Marriage Order

Marriage Order
Sebuah Tantangan


__ADS_3

Baruna PoV


Masih hari yang sama dengan episode yang lalu.


Pukul sepuluh pagi ....


Aku baru saja menjejakkan kaki masuk ke dalam ruang kerjaku. Kakek dan ayah baru saja memberitahu kabar kalau dewan direksi ingin memilih Reynand sebagai direktur yang baru untuk menggantikan posisiku yang memang sudah tidak bagus menjabat posisi itu. Banyak yang tidak suka dengan sikapku yang terlihat barbar belakangan ini di mata mereka.


Ayah akhirnya memilih terbuka dan mengalah atas desakan mereka. Memberikan Reynand kesempatan menggantikan posisiku di perusahaan di mana tidak mempunyai kekuasaan lebih tinggi dari kakek yang seorang komisaris.


Bagi mereka, itu bukan hal penting mengingat nantinya aku juga yang akan menggantikan posisi kakek setelah menikah dan menjadi satu-satunya pewaris kekayaan keluarga Asyraf berdasarkan perjanjian itu. Perjanjian yang aneh dan harus dipatuhi.


Aku tidak ingin mengakuinya, tapi jujur saja hal itu tetap memecah konsentrasiku. Aku ingin segera membereskan masalah Marriage Order Agreement, sebelum Sheryl mengetahui semuanya. Aku takut dia akan merasa kecewa dan dipermainkan sama sepertiku.


Pandanganku lurus ke depan memandang pintu besar ruanganku yang berdiri kokoh di sana. Tiba-tiba seorang laki-laki membuka pintu ruanganku diikuti oleh Pak Wicak asistenku dari belakang dengan wajah cemas. Reynand berdiri di hadapanku.


"Hai Bar!" sapanya seraya tersenyum lebar seperti habis mendapat durian runtuh, senang sekali.


"Maaf, Mas. Dia memaksa masuk," ujar Pak Wicak menundukkan kepalanya takut menatap mataku.


"Tidak apa-apa, Pak. Bapak bisa tinggalkan kami berdua," balasku.


Pak Wicak pun menunduk mohon diri. Dia berbalik arah meninggalkan kami berdua di ruangan.


"Sang calon direktur baru udah dateng," sindirku. Aku bangkit berdiri dari tempat duduk mempersilakannya duduk. "Duduklah!"


Reynand lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi di hadapanku. Dia menatap wajahku, bertopang dagu sambil tersenyum semringah.


"Kelihatannya seneng banget. Habis ngapain?" tanyaku tersenyum menyeringai.


"Suasana hati gue lagi bagus banget hari ini. Akhirnya sebentar lagi cita-cita gue tercapai."


"Selamat!" sahutku singkat.


"Tapi ada satu yang gue inginkan dan belum tercapai," tambahnya.


"Apa?"


"Sheryl." Dia tersenyum lebar.


"Gila!" dengkusku seraya menggelengkan kepala.


Reynand tersenyum melihatku. Rasa marah mulai bergelayut menyeruak masuk ke dalam perasaanku. Sepertinya dia tidak belajar dari pengalaman kemarin kalau aku pernah memukulinya.


Aku beranjak dari kursiku berjalan menghampirinya. Dia ikut bangkit berdiri. Matanya mengikuti langkahku. Kami saling berdiri berhadapan.

__ADS_1


"Maksud lo apa ngomong begitu?"


"Sheryl ... gue bener-bener suka sama dia," jawabnya santai seperti seseorang yang tidak memiliki perasaan.


Aku meraih kerah kemejanya, "Coba bilang sekali lagi?" Mataku mendelik menatap wajahnya.


"Gue suka tunangan lo, Bar!"


Mendengar hal itu, membuatku tambah berapi-api. Dia sangat sengaja membuatku marah. Aku sontak menarik kerah kemejanya hingga dia benar-benar dekat dengan wajahku. Tanpa aba-aba lagi, tunjuku melayang mengenai sudut bibirnya.


Reynand terjajar, dia menyeka sudut bibirnya. Dia bergeming tidak membalas. Tapi pandangannya masih mengarah padaku. Hanya senyuman yang tergambar di sana.


"Kenapa lo diem? Enggak berani balas?!" seruku kesal.


"Gue enggak ada niat berkelahi. Gue cuma mau ngomong itu. Selama kalian belum menikah, mungkin aja dia bisa jadi milik gue," sahut Reynand lalu berbalik arah meninggalkanku.


Beraninya dia!


"Rey! Gue belum selesai!" teriakku.


Reynand tetap berjalan tidak mengacuhkanku. Meninggalkanku sendiri yang tiba-tiba merasa cemas. Takut akan Sheryl yang berpaling dariku.


Aku meraih ponselku yang berada di atas meja. Aku menghubungi Sheryl. Perasaanku makin tidak menentu.


Reynand yang tadinya tidak ingin memperlihatkan perasaannya, kenapa tiba-tiba berterus terang kalau dia menyukai Sheryl? Aku makin tidak habis pikir, merasa ada sesuatu di antara mereka.


"Ada apa, sayang?"


"Aku hanya ingin meneleponmu. Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Aku sedang mengecek laporan mingguan kemarin. Penjualannya meningkat seratus persen. Sepertinya aku harus memberikan bonus agar para staf bisa bekerja lebih semangat."


"Syukurlah."


"Bagaimana denganmu? Aku dengar Pak Reynand hari ini datang ke kantormu."


Deg!


Dia tahu dari mana kalau Reynand datang ke sini?


Aku terdiam tidak menjawab pertanyaannya. Sheryl pun tiba-tiba diam tidak berbicara. Sepertinya dia juga tidak sengaja melontarkan perkataan itu.


"Kamu tahu dari mana kalau dia datang ke kantor hari ini, sayang? Padahal aku pun belum bercerita apa pun padamu tentang hal itu. Apa yang kamu sembunyikan dariku?"


"Sayang, tadi aku tidak sengaja bertemu dengannya saat ban mobilku bocor di pinggir jalan. Dia melihatku dan memaksa memberikan tumpangannya di mobilnya. Pak Erwin juga menyuruhku ikut dengannya, karena penggantian bannya akan memakan waktu yang cukup lama. Hanya itu."

__ADS_1


"Tapi itu artinya kamu mau berangkat kerja dengannya, sayang. Dia pun juga sedang mendekatimu. Aku kan sudah bilang jangan biarkan dia masuk ke dalam hubungan kita! Kamu juga jangan dekat-dekat dengannya!" Nada bicaraku mulai meninggi. Aku memarahinya.


Sheryl terdiam membisu tidak membalas kata-kataku. Dia terdengar menghela napasnya. Lalu membalas perkataanku.


"Aku bersalah padamu. Aku minta maaf, sayang."


Terdengar suara yang bergetar dan sedikit parau darinya. Dia menangis meminta maaf seperti telah melakukan hal yang fatal di belakangku. Aku buru-buru menyadari kesalahanku yang baru saja memarahinya.


Sebelumnya, aku memang tidak pernah memarahinya seperti ini. Tapi yang aku lakukan sekarang karena aku benar-benar terbakar cemburu mendengar jawabannya dan mendengar kata-kata Reynand tadi.


"Hei ... ada apa denganmu? Maafkan aku telah memarahimu, sayang. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis."


"Sayang, aku baru mendengar dari mulutnya sendiri kalau ternyata dia memang menyukaiku."


Suara Sheryl terdengar pelan tapi cukup membuat kemarahanku bertambah.


Reynand sialan! Dia mulai bergerak licik di belakangku.


"Sialan! Kurang ajar!" umpatku kesal.


Sheryl mendengarkan umpatanku. Dia membiarkan mulutku terus mengeluarkan umpatan dan sumpah serapah lainnya.


"Aku benar-benar minta maaf."


Lalu suara Sheryl tidak terdengar lagi. Dia mematikan teleponnya sepihak. Membuatku bertanya-tanya dan sangat merasa bersalah padanya.


Aku mencoba menghubunginya kembali tapi hanya voice mail yang terdengar. Ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali.


Ada apa denganmu sayang? Maafkan aku.


Lima menit kemudian Pak Wicak masuk ke dalam ruanganku.


"Mas, meeting dengan para dewan direksi akan dimulai sebentar lagi." Pak Wicak mengingatkanku.


"Iya saya akan segera ke sana."


"Baik, Mas. Saya tunggu di depan," jawabnya.


Aku mengangguk menatapnya. Lalu meraih jas kerja yang bersandar di kursi kerjaku lalu mengenakannya. Pak Wicak masih berdiri di hadapanku. Dia memandangku dengan tatapan sedikit khawatir.


"Mas Baruna, anda tidak apa-apa, kan?"


"Tidak, Pak. Ada apa?"


"Meeting hari ini adalah acara serah terima jabatan anda kepada direktur yang baru, Pak Reynand."

__ADS_1


"Aku tidak mempermasalahkannya. Bapak tidak perlu khawatir. Aku masih bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Bahkan jika aku harus meninggalkan keluargaku," sahutku tegas.


Pak Wicak hanya mengangguk dan berbalik arah keluar dari ruanganku. Aku pun mengikuti langkahnya dari belakang.


__ADS_2