
Kring-kring-kring!
Suara alarm ponsel menyadarkanku dari tidur semalam. Masih dengan mata terpejam, aku berusaha mencari dari mana asal suara tersebut. Aku pun mengerjap mencoba membuka mata, ada benda berat berada di atas perut yang sontak membuatku membuka selimut melihat ke arahnya. Sebuah tangan kekar melingkar erat di sana.
"Tangan siapa ini? Pakaianku? Kenapa aku ...."
Aku segera memalingkan wajah melihat orang yang sedang tidur bersamaku. Wajah Pak Reynand tepat berada di hadapanku. Dia masih tertidur pulas walau suara alarm begitu memekakkan telinga.
Astaga! Apa yang sudah kulakukan? Mengapa ada dia di sampingku?
Aku mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Sedikit demi sedikit bayangan kabur tentang percintaan kami berputar di benakku. Saat itu aku mabuk berat dan aku menyerang Pak Reynand lebih dulu.
"Aarrgghh!" Aku berteriak, sontak menarik tubuhku yang berselimut bedcover lalu bersandar pada dipan tempat tidur.
Teriakan itu sontak membangunkannya yang sedang tertidur pulas. Dia tersentak kaget mendudukkan tubuhnya di sampingku seketika. Tangannya lalu meraih ponsel di atas nakas dan mematikan alarm yang berbunyi sedari tadi.
"Pak Rey, apa yang terjadi? Apa yang sudah kita lakukan?" tanyaku dengan suara tertahan hendak terisak.
Pak Reynand menatapku bingung. Raut wajahnya terlihat bingung sekaligus terkejut. Air mataku turun begitu saja menatap pria itu. Dia balas menatapku dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Sheryl, maafkan saya! Saya telah melakukan kesalahan." Tangannya memegang kedua bahuku. Aku sontak menarik tubuhku.
"Jangan sentuh saya!"
Dia lalu menunduk, menggigit bibirnya sendiri bingung. Tangisku pecah tidak tertahan lagi, air mata mengalir deras tanpa hambatan. Suaranya pun terdengar kencang meluapkan segala kesedihan, kemarahan, dan penyesalan yang kurasakan. Dia menarik tubuhku, masuk dalam dekapannya yang bidang.
"Baruna ...." Hanya nama itu yang ada di otakku sekarang.
"Sheryl, saya akan bertanggung jawab."
"Cukup! Saya tidak mau mendengar semuanya. Ini hanyalah mimpi buruk saya, 'kan Pak? Katakan Pak!" Aku menarik tubuhku, melihat wajahnya yang memelas.
Pak Reynand menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Tapi ini kali pertama kamu ...."
Aku memotong perkataannya, "Kenapa kamu melakukan itu? Bukankah kamu tahu kalau saya sedang mabuk? Saya sangat membencimu!"
Pak Reynand hanya bisa memandang wajahku dengan rasa bersalahnya. Dia terus bergeming tidak menanggapi perkataanku.
Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang?
__ADS_1
Aku memegang kepalaku yang terasa sakit. Entah akibat meminum minuman beralkohol atau akibat percintaan kami semalam. Aku sudah menghancurkan masa depan yang dirancang sekian lama oleh keluargaku.
Bagaimana dengan hutang keluargaku? Bagaimana dengan Kak Baruna?
"Sheryl, bukankah kamu bilang kalau kamu mencintai saya?" tanyanya tiba-tiba.
Aku menelan ludah terdiam sejenak kemudian menjawab, "Apalah arti cinta sekarang? Kamu sudah merenggut sesuatu yang paling berharga dari saya!"
"Jangan bohongi perasaanmu lagi. Saya akan bertanggung jawab atas semuanya. Ayo kita menikah!"
"Tidak, tidak! Bagaimana bisa Bapak mengajak saya menikah di situasi seperti ini? Meskipun saya sudah meragukan ketulusannya kemarin. Saya tetap mencintainya. Baruna yang saya pilih!" Aku kembali terisak penuh penyesalan, "tapi bagaimana jika sudah terjadi hal seperti ini? Dia tidak akan memaafkan kesalahan saya."
"Sheryl ...." lirihnya.
Aku lalu bangkit dari dudukku dengan selimut yang masih menempel, beranjak melangkah ke kamar mandi.
Air shower yang jatuh bersamaan itu mengguyur tubuhku yang gemetaran tidak terima atas apa yang telah terjadi. Tangis pun pecah kembali
bersamaan dengan suara air shower yang jatuh. Perasaan campur aduk menyeruak masuk ke dalam diriku. Bagaimana aku harus berhadapan dengannya?
Sheryl, kamu sangat bodoh! Kamu menghancurkan dirimu sendiri. Jadi siapa yang sedang kamu permainkan sekarang? Ingatlah perkataanmu yang tidak akan mengkhianatinya. Dan apa yang kamu lakukan semalam? Kamu menyerahkan dirimu pada saudara tirinya. Katamu kamu mencintai Baruna, tapi mengapa Pak Reynand yang kamu izinkan menikmati tubuhmu?
Aku membenturkan kepalaku di dinding kamar mandi. Perbuatan yang kulakukan semalam tidak akan mungkin dia ampuni. Aku tidak suka mengatakannya, tapi tanpa Kak Baruna di sisiku, aku tidak akan sanggup menjalani hari-hariku. Dia napasku.
Aku hanyalah orang bodoh yang sudah buta akan hal itu. Sibuk memikirkan perjanjian itu dan sibuk sendiri dengan keraguan di hatiku. Air shower terus nenghujani tubuhku bersamaan dengan dahi yang memerah.
"Sher, Sheryl! Apa yang kamu lakukan? Hampir satu jam kamu berada di kamar mandi."
Suara Pak Reynand terdengar jelas di telingaku. Namun, aku tidak menjawab dan terlalu sibuk akan tindakanku. Aku ingin menghilangkan ingatanku hari ini.
Sebuah pelukan hangat tiba-tiba menyelimutiku. Pak Reynand masuk, memakaikan handuknya, dan menghentikan perbuatanku. Dia memelukku yang masih menangis sejadi-jadinya.
"Sudah! Jangan kamu siksa dirimu. Ini juga salah saya," katanya.
Lagi-lagi dia membenamkan wajahku masuk ke dalam dekapannya. Dia lalu mengangkat tubuhku keluar dari kamar mandi.
"Turunkan saya sekarang juga! Saya tidak sudi!" teriakku meronta dalam gendongannya.
"Berpakaianlah. Kita harus cepat ke rumah sakit," katanya sambil menurunkan tubuhku di tepi tempat tidur.
__ADS_1
Rumah sakit?
"Untuk apa?"
"Tante Meri baru saja menelepon. Kuatkan hatimu, Sher. Baruna kecelakaan semalam dan belum sadar sampai sekarang. Dia masih dalam perawatan intensif di ruang ICU."
Aku terkesiap mendengar perkataannya. Mataku sontak terbelalak menatapnya. Jantungku berdetak dengan cepat. Begitu sesak dan sakit kurasakan. Kabar buruk itu menghujam jantungku tiba-tiba.
"Bapak pasti sedang berbohong! Baruna masih di Malaysia. Dia tidak mungkin ada di sini."
"Untuk apa aku berbohong? Kamu pikir saya tidak merasa bersalah dan menyesal atas semua ini? Ini juga terjadi karena saya tidak bisa menahan diri. Jangan sampai yang lain tahu. Kecuali kalau kamu setuju menikah dengan saya. Saya akan berjuang untuk mengganti hutang keluargamu."
"Pak Rey .... Kamu egois. Tidak memikirkan perasaan saya."
"Egois? Sekarang siapa yang egois? Kita sekarang sedang sama-sama egois!" teriaknya.
Aku kembali menitikkan air mata, menangis kembali walau aku tahu semua tidak ada gunanya, yang sudah terjadi tidak akan bisa berubah seperti sedia kala.
Pak Reynand melipat kakinya berjongkok menatap wajahku, "Maafkan saya, Sher."
Akh tidak menjawab perkataannya.
Dia memelukku sejenak, lalu berkata, "Saya akan bersiap sebentar. Kamu tunggu saya."
Pak Reynand lalu masuk ke dalam kamar mandi. Aku hanya bisa terus menangis, tidak bisa berpikir lagi. Segera mengenakan pakaian dan bersiap-siap.
Aku mencari ponselku di dalam tas kecil yang berada di atas meja. Notifikasi smartphone-ku cukup banyak. Semua orang mencariku. Bahkan Mama dan Kak Baruna.
Dua puluh panggilan tidak terjawab dari Kak Baruna dan Mama semalam. Ada sebuah pesan juga darinya yang membuatku kembali menitikkan air mata.
Ya Tuhan, mengapa aku sangat jahat padanya? Hanya karena perjanjian itu, aku melupakan ketulusannya. Sekarang sudah terlambat menyadari ini semua. Aku harus bagaimana?
Aku termenung cukup lama menyalahkan diri sendiri. Tidak sadar kalau Pak Reynand sudah keluar dari kamar mandi dan berpakaian rapi.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Aku menggeleng. Tidak ingin banyak berbicara. Dia melangkah mendekatiku.
"Jika bebanmu terlalu banyak, kamu bisa membaginya dengan saya sekarang. Saya akan bertanggung jawab atas perbuatan saya, Sher." Pak Reynand menatapku lembut.
__ADS_1
Aku menggigit bibirku tidak bisa menjawab sepatah kata pun. Situasi ini begitu mengejutkan. Bahkan akal sehatku pun tidak bisa bekerja semestinya.