
Sheryl Pov
"Atau malah baru akan dimulai?" Reynand memotong perkataan seraya meraih pergelangan tanganku dengan cepat. Pandangannya menajam menatap.
"Sudah kukatakan sebelumnya, bukan? Hubungan kita tidak akan pernah berhasil. Maka jangan pernah memulainya!" tegasku kepadanya.
"Kenapa?"
"Karena... karena aku sudah memiliki pacar dan saat ini kami telah tinggal bersama!"
Napasku terengah mengatakannya. Sedikit kebohongan pasti akan membuat ia menyerah dan tidak mengungkit hubungan kami. Aku yakin itu. Dan benar saja, perlahan pandangan mata yang tajam itu meredup. Tatapannya berubah kosong. Reynand melepaskanku.
"Pergilah!" katanya tanpa memandangku.
"Rey...."
"Kubilang pergi dari hadapanku!"
Teriakannya sungguh mengagetkan. Dengan cepat, aku pun berbalik dan pergi dari apartemennya.
Ya! Tindakanmu sudah benar, Sheryl. Seharusnya setelah ini ia tak bersikeras lagi dan cepat pulang ke Indonesia, batinku.
***
Reynand Pov
Duniaku runtuh. Rasanya seperti diguncang gempa berkekuatan tinggi. Kakiku gemetar dan lemas. Tak sanggup berdiri. Aku melangkah mundur terduduk di sofa.
"Tidak mungkin. Ia tidak mungkin secepat itu memiliki kekasih lain. Dia tak mungkin melupakanku. Aku dapat melihatnya dengan jelas pada tatapan matanya. Sheryl pasti berbohong. Ya! Dia pasti berbohong."
Aku bergumam menghibur diri. Namun di antara perasaan itu, aku merasa apa yang dikatakannya tidak benar. Jika benar, aku sungguh tak bisa menerima perkataannya sama sekali. Lalu untuk apa lagi berlama-lama di sini?
Aku meraih ponselku, menghubungi Wisnu.
"Nu...."
"Ya, Rey?"
"Nu, dia bilang dia udah punya pacar." Aku berkata lirih.
"Sheryl?" Wisnu bertanya balik.
"Ya. Dia baru saja menolakku lagi. Dia bilang dia punya pacar dan mereka hidup bersama di sini."
"Tuh 'kan gue bilang apa, huh? Udah, jangan lama-lama lagi di sana! Setelah urusan lo sama Tuan Amancio selesai, buruan pulang."
"Tapi, Nu... dia kayaknya bohong, deh."
"Bohong gimana, Rey? Pikiran lo aja kali."
"Enggak. Cara dia menatap itu belum berubah. Dia masih sama. Kalau udah punya yang lain gak mungkin gitu, 'kan?"
"Lo kayak gak tahu Sheryl aja, Rey!"
Aku membuang napas panjang. "Begitukah, Nu?"
__ADS_1
"Ya."
Tak lama, aku pun mengakhiri panggilan itu. Seraya menggigit bibir penuh rasa kecewa.
"Aku harus mencari tahu kebenarannya," gumamku.
***
Hari beranjak malam saat aku meninggalkan Diamond Smith Company. Sheryl duduk di kursi kemudi, mengantarku pulang. Ya, Tuan Amancio masih menyuruhnya melayani kebutuhanku selama di London.
Aku melirik Sheryl dari pantulan spion tengah. Dia tampak serius mengemudi. Tak sekalipun mengajakku berbicara. Setelah pengakuannya yang meragukan kemarin, Sheryl memang berubah. Mungkin dia berusaha menghindariku.
Aku berdeham kecil hingga membuat wanita itu melirik lewat cara yang sama. Namun hanya sepersekian detik ia kemudian mengarahkan pandangannya lagi ke depan. Jelas ia berusaha untuk tak peduli.
"Siapa nama kekasihmu?" Aku mencoba mencairkan suasana dingin di antara kami.
"Hah?" sahutnya terdengar kaget.
"Iya, aku tanya siapa nama kekasihmu?" Aku mengulang pertanyaan.
"Oh...." Sheryl terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab tergagap, "Ja-James."
"Orang Inggris asli?" Aku bertanya lagi.
"Ehm...." Matanya mendelik, tampak berpikir keras, "ya. Dia besar di London," jawabnya.
Aku mengangguk-angguk dengan bibir mencebik. "Apa pekerjaannya? Lebih hebat mana jika dibandingkan denganku, huh?!" sahutku sedikit kesal karena dia menyebut nama pria lain.
"Tidak akan bisa dibandingkan. Dia bukan pengusaha sepertimu."
"Ya. Dia seniman."
"Oh... ternyata seleramu berubah, ya?"
"Maksudmu?"
"Ah, tidak." Aku menggeleng sambil menyunggingkan senyum kecut, "aku minta maaf atas kejadian kemarin. Aku tak bermaksud mengusirmu."
"Tak apa. Aku mengerti."
"Kau tidak mengerti," sahutku yang langsung membuat ia terdiam seribu bahasa. Suasana di dalam mobil kembali hening. Aku membuang napas panjang, berusaha untuk tenang beberapa saat, "bisakah kau menepikah mobilnya sebentar?"
"Untuk apa? Kita belum sampai apartemenmu." Sheryl bertanya bingung.
"Tepikan saja. Bukankah aku bosnya saat ini?" jawabku jumawa.
Sheryl tak menyahut lagi. Dengan cepat menepikan kendaraannya di tepi jalan. Aku turun dari mobil, membuka pintu kemudi Sheryl.
"Biar aku yang menyetir," kataku.
"Tapi...." Sheryl hendak menolak.
"Tak akan kuadukan kepada Tuan Amancio," kataku yang akhirnya membuat Sheryl menurut, "duduk di sampingku!"
"Hah?" Wanita itu mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ck! Kau masih mengerti bahasa Indonesia, 'kan?"
"I-iya." Sheryl mengangguk cepat. Dia beranjak duduk di sampingku.
Aku menyeringai melihat raut wajahnya yang tampak seperti orang bodoh. Tanpa membuang waktu segera mengambil alih kemudi.
Selang beberapa lama kemudian, Sheryl tampak bingung mengamati jalan raya. Dia menoleh kepadaku.
"Rey, ini bukan jalan menuju apartemenmu. Apa kau tersesat?" katanya.
"Memang bukan!" jawabku singkat. Segera membelok ke sebuah bangunan apartemen lain yang lokasinya lebih dekat dari bangunan apartemenku.
"Siapa yang memberi tahumu tempat tinggalku?"
"Siapa lagi? Tentu saja Tuan Amancio." Aku menarik senyum tipis.
"Haish! Sial!" kesalnya.
"Tak masalah bukan jika aku tahu di mana kau tinggal?"
"Maksudmu?"
"Ya, sebagai orang yang saling mengenal dan sama-sama memiliki masa lalu yang buruk, bukankah kita juga harus saling bersikap baik?"
"Rey...." Air muka Sheryl tampak sedikit merajuk.
"Aku haus! Minumannya habis." Aku beralasan.
"Ck! Ya, sudah. Kalau begitu sebentar saja, ya!"
Meski jantungku berdegup tak karuan, aku mengiyakan perkataannya. Bagaimanapun kemungkinan besar aku akan bertemu dengan seorang pria bernama James. Namun sebisa mungkin aku ingin menahan diriku agar tidak terpancing emosi karena melihat pria lain di sampingnya.
Sheryl mengajakku ke unit apartemennya. Aku berdiri di belakangnya, menunggu ia menekan sandinya. Dan akhirnya pintu itu terbuka.
Begitu ingin tahu kebenaran itu, aku segera memperhatikan segala sisi ruang unit apartemennya. Pada rak sepatunya yang terbuka, tak ada satu pun sepasang sepatu pria. Gantungan mantel di dekat pintu pun seperti itu. Hanya ada mantelnya, tak ada mantel seorang pria. Bahkan di segala sisi dinding ruangan dan nakas, tak ada satu pun foto mereka berdua. Benar-benar tak ada tanda-tanda atau barang-barang yang mengindikasikan ada seorang pria tinggal di apartemen yang sama.
"Kau mau minum apa?" tanyanya yang langsung membuat pandanganku mengalih ke arahnya.
"A-air putih saja," jawabku tergagap.
"Baiklah. Kau duduklah dulu," timpalnya lalu beringsut meninggalkanku.
Dia tinggal sendirian. Sheryl berbohong! batinku kesal.
Tak lama, Sheryl kembali. Dia membawa sebuah botol mineral dan menyajikannya. "Minumlah."
Aku hanya memandang botol itu tanpa menyentuhnya. Sheryl yang duduk di depanku mengernyit.
"Mengapa kau tidak meminumnya? Bukankah tadi kau bilang kau haus?"
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya cepat. "Mengapa kau senang sekali mempermainkan perasaanku?!" Aku bertanya dengan nada marah.
Sheryl tampaknya mengerti pertanyaanku. Air mukanya seketika berubah bingung sekaligus takut. Namun ia tak langsung menjawabnya. Hal itu makin membuatku makin geram.
"Mengapa kau tak menjawabku?"
__ADS_1