Marriage Order

Marriage Order
S2 Selamat Tinggal


__ADS_3

Pagi hari ....


Pukul 07.00


Aku membuka mata. Begitu berat rasanya. Semalam aku dan Reynand bertengkar lagi saat aku terus-terusan memohon padanya untuk menghentikan acara pernikahan kami yang sudah akan terlaksana esok hari.


Rasanya sudah tidak bisa menghindar. Besok aku resmi menjadi istrinya. Aku menoleh ke arah nakas. Segera mengambil ponselku dari sana.


Tampak selembar kertas di atas nakas menarik perhatianku. Aku segera mengambilnya. Sebuah surat, tulisan tangan yang sangat kukenal. Surat dari Kak Baruna.


Aku membacanya dengan begitu hati-hati. Air mata tiba-tiba meleleh kembali. Kata-katanya begitu menyentuh hati. Kedua telapak tangan menutup seluruh wajah. Terisak kembali. Menahan rindu yang sama untuknya.


Ingin segera menghubunginya dan mengatakan hal yang sama. Sejenak, aku kembali berpikir kalau surat itu bukan surat mengajak kembali menjalin kasih, tapi sebuah surat perpisahan kami. Menyuruh untuk bijaksana dalam menghadapi ini semua.


Hei, bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu, Kakak? Padahal kita saling mengetahui perasaan masing-masing. Perasaan cinta yang membuncah dalam jiwa.


Kesal .... Aku tidak akan menuruti perkataanmu. Biarlah aku menderita sendiri dan kamu yang akan mendapatkan kebahagiaan nantinya.


Aku akan membuat Reynand menyesal telah menikah denganku. Seorang Sheryl yang barbar dan juga akan membuatnya menderita karena menyakiti perasaanku dan kamu.


Drrt-drrt-drrt!


Panggilan dari Reynand masuk. Aku membiarkannya menunggu sampai aku puas menangisi semuanya. Berkali-kali nada dering itu masuk dan berkali-kali pula aku tidak berminat untuk mengangkatnya.


Sebuah notifikasi pesan dari Reynand masuk. Aku melirik isinya.


Aku tidak sabar menunggumu jadi istriku besok. Bisakah kita bertemu hari ini, Sheryl?


Aku segera membalas.


Biarkan aku menikmati kesedihanku sendiri hari ini, Rey. Aku bosan terus bertemu denganmu.


****


Baruna PoV

__ADS_1


Pukul 19.00


Aku sudah bersiap melangkah keluar rumah. Malam ini aku akan pergi ke rumah Reynand untuk berpamitan padanya. Menyelesaikan semua hal di antara kami. Aku ingin pergi tanpa beban. Menjalani pengobatanku di sana sampai benar-benar sembuh, lalu kembali lagi ke tanah air.


Baru saja akan melangkah keluar, tiba-tiba bel pintu depan rumah berbunyi. Aku membuka pintu. Tampak sosok Reynand berdiri di hadapan di sana.


"Bar, boleh masuk?" tanyanya.


"Masuklah."


Reynand melangkah masuk ke dalam ruang tamu dan duduk di sofa. Aku membalikkan badan ikut duduk berhadapan dengannya. Pria itu mengeluarkan dompetnya dan memberikan sebuah kartu hitam kepadaku.


"Sheryl udah lama menitipkannya. Dia bilang gak sanggup mengembalikannya lagi ke lo secara langsung."


Aku tidak menjawab perkataannya. Segera mengambil kartuku dan meletakkannya di atas meja.


Kenapa harus Reynand yang mengembalikan kartu ini? Sebegitu sedihnya kah dia jika bertemu denganku lagi? Bahkan, surat yang kemarin kutulis pun tidak ada jawabannya sama sekali.


Suasana menjadi canggung seketika. Aku menghela napas panjang, mencoba membuka suara. Ingin segera mengutarakan apa yang sejak tadi berada dalam benakku kepada Reynand.


"Rey, kebetulan banget lo datang. Tadinya gue mau ke rumah lo. Ada yang mau gue sampaikan." Aku menatapnya dengan sedikit keraguan.


"Gue mau minta maaf sama lo, Rey. Entah, pantas atau gak mengatakan ini. Tapi gue ngerti perasaan lo yang merasa tersisihkan dari kecil sampai dengan sekarang dari keluarga Asyraf. Tentang gue yang meraih semua kesempurnaan dalam hidup gue dan lo yang gak bisa mendapatkannya sampai sekarang. Gue benar-benar minta maaf. Itu semua di luar kendali gue, Rey," jelasku.


Air muka Reynand berubah. Dia terlihat sedikit bingung dengan apa yang baru saja kusampaikan. Aku akui, secara tidak langsung memang sudah menyakiti hatinya selama ini.


"Maaf? Gue sekarang pemenangnya, Bar. Besok Sheryl jadi istri gue," sahutnya angkuh.


"Iya, gue tahu. Sekarang, gue udah ikhlas melepas Sheryl jadi istri lo. Gue gak akan datang untuk merusak acara pernikahan kalian. Gue harap lo memperlakukannya seperti gue memperlakukan wanita itu. Gue selalu menjadikannya ratu di dalam singgasana hati gue. Membuatnya menjadi wanita yang paling bahagia. Selalu menuruti apapun yang dia inginkan. Jangan pernah membuatnya bersedih dan menderita," pesanku.


"Lo gak usah ajarin gue, Bar. Gue tahu bagaimana memperlakukan dia nanti sebagai istri gue." Reynand menyahut dengan kepercayaan dirinya yang tinggi.


Jawaban darinya selalu terdengar seperti orang yang tidak mau kalah. Kali ini aku mencoba menahan emosiku. Benar-benar berharap hubungan kami menjadi lebih baik.


Tahan, Baruna! Dia memang seperti ini. Kamu harus memakluminya.

__ADS_1


"Baguslah. Besok jam sembilan pesawat gue udah take off dari tanah air. Gue akan pergi ke Malaysia untuk sementara waktu pengobatan bersama Bunda dan Nayara. Mungkin hanya Ayah yang akan datang mewakili ke pernikahan kalian."


"Iya, Bar. Hati-hati di jalan."


"Satu lagi, maafin gue yang belum bisa menjadi adik yang baik buat lo," sahutku sambil menghela napas. "Rasanya sakit ini sudah pada puncaknya dan gue gak ingin membuatnya berlarut-larut sekarang. Gue akan pergi dengan damai tanpa meninggalkan beban lagi di sini."


"Bar, gue gak ngerti hati lo terbuat dari apa. Gue yang bersalah, tapi lo yang meminta maaf. Gue juga minta maaf udah membuat hubungan kalian seperti ini. Gue janji akan membahagiakannya," Reynand menatapku dalam.


Aku mengangkat kedua sudut bibirku tipis memandang laki-laki itu. Apa sekarang kami sedang berdamai? Entahlah, aku juga tidak mengerti. Hanya ingin menyampaikan pesan-pesanku padanya agar aku bisa pergi tanpa beban yang berarti.


Reynand kemudian bangkit berdiri, diikuti olehku yang juga ikut bangkit saling berhadapan. Dia menatap dengan sorot mata yang berbeda dari sebelumnya. Penuh kedamaian.


"Gue pamit dulu, Bar. Semoga hubungan kita bisa lebih baik ke depannya." Tiba-tiba saja dia memelukku. Pelukan yang hangat seperti saudara yang sudah lama hilang dan bertemu kembali. Begitu erat tanpa perlu berkata-kata lagi.


"Selamat berbahagia, Rey. Jangan pernah nyakitin dia. Kalau lo nyakitin dia, sama aja lo nyakitin gue lagi. Karena gue enggak pernah berhenti untuk mencintainya." Mataku berkaca-kaca. Aku segera menengadahkan kepala untuk menahan buliran air mata yang mungkin akan jatuh sewaktu-waktu.


Reynand tidak menjawab. Dia kemudian melepaskan pelukannya. Kedua sudut matanya terlihat sedikit berair.


Masa sih dia menangis juga?


"Hei, lo gak pantes menangis. Besok hari pernikahan kalian," kataku sambil tersenyum.


Dia membalas senyumanku dengan sebuah senyuman tipis. Menepuk pundakku beberapa kali seakan ingin menguatkan hatiku. Pria itu kemudian pergi keluar rumah. Aku mengangkat bahu melihat punggungnya yang berlalu begitu saja.


Tiba-tiba Ayah dan Bunda datang menghampiriku. Aku menoleh ke arah mereka sambil menyunggingkan senyum kelegaan.


"Sudah lega?" tanya Ayah.


"Iya, sudah kusampaikan semuanya. Ayah, mengenai harta warisan itu, Ayah yang memegang kendalinya, 'kan?"


Ayah mengangguk. Aku lalu berkata, "Berlakulah adil pada kami. Anak Ayah ada dua, 'kan?" kataku.


Ayah mengangguk lagi, "Iya, Nak. Maafkan Ayah yang sudah egois selama ini. Selalu mendahulukan kepentinganmu daripadanya."


"Iya, Ayah. Aku sayang, kalian." Aku memeluk kedua orang tuaku bergantian seraya tersenyum.

__ADS_1


Bunda ikut tersenyum melihatku. Tulus ikhlas, hanya itu yang kumiliki sekarang. Melapangkan dada untuk segala takdir yang akan menghampiriku.


Selamat tinggal, Ratu Hatiku ....


__ADS_2