Marriage Order

Marriage Order
S2 Rindu yang Menggebu


__ADS_3

Reynand PoV


Aku marah hingga menciumnya dengan kasar ketika dia bilang tidak akan membuka hatinya untukku. Bibir ranum wanita itu kulumat tanpa ampun, bahkan tidak membiarkan dia untuk meraih udara di sekitarnya. Sungguh, aku kesal setengah mati.


Tidak ada yang pernah mempermainkanku seperti ini. Aku mendorong ciumanku hingga ingin masuk ke dalam rongga mulutnya, tapi dia menolak. Tiba-tiba saja mengeluarkan air mata kesedihan.


Aku menarik dan membuang napas tidak teratur. Menurunkan segala emosi yang memuncak. Segera menghentikan tindakanku. Menciumi keningnya berkali-kali dan meminta maaf.


"Maaf. Aku sangat marah dan tidak sadar malah menyakitimu," ucapku dengan air muka menyesal.


Dia tidak menjawab dan malah terus menangis. Aku merengkuhnya dalam dekapan. Mencium puncak kepala beraroma stroberi itu berkali-kali. Aku mencintainya dan malah menyakitinya.


Rey, kamu tidak bisa memaksa dia dalam waktu sesingkat ini. Bahkan luka hatinya belum sembuh benar.


"Besok aku akan mengantarmu bertemu Baruna. Kamu bisa menyampaikan segala hal yang kamu rasakan secara bebas padanya," ucapku.


Isak tangisnya terhenti. Kepalanya mendongak menatapku dengan heran. Dia tidak menyangka aku bisa mengatakan hal seperti ini.


"Kamu akan melepaskanku, Rey?" tanyanya, lalu melepaskan pelukanku.


"Tidak. Namun, sepertinya ada hal-hal yang menggantung di antara kalian dan harus dibicarakan."


Dia menghela napas. Menatapku dengan sorot mata kecewa, kemudian berkata, "Aku pikir kamu akan melepasku."


"Tidak akan. Kamu calon istriku. Sudah susah kudapatkan. Tidak akan kulepas begitu saja," jawabku mantap.


Dia mendorongku menjauh kemudian membalikkan tubuhnya masuk ke dalam rumah. Sheryl meninggalkanku begitu saja.


Aku mengangkat kedua sudut bibirku tipis melihat tingkahnya. Kemudian segera membalik badan melangkah masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman rumah Sheryl.


Jalanan malam yang sepi membuatku memacu kecepatan kendaraan di atas rata-rata. Aku akan menginap di rumah Mama malam ini. Rasanya rindu juga tidak bertemu dengannya.


Setengah jam kemudian, aku pun tiba di halaman rumah. Masuk ke dalam teras dan menekan bel rumah. Tampak Indira membuka pintu. Dia memandangku sambil tersenyum.


"Kakak, tumben ke sini malam-malam," ujarnya membuka lebar pintu utama.


Aku melangkah masuk ke dalam. Melihat sekeliling, lalu bertanya, "Mama mana?"


"Di kamar."


"Sudah tidur?"


"Belum sepertinya. Kenapa, Kak?" tanya Dira mengekorku dari belakang.


"Mau ngobrol saja."


"Senang sekali kelihatannya. Cie, yang mau nikah," goda Indira.


Aku hanya tersenyum simpul, tidak membalas perkataannya. Sepertinya hatiku memang sangat berbunga-bunga hari ini. Yah, dia memang masih seperti itu, tapi nanti juga wanita itu akan luluh padaku. Hanya masalah waktu bagi kami untuk bisa saling mencintai.


Aku mengetuk pintu kamar Mama. Kemudian terdengar suara sahutan dari dalam.


"Tidak dikunci!"


Aku memutar handel pintu dan masuk ke dalam. Melihat Mama yang sedang membaca sebuah buku. Dia menoleh ke arahku dan melepaskan kacamata plusnya.


"Rey!" serunya sambil tersenyum lebar.


"Ma, aku hari ini menginap, ya," sahutku sambil bersalaman, lalu mengecup keningnya.


"Tidak usah menginap, langsung pindah saja, sih. Mau pindah kapan?"


"Nanti saja setelah menikah. Aku dan Sheryl pasti pindah ke sini."

__ADS_1


"Benar, ya? Kamu kelihatannya senang sekali. Ada apa?"


"Iya, Ma. Aku tadi habis dari butik si Farhan. Ternyata dia sanggup membuatkan gaun dan busana untuk kami dalam waktu seminggu."


"Wah, bagus dong!"


"Iya, Ma. Haaah, jadi tidak sabar."


"Hei, hei, jangan mengkhayal yang aneh-aneh. Sheryl sendiri sudah menerimamu belum?"


Aku menggelengkan kepala dengan raut wajah kecewa. Mama yang melihatku ikut sedih.


"Apa perlu Mama bicara dengan wanita itu?"


"Tidak usah, Ma. Ini urusanku. Jangan ikut campur. Aku yakin, nanti juga dia akan luluh," sahutku.


Mama hanya mengangguk. Dia kemudian lanjut membaca buku di tangannya. Aku merebahkan diri di atas kasur. Memandangi wajah Mama yang sangat kusayang itu.


****


Baruna PoV


Pukul 22.00


Aku mengetikkan pesan berkali-kali dan menghapusnya berkali-kali juga. Ingin sekali menanyakan keadaannya hari ini. Rinduku semakin menjadi. Namun, begitu ragu untuk mengontaknya. Merasa sudah tidak pantas menghubungi calon istri orang lain. Hal itu membuatku bingung apa yang harus kulakukan.


Tiba-tiba saja teringat akan Reza. Aku segera menghubunginya. Mungkin darinya aku bisa mendapatkan kabar terbaru adiknya itu.


Lama panggilan itu tidak diangkat. Membuat dadaku bergemuruh hebat. Menunggu dalam ketidakpastian.


"Halo, Bar." Reza akhirnya mengangkat teleponku.


"Halo, Za. Apa kabar?"


"Baik. Ada apa? Tumben telepon."


"Sheryl ada di kamarnya."


"Apa dia baik-baik aja?" tanyaku ragu.


"Kangen, ya?" tebaknya.


"Sedikit."


"Move on, Bro. Cewek bukan dia aja."


"Andai bisa semudah itu, Za."


"Iya sih. Gue ngerti. Apalagi mereka udah pernah melakukan hal itu."


"Entahlah. Gue cuma tahu dari cerita Sheryl kalau dia tidak sadar melakukannya karena mabuk. Tapi tetap saja si Rey itu kurang ajar. Memanfaatkan kondisi Sheryl yang seperti itu."


"Lo gak terima kondisi Sheryl yang udah gak perawan?"


"Sebenarnya bukan masalah itu. Bahkan setelah gue pikir sekarang, kalau dia pernah melakukannya dengan pacarnya terdahulu pun, bisa gue maafin. Karena itu adalah bagian dari masa lalunya. Tapi dengan Rey ini .... Gue terlalu kecewa sama dia. Udah banyak hal yang disembunyikan. Selama ada Rey hubungan kami pasti gak akan berhasil," jawabku.


"Sabar ya, Bar. Nanti lo akan dapat pengganti yang lebih baik."


"Lo yang paling ngertilah, Za. Terima kasih doanya. Oh iya, mungkin minggu depan gue udah gak ada di sini. Gue udah putuskan untuk meneruskan pengobatan kondisi kesehatan gue ke Malaysia."


"Serius, lo?"


"Iya. Ada temen yang rekomen ke sana," jawabku. "Lo inget gak si Nayara?"

__ADS_1


"Nayara itu cewek yang pernah deket sama lo waktu sekolah, 'kan?"


"Iya, Za. Dia sekarang jadi dokter umum dan merekomendasikan dokter subspesialis di sana."


"Oh .... Kok bisa lo sama dia kontakkan lagi?"


"Biasa dari medsos."


"Ikan jangan dianggurin."


"Ck .... Gak sempetlah mikirin itu. Gue mau sembuh dulu. Sehat rohani dan jasmani gue."


"Iya, deh. Semoga lancar semuanya, Bar."


"Terima kasih, Za. Udah dulu, ya. Nanti gue telepon lagi."


"Siap."


Aku mengakhiri panggilan. Meletakkan ponselku di atas nakas. Segera merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Setiap harinya terasa sangat membosankan.


Kling!


Terdengar sebuah notifikasi pesan. Aku kembali meraih ponselku. Pesan dari Sheryl.


"Kakak, apa kamu sudah tidur? Aku tidak bisa memejamkan mata. Bolehkah aku menghubungimu?"


Aku hanya membaca pesan itu dan meletakkannya kembali di atas nakas.


Kling!


Sebuah notifikasi pesan masuk kembali. Membuatku mengambil kembali ponselku. Pesan dari Sheryl lagi.


"Bisakah kita berbicara? Aku sungguh ingin mati rasanya. Hidupku seperti ini. Tidak ada harganya lagi."


Aku menghela napas panjang membaca pesan itu. Aku pun mengetikkan balasan pesan untuknya.


"Perjalanan kita masih panjang. Jangan pernah berkata ingin mati, Sheryl. Lambat laun kamu juga nantinya akan bahagia dan melupakanku. Seperti aku yang sedikit demi sedikit sudah mulai lupa kenangan kita."


Mungkin balasan pesan itu terlalu jahat untuknya. Namun, itulah yang harus kulakukan. Membuatnya berpikir bahwa dia sudah mulai hilang dari ingatanku.


Kling!


"Maaf sudah mengganggu waktumu, Kak. Selamat malam."


Aku tidak membalasnya. Kembali menaruh ponselku di atas nakas. Tidak lama kemudian mulai mencoba memejamkan mata. Lama berusaha untuk terlelap, bahkan rasanya sudah seribu domba kuhitung. Belum juga bisa tertidur. Beberapa hari ini, aku memang sulit untuk tidur.


Kling!


Notifikasi pesan lagi. Aku meraih ponsel itu kembali. Pesan dari Nayara.


"Besok sore aku datang ke rumahmu."


Aku membalas pesan itu.


"Jam berapa?"


Kling!


"Jam lima."


Aku kemudian membalasnya.


"Oke."

__ADS_1


Aku meletakkan ponselku kembali. Menghela napas panjang. Semoga tidak ada pesan lagi yang mengganggu. Mencoba memejamkan mata kembali dan tidak juga bisa terlelap.


Aku merindukanmu, Sheryl.


__ADS_2