Marriage Order

Marriage Order
S2 Akhirnya Kamu Bangun, Sayang


__ADS_3

Tiga hari kemudian ....


Aku sedang memulas bibir di depan meja rias dengan lipstik berwarna merah. Setelahnya, memakai anting-anting pemberian Kak Baruna di kedua daun telingaku dan terdiam sejenak. Memandang pantulan bayangan di cermin. Tiba-tiba teringat kembali dengannya yang masih dalam kondisi tidur sampai hari ini.


Sayang, aku merindukanmu. Kapan kamu akan bangun dan mencariku?


Sungguh, aku merindukannya. Sedetik saja tidak bertemu dengan pria itu, hatiku merasakan kekacauan yang amat sangat. Apalagi harus menghadapi pria yang sangat egois dan terus-terusan mengganggu hidupku. Bahkan berani mengancam dan memberikan waktu untukku berpikir mengenai status hubungan kami kelak seperti apa. Tidak akan ada yang berubah dari hubungan antara mantan bos dan mantan karyawan. Aku sungguh tidak berminat menjalin hubungan dengannya. Walaupun aku sempat tergoda dan masih merasakan penyesalan yang tiada ujungnya.


Kak Baruna, dia akan selalu menjadi laki-laki yang aku inginkan. Saat ini hanya dia yang aku inginkan. Hanya dia yang aku yakini dapat memberikan kebahagiaan untukku. Namun, aku tidak tahu sampai kapan dia akan tertidur di sana.


Aku akan setia menunggu. Bahkan, kalau bisa aku tetap berada di sana menunggui dirinya sepanjang hari yang mungkin saja akan bangun sewaktu-waktu. Hanya saja, Tante Meri menolaknya. Dia tidak ingin rutinitas hidupku terganggu. Walaupun dia mengizinkanku menunggui anaknya dalam jangka waktu yang cukup lama.


Aku meraih tas tangan berwarna hitam dari atas meja dan keluar kamar. Semua keluargaku sudah duduk menunggu di meja makan. Segera, mendudukkan tubuh di kursi dekat Mama. Papa tiba-tiba menoleh ke arahku. Menatap wajahku dengan serius.


"Sheryl, sebenarnya Papa akhir-akhir ini memikirkannya. Papa berpikir untuk kemungkinan terburuk jika Baruna benar-benar akan meninggal. Perusahaan tetap harus membayar hutang itu, walaupun nantinya masa depan perusahaan akan jadi taruhan."


"Sebenarnya berapa jumlahnya, Pa?" tanyaku.


"Sembilan ratus lima puluh triliun," jawab Papa membuatku mengelus dada.


Banyak sekali!


Aku menelan ludah mendengar jawaban Papa. Uang sebanyak itu sama sekali tidak pernah terbayangkan olehku. Kak Reza tampak terdiam sambil menikmati sarapannya.


"Pa, kita tidak perlu membicarakan hutang pagi hari seperti ini," tegur Mama.


"Biar Sheryl tahu, Ma."


"Iya, lalu kalau sudah tahu mau bagaimana? Baruna saja belum bangun dari koma," ucap Mama.


"Makanya, Papa sudah memikirkan hal ini. Kalau tiba-tiba saja anak itu meninggal, kemungkinan perusahaan akan membayar semua hutang. Tidak bisa dipungkiri mungkin juga akan bangkrut. Papa tidak tahu bagaimana lagi mempertahankannya," jelas Papa.


"Iya, Mama tahu. Dia 'kan juga sudah mengerti bagaimana posisinya," sahut Mama.


"Kalau Baruna sudah sadar, cepat-cepatlah menikahkan mereka. Agar hutang bisa lunas. Mantan bos Sheryl juga, dia itu nekat orangnya, Pa. Dia bisa saja dengan mudah membuat Sheryl jatuh ke pelukannya." sela Kak Reza sambil mengunyah dua lembar roti berisi selai kacang.


"Reynand?" tanya Papa.


"Siapa lagi? Pria itu tertarik dengan anak perempuan Papa."


Papa bergeming tidak menanggapi Kak Reza. Wajahnya jadi terlihat serius. Entah, dia memikirkan apa.


Aku pun hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka. Pikiranku bertambah rumit. Merasa tersindir, tidak karuan rasanya. Saat ini, hanya ingin menghilang saja dari dunia.


"Aku sudah tidak berselera. Aku pergi duluan, Pa, Kak." Aku segera bangkit berdiri. Meraih tas tangan yang akan dibawa ke kantor.


"Dek!" Kak Reza memanggilku. Namun, aku tidak menghiraukannya. Terus berjalan cepat hingga teras rumah.


Pak Erwin yang melihatku, segera datang menghampiri dan bertanya, "Non, mau diantar ke kantor sekarang?"

__ADS_1


Aku mengangguk. Supir pribadi keluargaku itu lalu memanaskan mesin mobilku yang sudah lama tidak kupakai. Aku menunggu sambil duduk di teras dan menggerutu.


Haruskah mereka membuat mood-ku tidak baik padahal hari masih pagi? Aku tahu aku salah. Aku tahu semua terjadi akibat diriku yang tidak berpendirian. Orang itu sudah berhasil menjebol dinding pertahananku.


Tidak lama sebuah mobil yang sangat kukenal masuk begitu saja ke halaman rumah. Mobil Pak Reynand.


Mengapa di hari seperti ini, dia sudah datang ke rumah? Padahal tiga hari ini dia tidak menggangguku. Aku pikir dia sudah menyerah.


Lelaki itu keluar dari mobilnya berpakaian rapi dengan kemeja putih bergaris dan celana hitam panjangnya. Begitu gagah memesona siapa pun yang melihatnya.


"Pas sekali. Ayo saya antar ke kantor!" katanya sambil menghampiriku.


"Mau apa ke sini?"


"Mengantarmu. Apa lagi?" sahutnya.


Lelaki itu tiba-tiba saja meraih lenganku. Aku terpaksa bangkit berdiri.


"Tunggu! Saya akan pergi sendiri. Mengapa kamu begitu memaksa?" tolakku seraya menarik lenganku kembali dengan paksa.


Pak Reynand melepaskan genggamannya. Langkahnya kemudian terhenti. Dia membalikkan badannya menatap wajahku heran.


"Karena kamu calon istri saya, Sher. Jadi mungkin saya akan sering datang ke sini," ucapnya sambil tersenyum.


"Pak Rey, sadarlah! Saya tidak akan pernah menerimamu," seruku kesal.


"Jangan membuat semuanya menjadi bertambah rumit," ucapku lagi.


"Tanpa kamu mengatakan hal itu, saya sudah tahu, kalau semuanya sudah menjadi rumit. Bahkan sudah banyak hal yang saya korbankan untuk mencapai titik ini."


Aku memejamkan mataku sejenak gemas. Tiba-tiba Mama, Papa, dan Kak Reza keluar rumah bersamaan melihat kami yang sedang bertengkar. Papa menatap tajam ke arah Pak Reynand.


"Sedang apa kalian berdua?"


Aku dan Pak Reynand sontak menoleh ke arah ketiga orang anggota keluargaku yang tengah berdiri di depan pintu. Papa dan Mama memandang datar wajah Pak Reynand. Hanya Kaka Reza yang tidak bersahabat melihatnya. Raut wajahnya terlihat kesal. Namun pria di hadapanku ini malah tersenyum kecil.


"Pagi, Tante, Om, dan Reza."


"Pagi," sahut Papa.


"Pagi," sahut Mama.


Kak Reza diam, tidak menjawab. Aku memalingkan wajahku. Situasi yang sangat aneh berada di sini. Namun, lelaki di hadapanku malah menanggapinya dengan santai.


"Kalau boleh, saya ingin mengantar Sheryl."


"Enggak boleh!" timpal Kak Reza.


Pak Erwin yang tiba-tiba berjalan ke arahku, sontak dihampiri oleh Kak Reza, "Pak Erwin, biar saya saja yang mengantar Sheryl. Sini kuncinya! Nanti Bapak antar Papa saya saja."

__ADS_1


Pak Erwin memberikan kunci mobilku. Kak Reza meraih tanganku dan menarikku masuk ke dalam mobil meninggalkan Pak Reynand, Papa, dan Mama yang masih berdiri di sana.


Kak Reza memasang sabuk pengamannya. Dia menginjak gas mobilnya seketika. Tidak lama, mobil pun keluar halaman rumah.


"Huh .... Benar-benar nekat sekali mantan bosmu itu. Jangan-jangan kamu yang meminta untuk dijemput?"


"Jangan sembarang menuduh! Kami tidak ada hubungan seperti itu."


"Siapa tahu saja," ejeknya.


"Kakak, tolong jangan terus mengejekku."


"Merasa, huh?" katanya.


Aku tidak menjawab. Makin dilayani akan membuatnya makin jadi. Tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Sebuah panggilan dari Tante Meri. Aku pun menjawab panggilannya.


"Sheryl kamu di mana, Nak?"


"Di mobil. Dalam perjalanan ke kantor."


"Baruna ... dia baru saja sadar," katanya dengan suara parau karena terlalu banyak menangis.


Aku terkesiap mendengar perkataan Tante Meri. Tanpa terasa, bulir air mataku jatuh. Kak Reza yang melirik ke arahku sontak menepikan kendaraannya.


"Sher ...," panggil Tante Meri.


Aku buru-buru menyeka air mataku.


"Aku segera ke sana, Tante."


Tante Meri memutus panggilannya. Aku menoleh ke arah Kak Reza. Kakakku itu menatapku bingung. Dia mengerutkan keningnya.


"Kak, ayo ke rumah sakit. Kak Baruna sudah sadar!" seruku dengan mata berbinar.


Kak Reza melihatku tidak percaya. Dia pun memutar setirnya berbelok arah ke rumah sakit. Melaju dengan kecepatan penuh. Hatiku merasa sangat lega dan bahagia mendengar kabar itu.


Setengah jam kemudian, kami tiba di halaman parkir rumah sakit. Aku dan Kak Reza berjalan terburu-buru, tidak sabar menuju ruang ICU.


Kami melangkahkan kaki menuju ruang tunggu ICU, kemudian melihat Tante Meri dan Om Anton sedang duduk di sana.


"Tante ...," panggilku lirih.


Tante Meri menolehkan pandangannya tertuju pada kami. Beliau melihat ke arahku dan Kak Reza sambil tersenyum lebar. Aku dan Kak Reza lalu bersalaman dengan kedua calon mertuaku itu.


"Bagaimana Kak Baruna?" tanyaku tidak sabar sambil memeluk Tante Meri.


"Kamu bisa melihatnya sendiri di dalam," sahutnya, lalu melepas pelukannya.


Aku mengerlingkan mata ke arah Om Anton. Dia mengangguk mengizinkanku dan Kak Reza masuk ke dalam ruang ICU.

__ADS_1


__ADS_2