Marriage Order

Marriage Order
Give Me A Chance


__ADS_3

Hari demi hari berlalu begitu cepat. Pagi ini seperti biasa sinar mentari masuk malu-malu ke dalam sela-sela jendela kamar. Sang mentari membangunkanku dari tidur yang nyenyak. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku membuka mata lalu menggeliat malas.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan dari balik pintu kamar. Aku beranjak bangun masih berpiyama berwarna hijau dan rambut yang berantakan, membukakan pintu kamar dengan malas.


"Selamat pagi!" Kak Baruna hadir di depan mataku.


"Kakak! Tunggu sebentar," pekikku terkejut lalu menutup pintu secepatnya.


Kenapa pagi-pagi di hari libur ini pun aku harus bertemu dengan pria itu? Tidak bisakah aku santai menikmati hariku sendiri? Fandy saja sudah beberapa hari tidak datang karena ada tugas luar kota. Dia menghubungiku hanya sesekali dalam kesibukannya.


Aku bergegas mandi, berpakaian, dan sedikit bersolek di depan cermin. Setengah jam kemudian aku melangkah keluar kamar mendapati Kak Baruna masih berdiri di samping pintu kamar menungguku.


"Hai!" sapanya dengan wajah ceria.


"Hai kakak!" Aku mengangkat kedua sudut bibirku tersenyum.


"Hari ini kamu akan aku ajak ke suatu tempat."


"Ke mana?" tanyaku.


"Seperti yang Bundaku katakan kemarin, Bunda menyuruhku membawamu ikut ke butik."


"Tunggu-tunggu, siapa yang bilang aku sudah siap bertunangan denganmu?"


"Sudah ikut saja. Bunda sudah menunggu." Kak Baruna menarik lenganku. Aku tidak bisa menghentikan gerakannya yang secepat kilat itu.


Tidak beberapa lama, kami sudah berada di dalam mobil. Perjalanan menuju butik lumayan menyita waktu. Bukan tempatnya yang jauh tapi kami juga harus terjebak dengan kemacetan ibu kota. Mobil lalu berhenti di sebuah perempatan jalan karena lampu merah lalu lintas menyala.


Aku mengerang kesakitan. Perutku terasa perih sekali. Aku memegangi perutku yang sakit. Sepertinya radang lambungku kumat. Kak Baruna menoleh padaku, menyadari suara dan raut wajahku yang mulai kesakitan.


"Kamu kenapa?"


"Perutku sakit, Kak. Sepertinya maagku kambuh." Aku meringis kesakitan.


"Aduh maaf ya, Sher. Harusnya tadi kamu sarapan dulu. Aku malah cepat-cepat mengajakmu pergi." Raut wajah Kak Baruna menunjukkan penyesalan. "Tahan sebentar, aku belikan kamu obat," tambahnya.


Saat lampu lalu lintas berganti warna hijau, Kak Baruna segera menginjak gasnya lalu mencari sebuah apotek. Mobil dikemudikan perlahan mengamati setiap ruko yang berada di sepanjang jalan raya.


Di sebuah ujung jalan, akhirnya kami menemukan sebuah apotek. Kak Baruna segera turun berjalan masuk ke dalamnya. Selang beberapa lama dia keluar dan memberikanku sekantung penuh obat.


"Banyak sekali obatnya. Tidak salah?" Aku terbelalak.


"Karena aku tidak tahu obat apa yang harus dibeli, jadi aku tanya apoteker dan dia memberikanku semua obat itu. Kubeli saja semua," sahutnya menahan tawa.


Aku mencari obat yang biasa aku minum untuk meredakan radang lambungku. Untung saja aku menemukannya dan segera meminumnya.


"Bagaimana? Sudah lebih baik?" tanyanya kemudian, masih dengan raut wajahnya yang cemas.


"Iya lumayan," jawabku.


"Baguslah. Kita bisa mencari tempat untuk makan terlebih dahulu," ujar kak Baruna lagi.

__ADS_1


Tidak lama kemudian kami tiba di sebuah restoran yang terletak dekat dengan butik yang akan kami tuju. Kami pun singgah untuk makan terlebih dahulu.


Saat kami memesan menu yang kami inginkan, Kak Baruna memperhatikan suasana di sekeliling tempat kami duduk. Di dekat kami terlihat sekelompok ibu-ibu yang sedang bersenda gurau. Sepertinya sedang ada acara arisan. Suara tawanya yang menggelar terbahak-bahak sangat menggangu orang lain di sekitarnya.


"Sher, nanti kamu akan menjadi ibu-ibu seperti itu," celotehnya terkekeh.


Aku menyunggingkan senyum kecil tidak suka dengan celotehannya itu. Pandangan mataku tertunjuk pada seorang bapak-bapak dengan perut buncit dan berkepala botak di tengahnya.


"Kamu yang akan jadi seperti bapak itu kelak." Aku tertawa kecil.


"Biarlah yang penting kamu yang jadi pendampingku nanti. Hahahaha," katanya tertawa.


"Jangan harap," cibirku.


Kak Baruna masih saja tertawa membuat orang lain menoleh ke arah kami.


"Hei aku serius. Tidak lucu tahu!"


"Aku tidak peduli," sahutnya santai.


"Oke baiklah, tapi jangan salahkan aku jika besok Fandy melamarku dan kakak yang akan merasa sakit hati."


"Yakin sekali lamaran kekasihmu diterima. Ingat tidak lama lagi dia akan pergi ke Jepang," jawab Kak Baruna.


"Jangan-jangan Kakak yang menugaskan Fandy ke Jepang?" tanyaku spontan.


"Tidak. Itu keputusan rapat direksi. Dia memang memiliki kemampuan."


Aku menarik nafas lega. Aku pikir dia terlibat dengan ini semua. Hampir aku berpikiran negatif padanya. Tidak lama setelahnya makanan kami datang membuat kami tidak sabar untuk segera memakannya.


"Anakku, kenapa baru datang? Bunda sudah menunggu lama di sini."


"Maaf Bun, tadi kami jalan-jalan dulu," jawab Kak Baruna.


"Baguslah. Jalan-jalan memang bisa mengakrabkan hubungan kalian. Oh iya, kenalkan ini Melani. Dia yang merancang semua gaun-gaun di sini,"


"Melani." Melani menyodorkan tangannya bersalaman.


"Sheryl," jawabku menyambut salamnya.


"Baruna," tambah Kak Baruna.


"Berdasarkan perkataan Ibu Meri, di sini saya sudah pisahkan beberapa gaun yang kira-kira kamu akan suka sebagai referensi," Melani menjelaskan.


Aku memandang gaun-gaun yang memang begitu indah dipandang mata itu. Model yang simpel, warna yang kalem tapi juga berkilauan saat melihatnya. Aku jatuh hati seketika.


"Kenapa dipandang saja? Silakan kamu coba satu-satu, Sher," ujar Tante Meri.


Aku mengangguk lalu melangkah dan memilih sebuah gaun berwarna coklat muda. Melani pun mencopotnya dari patung manekin dan membawanya ke ruang ganti untuk dicoba.


Aku mencoba gaun itu. Begitu pas di tubuhku. Tidak terlalu seksi dan membuatku merasa anggun. Aku sangat menyukainya. Aku benar-benar lupa pada tujuan awalku menolak pertunangan itu. Wanita memang gampang teralihkan pikirannya.


Drrt ... drrt ... drrt ....

__ADS_1


Ponselku tiba-tiba berbunyi, tapi aku tidak memedulikannya.


Aku melangkah keluar mengenakan gaun itu. Kak Baruna dan Tante Meri menatapku terpaku kemudian tersenyum.


"Wah gaun itu cocok sekali denganmu, Nak. Kamu terlihat cantik." Tante Meri berdecak kagum. "Menurut kamu bagaimana, Bar?" tanya Tante Meri.


"Aku sih ikut saja Bun." Kak Baruna memalingkan wajahnya yang memerah melihat penampilanku.


"Apa kamu mau coba yang lainnya?"


"Aku pilih ini saja, Tante," jawabku.


"Ya sudah, yang ini saja, Mel," tambah Tante Meri.


"Baik Bu. Untuk Mas Baruna, Melani sudah menyiapkan berbagai macam model jas yang cocok. Di sebelah sini," Melani melangkah ke sebuah tempat khusus pakaian laki-laki. Kami pun mengikutinya.


"Menurut kamu yang mana Sher?" bisik Kak Baruna.


"Hmmm .... Aku lihat dulu." Aku melihat semua koleksi pilihan yang sudah direkomendasikan lalu memilih salah satunya.


"Ini saja!" Aku menunjuk sebuah jas dengan warna senada.


Melani mencopot jas tersebut dan memberikannya kepada Kak Baruna untuk dicoba.


Ponselku terus saja berbunyi. Aku meraih ponselku dan melihat nama Fandy di layar.


Oh my God, aku melupakan dia. Bagaimana ini? Di satu sisi aku merasa bersalah. Satu sisi lainnya aku menikmati momen ini.


Aku menggeser lambang telepon berwarna hijau menjawab panggilannya.


"Ada apa Fan?" tanyaku.


"Kenapa kamu menjawab teleponku seperti itu? Kamu tidak merindukanku?"


"Iya, tentu saja aku rindu," bisikku.


"Mengapa berbicara bisik-bisik? Sedang dengan siapa sih?"


Tiba-tiba Kak Baruna memanggilku, "Sher, ini cocok kan?"


Aku menengok ke belakang melihatnya memakai jas tersebut. Aku terpaku kagum. Ketampanannya meningkat dua kali lipat. Padahal dalam kesehariannya pun dia sudah memakai setelan jas.


"Halo Sher, itu suara siapa? Katakan padaku kalau kamu sedang tidak bersama bosku itu!" nada suara Fandy mulai meninggi bersiap meledakkan amarahnya.


"Nanti kutelepon lagi." Aku buru-buru menutup telepon. Kebingungan menyeruak masuk ke dalam hatiku. Bagaimana aku harus menjelaskan kepadanya?


Maafkan aku Fandy.


______________________


Baruna Adrian Asyraf


__ADS_1


Sheryl Novia Cantika



__ADS_2