
Baruna POV
"Jadi, bagaimana Fely saat kuliah dulu?" tanya Sheryl saat kami sudah di atas tempat tidur. Mengobrol dan bertukar kalimat penutup hari seperti biasa.
Bagaimana aku mengatakannya kepada Sheryl? Aku tidak bisa terus berpura-pura tidak mengenal Felicia. Wanita itu memang adalah temanku saat menempuh pendidikan S2 di Australia.
Ini sudah malam, tapi Sheryl seperti terus penasaran dan menginterogasi bagaimana sosok Felicia, bagaimana hubungan kami dahulu, dan apa yang kami bicarakan saat bertemu di acara ulang tahun Asyraf Corp tadi. Matanya yang indah terus memandangku, menunggu jawaban yang tidak bisa sembarangan kurangkai.
"Baik," jawabku dengan jawaban standar. Aku tidak ingin membicarakannya.
"Hanya baik saja?" Alisnya yang tipis terangkat seakan tidak percaya.
"Aku tidak terlalu dekat dengannya. Dia wanita dan aku pria. Kamu berharap ada hubungan apa di antara kami? Sementara yang sejak dulu aku sukai itu hanya kamu," jawabku makin membuatnya mengernyit.
"Ah, aku kira kalian dekat. Ternyata hanya begitu saja." Mulutnya seketika mengerucut.
"Kamu pikir aku menjalin sebuah hubungan dengan wanita itu?"
"Entahlah. Kamu tidak pernah mengatakan siapa saja gadis yang dekat denganmu dulu, selain Nayara." Sheryl makin menatap ingin tahu.
"Tidak ada," jawabku singkat. Aku tidak ingin membicarakan masa lalu yang tidak penting.
"Baiklah, aku percaya. Lalu apa yang kalian bicarakan saat bertemu lagi setelah sekian lama tidak bertemu?"
"Hanya menanyakan kabar. Kamu pikir aku harus bertanya apa? Tidak pantas rasanya mengobrol urusan pribadi saat dia berada di dekat dengan anak dan suaminya. Lagipula, aku tidak ada urusan dengannya. Sebaiknya kamu tidak usah bergaul dengannya, Sayang," larangku. Sungguh, aku tidak ingin wanita itu masuk kembali dalam kehidupanku yang sempurna ini.
"Kenapa?"
"Kamu sepertinya tidak cocok bergaul dengannya. Lagipula, siapa tahu dia memiliki maksud jahat," timpalku mencoba membuatnya mundur dari pertemanan aneh para wanita. Pertemanan mereka hanya didominasi oleh gaya hedonisme duniawi dan tidak mungkin ada perasaan yang terlibat di dalamnya.
"Tidak mungkin, Sayang. Dia sangat baik kepadaku. Dan anaknya ... kamu pasti mengakui kalau mata anak itu memang mirip denganmu."
"Ck! Itu lagi .... Aku tidak tahu, Sayang. Lagipula banyak orang yang memiliki mata sama." Aku melebarkan bola mataku agar Sheryl dapat melihat perbedaan mata anak itu dan suaminya sendiri.
__ADS_1
Wajah wanitaku itu mendekat mengamati. Alis tipis hitam pekatnya berada lurus di depan mataku. Jarak kami kini sangat dekat.
"Aku tidak buta. Kalian sangat mirip. Pokoknya mirip!" ucapnya tidak mau kalah.
Aku mengembuskan napas kasar. Tingkah istriku terasa lebih manja seperti anak kecil yang tidak rela dikalahkan argumennya.
"Kamu sedang pms, ya? Mengapa jadi kesal seperti itu karena berbeda pendapat?"
Sheryl tampak tersentak kaget. Bola matanya menari ke kanan dan kiri seakan tidak ingin melihatku. Dia terlihat salah tingkah.
Seketika wanitaku itu menghela napas panjang. "Sepertinya aku tidak bisa menyembunyikannya lagi."
"Menyembunyikan apa?" tanyaku serius.
"Aku hamil," jawab Sheryl memasang lengkungan senyum lebar di wajahnya yang cantik.
"Benarkah?" tanyaku tidak percaya. Seketika kedua tanganku memegangi bahunya yang kurus.
Malu-malu dia mengangggukkan kepalanya. "Tadi pagi aku coba mengecek urinku. Meski garis itu masih samar, aku yakin kalau aku hamil." Netra Sheryl berbinar mengatakan kabar bahagia kami. Sontak aku memeluk tubuhnya dengan erat.
"Sayang, aku juga sangat senang. Aku pikir akan sulit mendapatkan keturunan karena memiliki riwayat yang tidak bagus beberapa bulan lalu."
"Itu karena usahaku menggempurmu tiap hari." Aku terkekeh sambil mengusap perutnya yang masih ramping dan dalam sembilan bulan akan mengeluarkan bayi kami yang pasti akan sangat lucu.
Jangan tanya lagi bagaimana perasaanku saat ini. Aku benar-benar bahagia, melebihi seluruh prestasi yang telah kucapai selama ini dalam hidup. Bahkan, mengenai sosok Felicia yang menggangu pikiran sejak tadi pun langsung menghilang seketika. Wanita itu tidak penting. Masa lalu kami hanyalah sebuah ingatan kabur yang aku sendiri tidak yakin apa hal seperti itu pernah terjadi di antara kami.
"Aku mencintaimu, Sayang. Hanya kamu, tidak ada yang lain," katanya tiba-tiba. Kata-katanya seakan ingin terus membuatku yakin kalau hanya diriku yang ada dalam hatinya. Tentu saja! Dia tidak mungkin memiliki hati kepada pria lain.
"Aku juga mencintaimu, Sayang." Kembali kudaratkan kecupan pada bibirnya yang mungil.
Dia membalasnya dengan penuh semangat. Mengulumnya seperti gula-gula kapas yang manis. Sementara aku, ********** tanpa ampun. Rasa kenyalnya membuatku sangat ketagihan. Sebagai seorang lelaki, aku mulai terpancing untuk melepaskan hasratku.
"Sayang, apa tidak apa-apa?" tanyanya meracau kenikmatan.
__ADS_1
"Kenapa?" Aku balas bertanya sambil sibuk memainkan dua buah gundukan miliknya yang menggoda.
"Aku pernah membacanya. Selama hamil muda, kita tidak boleh melakukan hubungan intim atau nanti malah akan terjadi kontraksi yang dapat menyebabkan keguguran."
Aku menelan ludah, lalu berhenti melakukan aktivitasku. Menghela napas panjang dan langsung menanggapi perkataannya, "Benarkah? Apa benar sumber bacaanmu itu?"
"Tentu saja. Aku membacanya di sebuah artikel kesehatan," sahutnya seraya menyengir.
"Haish! Nanti kita ke dokter saja. Aku ingin mendengar perkataan dokter langsung daripada darimu. Kentang banget," keluhku yang terpaksa harus menahan hasrat seraya mengusap benda pusaka yang sudah terlanjur menegang.
Sheryl hanya tersenyum. Dia sepertinya malah menikmati rasa kecewa yang sedang kurasakan.
"Sabar ya, Sayang. Aku bisa saja melakukannya bersamamu. Itu kalau kamu ingin anak kita celaka." Wanitaku mengusap kepalaku.
"Iya, aku sangat sabar. Aku tidak mungkin mencelakakan anak sendiri." Kembali kuusap perutnya. "Besok kita ke dokter kandungan."
"Iya." Sheryl menganggukkan kepalanya.
Setelah percakapan itu, kami pun pergi tidur. Malam ini menjadi malam yang tidak akan pernah terlupakan. Memilikinya dan calon anak kami menjadi sebuah anugerah yang tiada terkira. Ayah dan Bunda harus tahu akan hal ini.
Keesokan paginya di ruang makan ....
"Apa? Hamil?" Bunda membelalak saat mendengar kabar kehamilan Sheryl di meja makan. Aku memberitahu mereka kabar menggembirakan ini.
"Iya, Bun. Bunda dan Ayah akan segera menjadi Kakek dan Nenek. Kalau perlu, aku ingin memiliki anak yang banyak. Aku tidak ingin anakku merasakan sepinya menjadi anak tunggal di dalam keluarga. Pasti sangat menyenangkan bila rumah ini dihuni oleh banyak anak kecil," sahutku berapi-api.
Bunda dan Ayah hanya terkekeh mendengar perkataanku. Namun tidak dengan Sheryl yang langsung melotot kepadaku karena menyebut ingin memiliki banyak anak darinya.
"Kenapa, Sayang? Keberatan, huh?" tanyaku.
Belum sempat Sheryl menjawab, Bunda sontak menanggapi, "Melihat reaksi Sheryl, sepertinya dia tidak setuju, Bar."
"Kalian harus membicarakannya dengan serius. Memiliki anak bukan hal main-main. Kamu harus bekerja keras membesarkannya. Belum lagi, membagi kasih sayang secara adil," tambah Ayah yang sedang membaca sebuah surat kabar di tangannya. Ya, walau teknologi sudah berbasis digital, ia tetap berlangganan koran setiap harinya. Alasannya hanya karena kasihan kepada para loper koran yang nanti tidak memiliki pekerjaan jika semua berita harus berpindah ke dalam smartphone.
__ADS_1
"Tentu saja aku sudah mempertimbangkan semuanya. Kami pasti bisa membesarkan anak-anak kami dengan baik," sahutku sangat yakin. Ayah hanya manggut-manggut. Tidak lama, ia membuka halaman koran berikutnya. Seketika keningnya mengerut, entah mengapa.
Aku yang melihatnya sontak bertanya bingung, "Ada apa, Yah?"