Marriage Order

Marriage Order
Rasa Nyaman


__ADS_3

Aku masih berada di lobi kantorku duduk memandang hujan yang tidak kunjung reda. Pertemuanku dengan Fandy barusan mungkin adalah pertemuan terakhirku. Anehnya aku tidak mengeluarkan air mata setetes pun. Hubungan kami yang berakhir hanya membuatku menyisakan rasa marah dan kecewa terhadapnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Gedung kantor yang tadinya masih sedikit ramai semakin lama semakin sepi tidak berpenghuni. Pak Wira menghampiriku.


"Mbak Sheryl belum dijemput juga?"


"Belum Pak."


"Udah sepi banget, Mbak. Saya saja sudah mau pergantian shift."


"Iya, Pak. Baiklah, kalau begitu saya pamit duluan." Aku memutuskan untuk beranjak pergi melangkah keluar gedung.


Hujan turun makin deras. Taksi sudah menunggu di depan lobi. Aku baru saja akan menaiki taksi saat aku tiba-tiba melihat mobil Kak Baruna berhenti tepat di belakang taksi. Kak Baruna turun dari mobilnya melambaikan tangannya dengan tubuh dan pakaian basah kuyup. Tidak hanya itu, aku juga melihat ada banyak noda merah darah menempel di kemeja putihnya.


Astaga! Kak Baruna kenapa? Apa dia terluka? Tapi kelihatannya dia tidak kesakitan.


Aku terkesiap melihatnya. Raut wajahku pun tidak bisa menyembunyikan kecemasan.


Dia berjalan menghampiri sopir taksi yang kupesan, tidak lama setelahnya sopir taksi itu pun pergi. Hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Dia dua kali mengusir sopir taksi pesananku.


Kak Baruna menghampiriku yang masih berdiri di luar lobi. "Ayo pulang!" ajaknya.


"Kakak kenapa?" tanyaku bingung seraya mengerlingkan mataku ke arah kemejanya.


Kak Baruna yang mengerti akan pertanyaanku langsung menjawab, "Nanti aku jelaskan di mobil."


Kak Baruna menggandeng tanganku, kami berdua masuk ke dalam mobil. Dia memasangkan sabuk pengamanku. Mobil pun berjalan bersamaan dengan derasnya hujan yang menyambut kami.


Di dalam mobil bau anyir darah mengganggu penciuman hidungku. Aku teringat akan noda darah di baju Kak Baruna itu. Aku menoleh ke belakang, baunya semakin menjadi. Namun aku tidak mengacuhkannya.


"Maaf aku telat menjemputmu."


"Iya Kak. Kakak kenapa bisa kuyup seperti itu? Dan itu noda darah apa?"


Kak Baruna melirik kemejanya, "Maaf kalau kamu terganggu dengan noda dan bau amis darah di dalam mobil ini. Jadi, saat dalam perjalanan ke kantormu, aku melihat kecelakaan lalu lintas, korban tabrak lari. Karena tidak ada yang memedulikan, aku langsung turun membantunya dan mengantarkannya ke rumah sakit."


"Mengapa tidak mengabariku?"


"Maafkan aku, Sher. Kebetulan aku baru menyadari kalau ponselku tertinggal di ruanganku dan aku tidak bisa menghubungimu. Untung saja aku hafal nomor telepon asistenku. Jadi, aku bisa minta tolong antarkan ponselku ke rumah sakit saat itu juga," jelas Kak Baruna panjang lebar.

__ADS_1


"Oh, lalu bagaimana keadaan korban tabrak lari itu, Kak?"


"Tadi sudah ditangani di IGD. Sekarang masih ditemani Pak Wicak. Aku minta tolong dia urus semuanya," tambahnya lagi.


"Syukurlah kalau sudah ditangani. Aku pikir terjadi apa-apa dengan Kakak, ditelepon tapi tidak diangkat. Kirim pesan pun tidak dibalas."


"Tenang saja, kondisiku baik-baik saja 'kan? Kamu sudah makan malam belum?"


"Belumlah Kak. Aku 'kan menunggumu dua jam. Lama loh itu," protesku.


"Iya maafkan aku, Sher. Nanti kita makan dulu ya."


"Lalu kemejamu bagaimana? Tidak mungkin makan di tempat umum memakai kemeja bernoda darah seperti itu. Sudah basah ... nanti Kakak malah sakit." Aku melirik kemejanya lagi.


"Iya ya .... Oh iya, tolong ambilkan paper bag yang ada di belakang itu!" ucap Kak Baruna.


Segera, aku mengambil paper bag yang ditunjuknya. Aku melongok isi kantung tersebut. Sebuah kemeja berwarna hitam dan sebuah celana panjang yang masih terbungkus plastik. Terlihat masih ada label harga jualnya.


"Kemeja dan celana baru, Kak?" tanyaku.


"Iya, tadi aku minta tolong dibawakan juga oleh Pak Wicak. Untungnya masih keburu juga menjemputmu."


"Iya, masih keburu. Tapi aku sudah mau meninggalkanmu tadi."


Tidak lama kemudian Kak Baruna menepikan kendaraannya di bahu jalan. Dia membuka bungkusan kemejanya dan mulai membuka kancing kemeja yang masih melekat di tubuhnya satu per satu.


"Berhenti! Kakak jangan buka baju di sini!" Aku berteriak sambil menutup mataku dengan kedua telapak tangan.


"Kenapa?"


"Aku malu."


"Ya, jangan lihat," jawabnya cuek sambil berusaha melepas semua kancing kemejanya dan menggantinya dengan kemeja baru.


"Celanaku juga basah. Sebentar, aku ganti dulu. Kamu jangan intip, ya," katanya lagi.


"Ish ... percaya diri sekali! Siapa juga yang mau mengintip," kataku dengan mata yang masih menempel dengan telapak tangan.


"Sudah! Kamu bisa buka matamu," ucap Kak Baruna saat ia selesai mengganti kemeja dan celananya.

__ADS_1


Aku membuka mataku, menoleh ke arahnya sejenak lalu memandang lurus kembali ke depan. Aku tidak ingin melihatnya terlalu lama, bisa-bisa dia akan merasa sok ketampanan. Namun sebenarnya aku benci kenyataannya kalau dia memang laki-laki tampan.


Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Kak Baruna terlihat fokus dengan kemudinya dan tidak banyak bertanya.


"Aku sudah benar-benar putus dengan pacarku." Aku mulai membuka pembicaraan.


"Kenapa? Kamu 'kan yang paling bersikeras ingin bersama dia?"


"Semuanya tidak seindah yang diharapkan. Jujur aku kecewa dia ...." Aku tidak melanjutkan kata-kataku. Kata-kata yang ingin keluar terasa tertahan di tenggorokan. Lidah pun rasanya kaku, tidak bisa melontarkan satu kata pun.


"Jangan kamu teruskan kalau itu terasa berat untukmu. Aku masih di sini bersamamu, Sher."


Aku tidak bisa menahan pilu yang sedari tadi kutahan mati-matian, pada akhirnya aku menangis tersedu-sedu di hadapan Kak Baruna. Tadinya aku pikir, aku tidak akan menangis lagi untuknya, tapi ternyata aku salah. Lagi-lagi Kak Baruna melihatku menangis seperti ini. Rasanya, aku menjadi wanita yang lemah di depannya.


"Kali ini aku biarkan kamu menangisi dia lagi. Tapi ini adalah yang terakhir. Aku tidak akan segan-segan mencarinya dan memberikannya pelajaran jika dia membuatmu menangis lagi," ucap Kak Baruna.


Sepuluh menit kemudian kami sampai di sebuah restoran makanan barat. Niel Western Restaurant namanya. Restoran ini terlihat ramai di malam hari. Halaman parkir mobil hampir penuh saat kami tiba di sana.


"Sudah menangisnya?" Kak Baruna menoleh ke arahku dengan senyumnya yang khas.


"Iya, Kak," jawabku dengan suara serak.


"Ayo kita keluar. Pasti kamu lapar. Biasanya kalau emosi dan menangis perut akan terasa lapar," ujar Kak Baruna mengajakku turun dari mobil.


Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Dia membuatku nyaman untuk kedua kalinya hari ini. Kami masuk ke dalam restoran itu lalu duduk di sebuah meja yang masih kosong lengkap dengan tulisan nama "Baruna".


"Hai Bar, gimana kabarnya?" Seorang pria seumuran Kak Baruna menghampiri kami.


Kak Baruna menoleh asal suara yang menyapanya. Terlihat sosok seorang lak-laki tinggi dengan rambut bermodel undercut menyapa kami. "Lo gimana, Niel? Restoran lo makin rame aja."


"Ya lumayanlah, Bar. Gue baik-baik aja. Gue kaget dong bilang lo mau ke sini. Udah lama banget lo enggak dateng. Gue pikir sendirian, eh sama cewek." Pria itu melirik ke arahku. Aku memasang senyum melihat pria itu.


"Oh iya, Daniel ini Sheryl. Sheryl ini Daniel, temen kampusku." Kak Baruna memperkenalkan kami berdua.


"Daniel." Kak Danie mengulurkan tangannya.


"Sheryl." Aku menyambut tangannya, saling bersalaman.


"Lo bisa pesen dulu mau makan apa. Nanti kita ngobrol lagi. Gue ke dalam sebentar panggil istri gue."

__ADS_1


"Oke makasih ya, Bro," ucap Kak Baruna.


Kak Daniel lalu meninggalkan kami berdua. Kami pun kembali duduk di meja yang sudah disiapkannya.


__ADS_2