Marriage Order

Marriage Order
First Time


__ADS_3

Malam makin larut. Aku dan Kak Baruna masih berada di restoran milik temannya. Kami menikmati hidangan makan malam kami. Tidak lama kemudian, Kak Daniel kembali bersama dengan seorang wanita. Mereka berjalan menghampiri kami sambil bergandengan tangan mesra.


"Cie romantis banget sih lo berdua," goda Kak Baruna saat mereka sampai di hadapan kami.


Mereka hanya tersenyum menanggapi godaan Kak Baruna lalu duduk bersamaan. Berhadapan dengan kami.


"Apa kabar, Bar?" tanya wanita itu.


"Baik, Dir. Lo gimana?"


"Masih bahagia kok. Hahaha."


"Lo kapan nikah? Udah jadi bujangan tuwir, enggak nikah-nikah sampai sekarang." Kak Daniel terkekeh.


"Sebentar lagi, tunggu aja undangan dari gue." Kak Baruna membalas tak mau kalah. Matanya memandang ke arahku. Aku menunduk malu.


"Eh, beneran lo mau nikah sebentar lagi?" tanya Kak Daniel tidak percaya.


"Ya gitu deh," jawab Kak Baruna dengan wajah bersemu merah.


"Selamat ya, Bar. Enggak nyangka gue akhirnya lo akan melepas lajang juga."


"Iya, Niel ... makasih," ujar Kak Baruna tersenyum.


"By the way ini Indira istri gue, Sher." Kak Daniel mengenalkan istrinya.


Indira mengulurkan tangannya kepadaku. Kami pun saling bersalaman.


"Sheryl," ucapku.


"Gimana makanannya? Enak enggak?" tanya Indira.


"Enak dong. Kalo enggak enak, gue enggak mau ke sini lagi, Dir," jawab Kak Baruna terkekeh.


"Gue nanya cewek lo, bukan tanya lo, Bar," semprot Indira.


"Enak kok." Aku tersenyum.


"Baguslah kalau enak. Sering-sering main ke sini," tambah Kak Daniel.


"Iya tapi gue enggak bisa janji. Kerjaan lagi banyak banget."


"Iya deh tahu yang sibuk. Hati-hati loh Sher, Baruna ini masalah pekerjaan bisa jadi nomor satu dan pacar jadi nomor ke sekian. Bisa-bisa dicuekin setiap hari. Hahaha," selorohnya sambil tertawa. Aku yang mendengar candaannya ikut tertawa.


"Ya enggak gitulah, Niel. Enak aja lo! dapetinnya susah terus gue cuekin gitu aja! Hahaha." Kak Baruna tertawa.


Aku berhenti tertawa saat mendengar jawaban Kak Baruna. Sepertinya dia bahagia sekali. Bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu. Wajahku pun langsung bersemu merah malu.

__ADS_1


"Hahaha .... Bercanda gue, Bar. Jangan marah dong. Lo jangan lupa undang gue kalo nikah. Awas enggak undang-undang."


"Iya, Niel. Tenang aja sih."


Para lelaki itu lalu saling mengobrol banyak hal. Indira ikut menemaniku mengobrol. Pasangan suami istri ini adalah teman kampus Kak Baruna. Mereka sudah dekat sejak lama. Dari obrolan kami, aku baru tahu ternyata Indira adalah seorang pengusaha kuliner sejak lama. Restoran ini adalah restoran miliknya dan suaminya.


Indira sesekali menoleh dan ikut mengobrol dengan para lelaki itu. Mereka tidak kunjung berhenti berbicara. Aku masih canggung berada di antara mereka.


"Santai aja, Sher. Mereka emang begitu kalo udah ketemu, ngobrol panjang lebar. Pasangannya dicuekin. Kelihatan banget lo enggak nyaman."


"Iya maaf, Kak."


"Panggil gue Indira aja. Umur gue dan lo gak beda jauh. Oh iya, kenal Baruna di mana?"


"Dia temen kakak. Reza namanya. Apa lo kenal, Dir?"


"Reza sahabat Baruna?"


"Iya."


"Iya pasti kenal. Kami masih satu kampus dulu. Mereka sampai dibilang pasangan saking dekatnya hubungan mereka. Pergi ke mana-mana pun berdua."


"Segitunya?" Aku tidak percaya.


"Iya. Dua-duanya jomblo sampai lulus. Padahal banyak yang mau sama mereka. Beruntunglah lo yang jadi sama Baruna. Dia enggak neko-neko orangnya."


"Gitu ya?"


"Kak Baruna bukan pacar gue, Dir."


"Jadi kalian enggak pacaran?" Indira terkejut.


"Kami akan tunangan sebentar lagi. Gue dijodohin sama Kak Baruna."


"Dijodohin? Aduh maaf ya, gue enggak tahu."


"Iya enggak apa-apa kok."


Indira lalu berhenti berbicara. Dia mulai menggoda Kak Baruna dan suaminya.


"Bar, ada cewek di sini jangan dicuekin lama-lama dong, mentang-mentang ketemu temen lama," bisik Indira menepuk bahu Kak Baruna.


Kak Baruna menoleh ke arah Indira berkata, "Iya ya, gue hampir lupa," kata Kak Baruna.


"Sher maaf ya aku jadi lupa sama kamu. Apa kamu sudah mau pulang?" tanya Kak Baruna.


"Ayo pulang, Kak. Aku capek banget hari ini."

__ADS_1


"Ya udah kita pulang sekarang," ajak Kak Baruna, "Niel, Dir, gue sama Sheryl pamit pulang ya. Kasian dia udah capek abis pulang kerja," pamit Kak Baruna.


"Iya. Hati-hati lo berdua. Udah larut malam," ucap Kak Daniel.


"Iya hati-hati ya. Jangan kapok ya main ke sini," kata Indira menambahkan sambil mengecup pipi kanan dan kiriku.


"Iya. Makasih ya."


Aku dan Kak Baruna pun melangkah keluar dan bergegas pulang. Di dalam perjalanan, aku hanya diam tidak ada yang ingin aku katakan mengingat tubuhku sangat kelelahan. Tidak lama kemudian tanpa sadar aku tertidur pulas di dalam mobil Kak Baruna.


Dua puluh menit kemudian kami sampai. Aku masih tertidur nyenyak. Kak Baruna membuka sabuk pengamannya dan sabuk pengamanku.


"Sher, kita sudah sampai."


Suara Kak Baruna membangunkanku dari tidur. Aku membuka mata. Mataku langsung melihat wajahnya yang sedang memandangku tepat di depan wajahku. Sangat dekat membuatku sedikit berdebar.


"Pulas sekali tidurmu. Rasanya ingin kugendong tanpa membangunkan kamu sampai dengan kamarmu." Kak Baruna tersenyum.


"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, Kak." Aku mendorong bahunya agar menjauh dariku.


"Ya-ya maaf, itu hanya sebuah kejujuran yang ingin aku katakan saat ini. Masih ngantuk?"


"Iya sedikit. Ya sudah aku pulang dulu. Terima kasih sudah mengantarku. Kakak hati-hati di jalan." Aku membuka pintu mobil dan mulai berjalan menjauhi mobilnya.


Kak Baruna juga membuka pintu mobilnya lalu menyusulku dan berkata, "Kamu meninggalkanku begitu saja? Aku akan mengantarmu sampai depan pintu."


"Iya terserah Kakak," jawabku masih berjalan.


"Sher .... Sheryl!" panggilnya.


Aku yang mendengar panggilannya sontak menghentikan langkah dan memutar tubuhku hingga kami saling berhadapan. Kak Baruna melangkah maju memelukku. Aku terkesiap tidak bisa mengelak. Tubuhku seakan setuju dengan tindakan Kak Baruna.


"Tolong biarkan aku sebentar saja seperti ini. Aku hanya butuh sedikit kekuatan untuk menjalani esok hari. Lima menit? enggak, aku hanya butuh dua menit."


Aku diam tidak membalas pelukannya. Aku tidak tahu maksudnya. Tapi kemudian perlahan aku mulai membalas pelukannya. Tanpa sadar pelukannya yang erat dan hangat membuat hatiku bergetar.


Kak Baruna melepas pelukannya. Dia jadi terlihat salah tingkah di depanku. Aku juga ikut malu memandang wajahnya.


"A-Aku pu-pulang dulu ya," pamitnya terbata-bata.


"Iya Kakak hati-hati di jalan."


"Besok aku tidak bisa jemput. Aku ada perjalanan keluar kota dengan Kakek."


"Iya. Aku bisa pergi sendiri," jawabku.


"Terima kasih untuk hari ini." Kak Baruna memandangku dengan senyumnya.

__ADS_1


"Sama-sama, Kak."


Kak Baruna lalu pergi meninggalkanku. Aku memandang punggungnya yang perlahan hilang saat masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian aku masuk ke dalam rumah.


__ADS_2