Marriage Order

Marriage Order
Pulang


__ADS_3

Hari Senin telah tiba. Seharusnya aku kembali bekerja hari ini. Namun, apa mau dikata, tubuhku belum sepenuhnya kembali sehat. Aku masih harus beristirahat walaupun hari ini dokter sudah mengizinkanku untuk pulang. Sekarang pun Mama sedang berkemas barang-barang yang hendak dibawa pulang.


Drrt-drrt-drrt!


Ponselku bergetar di atas nakas. Aku segera mengambilnya. Sebuah panggilan dari Kak Baruna.


"Sayang, maaf aku tidak bisa menjemputmu hari ini. Ada meeting pagi-pagi sekali."


"Iya, tidak apa-apa. Aku mengerti, Sayang."


"Siapa yang menjemputmu?"


"Ada Kak Reza. Hari ini dia akan telat datang ke kantor. Papa pun sudah mengizinkannya."


"Baiklah. Hati-hati di jalan. Aku mencintaimu."


"Iya, sayang. Begitu pun aku juga mencintaimu."


Kak Baruna menutup teleponnya. Aku membantu Mama membereskan barang-barang.


Tiba-tiba masuk seorang wanita cantik ke dalam kamar. Aku membelalakkan mataku melihat sosok itu. Kayla berjalan menghampiriku.


"Selamat pagi!" katanya.


"Kayla?!" Aku melihatnya tidak percaya.


"Iya, kamu pikir siapa?"


"Kamu tahu dari mana aku dirawat?"


"Dari Rey," jawabnya. Dia mengamatiku yang juga mengamatinya tidak percaya kalau model cantik ini bisa ada waktu menjengukku yang hanya remahan roti croissant tidak berarti. "Kenapa melihatku seperti itu, Sher? Aku benar-benar tulus menjengukmu."


"Ah tidak, hanya saja aku tidak percaya kalau model papan atas bisa datang khusus menjengukku."


"Kamu sedang meragukan pertemanan kita?"


"Oh ayolah Kay, aku serius. Aku tahu jadwalmu padat," sahutku lalu menoleh ke arah Mama. "Ma, kenalkan dia Kayla, kekasih Pak Reynand."


Mama mengerlingkan matanya ke arah Kayla. Dia meninggalkan kegiatannya sejenak. Melihat wanita cantik itu sambil tersenyum kemudian memeluknya.


"Senang bertemu denganmu Kayla. Tante tidak menyangka kalau kekasih Reynand begitu cantik seperti model," ujarnya.


"Mama, dia memang model," selaku tertawa.


Kayla yang mendengar perkataanku lalu ikut tertawa. Mama menoleh ke arahku dengan rona merah malu karena dia tidak tahu sama sekali.


"Mungkin aku belum cukup terkenal, Sher. Tidak apa-apa Tante, tidak perlu malu seperti itu. Aku pun biasa saja. By the way melihat kalian berkemas seperti ini, apa kamu sudah akan pulang, Sher? Apa sudah sehat?" tanyanya.


"Iya. Aku bosan berada di sini. Aku sudah lebih baik."


"Syukurlah. Aku merasa tidak enak sudah telat menjengukmu," ucapnya dengan nada kecewa.


"Tidak masalah, Nak Kayla. Kamu bisa main ke rumah kami hari ini."


"Aku sangat ingin, tapi sebentar lagi aku ada jadwal pemotretan." Kayla melihat ke arah arlojinya.


"Wah sibuk sekali. Ternyata Mama yang memang kurang informasi kalau ada model secantik ini," sahut Mama.


"Sudahlah Tante, jangan terlalu memujiku." Kayla tersenyum sambil memberikan sebuah bungkusan kepada Mama. "Tadi pagi aku baking kue untuk Sheryl."

__ADS_1


"Astaga! Tidak perlu repot-repot Kayla. Reynand sangat beruntung mendapatkan calon istri seperti dia, ya kan, Sher?" Mama menoleh ke arahku.


"He ... em ... Ma," jawabku terbata.


Mengapa perasaanku jadi aneh seperti ini mendengar Mama berkata seperti itu?


"Tante terlalu memuji. Baruna pun beruntung mendapatkan Sheryl yang cantik," timpal Kayla.


"Iya tapi anak Tante tidak bisa memasak sepertimu. Kamu harus sering-sering main ke rumah. Kalau perlu ajari dia memasak. Biar dia tahu bagaimana cara melayani suaminya nanti."


"Boleh Tante. Nanti kalau jadwal kosong aku pasti datang," balasnya tersenyum. "Oh iya Tante, aku pamit dulu ya. Aku sudah akan terlambat." Kayla memeluk Mama dan aku bergantian.


"Terima kasih sudah datang, Kay."


"Nanti aku akan menghubungi kamu, Sher," katanya seraya berbalik arah meninggalkan kami keluar kamar.


Aku dan Mama melanjutkan kegiatan kami. Kak Reza lalu masuk membantu mengangkat barang-barang. Aku melihat wajahnya yang begitu dingin dan serius saat melihatku akhir-akhir ini. Sejak aku dirawat di rumah sakit, dia pun jarang sekali datang menjenguk. Entah ada apa dengannya.


Tidak lama kemudian, kami sudah berada di dalam mobil. Suasana jalan raya terlihat sepi. Kak Reza melirik ke arahku lalu mengangkat kedua sudut bibirnya tipis.


"Kenapa melihatku seperti itu, Kak?" Aku mengernyitkan dahiku heran.


"Tidak ada. Kakak minta maaf sudah memarahimu kemarin," ucapnya.


"Sudahlah, itu sudah lama. Aku pun sudah berbaikan dengan Kak Baruna."


"Aku sudah tahu apa yang terjadi. Jangan coba-coba bermain api di belakangnya!" katanya serius.


Aku terdiam. Entah mengapa tiba-tiba aku tidak punya keberanian untuk menyahut perkataannya.


Sheryl, kamu tidak sedang bermain api, 'kan?


"Baguslah. Camkan kata-kata Kakak. Kamu hanya miliknya." Wajah Kak Reza terlihat tegas saat melihatku. Membuatku sedikit takut.


Aku mengangguk. Mama yang melihat perdebatan kami hanya diam tidak berkomentar.


Waktu menunjukkan pukul delapan pagi saat kami tiba di halaman rumah. Aku membuka pintu mobil lalu bergegas masuk ke kamar. Kembali merebahkan diriku di atas kasur. Kata-kata Kak Reza sungguh membuat hatiku sedikit tidak nyaman. Tidak lama kemudian, aku tertidur pulas.


Jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang saat tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Aku tersentak kaget bangun dari tidurku. Rasa pusing tiba-tiba menyerang. Aku melihat layar ponsel, mendapati sebuah panggilan masuk di sana. Sebuah panggilan dari Pak Reynand.


Ada apa lagi dia meneleponku? Aku tidak ada urusan lagi dengannya.


Aku lalu mengangkatnya. Suara beratnya kembali terdengar memenuhi lubang telingaku.


"Sher, apa kamu sudah pulang rawat? Saya datang ke rumah sakit dan perawat bilang kalau kamu baru saja pulang."


"Iya, saya baru saja sampai. Ada apa, Pak?"


"Saya ingin bertemu denganmu. Ada yang ingin saya sampaikan."


"Sampaikan saja lewat telepon."


"Pernikahan yang akan kamu jalani nanti adalah sebuah konspirasi."


"Saya sudah tahu itu konspirasi. Kedua orang tua kami memang menjodohkan kami."


"Tidak sesederhana itu, Sheryl. Kamu harus tahu kalau ...." Pak Reynand tidak meneruskan kata-katanya. Padahal baru saja dia mengatakannya dengan berapi-api.


"Apa?"

__ADS_1


"Ehm ... bagaimana saya harus mengatakannya? Sebaiknya hal ini tidak dikatakan melalui sambungan telepon."


"Katakan saja! Saya tidak ingin bertemu dengan Bapak."


Tok-tok-tok!


Terdengar suara ketukan pintu. Aku sontak melirik ke arah pintu. Mengabaikan teleponnya sejenak.


"Maaf, Pak. Nanti kita sambung lagi."


Aku segera menutup telepon beranjak membuka pintu. Tampak Mama datang membawakan sebuah nampan berisi makanan. Dia masuk dan meletakkan nampan itu di atas meja. Lalu dia duduk di tepi ranjangku.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Perasaan apa, Ma?" Aku mengernyitkan dahiku bingung.


"Melihat Kayla."


"Tidak ada yang aneh saat melihatnya. Dia sangat cantik."


"Benarkah? Sepertinya Mama melewatkan sesuatu tadi."


"Maksud Mama?"


"Kamu melihatnya dengan sedikit cemburu saat Mama memujinya."


"Tentu saja, aku anak Mama. Tiba-tiba Mama memujinya di hadapanku."


"Bukan hanya itu. Kamu juga tertarik bukan dengan Reynand?"


Deg!


Mama, mau dibawa ke mana arah pembicaraan ini?


"Mengapa jadi membicarakan dia? Aku tidak mengerti arah pembicaraan Mama."


"Mama tahu kamu suka dengan Reynand. Kamu pun tidak menjadi aneh jika menyukai dua orang lelaki secara bersamaan. Hal itu manusiawi. Namun, jika kamu ingin berbakti pada kami, pilihlah Baruna. Dia sudah lebih dari cukup untuk menjadi suamimu."


Deg!


Mama mengetahui hatiku sedalam itu?


"Aku tidak pernah bilang kalau aku mempunyai pilihan, Ma. Sejak awal, bukankah kalian yang mengatur hidupku? Aku menjalani semuanya karena permintaan kalian. Bersama Kak Baruna pun aku bahagia sekarang."


"Baguslah. Jangan biarkan perasaanmu terombang-ambing tidak tentu arah. Sehebat apa pun kamu menyangkalnya, Mama tahu yang kamu pikirkan. Mama yang melahirkanmu."


"Mama ...." Aku menggantungkan kalimatku.


"Ada apa?"


"Terima kasih sudah mengatakan hal ini. Aku memang butuh support dari Mama," kataku sambil tersenyum.


Mama memelukku begitu erat. Aku pun membalas pelukannya. Dia lalu melepaskan pelukannya sambil menyeka air mata yang jatuh dari kedua sudut matanya.


"Maafkan kami," ucapnya pelan.


Sebuah kalimat yang meluncur dari bibirnya membuatku tidak habis pikir. Dia terlihat menyesal dan tertekan.


Apa yang harus dimaafkan, Ma? Aku bahagia sekarang.

__ADS_1


__ADS_2