
Reynand Pov
"Rumah ayahmu?" Mama bertanya dengan keningnya yang mengerut.
"Yap."
Mama tiba-tiba tertawa kecil, lalu melebarkan bola matanya. "Apa lagi yang sedang kau rencanakan?"
"Aku mengkhawatirkan Sheryl."
"Sudah Mama duga." Mama menggelengkan kepalanya, "Rey, apa kau sadar dengan ucapanmu? Kau itu sudah melepaskannya untuk Baruna. Kau tidak mungkin menjilat ludahmu sendiri, 'kan?"
Perkataan Mama membuatku terdiam sebentar, sebelum akhirnya menjawab, "Meski begitu, hatiku mengatakan hal sebaliknya, Ma. Tuhan membuatnya hilang ingatan dan hanya mengingatku."
"Jadi hanya karena wanita itu mengingatmu, kau jadi merasa berhak berada di dekatnya, huh?!" Kedua bola mata Mama tampak bergetar menatap. Perlahan air matanya mengalir, tapi dengan cepat ia menyekanya. "Mengapa kau sangat keras kepala seperti ini? Mama mohon, jangan mempermalukan dirimu lebih jauh lagi di depan keluarga Asyraf?"
Mendengar perkataan Mama sontak membuatku menghela napas dalam-dalam dan tertahan sesaat. "Aku sangat mencintainya hingga rasanya diriku akan menjadi gila jika tak melihat ia bahagia."
"Dengar ya, Rey! Sheryl tak akan pernah membalas perasaanmu. Ia hanya akan hilang ingatan sementara. Setelah ingatannya kembali, wanita itu akan kembali kepada suaminya. Kebaikan hatimu yang menawarkan kebahagiaan hanya akan menjadi angin lewat saja bagi dirinya!"
"Biarkan waktu yang menjawabnya nanti."
Mendengar jawabanku Mama mengayunkan tangannya. "Terserah! Dasar anak nakal!" ucap Mama kemudian membalik badannya.
"Mama mau ke mana? Bukannya tadi ingin memasak sesuatu untukku?"
"Pulang!" sahut Mama ketus. Dia kemudian mengambil blazer dan tasnya, bersiap pergi.
Aku segera menarik tangan Mama menghentikan langkahnya. Seketika Mama menoleh kepadaku. Tak ingin membuang waktu, aku berlutut di depannya.
"Kali ini aku meminta restu Mama. Izinkan aku mencari kebahagiaanku sendiri." Aku menunduk, berkata dengan suara pelan.
"Apapun itu, tapi tidak untuk melihatmu menjadi seorang perebut istri orang lain," sahut Mama dengan kalimatnya yang menohok. Aku tidak bisa menjawab Mama sama sekali. Hanya diam menatap punggungnya yang kemudian menghilang dari pandangan mata.
***
Baruna Pov
Aku dan Felicia sedang berada di ruang tengah. Kami membahas apa yang terjadi tadi siang. Sungguh! Aku sangat keberatan Felicia berbohong mengenai statusnya berada di rumah ini.
"Jika aku tidak berbohong kepada Sheryl, menurutmu apa yang bisa kukatakan kepadanya mengenai statusku di sini? Teman? Kekasih? Istri ke sekian? Apa, huh?!" sanggahnya membela diri dengan sebuah seringai membuatku makin frustrasi.
"Aku tidak tahu," sahutku menatapnya dingin. "tapi kau membuat semuanya bertambah rumit."
__ADS_1
"Kau yang membuatnya rumit!" sergah Felicia membalas dengan begitu berapi-api.
"Aku hanya ingin berada di dekat Rafael." Aku memberikan alasan.
"Dan aku tidak akan pernah mau berpisah dengannya. Dia anakku!" Felicia menunjuk dirinya.
"Aku tahu. Kalian tidak akan bisa dipisahkan." Seketika aku mengangguk mengiyakan.
"Jadi bagaimana? Kau akan mengatakan yang sebenarnya kepada istri tercintamu, huh?" Felicia menyeringai miring seakan mengejekku.
"Tidak sekarang, Fely. Kau liat sendiri bagaimana keadaan Sheryl. Aku akan membuat dirinya bertambah bingung. Bahkan dia bisa saja meninggalkanku." Aku mengusap wajah frustrasi.
"Nah kan? Bahkan kedua orang tuamu mendukungku. Mereka membantuku berbohong." Felicia makin melebarkan senyumnya. Wanita itu kemudian bangkit berdiri dan duduk di sampingku, "atau kita menikah saja? Bagaimana?"
"Kau gila, ya!" Aku hampir melotot menatapnya.
Felicia sontak mengekeh seolah menikmati rasa frustrasi yang kurasakan. "Seharusnya kau membuka matamu lebar-lebar, Baruna. Sheryl itu sudah berselingkuh dengan Reynand di belakangmu. Jadi untuk apa mempertahankannya."
Perkataan Felicia makin membuatku geram. Teringat bagaimana kecelakaan itu terjadi tak lepas dari kecemburuanku pada Reynand. Dia benar-benar membuatku muak.
"Buktinya, istrimu hanya mengingat Reynand. Jauh di lubuk hatinya dia pasti memiliki perasaan yang sama dengan Reynand," tambah Felicia kemudian mengambil sebuah apel dari atas meja dan memakannya.
"Felicia benar!" Suara Bunda tiba-tiba terdengar begitu jelas. Ia lalu beringsut duduk bergabung dengan kami di ruang tengah.
"Bunda?" Keningku sontak mengernyit. Aku tidak menyangka ibuku sendiri bisa berkata seperti itu.
Aneh! Ini sungguh aneh! Bunda tiba-tiba mengatakan hal sebaliknya. Padahal dulu, dia sangat mendukungku menikah dengan wanita pilihanku, tapi sekarang ....
"Bun, bagaimanapun Sheryl adalah istriku," jawabku kepadanya.
"Seorang istri harus menghargai suaminya, bukan malah membuat suaminya khawatir. Begitu banyak yang kau korbankan, tapi nyatanya dia masih sama seperti dulu. Tak berpendirian!" tambah Bunda.
"Tapi Bun–"
"Seorang ibu hanya ingin anaknya bahagia. Begitupun dengan ayahmu yang mau memiliki pandangan yang sama." Bunda memotong perkataanku.
Begitukah?
Aku terhenyak mendengar penuturan dua wanita di dekatku. Sungguh sangat bertolak belakang dengan apa yang kurasakan.
Aku masih sangat mencintai Sheryl.
Pembicaraan kami pun terhenti saat tiba-tiba saja bel pintu utama berbunyi. Aku segera bangkit berdiri memastikan siapa yang datang.
__ADS_1
Terlambat. Bik Rindang terlihat sudah membukakan pintunya. Seketika pandanganku melebar melihat siapa yang datang.
"Mas Rey? Tumben?" ucap Bik Rindang.
"Kemalaman ya, Bik?" Reynand melirik jam tangannya, "baru jam sepuluh."
Ada apa dia malam-malam bertamu ke sini?
Aku bertanya-tanya dalam hati. Perasaanku sungguh tidak enak. Segera kuberanikan diri menghampiri Reynand. Sebuah koper kecil menjadi perhatianku.
"Ada apa malam-malam datang ke sini, Rey?" tanyaku.
Reynand tidak langsung menjawab ia mengangkat kedua sudut bibirnya. "Gue mau tinggal di rumah ini."
"Kenapa mendadak banget?" tanyaku bingung.
"Setelah gue pikir-pikir, gue mau ikutin saran dokter penanggung jawab Sheryl. Sheryl pasti butuh bantuan gue untuk mengembalikan ingatannya. Jadi gue putusin untuk selalu ada di dekatnya."
"Lo benar-benar enggak waras!" Aku menggelengkan kepalaku.
***
Sheryl Pov
Suara deru mesin kendaraan tiba-tiba membangunkanku. Aku membuka mata, menoleh ke samping. Baruna tak ada di sana.
"Ke mana dia?" gumamku kemudian beranjak dari tempat tidur menuju balkon kamar.
Aku melebarkan pandangan mata mengarah pada sebuah mobil sedan berwarna putih yang terparkir di sana.
"Reynand? Ada apa dia malam-malam datang ke sini?" gumamku segera membalik badan menuju pintu kamar.
Dengan langkah terburu-buru, aku menuju pintu utama. Di sana, terlihat Reynand, Baruna, dan Bik Rindang yang berdiri saling berhadapan.
"Lo benar-benar enggak waras!" Baruna terlihat menggelengkan kepalanya.
"Apa yang benar-benar tidak waras?" tanyaku berjalan menghampiri mereka.
Baruna menoleh ke arahku. Dengan cepat suamiku itu melingkarkan tangannya di pinggangku. Walau terasa tak nyaman, aku tak bisa menolak dan malah membiarkannya.
"Sayang, kau sudah bangun?"
"Iya. Aku mendengar suara mesin kendaraan. Kukira hanya mimpi. Ternyata benar-benar Reynand yang datang," ujarku menarik sebuah senyuman tipis.
__ADS_1
Reynand membalas senyumku dengan senyumannya yang tampak manis. Dia tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuatku tak bisa berkata-kata.
"Sher, aku rasa aku benar-benar tidak bisa jauh darimu."