendengar? Melepaskan Fely?
"Kalian tidak benar-benar akan bercerai, 'kan?"
____________________
Hai! Selamat tahun baru semuanya! Semoga tahun ini kita semua bisa lebih produktif lagi. Rejekinya makin lancar dan berkah. Amiiin.
Sampai jumpa di bab selanjutnya!
with love,
__ADS_1
Viviani