Marriage Order

Marriage Order
S3 Pesimis


__ADS_3

Sheryl Pov


Aku membuang napas panjang, beranjak dari meja, mendekap beberapa map yang akan kuserahkan kepada Tante Aina. Bola mataku menatap lurus pada pintu besar ruangannya. Ada sedikit rasa ragu, tapi aku buru-buru menghilangkannya. Bagaimana tidak? Aku tak akan pernah lupa dengan apa yang terjadi.


Langkahku terhenti tepat di depan pintu. Ingatan itu tiba-tiba melintas kala Reynand membawaku ke dalam ruangan ibunya.


Padahal belum ada kalimat yang meluncur dari mulut Reynand, tapi dengan cepat tatapan menghunus Tante Aina langsung mengarah kepadaku.


"Apa yang ia lakukan di sini?" tanya Tante Aina tanpa menyebut namaku dari bibirnya.


"Sheryl akan menjadi sekretaris Mama," sahut Reynand dengan sebaris kalimat yang tampak langsung membuat otot mata ibunya menegang.


Aku menarik senyum tipis, menunduk dengan sopan. Namun, tak tampak reaksi positif yang terlihat dari raut Tante Aina.


"Lawakan apa lagi ini, Rey?" Tante Aina menyeringai miring pada putranya.


"Aku serius. Sheryl akan menjadi sekretaris Mama." Reynand menjawab dengan lugas.


Tante Aina bangkit dari duduknya. Raut dengan tarikan napasnya membuat tubuhku sedikit gemetar memandangnya. Ia pasti akan meluncurkan perkataan yang membuatku sedih sekaligus kesal.


"Jadi ini usahamu agar Mama bisa menerima Sheryl?" Tante Aina mengangkat sebelah alisnya. Wanita dengan penampilan elegan itu seolah dapat membaca maksud kami berdua.


"Entahlah. Aku tidak ingin menganggap ini sebagai sebuah usaha. Mama sendiri yang memintaku mencarikan seorang sekretaris pengganti. Jadi, aku memutuskan untuk memilih Sheryl. Bagaimanapun, ia pernah bekerja denganku. Aku akan sangat bersyukur jika kalian bisa dekat dengan cara ini. Aku ti–"


"Hal itu tidak akan pernah terjadi!" Dengan cepat Tante Aina memotong perkataan Reynand. Pandangannya yang tajam seketika mengarah kepadaku, "Sheryl, kau harus mendengarkan ini. Saya tidak akan pernah luluh dengan cara seperti ini. Ingat itu!"


Rasanya suaraku tersangkut kala ingin meluncurkan satu kalimat balasan. Kepalaku sontak mengangguk pelan. Entah mengangguk untuk apa. Semuanya adalah ideku. Tak mungkin mundur begitu saja.


"Jadi Mama tak mungkin menolaknya, 'kan?" Reynand bertanya dengan setengah senyumnya.


"Terserah!" Wajah itu melengos, membuangnya jauh dari pandangan kami. Namun, aku dapat melihat bagaimana ketidaksukaannya terhadapku seperti sosok yang harus dijauhi.


Lamunan itu buyar. Satu minggu. Hari ini tepat satu minggu aku bekerja dengannya. Aku harus menghadapi sikap tak acuhnya setiap hari. Betapa pelitnya satu kata terlontar dari bibir tipis itu. Ia lebih sering mengirimi pesan chat untuk memerintahku. Seperti beberapa menit yang lalu, ia menyuruhku membawakan beberapa laporan dan proposal bisnis yang ditawarkan untuk perusahaan.


Aku memegang handel pintu, hendak membukanya. Namun tiba-tiba saja pintunya bergerak cepat, tertarik dari dalam. Dalam sekejap, Tante Aina sudah berdiri dengan tas yang tergantung di tangan kanannya.


"Minggir," ucapnya dingin.

__ADS_1


Aku buru-buru menarik diriku dari hadapannya, memberikan ia akses untuk berjalan.


"Ibu Aina...," kataku dengan panggilan resmiku untuknya di kantor.


Langkah Tante Aina terhenti. Ia menoleh ke belakang. Tanpa sahutan, sebelah alisnya seketika terangkat, menungguku untuk berbicara.


"Anda mau ke mana? Siang ini, tak ada jadwal meeting di luar kantor dengan siapapun."


Tak ada jawaban. Seperti wanita bisu yang memiliki gunung es di dalam hatinya. Astaga! Tuhan, bagaimana cara mencairkan gunung itu?


"Maksud saya, saya takut ada yang mencari Anda saat Anda tak ada di tempat. Apa perlu saya temani?"


"Tidak perlu. Hubungi saya saja bila ada sesuatu yang penting!"


Setelah mengatakan hal itu, tanpa berbasa-basi Tante Aina meninggalkanku yang mencoba menghela napas panjang berkali-kali.


"Sampai kapan ia akan seperti itu?" gumamku segera membalik badan menaruh seluruh map yang kubawa ke atas mejanya.


Saat hendak berbalik, suara nada dering ponsel terdengar. Mataku tertuju pada ponsel Tante Aina yang tergeletak di atas meja. Nama yang tak asing terlihat di sana.


Dering itu pun terhenti. Tak lama, bunyinya terdengar lagi dengan si penelepon yang sama.


"Apa ada hal yang sangat penting hingga Ayah menelepon Tante Aina dua kali?"


Sebuah niat terbesit hendak mengangkat panggilan masuk itu. Namun saat hendak meraihnya, aku mendengar seseorang membuka pintu. Seketika jantungku berdegup kencang.


"Sheryl, Mama mana?"


Suara Reynand!


Aku berbalik, lalu mengedikkan bahu. "Pergi, tapi beliau tidak bilang akan pergi ke mana," jawabku.


Reynand berjalan ke arah meja. "Haish! Kenapa ia tak membawa ponselnya?" Segera, ia meraih ponsel Tante Aina yang masih berdering dengan lantangnya, "halo, Yah."


Reynand menjawab panggilan dari ayahnya itu. Tak peduli dengan pembicaraan mereka, aku pun bergegas melangkah, hendak kembali ke mejaku. Namun saat kaki ini hendak melangkah, ia menahan. Tangan Reynand dengan cepat meraih lenganku. Dengan raut wajahnya mengisyaratkanku untuk tetap berada di sana.


"Ya, Ayah. Nanti akan kusampaikan kepada Mama," pungkasnya lalu mematikan panggilan itu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyaku.


"Entahlah. Ayah hanya bilang ingin bertemu Mama dan membicarakan sesuatu hal yang penting."


"Oh ... lalu kenapa kau menahanku?" Aku mengarahkan pandangan pada lenganku.


Reynand buru-buru melepaskanku. Dia memasang senyum manisnya. "Apa kau tidak merindukanku, huh?"


"Kita bertemu setiap hari, Rey." Aku menjawab pertanyaan itu dengan cepat karena takut ada yang melihat kami berdua di ruangan ini.


"Haish! Mengapa kita harus merahasiakan hubungan kita, sih?"


"Karena itu harus! Aku tak ingin orang-orang membicarakanmu. Kau ini lajang, sedangkan aku...." Bibirku seketika bergetar.


"Memangnya kenapa? Toh, kita menjalani hubungan dengan serius. Aku akan menikahimu."


"Iya kalau mendapatkan restu, kalau tidak bagaimana? Kita akan putus. Aku dan kau akan dicap buruk di perusahaan. Selain itu, sikap ibumu juga belum berubah terhadapku."


"Mengapa kau jadi pesimis? Kau tidak yakin kita akan menikah?" Kening Reynand mengerut. Ia melangkah maju, mendekat.


"Entahlah. Satu minggu ini aku sudah mengerjakan tugasku sebagai sekretarisnya dengan sangat baik, tapi ia tak juga memandangku."


"Mama membentakmu?"


"Tidak." Aku menggeleng, "hanya saja, aku jadi merasa tak berguna, Rey."


Reynand tak menyahut. Dengan cepat mendekapku ke dalam pelukannya. Pelukan ajaib yang selalu dapat menenangkanku.


"Apa kau mau mundur?"


Mendengar perkataannya, aku segera menarik diri. Menatapnya dalam-dalam. "Tidak. Sudah sejauh ini. Aku tak mau melepasmu. Aku mencintaimu, Rey."


"Kalau begitu, antar ponselnya sekarang." Reynand menarik senyumnya. Memberikanku ponsel ibunya.


Aku balas tersenyum, meraih benda pipih itu. Namun saat hendak berjalan keluar, Reynand menarik lenganku kembali. Sebuah kecupan mendarat di dahiku, kemudian menurun hingga bibir. Tindakannya membuat jantungku seperti akan meledak. Merah padam terpaku dalam tatapannya yang lembut.


"Semangat, Sayang! Aku akan selalu mendukungmu," ucapnya seraya mengusap kepalaku.

__ADS_1


__ADS_2