Marriage Order

Marriage Order
S3 Publikasi


__ADS_3

Sheryl Pov


Seketika aku beralih mengarahkan pandangan ke depan. Irene berdiri tepat di depan kami. Bola matanya bergerak menuju tautan jemari kami. Sesaat ia tampak bingung, kemudian dengan cepat menunduk sopan.


"Pagi, Pak Rey," sapanya dengan suara sedikit tertahan. Pasti ia heran melihat kami datang bersama ke tempat ini sambil bergandengan tangan. Padahal di sisi lain aku sudah mewanti-wanti keras ia agar bisa menjaga rahasia.


"Pagi." Reynand tersenyum samar.


"Ngapain lo di sini?" tanyaku. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling tak berbobot di dunia. Ya, kehadirannya tentu saja membuatku salah tingkah saat ini.


"Mau makanlah! Lo kira ngapain gue ada di resto bubur ayam pagi-pagi?"


"Kirain...."


"Gue–"


Irene sontak mengatupkan mulutnya saat ia hendak menjawab. Reynand menunjuk salah satu meja.


"Sher, tunggu aku di sana."


"Ya, Rey."


Reynand beranjak menuju pria di meja kasir. Aku menarik cepat Irene ke meja kosong yang ditunjuk Reynand.


"Ren, lo harus duduk di sini sama gue dan Rey!"


"Idih! Ngapain gue jadi obat nyamuk di sini? Makan di depan orang pacaran...." Irene mendengus tertawa.


"Ya-ya... lo mesti temenin gue, Ren!"


"Gila lo! Ada Pak Reynand. Dia 'kan pacar lo sekarang, Sheryl."


"Ya, gue tahu, tapi apa lo nggak liat? Orang-orang itu matanya langsung ke arah gue. Entah apa yang mereka pikirin. Seorang lajang dan janda adiknya...." Aku mulai dengan beberapa prasangka negatif yang mungkin saja membuat orang-orang bergosip tentang kami. Bagaimana tidak? Mereka langsung tampak berbisik dan tertawa dengan orang di sampingnya.


"Mikirin amat! Sebelum lo jadian, lo harusnya udah tahu bakal ada kejadian kayak begini."


Aku membuang napas berat dan tak lagi berkomentar. Reynand datang dan langsung duduk di meja yang sama. Pria itu tanpa ragu meletakkan telapak tangannya di punggung tanganku. Sontak Irene mendelik takjub. Bola matanya bergerak kembali pada telapak tangan Reynand yang menempel di sana.


Aku berbisik di telinga Reynand, "Tidakkah ini terlalu terang-terangan? Kau tidak takut mereka akan membicarakan kita?"

__ADS_1


Reynand membalasku dengan suaranya yang penuh percaya diri, "Apa kita perlu menggelar konferensi pers untuk hubungan kita ini?"


Aku sontak menepuk dahi, tak dapat berkata-kata. Sikap Reynand yang tanpa ragu menunjukkan hubungan kami setelah mendapat restu dari Papa tak dapat kucegah. Itu memang dirinya. Pria penuh percaya diri.


"Aku tak meminta makan dari orang-orang yang membicarakan kita. Jadi sudah seharusnya kau berpikir dan bertindak hanya untuk kebahagiaan kita saja," tambah Reynand lagi. Kali ini menyahut dengan suara yang terdengar lumayan keras. Sepertinya, ia sengaja membuat para karyawan Pradipta yang berada di sekitar meja kami menutup mulut mereka.


"Pak Reynand benar, Sher!" timpal Irene yang menanggapi kekasihku itu. Sedetik kemudian, ia berdiri menundukkan kepalanya, "sa-saya rasa, saya harus segera kembali ke meja saya. Selamat menikmati sarapan kalian."


"Ren!" Aku memanggil, tapi wanita itu bahkan tak menoleh. Ia segera kembali ke mejanya dan berbicara dengan beberapa karyawati dari departemennya yang menunggu sejak tadi.


"Kau malu mengakuiku sebagai kekasihmu?" Reynand tiba-tiba bertanya dengan suara pelan.


"Bukan. Bukan begitu, Rey!" Seketika aku menoleh.


"Lalu?"


"Seperti yang kukatakan sebelumnya. Restu itu belum sepenuhnya kita dapatkan. Ibumu masih membenciku. Lalu...."


"Lalu apa, huh?"


"Aku tak ingin mereka menjelek-jelekkanmu karena menjalin hubungan denganku."


"Kau benar-benar...."


"Mengapa kau terus saja risau dengan statusmu itu? Aku bahkan tak peduli jika harus berkencan dengan nenek-nenek sepertimu!" Reynand mencebik kesal. Suaranya menggelegar di tengah-tengah restoran bubur yang tadinya berisik berubah menjadi begitu sunyi.


Aku sangat malu. Mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan cengiran yang pastinya tampak aneh di hadapan mereka. Reynand yang masih kesal tiba-tiba bangkit dari duduknya. Ia menatap satu per satu pelanggan restoran yang duduk di sekitar kami dengan sorot matanya yang dingin.


"Saya dan Sheryl saling mencintai. Saya akan sangat berterima kasih jika kalian menghormati hubungan kami dengan tidak menggosipkannya. Dan sebagai rasa terima kasih saya, kalian tak perlu membayar semua menu yang kalian pesan."


Suara lantang Reynand yang tadinya menciptakan kesunyian berubah menjadi riuh karena pidato singkatnya. Para karyawan Pradipta yang berada di sana sontak berteriak berterima kasih dan bahkan menyelamati kami.


Apa aku yang terlalu berpikiran negatif tentang mereka?


.


.


.

__ADS_1


Bukan hanya di restoran bubur ayam. Reynand juga melakukan aksi terang-terangannya itu begitu kami menginjakkan kaki di lobi. Kami berjalan beriringan begitu dekat hingga membuat orang yang melihat membulatkan mata mereka. Bagaimana tidak? Sebelah tangan Reynand yang kokoh melingkar bebas pada pinggangku seolah tak ingin lepas barang semenit saja.


"Rey, ini berlebihan," kataku kembali berbisik.


"Not for me. Mereka harus tahu kalau kau adalah milikku." Ia membalas seraya tersenyum manis.


"Kita selamat di restoran bubur, bukan berarti selamat juga di sini," sahutku.


Belum sempat menjawab, suara dehaman keras seorang wanita terdengar dari arah belakang. Aku menoleh dan dalam waktu setengah detik membelalak menyadari siapa yang ada di sana. Tante Aina berjalan di belakang kami. Matanya melirik tajam lalu melewati kami begitu saja.


Aku memejam sesaat. Setelah ini sangat yakin akan mendapatkan tegurannya karena bermesraan dengan Reynand tanpa melihat-lihat situasi dan kondisi.


"Mama tak akan menegurmu hanya karena melihatku memeluk pinggangmu. Bukankah aku pernah melakukan hal yang lebih dari ini?"


Oh, ****! Aku tak dapat membalasnya. Reynand benar-benar berbeda hari ini.


Aku buru-buru mencengkeram pergelangan tangan Reynand. Memaksa ia untuk mengurai pelukan pinggang itu. Reynand akhirnya menurunkan lengan, beralih meraih jari jemariku dan menautkannya dengan cepat.


"Kau tak melihatnya? Dia ibumu!" Aku sangat panik.


"Terus kenapa? Mama tahu kita berpacaran."


"Astaga, Rey! Ini kantor," sahutku gemas.


"Iya, ini kantor. Aku tak mengatakan kalau ini apartemenku."


"Kau lupa perjanjian kita?"


"Tentang menyembunyikan hubungan kita di kantor?" jawabnya dengan alis mengernyit.


"Ya. Kau sudah merusak perjanjian kita sejak di restoran tadi."


"Aku rasa, ini memang sudah saatnya. Aku ingin orang-orang tahu bagaimana hubungan kita, Sher. Aku ingin mereka tahu kau adalah calon istriku."


"Ya, tapi bukankah ini jadi keterlaluan? Tindakanmu tadi pasti membuat ibumu makin berpikiran yang tidak baik kepadaku!" protesku kemudian menarik tanganku lepas dari Reynand. Aku buru-buru menyusul Tante Aina yang sedang berdiri menunggu di depan lift.


"Saya minta maaf atas ketidaksopanan saya barusan, Bu. Saya tidak mengulanginya." Aku menunduk dengan mata memejam kuat.


"Aku harap Mama tak menyakiti Sheryl lagi hanya karena pemandangan tadi."

__ADS_1


Bukannya mendengar suara Tante Aina, aku malah mendengar ucapan Reynand kepada ibunya. Tubuhku menegak, menoleh langsung pasangan anak dan ibu kandung itu bergantian. Tak ada kata yang terlontar dari mulut Tante Aina. Ia langsung masuk ke dalam lift begitu pintunya terbuka.


__ADS_2