Marriage Order

Marriage Order
S3 Aku dan Reynand


__ADS_3

Sheryl Pov


Entah apa yang membuatku memutuskan untuk mengatakan isi hatiku saat ini kepada Reynand. Seakan ada petir yang menyambar, aku ingin sekali mati saat mendengarnya. Tidak! Bukan saat itu saja. Hingga saat ini, keinginanku belum juga berubah. Aku tidak bisa menerimanya. Aku dan Baruna belum lama menikah. Mengapa harus menghadapi masalah seperti ini?


Aku melihat Reynand yang kebingungan melihatku menangis. Sejak tadi air mata ini tertahan. Sungguh! Seluruh keluarga tidak boleh ada yang tahu masalah kami. Aku takut menjadi beban mereka.


"Ma-maaf! Maaf sudah membentakmu," ucap Reynand tiba-tiba. Air mukanya terlihat panik.


Bukannya berhenti menangis, mendengar perkataannya malah membuatku makin berderai air mata. Dia tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Terlepas dari aku yang menyaksikan Felicia mencium suamiku, lebih terkejut lagi ketika mengetahui fakta kalau mereka memiliki anak.


Rafael …. Pertemuan kami sungguh bukan kesengajaan. Sama-sama berada di Maldives dan dia tidak sengaja memanggilku dengan sebutan "Mama" saat terpisah dari ibu kandungnya.


Apakah ini takdir?


Punggung tanganku menghangat. Seketika aku melirik. Reynand tanpa ragu meletakkan telapak tangannya di sana. Dia lalu menggenggamnya erat.


"Hei, hei, tenanglah! Mengapa kau terus saja menangis? Ceritakan kepadaku semuanya," katanya dengan air muka yang masih terlihat panik.


Aku menggeleng pelan. Aku tidak ingin Reynand tahu tentang siapa Rafael atau ia akan menggila dengan tindakannya yang terkadang nekat. Selain itu, Baruna adalah suamiku. Aku tidak ingin yang terjadi di rumah sakit tempo hari terulang kembali.


Sejurus kemudian, aku melihat Mama memasuki kamar. Reynand dengan cepat melepaskan tangannya dari punggung tanganku. Entah! Aku tak yakin kalau Mama melihat tindakan pria ini.


Tidak hanya Mama, dari belakangnya muncul seorang wanita yang kukenal.


"Sher, lihat siapa yang menjengukmu," ucap Mama dengan segaris senyumnya.


"Kayla?" ucapku tak percaya. Sungguh sebuah kebetulan dia ada di sini.


Kayla tidak langsung membalas. Matanya tampak mengerling ke arah Reynand sesaat. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu melihat kami berdua di kamar. Sedetik kemudian, Kayla mengarahkan pandangannya padaku.


"Sher, bagaimana keadaanmu?" tanyanya segera berjalan menghampiriku, lalu seperti biasa memberi cium pipi kanan dan kiri.


Aku yang harus terus berbaring membalasnya sebisaku. Andai bukan dokter yang menyuruh untuk terus berbaring, aku mungkin akan menyambutnya dengan lebih baik.


"Maaf, Kay," kataku.


"Tidak apa-apa. Berbaring saja," sahutnya lalu berdiri di sampingku.

__ADS_1


"Duduk di sini, Kay." Reynand tiba-tiba berdiri memberikan tempat duduknya.


"Tidak usah. Aku tidak akan lama. Kebetulan sekali tadi aku bertemu dengan ibunya Sheryl di bawah. Beliau bilang Sheryl mengalami kontraksi, jadi sekalian saja aku datang ke sini."


"Terima kasih, Kay," sahutku seraya mengangkat kedua sudut bibirku tipis, "ngomong-ngomong siapa yang sakit, Kay?"


"Manajerku. Kemarin malam dirawat dan aku baru bisa menjenguknya pagi ini." Kayla tersenyum lalu melihat sekeliling ruangan. Seakan menyindirnya, Kayla mengarahkan sorot tajamnya pada Reynand, "Sayang sekali Baruna tidak ada di sini. Ya 'kan, Rey?"


Belum sempat Reynand menyahut, Mama tiba-tiba menjawab perkataan Kayla, "Baruna masih di luar negeri, tapi dia berjanji datang secepatnya, Nak Kay."


Mama tersenyum ke arah mereka lalu memberikan ponsel dari tangannya kepadaku.


"Terima kasih, Ma." Aku meraihnya, lalu meletakkan benda itu di atas nakas tanpa mengintipnya sedikit pun.


"Oh." Kayla mengangguk-angguk.


"Sher, aku kembali ke kantor, ya? Jika ada yang kau butuhkan, kau bisa menghubungiku." Reynand tiba-tiba pamit. Mungkin dia merasa tersindir karena sudah berada di sini pagi-pagi sekali.


"Terima kasih sudah datang," sahutku.


"Sudah seharusnya, 'kan?" Reynand mengangkat sebelah alisnya. Tak menyahut perkataannya, aku hanya memberikan seulas senyuman getir sebagai balasan.


Aku mengangguk. Reynand dan Kayla kemudian pamit kepada Mama. Tidak lama setelah itu, keduanya pergi beriringan.


Setelah melihat keduanya menghilang dari balik pintu, Mama pun segera duduk di sampingku.


"Sher, kelihatannya Reynand masih ada perasaan kepadamu. Jangan bilang kalian ada main di belakang Baruna." Tiba-tiba ibuku berkata dengan raut wajahnya yang serius.


"Tidak, Ma. Jangan menuduh yang tidak-tidak. Kami tak ada hubungan seperti itu," sahutku sedikit kesal.


"Mama melihatnya menggenggam tanganmu."


"Sudah kukatakan tak ada yang istimewa di antara kami," timpalku.


"Semoga saja itu memanglah yang terjadi di antara kalian," ucap Mama kemudian terdiam sejenak lalu berkata kembali, "Ingat! Kau sudah memilih. Apapun yang terjadi pada rumah tanggamu dan Baruna, Mama harap kalian bisa menyelesaikannya dengan baik."


Aku bergeming sambil berucap dalam hati. Andai Mama tahu ....

__ADS_1


Tak ada yang tahu bagaimana sebenarnya keadaan rumah tangga kami sekarang. Bahkan Reynand .... Dia hanya tahu tentang hubungan Baruna dan Felicia, tapi tidak tentang Rafael. Lalu mengenai aku dan Reynand ... memang dia sudah mengakui dengan jelas perasaannya, tapi aku tidak menanggapinya. Kami hanya berteman.


"Baruna tadi menelepon. Dia menanyakan keadaanmu." Mama mengalihkan pembicaraan.


"Katakan kepadanya kalau aku baik-baik saja."


"Bagaimana bisa kau berkata begitu, sedangkan kau hampir kehilangan bayimu?"


Setelah cukup lama menekuk wajah di hadapan Mama, aku menarik setengah senyumku. "Aku tak ingin membuatnya khawatir. Dia sudah cukup sibuk berada di sana. Ayah Anton dan ...."


Aku menggantung perkataanku, sedangkan Mama langsung menatapku dengan bola matanya yang sontak membulat, menunggu sebuah penjelasan.


"Dan apa?" tanya Mama, tapi aku tidak mampu menjawabnya.


***


Reynand Pov


Aku berjalan dengan langkah cepat menuju lobi rumah sakit. Walau tadi sempat berjalan beriringan, Kayla telah kutinggalkan jauh di belakang sana.


Untuk apa dia menyindir begitu, huh?


"Rey, tunggu aku!" Suara Kayla terdengar makin mendekat.


Aku mendengus lalu berhenti melangkah. Seketika memutar tubuhku dan menunggunya.


"Rey, apa kau kesal kepadaku?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa.


Aku menyeringai di depannya. "Menurutmu?"


"Kau kesal. Jadi kau meninggalkanku begitu saja!"


"Kau datang sendiri ke sini. Apa kita harus pulang bersama?" Aku menyahut pedas.


"Tidak. Maksudku bukan begitu. Sebagai pria yang baik, setidaknya kau mengantarku hingga ke depan lobi," sahut Kayla dengan air muka yang sama. Kami sama-sama merasa kesal saat ini.


"Sayangnya, aku bukan pria yang baik. Kau pun tahu itu hingga menyindirku seperti tadi. Ya! Kuakui! Aku memang datang khusus untuk menemui Sheryl pagi ini. Dan aku sangat senang karena tak ada Baruna di sana. Kau tidak perlu menyindirku seperti itu."

__ADS_1


Kayla mendengus lalu menyeringai miring. Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Kau benar-benar sudah gila! Sheryl sedang hamil! Dia tak akan melirikmu."


"Sekalipun seperti itu, aku yang nantinya akan membuatnya melirikku!" sahutku dengan nada suara meninggi. Tak peduli beberapa orang di lobi sontak mengarahkan pandangannya ke arah kami.


__ADS_2