Marriage Order

Marriage Order
S2 Apa Akan Menjadi Pertemuan Terakhir?


__ADS_3

Aku melihatnya berdiri di depan pintu. Menatap dingin semua wajah yang berada di sana. Dia lalu melangkah masuk menghampiri kami. Wajah tanpa ekspresi itu seperti bukan Kak Baruna yang kukenal.


"Ayah, apa aku perlu menandatangani surat itu juga?" tanyanya datar.


"Iya, tentu saja. Ayah kira kamu tidak akan keluar dari kamar, Nak," jawab Ayah.


"Tidak. Aku juga ingin jadi saksi bersatunya hubungan mereka," sahut Kak Baruna.


Aku hanya bisa menelan ludah. Jawabannya barusan membuatku semakin sakit. Aku tidak bisa melukiskan bagaimana ia juga merasakan sakit yang sama, atau lebih sakit dariku.


Sayang, aku tahu kamu lebih merasa sakit hati daripada aku. Tapi jangan membuatku tambah sakit dengan raut wajahmu yang seperti itu. Aku mencintaimu. Hanya mencintaimu.


Kak Baruna melangkah masuk mendekati meja kerja Om Anton. Dia meraih bolpoinnya, dengan cepat membubuhkan tanda tangan. Aku bergeming melihatnya. Sosok lelaki itu sudah bukan milikku lagi.


"Aku ingin ke toilet."


Aku bangkit berdiri, melangkah keluar ruangan. Berjalan perlahan menuju toilet. Tiba-tiba saja, terdengar suara seorang wanita memanggilku.


"Mbak Sheryl!"


Aku menengok ke belakang. Sosok Bi Rindang memanggilku dari belakang. Wanita berusia empat puluh tahunan itu berjalan tergopoh-gopoh menghampiriku.


"Mbak Sheryl mau ke mana?"


"Toilet, Bi," jawabku.


"Toilet sebelah kanan. Kenapa berbelok ke arah kiri?"


Aku terperanjat kaget. Bahkan, sampai berjalan pun aku buta arah. Padahal masih berada di rumah Kak Baruna. Mungkin akibat aku yang terus memikirkan putusnya hubungan kami.


"Ah .... Eh .... Makasih, Bi. Aku melamun tadi." Aku tersenyum.


"Mbak Sheryl tidak jadi berpisah dengan Mas Baruna, 'kan?" tanyanya dengan wajah cemas.


"Doakan saja, Bi. Aku juga masih merasa bermimpi dan berharap bangun di kamarnya seperti kemarin," jawabku dengan senyum tipis.


Wanita berusia empat puluh tahunan itu melangkah mendekat dan tiba-tiba saja memelukku. Membuatku terperangah, lalu membalas pelukannya.

__ADS_1


Bi Rindang berkata lirih, "Jangan tinggalkan, Mas Baruna. Hanya Mbak Sheryl yang bisa membahagiakannya."


Air mataku kembali jatuh mengalir menuruni pipi hingga jatuh menembus pakaiannya. Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Bi Rindang mendongak melihat wajahku yang menangis pilu. Dia menghapus air mataku dengan jari-jemarinya.


"Sabar, Mbak. Kalau jodoh nanti akan bersatu lagi." Bi Rindang tersenyum.


Aku membalas senyumnya. Dia kemudian mengantarku hingga ke depan pintu toilet.


"Bibi, tidak usah menungguku. Aku bisa sendiri," pintaku.


Bi Rindang menganggukkan kepalanya. Dia kemudian pergi. Aku masuk ke dalam. Mendudukkan tubuhku di atas toilet. Kembali terisak dan menekan flush berkali-kali dengan sengaja agar suara tangisku tidak terdengar sampai keluar.


Setelah puas menangis, aku bangkit berdiri. Menyeka air mata yang membuat kantung mataku bengkak. Aku melangkah keluar. Kak Baruna berdiri di hadapanku dengan kruk yang menopang dirinya. Sorot mata itu menatap dingin. Begitu tidak peduli. Berbeda dengan tatapan mata yang dulu selalu kuterima. Selalu hangat penuh dengan cinta dan rasa sayang.


"Sayang, aku tidak mau berpisah denganmu. Berikan aku kesempatan sekali saja. Aku benar-benar mencintaimu." Aku memeluknya. Namun, dia bergeming, tidak membalas pelukanku.


"Aku hanya ingin meminta kartuku kembali. Aku rasa kartu itu sudah tidak layak berada di dompetmu, karena kamu bukan calon istriku lagi," bisiknya datar. Tidak ada kehangatan di sana.


Aku melepas pelukanku. Dia benar-benar bukan Kak Baruna yang kukenal. Bertahun-tahun lamanya, baru ini aku melihat dirinya seperti ini. Mengabaikanku dengan begitu tidak berperasaan.


"Aku tidak membawa dompet hari ini. Besok akan kukembalikan," sahutku.


"Jangan tinggalkan aku! Aku mohon! Maafkan aku, Sayang!"


"Sheryl, lepaskan lututku! Kamu tidak perlu seperti ini jika kamu mencintaiku. Cukup ikhlaskan aku dan biarkan aku mencari kebahagiaanku sendiri, tapi bukan denganmu lagi. Kamu lebih pantas bersama Reynand yang mungkin lebih mencintaimu daripada aku. Menikmati setiap cintanya dan memadu kasih dengannya. Satu yang harus kamu ketahui, aku tidak akan pernah menyesal mengenalmu, walaupun hatiku harus sakit seperti ini," jelasnya. Perkataannya begitu menusuk hatiku.


Aku melepaskan lututnya. Mengikhlaskan dia pergi berjalan dengan tertatih. Sungguh, aku tidak sanggup.


Matikan saja aku, Tuhan!


****


Baruna PoV


Aku meninggalkannya yang masih duduk di lantai terisak, terdengar begitu sedih. Merobek hatiku yang yang entah sudah bagaimana bentuknya sekarang. Mungkin hampir menjadi abu.


Air mataku menetes. Bibirku bergetar. Berjalan dengan tertatih. Namun, tidak kubiarkan berlarut-larut. Tetap berdiri melangkah setegar karang yang sulit dihempas ombak. Aku segera menyeka air mata hingga ikut kering bersama dengan udara.

__ADS_1


Sudah ... sudah ... aku sudah melepasmu. Aku akan pergi dari hidupmu. Jauh ... sejauh-jauhnya. Hingga kita akan memulai hidup baru masing-masing. Aku akan mengikuti saran Bunda untuk kontrol di luar negeri. Meninggalkan sejenak segala kerumitan hidupku.


Aku melihat Bi Rindang yang sedang membuat beberapa cangkir kopi di dapur. Bergegas melangkahkan kakiku ke dalam dapur. Bi Rindang menoleh ke arahku.


"Ada apa, Mas?"


"Temani Sheryl masuk ke ruang kerja Ayah. Tadi dia duduk di dekat pintu toilet," perintahku.


"Tapi saya sedang membuat kopi."


"Sebentar saja," pintaku.


Bi Rindang mengangguk. Dia pun membalikkan tubuhnya keluar dari dapur. Tiba-tiba saja, terdengar suara Reza yang memanggilku.


"Bar!" panggilnya, membuatku menoleh menatap ke arahnya. Wajah datarnya berubah sendu saat kami bertemu.


"Jangan kasihani gue!" ucapku.


"Bar, gue gak akan maksa lo untuk memaafkan adik gue. Sebagai Kakak, gue cuma ingin meminta maaf secara pribadi. Gue merasa gak enak sama lo. Enggak ada yang tahu kalau semuanya malah jadi seperti ini," tuturnya.


"Lo gak perlu ngerasa gak enak. Lo tetep sahabat gue, walaupun hubungan gue sama Sheryl gak bisa lanjut. Gue udah gak apa-apa. Mungkin memang gak berjodoh aja." Aku menelan ludah, menahan kekecewaan.


Reza melangkah mendekat. Dia memelukku. Pelukan hangat seorang sahabat yang kubutuhkan. Reza paling mengerti bagaimana diriku dan perasaanku saat ini.


Dia melepas pelukannya, lalu berkata seraya tersenyum menghibur, "Ikan di laut masih banyak, Bro!"


"Iya, tapi nantilah. Gue masih menikmati sakit hati gue. Nyeri-nyeri sedap," selorohku, tapi hati memang tidak bisa berdusta. Bukannya tertawa, aku malah mengeluarkan air mata kembali.


Reza menepuk bahuku. Mengusapnya berkali-kali hingga aku merasa tenang.


"Lelucon lo gak lucu kalau diucapkan sambil nangis, Bro," katanya menahan tawa.


Aku ikut tertawa kecil. Sahabatku yang ini bisa saja menghibur hatiku yang sedang berdarah-darah.


You are my best friend, Za!


"Mana kopi gue?" tanyanya sambil melirik beberapa cangkir yang sudah berisi kopi hitam panas di atas nampan.

__ADS_1


"Ambil sendiri! Masa gue juga yang ambilin?!" sahutku.


"Yes, my Bro." Reza mengambil salah satu cangkir dan menyesap kopi itu perlahan.


__ADS_2