
Reynand Pov
"Apa-apaan kau, Julian?! Sebenarnya kau sekretaris siapa, sih?!" kesalku saat bertemu dengan Julian keesokan harinya. Dia mengkhianatiku dan malah mengikuti perintah Mama memata-matai bosnya sendiri. Sayangnya Julian hanya bergeming menunduk kala aku memarahinya. "Liat saya!" bentakku lagi.
Perlahan sekretarisku mengangkat kepalanya, menatapku. "Maaf, Pak Rey. Saya hanya melakukan perintah Ibu Aina. Beliau kelihatannya sangat mengkhawatirkan Anda."
"Berapa ibu Aina membayarmu?"
Julian terdiam, tak menjawab pertanyaanku.
"Ck!" Aku berdecak kesal, lalu menunjuk dirinya, "Awas saja jika kau menurutinya lagi tanpa sepengetahuan saya. Saya akan langsung memecatmu tanpa segan!"
"I-iya, Pak." Julian menundukkan kepalanya.
Saat aku hendak memperingatinya lagi, ponselku tiba-tiba berbunyi. "Sheryl sayangku memanggil" terlihat pada layar. Tanpa membuang waktu, aku segera mengusir Julian dengan kibasan tangan. Julian yang menunduk segera pergi dari hadapanku.
"Halo, Rey." Suara Sheryl terdengar menyapa.
"Ya, Sher," sahutku seraya menaruh bokongku di atas kursi yang langsung berputar menghadap dinding kaca besar menghadap pemandangan gedung tinggi ibu kota.
"Nanti jadi 'kan datang ke rumah?"
"Iya, Sher. Kuusahakan pulang cepat untuk acara makan malam keluargamu. Selain itu, aku juga harus mempersiapkan diri untuk bertemu Papamu, 'kan?"
"Iya. Aku harap kau bisa melakukan pendekatan padanya. Aku takut terjadi sesuatu jika kau langsung melamarku di depan Papa seperti perkataanmu kemarin kepada Mama."
Aku mengekeh mendengar perkataan Sheryl. Sebenarnya sejak pulang dari London, aku ingin sekali langsung bertemu dengan Om Agung, tapi tak bisa karena beliau sedang berada di luar kota. Alhasil hanya Tante Rini yang mengajakku berbicara.
"Mengapa kau malah tertawa?"
Perlahan aku menghentikan tawaku. "Tidak apa-apa. Aku hanya menertawakan diriku. Tak kusangka kalau aku seberani itu. Entah bagaimana bila yang kuhadapi adalah Papamu. Apa nyaliku malah akan ciut saat itu juga?"
"Rey, kubilang juga apa. Setidaknya kau harus melakukan pendekatan lebih dulu."
"Iya, Sayang. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
"Iya, aku hanya tak ingin kita salah langkah. Setelah itu, mungkin aku yang harus menundukkan Mamamu," jawab Sheryl.
"Menundukkan monster?" Aku meledeknya.
"Haish! Kau masih ingat saja," katanya bernada protes dan aku hanya bisa kembali mengekeh. Teringat betapa merahnya wajah Sheryl saat mengatakan hal itu
"Mengenai Mama, aku tak ingin kau melakukannya seorang diri. Aku takut dia menyakitimu dengan kalimat pedasnya."
"Rey...." Sheryl memanggil lirih.
"Kenapa, Sayangku? Kau sering sekali memanggilku begitu."
"Tak tahu bagaimana jadinya jika tak ada kau dalam hidupku."
__ADS_1
"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu," pungkasku menutup pembicaraan kami.
***
Sheryl Pov
Sore ini aku, Mama, dan salah satu asisten rumah tangga kami sedang berada di dapur. Kami sedang memasak. Ya. Walau tak terlalu bisa, aku cukup berusaha.
Bukan apa-apa, hari ini Mama hendak mengadakan acara kecil-kecilan yaitu acara makan malam keluarga. Mama ingin merayakan kepulanganku setelah sekian lama tak tinggal di rumah ini.
Papa? Sayangnya, aku belum bertemu dengan ayah kandungku itu. Beliau dan Kak Reza yang sudah tinggal terpisah sejak menikah sedang berada di luar kota. Seperti biasa, mereka melakukan kunjungan kantor cabang bulanan. Dan hari ini secara kebetulan keduanya akan pulang ke rumah.
Aku menoleh ke arah Mama yang sibuk mencicip sup buatannya. Sejak kemarin aku belum mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah merestui hubunganku dan Reynand.
"Ma, terima kasih, ya," kataku seketika berbisik di belakang Mama.
Mama menoleh, keningnya mengerut. "Terima kasih kenapa?"
"Tentang Rey. Tentang kami. Tentang kebahagiaan kami. Terima kasih sudah merestui hubunganku dan Reynand," jawabku tersenyum kecil.
"Oh...." Mama mengangguk-angguk, kemudian mengambil sesendok sup daging dan memberikannya untukku, "cobalah! Kurang apa?"
Bibirku seketika mengerucut protes. Tak menyambut sendok makan dari tangan Mama. "Begitu saja, Ma?"
"Hm?" Kening Mama kembali mengerut.
"Coba dulu supnya!"
Aku yang masih mengerucutkan mulut di depan Mama kemudian meraih sendok berisi sup itu dan mencicipnya.
"Asin!" kataku.
"Masa?"
"He-em."
"Tidak, kok. Lidahmu bermasalah pasti gara-gara tak sabar ingin dinikahi oleh Tuan Muda Pradipta," goda Mama yang seketika membuat wajahku merah padam.
"Mama bisa saja meledekku!"
"Benar, 'kan? Kau sangat ingin menikah dengannya seperti dia yang ingin sekali menikahimu." Mama membuatku tak bisa berkutik. Perkataannya memang benar.
"Aku sayang Mama." Aku sontak memeluk ibu kandungku dari belakang.
"Mama juga menyayangimu, Sheryl," timpal Mama.
Tak lama setelah memeluk ibuku, terdengar bunyi bel pada pintu utama. Aku bergegas mengurai pelukan. Mama memandangku heran.
"Siapa?"
__ADS_1
"Si Tuan Muda," kataku seraya mengekeh geli lalu buru-buru beringsut ke depan.
Benar saja. Reynand yang masih berpakaian resmi berdiri di depan pintu. Ia tampak membawa sebuah kantung plastik merah di tangannya. Baunya sedikit amis, tapi aku tak tahu apa isinya.
"Re-Rey...." Aku menjadi gugup. Entah mengapa aku selalu menjadi gugup saat bertemu dengannya. Debaran jantung yang tak biasa teralamatkan untuknya, "aku tak menyangka kau akan datang secepat ini," tambahku.
"Ehm, ya...." Reynand mengangguk-angguk seraya menarik tipis senyumnya, "padahal kukira kau datang buru-buru hanya untuk membukakan pintu."
"Eh, masa, sih? Apa terlihat seperti itu?" Seketika dia membuatku bertambah rikuh.
"Ya. Tertulis di dahimu," jawabnya dengan kekehan yang terdengar begitu menggelikan. Sontak saja membuatku salah tingkah dan menutup dahi dengan telapak tangan. Namun dengan cepat Reynand malah memelukku begitu erat dan langsung berbisik, "kau terlihat bodoh sekaligus menggemaskan bila sedang jatuh cinta."
Mendengar perkataan Reynand, aku langsung mendorong tubuh tegapnya. Tak lupa memasang raut kesal untuknya. Sambil melipat kedua tangan di dada, aku berucap, "Jangan lupa, wanita bodoh ini yang membuatmu hampir gila!"
Tak ada kata yang terucap dari bibirnya, Reynand malah merangkul bahuku hingga kami berdiri sangat dekat.
"Sampai kapan aku harus menunggu di terasmu, Sheryl?" bisiknya.
"Ya-ya, ayo masuk, Rey!" sahutku seketika membawanya masuk ke dalam rumah. Namun bukannya langsung duduk tenang di sofa ruang tamu, dia malah membuka jas dan dua kancing teratas pada kemejanya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Aku membeliak terkejut. Seketika pikiran messum melintas di kepalaku.
"Aku harus mengolah ikan ini," katanya seraya menyodorkan kantung plastik merahnya.
"Untunglah...." Aku menghela napas panjang.
"Untunglah?" Dia sontak bertanya dengan air muka bingung.
"Ti-tidak!" Aku buru-buru menggeleng. Pandanganku kemudian mengarah pada kantung plastik yang sejak tadi dibawanya. "Kau akan memasak?"
"He-em."
"Tidak usah. Kau ini tamu," ucapku.
"Tamu? Bukan bagian dari keluargamu nantinya, huh?" sahutnya merengut.
"Ehm, ya-ya, ta-tapi–"
"Biarkan aku memperlihatkan niat baikku kepada keluargamu." Reynand memotong ucapanku, mendaratkan kedua tangannya di pipi hingga bibirku mengerucut sangat jelek di depannya.
Aku hanya menelan ludah melihat pandangan matanya yang tulus. Tak bisa berkata-kata lagi, Reynand tiba-tiba bertanya, "Di mana letak dapurnya, Sher?"
"Biar aku antar!"
----------
Mana ada cowo begini, ya? Cuma Rey doang di dunia halu.
Haloo! Met hari raya idul fitri ya semuanya. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga masih enjoy baca kebersamaan Re-Sher ini. Santuy-santuy dulu ya. Jangan shock terapi terus. Wkwkwk.
__ADS_1