
Sheryl POV
Reynand masih memakai setelan kemeja dan celana panjangnya saat aku masuk ke dalam kamar pria lajang itu. Seketika mataku membulat melihatnya. Ini kali ke dua aku memergokinya sakit.
"Astaga, Rey! Apa yang terjadi kepadamu?" tanyaku panik, segera memegangi punggungnya dan membantu ia duduk menegakkan tubuhnya.
Reynand memegangi dadanya sambil terus berusaha menarik napas dalam-dalam dan membuangnya. Ia melakukannya berkali-kali, hendak membuat napasnya menjadi lebih teratur.
Dengan susah payah memanggil namaku lirih, "Sher ... Sheryl ...." Reynand kemudian terbatuk-batuk.
Aku memberanikan diri, mengulurkan tangan menyentuh dahinya. "Kau demam, Rey. Sebentar! Aku akan memanggil bantuan!" seruku terpikir untuk keluar dari tempat itu memanggil seseorang.
Baru saja akan membalik badan, tiba-tiba saja pergelangan tanganku ditariknya. Aku sontak menoleh, melihat wajahnya yang memelas.
"Ja ... jangan pergi ...," lirihnya terlihat menyedihkan.
Pandanganku seketika mengedar ke sekeliling kamarnya, terlihat sebuah ponsel yang tergeletak di atas nakas yang mana adalah ponselku. Segera kuraih benda itu. Reynand masih terlihat sesak menatap tak berdaya. Aku yang panik buru-buru menelepon Pak Amri yang masih menunggu di pelataran parkir.
"Pak, cepat naik ke apartemen Rey! Dia sakit! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!"
"Ya, bu," jawab Pak Amri menutup panggilan.
Aku menoleh kepadanya, masih dengan raut wajah cemas bercampur panik. Kemudian menarik beberapa laci nakas mencari obat yang dapat menolongnya. "Di mana obatnya, Rey?"
Pria itu menjawab dengan gelengan kepalanya. Jawabannya sama sekali tidak membantu. Aku lantas teringat akan Felicia yang tinggal satu lantai yang sama dengan apartemen Reynand.
Ibu jariku sontak bergulir menelepon sahabat baruku itu. Panggilan itu tersambung, tapi Felicia tidak juga mengangkatnya.
"Rey, tunggu sebentar! Aku akan keluar mencari bantuan," kataku.
Reynand akhirnya mengangguk patuh. Masih dengan napas yang terengah-engah seperti habis lari maraton sekian ratus meter.
"Fely pasti bisa membantuku!" Entah mengapa aku hanya teringat dengannya. Dengan cepat bergegas pergi dari kamar Reynand.
Tidak lama, aku sudah berada di depan pintu kamarnya. Menekan bel pintunya berkali-kali. Namun, dia tidak juga membukanya. Untuk yang terakhir kali, aku mencoba membunyikan belnya lagi.
Seseorang menarik pintunya dari dalam. David—suami Felicia berdiri di depanku dengan air mukanya yang menegang seperti habis bertengkar. Dari dalam terdengar raungan tangis Rafael yang terdengar menyedihkan.
"A-apakah ada Fely di dalam?" tanyaku.
"Masuk saja!" jawab pria itu. Tanpa berbasa-basi lagi ia pergi dari hadapanku dengan langkah cepatnya. Entah pergi ke mana.
__ADS_1
Hei! Apa yang terjadi dengan Pak David?
Aku melangkah perlahan, memasuki apartemen luas yang tadi siang kusinggahi dengan Nayara. Felicia tidak ada di ruang tamu. Dia juga tidak ada di ruangan lainnya. Suasananya sangat berbeda dari siang tadi. Kali ini begitu suram dan tampak berantakan. Barang-barang pecah belah dan lainnya berserakan di segala penjuru.
Apa yang terjadi di sini? batinku mulai cemas.
Aku mengikuti sumber tangisan Rafael yang terdengar makin kencang. Suaranya mengarah pada sebuah kamar utama. Pintu kamar itu sedikit terbuka dan tanpa sadar aku mengintip ke dalamnya.
Felicia dan Rafael tampak menangis. Keduanya menyembunyikan wajah mereka satu sama lain dalam sebuah pelukan erat di atas ranjang. Aku semakin cemas. Tanpa membuang waktu, segera berhambur masuk ke dalamnya.
"Fel, apa yang terjadi?" tanyaku.
Felicia mengangkat wajahnya, seketika menoleh ke arahku. Kami saling menatap. Aku terkesiap melihat sekitar wajahnya yang membiru.
Felicia yang melihatku tak kalah terkejut. Namun di luar dugaan. Di tengah-tengah raungan tangis sang putra, tiba-tiba saja dia mengulurkan telunjuknya ke arahku.
"Ini semua gara-gara kau, Sheryl! Pergi kau dari sini! Pergi!" pekiknya seperti orang kerasukan.
"Fely, apa maksudmu?" tanyaku yang tidak mengerti dengan ucapannya.
"Pergi kau! Wanita sialan! Berengsek!" teriaknya dengan napas terengah-engah.
Tangisan Rafael makin menjadi. Mungkin karena ia mendengar teriakan sang ibu yang begitu memekakkan telinganya. Aku mencoba mendekat hendak menghibur. Namun Felicia mengeratkan pelukannya terhadap Rafael.
"Ada apa, Fel? Maaf jika aku mengganggumu," sahutku.
"Pergi!" teriaknya lagi.
Aku bergeming tidak menyangka wanita yang ramah ini akan mengusir seperti ini. Namun, aku berusaha untuk berpikiran positif. Felicia mungkin sedang tertekan dan tidak ingin diganggu.
"Baiklah, Fel. Aku akan pergi," kataku mencoba menenangkannya.
Felicia tidak membalas lagi. Dia menepuk-nepuk punggung Rafa. Aku pun segera pergi dari tempat itu. Saat aku menutup pintu utamanya, aku teringat akan Nayara.
Nayara! Mengapa aku tidak terpikirkan sama sekali?
Tanpa pikir panjang, aku segera menelepon dokter wanita itu. "Nay! Di mana kau? Di mana?!" tanyaku tanpa basa-basi. Pandangan mataku menatap lurus ke depan. Sosok Pak Amri berjalan keluar dari pintu lift. "Pak, sini!" Aku memanggilnya.
"RS, Sher. Ada apa? Suaramu terdengar panik. Kau sedang bersama siapa?"
"Supirku. Kami sedang di apartemen Reynand. Dia sesak napas di apartemennya."
__ADS_1
"Astaga!" Suara Nayara sontak panik sama sepertiku. "Bos tidak tahu diri itu pasti tidak mengikuti perkataanku!"
"Apa yang terjadi dengannya, Nay?" tanyaku lagi, teringat akan pertemuan Reynand dengan Nayara tadi siang yang katanya ingin sharing masalah kesehatan.
"Aku belum bisa memastikannya karena dia tidak mau memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Obat sesak yang kuresepkan hanya bersifat sementara saja. Cepat bawa ke RS Sher! Kutunggu di sini!"
"Ya, Nay," jawabku kemudian mengakhiri pembicaraan kami.
Aku bersama Pak Amri memasuki kamar Reynand. Pria itu terlihat masih duduk bersandar pada dipan ranjang. Mengatur napas yang terlihat belum juga membaik karena ia masih memegangi dadanya.
"Ayo, Rey! Kita ke rumah sakit!" ucapku tegas.
Reynand hanya mengangguk. Dia tidak memiliki kekuatan untuk menolak. Aku dan Pak Amri segera membantunya beranjak dari tempat tidur.
***
Baruna POV
Suara alunan musik terdengar kencang, begitu mendentum hingga membuat jantungku nyaris keluar mendengarnya. Aku berjalan sendiri memasuki sebuah bar tempatku, Frans, Andra, dan teman-teman lain berjanji untuk bertemu.
Pandanganku mengedar. Terlihat sosok Frans dan Andra sudah duduk di sebuah sofa panjang bersama dengan dua orang wanita yang tidak kukenal. Aku mempercepat langkah menghampiri mereka.
"Hai! Sudah lama?" sapaku dengan suara sedikit berteriak.
Empat orang yang duduk di depanku itu sontak mengarahkan pandangannya. Sesaat kemudian Andra dan Frans menyunggingkan senyuman lebar. Keduanya sontak berdiri memelukku bergantian.
"Wah! Pengantin baru akhirnya datang juga!" ujar Frans seraya menepuk-nepuk punggungku. Dalam hati menolak perkataannya. Umur pernikahanku dan Sheryl sudah dua bulan lamanya dan dia berkata seakan aku masih menjadi pengantin baru.
"Bagaimana rasanya memiliki istri, Bar?" tambah Andra bertanya dengan seringai meledek.
Aku tidak langsung menjawab, segera menghempaskan bokong, duduk di hadapan mereka.
"Mana yang lain?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Seharusnya ada sepuluh orang yang hadir di pertemuan ini, tapi hanya Andra dan Frans yang terlihat.
"Tuh! Di sana!"
Frans menunjuk ke arah lantai dansa. Aku mengikuti arahan Frans. Melihat delapan kawan lainnya yang memilih berjoget di sana dengan semangat yang tidak ada habis-habisnya.
"Wah, sepertinya mereka sangat gembira," komentarku.
"Mereka seperti keluar dari sebuah sangkar bernama pernikahan, Bar. Pernikahan itu sesuatu yang sangat mengikat dan kita tidak bisa bertindak seenaknya lagi. Itu sebabnya aku memilih untuk tidak cepat menikah," timpal Frans menoleh ke arah wanita di sampingnya lalu mencium pipinya.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu, Bar? Apa Felicia bisa menjadi istri yang baik untukmu?" tanya Andra menyeringai miring. Sebuah tanda tanya besar tampak terlihat di wajahnya sama sepertiku.
Mengapa Felicia?