
Sosok Kak Reza sudah berdiri tegap di hadapan kami. Dia memandang kami berdua dengan wajah dinginnya tanpa ekspresi berarti. Entah, aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Dek, Kakak mencarimu ke mana-mana dan kamu sedang bersama laki-laki ini?"
"Kak Reza ...," lirihku.
"Tamumu ini kelihatannya spesial sekali ya, Dek?" sindirnya.
"Ini tidak seperti yang Kakak pikirkan. Aku hanya ingin memastikan sesuatu."
"Memastikan apa? Aku sudah mengamati kalian sejak tadi. Sebagai seorang laki-laki, aku tahu kalau dia sedang mendekatimu!" tukasnya lalu mendudukkan tubuhnya berada di antara kami. "Jangan mendekati Sheryl!" Dia menoleh tajam ke arah Pak Reynand.
Pak Reynand lalu bangkit dari duduknya. Dia tersenyum simpul. "Sheryl pun tahu apa maksud gue datang ke sini, Kakak kesayangan," ujarnya tenang.
"Cih ... gaya lo itu bikin gue muak!" cibirnya lalu menoleh ke arahku. "Sheryl, kamu masuk sana! Kakak ingin berbicara dengan laki-laki ini."
"Tapi Kak ...," tolakku.
"Kamu sudah berani membantah Kakak, hah! Kamu ingin Kakak bilang ke Baruna begini kelakuan tunangannya di belakangnya?!" marah Kak Reza.
"Aku tidak melakukan apa pun!"
"Kamu menerima tamu laki-laki, berduaan, dan masih bilang kamu tidak melakukan apa pun?" ucap Kak Reza tidak percaya seraya membulatkan matanya menatapku.
Aku menarik napas dalam, mencoba mengatur emosiku. Perkataan Kak Reza memang ada benarnya. Dia hanya mengingatkanku agar tidak terlalu dekat dengan Pak Reynand. Aku hampir lupa tujuan awalku mengembalikan hadiah darinya.
Aku memandang ke arah Pak Reynand. Dia balas melihatku. "Pak Rey, saya mohon terima kembali hadiah ini," ucapku memelas.
Seketika wajahnya terlihat kecewa, namun dia tetap menerima hadiah itu kembali. Kak Reza hanya diam mengamati sikap kami. Tapi tatapan matanya tetap dingin, tidak memberi ampun.
"Aku mohon jangan buat keributan, Kak," ucapku pada Kak Reza.
Kak Reza mengangguk mengiyakan. Aku lalu berbalik arah melangkah cepat meninggalkan mereka berdua. Aku memang salah karena telah mengizinkannya bertamu dan berbicara denganku. Kami tidak mempunyai urusan dan hubungan apa-apa, bahkan untuk menjadi seorang teman.
__ADS_1
****
Reynand PoV
Suasana menjadi menegang saat sorot mata tajamnya itu menatapku. Terlihat marah tapi masih bisa mengendalikan dirinya. Dia tidak seemosi Baruna saat aku menantangnya. Reza, Kakak dari wanita yang kucintai. Kini semua orang mulai menentang pilihanku.
Reza duduk di hadapanku yang masih berdiri. "Duduklah! Gue bukan Baruna yang akan langsung memukul lo kalau melihat tunangannya berduaan dengan lelaki lain." Dia masih menatap dingin ke arahku.
Aku pun ikut duduk di sampingnya. Menatap lurus ke arah kolam renang yang tenang. Reza kemudian menoleh ke arahku.
"Rokok?" Reza menyodorkan sebungkus rokok dari balik sakunya.
Aku mengambil sebatang rokok dari bungkusan tersebut dan menyalakannya dengan geretan yang disodorkan Reza. Kami lalu mulai mengisapnya bersama. Menikmati sebatang rokok mempunyai kesan tersendiri. Suasana yang tegang mulai mencair di antara kami. Reza menoleh ke arahku. Wajahnya terlihat serius.
"Rey, apa yang lo suka dari adik gue?" tanyanya tiba-tiba seraya menghembuskan asap rokok dari dalam mulutnya.
"Apa gue punya kewajiban untuk jawab pertanyaan lo?" Aku balik bertanya. Bagiku pertanyaan seperti itu tidak perlu dijawab karena semua orang pun tahu, penguasa semesta yang memberikan semua rasa.
Reza tertawa kecil. Aku menatapnya bingung. Bagiku tidak ada yang lucu dari perkataanku. Dia kembali mengisap rokoknya dan mengembuskannya. Begitu pun diriku yang mulai butuh akan rokok ini.
Aku menelan ludahku, terdiam. Kata-kata Reza memang tidak ada yang salah. Kalau pun aku memang berada di posisi Baruna, pasti aku tidak akan mengizinkan siapa pun untuk mendekati tunanganku. Tapi, bagaimana dengan perasaanku sekarang? Apakah aku harus menyerah?
"Lo pasti sulit jawab pertanyaan gue. Karena gue tahu jauh di lubuk hati lo yang paling dalam, lo masih mempunyai hati nurani."
"Bukan salah gue, kalau gue punya perasaan terhadap Sheryl. Siapa pun tidak bisa menolak perasaan cinta, Za. Walaupun gue tahu mereka akan menikah, gue masih punya kesempatan di waktu yang sangat singkat ini. Bahkan, kalau gue harus mati saat itu juga. Gue rela! Kali ini masa depan gue adalah milik gue. Udah terlalu lama rasanya kehidupan gue direnggut oleh perasaan dendam yang ditanam pelan-pelan oleh nyokap gue sendiri. Tapi dengan hadirnya Sheryl, sedikit memberi gue pandangan kalau kebahagiaan memang harus diperjuangkan."
Reza terdiam. Dia tidak membalas kata-kataku. Dia lalu menghela napas panjang. Terlihat sedikit kecewa dengan jawaban yang kuberikan.
"Gue cuma mau ingetin hal itu. Pikirkan semuanya baik-baik, Rey. Jangan mengedepankan ego lo. Semua demi kebahagiaan bersama. Gue yakin lo bisa menemukan wanita yang lebih dari segalanya dibandingkan adik gue." Reza menepuk bahuku. Dia lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Za, gue mau pamit," ucapku.
"Sebentar, gue panggil Sheryl dulu." Reza berjalan meninggalkanku masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Tidak beberapa lama kemudian, Sheryl datang menghampiriku, sudah berganti pakaian. Penampilannya selalu memesona mataku yang memandangnya. Dia menatapku datar.
"Sher, saya pulang, ya," pamitku.
"Iya, Pak."
Kami lalu berjalan menuju halaman rumahnya. Saling terdiam membisu. Suasananya menjadi canggung. Dia terus mengarahkan pandangannya lurus ke depan, hening. Aku mencoba memecah suasana hening itu.
"Nanti siang, keluarga Baruna akan datang ke rumah."
"Saya tahu, tadi dia sudah mengatakannya. Saya harap pertemuannya berjalan lancar," sahutnya datar.
"Saya juga ingin semua baik-baik saja," balasku. "Ini ...." Aku kembali menyodorkan hadiahku padanya.
"Tidak, saya tidak bisa menerimanya," tolaknya.
Aku membuka kotak itu, mengambil gelang mutiara indah itu dan meraih pergelangan tangannya.
"Gelang ini akan lebih indah jika dipakai di pergelangan tanganmu," ucapku seraya menunduk memakaikan gelang itu.
Sheryl menatapku terdiam mematung. Wajahnya bersemu merah. Dia lalu mengalihkan pandangannya saat aku mendongakkan kepalaku.
Sheryl, apa yang kamu rasakan saat ini? Beri tahu aku sejujurnya karena aku semakin menyukaimu.
"Jangan seperti ini, Pak. Bapak membuat situasi saya sulit."
"Saya tidak menerima penolakan. Gelang itu saya beli hanya untukmu," sahutku.
Sheryl tidak menjawab kata-kataku, membuatku merasa lega karena dia menerima perhiasan itu.
Aku lalu berjalan melangkah masuk ke dalam mobil, memacu mobilku perlahan. Rasanya begitu sesak mengingat kata-kata Reza. Tetapi aku pun tidak meminta perasaan ini. Aku membiarkannya tumbuh berkembang hingga menyusup ke seluruh aliran darahku.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang saat aku sampai di halaman rumah. Tampak mobil keluarga Asyraf sudah terparkir di sana. Aku melangkah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Ceklek!
Ruang tamu itu sudah penuh dengan keluarga Asyraf, dan ibuku bersama Indira dan Daniel, suaminya. Semua pandangan sontak dialihkan ke arahku yang baru saja masuk. Tatapan aneh yang membuatku tidak nyaman.