Marriage Order

Marriage Order
Pertemuan Kedua


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu pertemuan kami tidak menyenangkan dan membuatku terkejut bukan kepalang, betapa pria ini bisa mengatakan hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Di detik ini aku melihatnya di depan mataku, tingginya menjulang hanya sepuluh sentimeter dariku. Pria berkacamata itu membuat dadaku bergemuruh tidak karuan. Bukan karena aku suka padanya, tapi aku sedikit takut ketika pandangan tajamnya menyoroti diriku seakan-akan dia menelanjangi penampilanku.


"Satya," ucapku lirih.


"Hai kita bertemu lagi. Apa ini yang namanya jodoh ya?" Satya tersenyum menyeringai.


"Lo kok bisa di sini?"


"Apa lo bener-bener enggak tahu kalau mempelai prianya itu abang gue."


Aku terkejut mendengar penjelasannya. Bagaimana bisa Nesya menjadi bagian dari keluarga besar Mahardika? Dunia memang selebar daun kelor, begitu kecil hingga di mana pun kita berada, kita bisa bertemu dengan orang yang kita kenal.


Seorang pelayan berjalan menghampiri kami membersihkan pecahan gelas di lantai. Musik kembali mengalun lembut. Para tamu kembali dengan aktivitasnya masing-masing memalingkan wajahnya dari pandangan sebelumnya ke arah kami.


"Maaf ya, gue lagi sibuk banget sekarang jadi gak bisa basa-basi lagi sama lo." Aku berbalik arah meninggalkan Satya yang masih berdiri di tengah keramaian pesta.


Tiba-tiba Satya menarik tanganku dari belakang, mencengkeramnya kuat-kuat. Berjalan menuju arah pintu belakang dekat dengan toilet para tamu.


"Sat, lepasin tangan gue! Sakit tahu!!" Aku menarik tanganku. Satya kemudian melepaskan tangannya.


"Sher, gue gak bakalan membiarkan lo bahagia di atas penderitaan gue selama ini."


"Apa sih?! Gue kan udah minta maaf sama lo. Kalau lo enggak maafin ya udah itu hak lo. Udahlah lo mestinya hidup mikirin masa depan, bukan terjebak masa lalu. Hidup masing-masing aja sekarang. Enggak usah ganggu hidup gue lagi!"


"Kalau gue bisa memaafkan lo dari dulu, gue udah lakuin. Tapi asal lo ingat penghinaan yang lo lakukan sama temen-temen lo ke gue, gak akan pernah gue lupa. Enggak akan gue maafkan sampai lo mohon-mohon berlutut di kaki gue!" Satya menunjuk jarinya ke bawah lantai.


"Udah gila lo!"


"Hahaha .... Jadi lo mau cara yang pertama? Tidur sama gue?!"


Aku menggelengkan kepalaku berpikir orang ini benar-benar sudah di luar batas. Aku berlalu berbalik arah meninggalkannya lalu melambaikan tanganku dari belakang menyatakan aku tidak mempedulikannya.


"Sheryl! Sheryl!" panggilnya namun aku berlalu dan tidak peduli.


Aku lalu masuk ke dalam salah satu bilik toilet wanita. Tidak lama kemudian aku mendengar suara pria itu lagi dari dalam bilik toilet. Dia mengejarku sampai berani masuk ke dalam ruangan toilet yang memang sepi itu.


"Sheryl jika kamu berani mengabaikanku lagi, aku tidak segan-segan menyakitimu. Di sini hanya ada kita berdua," teriaknya.


Deg!


"Apa sih yang pria ini pikirkan? Mengacau di pesta pernikahan abangnya sendiri? Menggangu wanita sampai seperti ini," pikirku.

__ADS_1


Aku lalu mengeluarkan ponsel dari pouch kecil yang kubawa. Mencoba menghubungi Kak Baruna. Nada sibuk sambungan telepon terdengar.


"Kenapa lama banget di toilet? Woy!!" Satya mulai menggedor pintu toilet dengan keras.


Aku terdiam panik menelan liurku sendiri. Menatap layar ponsel dan mulai mengetik pesan untuk Kak Baruna dan Kak Reza berharap mereka menolongku. Pesan untuk Kak Reza kuketik terlebih dahulu.


"Kakak tolong aku, ada orang aneh di depan bilik toilet perempuan dan aku ada di dalamnya. Dia menungguku keluar dan menggangguku."


Aku lalu mengetik pesan untuk Kak Baruna.


"Sayang apa kamu bisa menyusulku ke dalam toilet perempuan? Ada pria yang menggangguku sehingga aku tidak bisa keluar dari toilet ini."


Gedoran pintu itu semakin keras. Aku memejamkan mataku berpikir berharap aku mempunyai ide yang bisa menghentikan aksinya itu seraya menunggu bantuan datang.


"Ya Tuhan, apakah aku harus menyerah menghadapi orang gila ini? Tolong aku ...."


Tidak lama kemudian Satya mulai menghentikan aksinya. Seorang perempuan masuk ke dalam toilet menegurnya. Aku mendengar pembicaraan mereka dari dalam.


"Loh Mas kenapa masuk ke dalam toilet perempuan? Gak baik Mas mengintip privasi perempuan." Terdengar suara perempuan yang sangat kukenal. Suara Kak Dita.


"Ah ya sepertinya saya salah masuk ruangan," sahutnya meninggalkan ruang toilet dengan tergesa-gesa bagai pencuri panik yang ketahuan mengambil sesuatu.


"Sheryl kamu masih di dalam?" seru Kak Dita.


"Siapa orang itu Sher? Kayaknya wajahnya enggak asing deh."


"Satya. Salah satu keluarga mempelai pria."


"Ah iya aku baru ingat. Ayo keluar, Kakakmu menunggu di depan."


Aku mengangguk melangkah menuju pintu keluar. Tampak Kak Reza dan Kak Baruna menunggu kami dengan cemas di dekat pintu. Kak Baruna langsung memelukku erat.


"Maaf ya, aku tidak tahu kamu begitu kesulitan. Aku tidak mengecek ponselku lagi setelah Kakek meneleponku."


"Iya sayang. Aku tidak apa-apa."


Kak Baruna melepas pelukannya lalu menoleh ke arah Kak Reza.


"Terima kasih ya Za lo udah tolongin Sheryl."


"Ya ampun Bar, adek gue sendiri lagi susah masa enggak ditolongin."

__ADS_1


"Kakak terima kasih ya." Aku memeluk Kak Reza.


"Udah deh jangan pada lebay," Kak Reza melepas pelukanku, "By the way, kayaknya gue kenal laki-laki itu. Akhir-akhir ini suka kelihatan di kantor. Orang dari Mahardika kan?" ujar Kak Reza.


"Iya dia salah satu anaknya," tambahku.


"Kamu ada hubungan apa Sher sama orang itu?"


Aku terdiam sebentar lalu menceritakan semua yang sudah terjadi di masa lalu kepada semuanya. Mereka mendengarkan ceritaku dengan serius. Kak Baruna merangkul bahuku menenangkanku yang bercerita dengan penuh emosi.


"Jadi ya seperti ini." Aku mengakhiri ceritaku menghela napas panjang.


"Susah juga ya kalau orang sudah dendam. Kamu hati-hati Dek. Awas saja kalau dia berani melakukan hal yang tidak-tidak padamu." Kak Reza mengingatkanku dengan raut wajahnya yang kesal.


"Semangat Sheryl kamu pasti bisa menghadapi orang seperti itu." Kak Dita menepuk bahuku menyemangati.


Kak Baruna menggenggam tanganku erat membuat rasa percaya diriku bertambah mengingat ada banyak orang-orang di sekelilingku mendukungku.


"Kita pulang saja sayang. Aku tidak ingin merusak pesta ini dengan menghajarnya habis-habisan," Kak Baruna menoleh ke arahku.


"Pulang?" tanya Kak Reza.


"Iya. Bisa-bisa aku memberikannya pelajaran dengan menghajarnya di tengah-tengah pesta," sahut Kak Baruna.


"Ya sudah tapi pamit dulu ke yang lain ya."


"Iya Kakak," sahutku.


Kami lalu melangkah berjalan kembali ke ballroom tempat diadakannya pesta. Berjalan melangkah meja keluarga dan berpamitan dengan alasan ada acara lain yang menunggu kami lagi di lain tempat.


"Hati-hati ya pulangnya," Mama berpesan.


"Siap Mama," sahutku.


Kami pun berjalan menuju parkiran mobil. Kak Baruna terdiam memikirkan sesuatu yang terlihat serius.


Aku menoleh ke arahnya bertanya, "Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?"


"Bisakah kita tidak datang ke reuni sekolahmu itu? Aku takut kamu akan bertemu lagi dengannya."


"Iya aku tahu pasti dia juga akan datang. Tapi sebentar saja sayang aku ingin datang bertemu dengan teman-temanku," pintaku sedikit memaksa.

__ADS_1


Kak Baruna menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan lalu hanya mengangguk tanda setuju. Walau berat hati dia tetap mengabulkan permintaanku yang mungkin akan membahayakanku. Kali ini aku akui diriku memang keras seperti batu.


__ADS_2