
"Apa kau mengenal suamiku?" Aku menatap Felicia dengan kening yang sama berkerutnya.
"Ehm, tidak. Aku teringat seorang kawan lama saat menempuh pendidikan S2 di Australia. Nama suamimu dan dia sama."
Jawaban Felicia membuat kerutan di dahiku bertambah. Aku makin ingin bertanya lagi kepadanya mengingat Baruna adalah nama yang dimiliki oleh segelintir orang saja. Dan lagi, setahuku Australia memang adalah tempat dirinya menimba ilmu S2-nya. Berbeda dengan Kak Reza yang meneruskan pendidikannya di tanah air.
"Kau tahu, Fel. Menurutku ini sangat mengejutkan. Suamiku itu juga menimba ilmunya di Australia. Apakah mereka orang yang sama?"
Felicia tampak terdiam sebelum menjawab pertanyaanku. Sementara, Nayara dan Rafael terlihat hanya bisa memandang kami dengan tatapan heran. Tidak lama, Nayara mendadak angkat suara, berkomentar.
"Fel, suami Sheryl adalah direktur Asyraf Corp. Kau dan suamimu pasti mengenalnya, mengingat kau dan suami sama-sama seorang pengusaha di Jakarta."
"David." Tiba-tiba wanita itu mendengus tertawa kecil menyebut sebuah nama yang langsung membuatku merasa sangat bingung. "Baruna Adrian Asyraf?" Wanita itu mengucapkan nama suamiku dengan sangat lengkap.
"Ya! Dia suamiku. Jadi, kau mengenalnya?" jawabku dengan mata membeliak.
"Tentu saja!" Pandangan Felicia menjadi aneh. Melihatku dari ujung kaki hingga kepala, lalu melanjutkan perkataannya, "Mereka adalah orang yang sama. Suamimu dan kawan lamaku, Sher."
Apa yang aneh dari diriku? Aku rasa wanita ini yang sangat aneh. Ini sudah kali ke dua dia melakukannya.
"Wow! Benar-benar tidak terduga sama sekali. Aku tidak tahu kalau dunia memang sesempit itu!" ucap Nayara begitu takjub.
Entah mengapa ekspresiku tidak sama dengan Nayara yang memperlihatkan keterkejutannya dengan pandangan mainstream. Perasaanku tidak enak. Hanya bisa memasang senyum palsu di depan wanita itu.
"Aku tidak tahu kalau selera kawanku itu sepertimu," celetuknya tiba-tiba.
"Maksudmu?"
Aku makin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan wanita ini. Namun saat dia hendak menjawab, ponselku berdering.
"Sebentar," kataku meminta izin, lalu beranjak dari ruangan itu.
Nama suamiku tertera di layar. Segera, kuangkat panggilannya.
"Ya, Sayang."
"Masih di butik?" tanyanya.
"Iya, Sayang. Bukankah kamu bilang sedang sibuk?"
"Aku dan calon pembeli saham Asyraf sedang makan siang di restoran miliknya. Kamu tahu, ini restoran sushi yang sempat kita datangi saat berkencan dulu. Aku baru tahu kalau dia pemiliknya."
Mendengar nama restoran sushi tempat kami berkunjung saat berkencan di taman hiburan, membuat pikiranku melayang. Teringat akan mantan bos menyebalkan yang menyukai sushi dari restoran tersebut.
Aih, kau pasti sudah gila selalu mengaitkannya dengan pria itu, Sher. Sempat-sempatnya ....
"Apa kamu menyukainya?" tanyaku kepada Baruna.
__ADS_1
"Klienku laki-laki."
"Tidak. Maksudku sushi di sana."
"Oh .... Enak. Seperti kebanyakan sushi. Bagiku sama saja. Yang berbeda adalah pemiliknya."
"Pemilik?"
"Ya. Dia adalah David. Anak ke dua dari keluarga Berlin."
"Oh. Aku tidak tahu. Maaf!"
"Hei, kamu tidak perlu menghafal semua rekan bisnisku, Sayang." Baruna terkekeh.
Aku ikut tertawa. "Makanlah yang banyak. Sebentar lagi, aku juga akan makan siang."
"Ya, Sayang. Aku benar-benar tidak tahan untuk bertemu denganmu lagi dan melanjutkan sesi tadi pagi." Nada bicara Baruna mulai nakal di telingaku hingga membuat wajahku menghangat seketika.
"Aku mencintaimu," jawabku.
"Aku juga mencintaimu," pungkasnya mengakhiri panggilan.
Aku menghela napas panjang, memasukkan ponsel kembali ke dalam tas dan masuk ke ruangan tadi. Nayara dan Felicia tampak sedang berbincang sangat akrab.
"Oh, ayolah, Nay! Kau harus menerima cinta adik iparku. Dia sangat tergila-gila kepadamu," kata Felicia kepada Nayara hingga membuat wanita yang sempat ada hati kepada suamiku itu merona mendengarkan kalimatnya.
"Gathan, huh?" sahutnya terlihat sedikit malu-malu.
"Siapa lagi? Dia itu sangat naif. Tidak pernah berpacaran. Terlalu sibuk mengawasi adik paling bungsu di keluarga suamiku." Felicia terkekeh.
"Adik ipar bungsumu memang kenapa, Fel? Bukankah dia sudah dewasa?" Nayara membelalak.
Kelihatannya kedua wanita itu tidak peduli dengan kehadiranku di sana dan masih sibuk berbincang. Terdengar sangat seru tapi aku tidak terlalu berminat dan malah ikut mengabaikannya.
Aku menoleh ke arah Rafael dan menyapanya, "Rafa, boleh Tante tahu nama mainan robotmu?" tanyaku.
Rafael menoleh kepadaku sambil memperlihatkan senyuman manisnya. "Jiban, Tante."
"Nama yang bagus. Apa ada artinya?" tanyaku seraya bertopang dagu. Wajah polosnya membuatku betah berlama-lama di dekatnya.
Apa ini artinya aku sudah siap menjadi seorang ibu?
"Tidak. Aku hanya suka dengan nama itu. Mama yang memberi nama." Anak kecil itu menggelengkan kepalanya.
"Oh ...." Aku manggut-manggut mengerti.
"Sher, ayo kita ukur tubuhmu." Tiba-tiba saja Nayara memanggil.
__ADS_1
Aku sontak menoleh ke arahnya. "Apa kalian sudah selesai berbicara?"
"Ya. Maaf membuatmu merasa terabaikan," jawab Nayara dengan wajah yang masih bersemu merah. Sedangkan Felicia masih tersenyum-senyum menatapnya.
"Tidak apa. Kelihatannya obrolan kalian sangat seru. Aku tidak sampai hati merusaknya," ujarku membalas.
"Aih, kau pengertian sekali, Sher. Aku jadi malu." Nayara meletakkan telapak tangan pada wajahnya. Memasang senyuman untukku.
"Kutunggu undanganmu," sahutku menggoda. Nayara hanya terkekeh menanggapinya.
Selang satu jam kemudian, kami semua sudah selesai berdiskusi dan melakukan pengukuran tubuh. Felicia dan Rafael sudah meninggalkan butik terlebih dulu, sementara aku masih berada di ruangan Nayara.
"Nay, mengenai Fely, apa dia tidak menyukaiku? Mengapa terlihat tidak suka saat menatapku tadi?"
"Tidak suka? Biasa saja kok, Sher. Pembawaannya saja yang seperti itu, tapi dia wanita yang baik," jawab Nayara membela temannya itu.
"Benarkah?"
"Ya. Kau harus menjadi lebih dekat untuk tahu sifat aslinya, Sher. Ketika ia menjadi temanmu, ia akan menjadi kawan yang menyenangkan."
Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menanggapi perkataan Nayara. "Oh, seperti itu."
"Ya. Bagaimana kalau nanti kita sering-sering hang out bersama untuk lebih mengenal dirinya? Aku lihat, kau sangat menyukai Rafael."
"Bo-boleh saja." Aku mengangguk mengiyakan. Pesona anak kecil itu tidak dapat terhindarkan. Aku sangat menyukainya. "Aku juga tidak memiliki banyak teman," tambahku.
"Nah, 'kan? Nanti kau akan kuhubungi lagi jika ada kesempatan bertemu dengannya. Kita bisa keluar bersama."
"Ya, Nay."
Setelah mengatakan hal itu, aku dan Nayara keluar dari ruangan. Namun saat kami baru saja menutup pintu, sosok Reynand ada di depan kami. Entah apa yang dia lakukan di sini. Pria itu menatap bingung ke arah kami berdua.
"Sheryl, Naya?" katanya dengan tatapan terkejut seakan melihat sesuatu yang tidak biasa.
"Hai, Rey! Wah, ada angin apa kau ke sini?" tanya Nayara.
"Bertemu kakakmu. Biasa, aku pesan setelan jas untuk acara Asyraf bulan depan, tapi sudah selesai, sih. Mau cari makan setelah ini," katanya.
"Wah, kebetulan. Aku dan Sheryl juga belum makan. Bagaimana kalau kita makan bersama? Kebetulan ada resto baru di dekat butik ini."
.
.
.
Tinggalkan like, komen, dan vote kalian sebagai tanda cinta untuk author. Terima kasih.
__ADS_1