
Aku terbangun dari tidurku saat alarm ponsel berbunyi memekakkan telinga. Segera membuka mata melihat sekeliling. Ruangan yang tidak kukenal. Aku menarik napas, baru ingat kalau aku memang menginap di rumah Kak Baruna.
Jam di layar smartphone sudah menunjukkan pukul enam pagi. Aku bangun memposisikan tubuhku duduk di atas ranjang.
Tok-tok-tok!
Pintu kamar terdengar diketuk. Segera, aku bangkit dan membukakan pintu. Bi Rindang berdiri di hadapanku membawakan pakaian baru yang bisa kupakai hari ini.
"Terima kasih, Bi."
"Iya, Non. Tadi Tuan Baruna sendiri yang pilihkan loh," sahutnya tersenyum.
"Iya, Bi."
Sebuah baju terusan selutut berwarna dusty pink dengan lengan panjang kuletakkan di atas kasur. Sangat cantik menawan hati. Perasaanku sangat lega sekarang. Dia sudah tidak marah lagi kepadaku.
Tok-tok-tok!
Suara ketukan pintu kembali terdengar. Aku bergegas membukanya. Kak Baruna berdiri di hadapanku. Penampilannya gagah memesona dengan wangi parfum yang menggoda.
"Bagaimana tidurmu semalam?" tanyanya dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
"Nyenyak sekali."
"Baru bangun, ya?"
"Iya, aku mandi dulu. Ehm ... kamu tidak membawakan pakaian dalam untukku," ucapku dengan wajah merona merah.
"Eh ... maaf sayang, sama sekali tidak terpikirkan olehku. Pasti sudah tidak nyaman. Aku juga tidak tahu ukuranmu. Nanti biar aku minta Bi Rindang ke sini untuk menyiapkannya, sayang," sahutnya dengan wajah ikut merona malu.
"Terima kasih, sayang."
"Iya sama-sama. Seperti dengan siapa saja. Aku tunggu di meja makan ya," pamitnya seraya mengecup keningku.
Aku mengangguk, Kak Baruna berbalik arah turun tangga menuju ruang makan. Aku pun menutup pintu kembali lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhku.
****
Baruna PoV
Kini aku tidak perlu khawatir Sheryl akan berpaling dari hubungan kami. Dia sudah cukup memastikan bahwa aku yang dicintainya, bukan Reynand. Saudaraku itu pasti hanya terlalu percaya diri jika tunanganku itu juga mempunyai perasaan yang sama padanya.
"Bunda, Ayah, bagaimana tidurnya semalam?" tanyaku saat melangkah masuk ke dalam ruang makan.
"Nyenyak," jawab kedua orang tuaku bersamaan.
Aku melirik ke arah Reynand dan bertanya, "Lo gimana, Rey? Nyenyak?"
__ADS_1
"Lumayan," jawabnya singkat.
"Syukurlah." Aku mendudukkan tubuhku di atas kursi.
"Di mana Sheryl, Nak?" tanya Bunda.
"Masih mandi."
Tiba-tiba Reynand bangkit berdiri. Memandang kami semua seraya tersenyum simpul.
Dia berkata, "Aku sudah selesai. Aku pamit pulang, ya."
"Cepat sekali, Rey?" Ayah mengerutkan keningnya.
"Iya, aku sebenarnya ada janji dengan seorang klien hari ini. Aku akan pulang untuk berganti pakaian lalu pergi lagi ke kantor."
"Oh ... pekerja keras sekali kamu, Rey. Para klien juga pasti tahu kita sedang mendapatkan musibah. Mereka pasti memakluminya jika pertemuannya ditunda sementara," sahut Ayah.
"Tidak Ayah, bagaimana pun janji adalah janji. Aku tidak bisa mengingkarinya," tambah Reynand. Dia segera beranjak dari tempat duduknya keluar ruang makan.
Kedua orangtuaku hanya bisa memandang kepergiannya. Memang sebagai seorang pebisnis, kami tidak bisa meragukannya lagi. Dia bertangan dingin dan mampu membuat keputusan yang tidak pernah salah. Perhitungannya selalu tepat sasaran. Semuanya pun menjadi lancar dan teratur. Tidak ada yang salah jika ia menjadi direktur. Aku tidak pernah menyesalinya walaupun posisiku sudah diambil alih olehnya.
"Komitmenmu sungguh luar biasa," gumam Ayah.
"Ayah sepertinya mulai melupakanku," sindirku.
Ayah mengangkat kepalanya menatapku. Wajahnya lalu berubah tidak percaya dengan apa yang barusan kukatakan.
"Sungguh, dia membuatku kesal sepanjang malam. Apa yang Ayah sedang pikirkan ketika sedang membuatnya? Menyebalkan sekali tingkahnya itu," cibirku sinis.
"Baruna, kamu sangat tidak sopan dengan Ayahmu," sela Bunda sambil menahan tawanya.
"Kamu lucu sekali, Baruna. Kamu tetaplah kebanggan kami," ucap Ayah disusul dengan tawanya yang renyah mendengar kata-kataku.
Aku pun jadi ikut tertawa melihat kedua orang tuaku yang begitu kompak dan harmonis. Entah mengapa aku bisa mengatakan hal itu. Sangat lucu.
****
Reynand PoV
Langkahku terhenti saat aku berpapasan dengan Sheryl yang mengenakan busana terusan berwarna dusty pink, sangat cantik. Dia mengalihkan pandanganku sesaat. Begitu pun dengannya yang tiba-tiba menghentikan langkah tepat di hadapanku. Melihatku yang sedang memperhatikannya.
"Satu meter!" tegasnya.
"Jarak kita sekarang hanya terpaut setengah meter. Jika kamu ingin menjaga jarak, silakan mundur setengah meter lagi karena yang ingin menjaga jarak hanya kamu, Sheryl," sahutku dengan seringai senyum di hadapannya.
Dia mengerucutkan bibirnya kesal kemudian melangkahkan kakinya kembali meninggalkanku. Entah mengapa semakin dia menolakku, perasaanku semakin kuat padanya. Padahal semalam aku sudah ingin menyerah dan memikirkan hal yang tidak-tidak kepadanya.
__ADS_1
Aku bergegas masuk ke dalam mobil. Suasana jalan raya begitu sepi. Padahal sudah pukul setengah delapan pagi di mana seharusnya masih ramai dengan para pencari nafkah yang masih sedang berada dalam perjalanan. Hanya dalam waktu lima belas menit aku sudah sampai di apartemen.
Aku melangkah keluar lift menyusuri lorong apartemen. Mataku terbelalak saat melihat Kayla yang sedang duduk melamun di depan pintu unit apartemenku.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Kayla menolehkan pandangannya ke arahku, wajahnya berubah semringah. Dia bangkit berdiri dan memelukku tiba-tiba.
"Akhirnya kamu datang, Rey!"
Aku segera melepaskan pelukannya. Lalu membuka pintu apartemenku. Kayla ikut masuk mengekor dari belakang.
"Rey, aku membawakan sarapan untukmu. Hari ini aku bangun pagi-pagi sekali untuk memasaknya. Aku harap kamu bisa memakannya," ujar Kayla seraya mengeluarkan makanan dari balik bungkusan yang ia bawa.
"Aku sudah makan, Kay," tolakku.
"Oh ... memangnya kamu dari mana? Kamu tidak pulang semalaman?"
"Aku menginap di rumah ayahku."
"Oh ya? Kelihatannya hubunganmu dengan mereka membaik. Itu kabar yang bagus."
"Iya," sahutku sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
Kayla masih dengan kesibukannya menata makanan yang ia bawa ke dalam sebuah kotak makan.
Aku bercermin di depan standing mirror memantaskan pakaian dengan jas dan dasi yang kukenakan. Bayangan seorang pria yang tampan dan gagah berdiri di sana. Membuatku mengangkat kedua sudut bibir.
Aku keluar dari kamar, sudah berpakaian rapi, bersiap meeting dengan seorang klien penting pukul sepuluh pagi.
"Rey, aku sudah menyiapkan bekal untukmu," ucap Kayla menyodorkan sebuah tas kotak makanan padaku.
"Terima kasih tapi sepertinya bekal ini tidak bisa kumakan. Aku hanya sebentar ke kantor dan meeting dengan seseorang."
"Bawalah. Aku sudah menyiapkannya dengan sepenuh hati," ucapnya memelas.
Aku tidak menjawab dan cepat-cepat meraih tas bekal itu.
"Yeey ... terima kasih, Rey," jawab Kayla dengan wajah ceria.
"Tidak usah berlebihan seperti itu."
"Aku senang kamu tidak menolak seperti biasanya."
"Aku hanya kasihan padamu. Sudah ... aku pergi dulu. Kamu mau pulang atau tetap di sini?"
"Hari ini aku off. Aku akan menunggumu pulang," jawabnya seraya tersenyum memandangku.
__ADS_1
Aku balas menatapnya dingin, kemudian berbalik arah keluar dari apartemen.
Apa ini yang dirasakan Sheryl saat aku terus mendekatinya? Begitu merepotkan!