Marriage Order

Marriage Order
S2 Memburuk


__ADS_3

Baruna PoV


Aku berada di sebuah ruang berwarna putih tidak berdinding. Memakai pakaian berwarna putih. Melihat sekeliling, tidak ada apa pun di sana. Hanya ada warna putih polos.


Aku ada di mana? Apa aku sudah mati?


Tidak ada yang bisa kulakukan selain berjalan pelan dan lurus tidak tentu arah dan tujuan. Lama kelamaan ruang putih itu berganti menjadi gelap. Tidaka ada satu pun benda yang terlihat secara kasat mata.


Tempat apa ini? Mengapa menjadi gelap sekali.


Tap-tap-tap!


Terdengar langkah kaki yang semakin jelas datang menghampiri. Sesosok lelaki yang sangat kukenal menghampiriku. Reynand.


"Rey, ngapain lo di sini?" tanyaku.


Reynand tersenyum menyeringai. Wajahnya yang sombong itu seakan mengejekku.


"Bar, Sheryl udah jadi milik gue," katanya seraya tertawa.


"Maksud lo?"


"Relakan dia untuk gue dan gue akan sangat berterima kasih. Cukup sampai sini aja lo berjodoh dengannya," sahutnya.


"Enggak! Sheryl milik gue!" tolakku.


"Tapi dia mencintai gue," ucapnya.


"Dia hanya mencintai gue, Rey!" Aku bersikeras menolak perkataannya.


"Sebentar lagi akan ada anak kecil di antara kami. Lo pergi aja dari dunia ini dengan damai. Gue pasti akan bahagiakan dia."


"Sialan lo, Rey!" Aku mengepalkan tanganku mencoba meninjunya, dia berhasil berkelit, tapi tidak balas meninju.


"Selamat tinggal!"


Sosok itu tersenyum dan menghilang begitu saja. Aku menarik napas dalam-dalam. Air mataku luruh sedikit demi sedikit.


Apa maksud Reynand? Anak kecil siapa? Apa juga yang sedang terjadi padaku? Mengapa aku tidak bisa meninggalkan tempat ini?


Aku mulai berlari di suasana yang gelap. Sangat cepat hingga tidak tahu sudah sampai mana aku berlari. Lelah. Keringatku mulai mengucur deras. Jantungku berdebar dengan kencang.


Tuhan, apa maksud dari ini semua?


Tidak lama, aku melihat sosok Sheryl berdiri di hadapanku. Memakai baju pengantin yang sudah kami pesan sebelumnya. Begitu cantik memesona. Apa sekarang hari pernikahanku?


"Sheryl!" Aku memanggilnya.


Wanitaku itu menoleh ke arahku. Wajahnya terlihat sendu. Memakai gaun pengantin itu tidak membuatnya bahagia. Padahal saat mencobanya dulu, dia terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


"Sayang ...," sahutnya.


"Apa hari ini kita akan menikah?" tanyaku semringah.


Dia menggelengkan kepalanya. Menatap dalam wajahku. Aku segera menarik tangannya dan memeluk tubuhnya yang mungil.


"Aku merindukanmu," ucapku sambil mencium puncak kepalanya yang beraroma segar stroberi.


Dia tidak menjawab perkataanku. Hanya isak tangis yang terdengar. Begitu pedih membuat hatiku ikut pedih.


Aku melepas pelukanku. Menatap bola matanya yang berkaca-kaca. Segera kuhapus air mata yang mengalir deras dari kedua sudut matanya.


"Mengapa kamu begitu sedih? Apa kamu sangat merindukanku hingga begitu terharu seperti ini?"


Dia mengangguk, tidak ada sepatah kata pun. Segera kuangkat dagunya mendekat ke wajahku dan mulai menikmati bibir ranumnya yang manis. Sheryl tidak membalasnya. Dia terus menangis hingga aku bingung harus berbuat apa untuk menenangkan wanitaku ini.


"Hei, ada apa sayang?" tanyaku.


Dia menggelengkan kepalanya.


"Bar, Sheryl akan menikah sama gue." Tiba-tiba saja suara Reynand membuatku bergeming.


Saudara tiriku itu meraih pergelangan tangan Sheryl dan membawanya pergi menjauh.


"Sheryl! Sheryl!" Aku memanggilnya namun ia tidak menengok sama sekali.


Tiba-tiba terdengar suara Sheryl. Begitu jelas terngiang di telingaku, "Sayang, jangan pergi! Aku mencintaimu! Bangunlah!"


****


Sheryl PoV


Pukul 11.00


Hari ke dua di ruang tunggu ICU.


Seperti hari kemarin, aku sedang duduk di ruang tunggu ICU sambil memainkan ponsel. Tante Meri tadi izin ke lobi untuk membeli kopi.


"Sher, gimana Baruna?"


Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang sangat kukenal. Aku mendongak, mendapati sepasang suami istri berdiri di hadapanku. Indira dan Kak Daniel.


"Kalian, kapan datang?" tanyaku terkejut sambil bangkit berdiri menyalami mereka.


"Baru saja." Indira memeluk tubuhku tiba-tiba, lalu berbisik, "Sabar ya, Sher. Badai pasti berlalu."


Tenggorokanku tersekat mendengar kata-katanya. Rasanya, setiap ada orang yang menghiburku, aku selalu ingin menangis. Mataku mulai berkaca-kaca menahan air mata yang akan jatuh.


Indira mengusap rambutku, masih terus memeluk. "Sabar ya, Sayang. Tabah!" hiburnya.

__ADS_1


Aku mengangguk dan segera menyeka air mataku. Indira lalu melepas pelukannya. Dia menatap mataku sambil tersenyum. "Lihat, calon pengantin tidak boleh terlihat jelek."


Aku balas tersenyum. Kak Daniel mengangkat sudut bibirnya tipis. Dia berkata, "Kami ingin melihat Baruna."


"Silakan, tapi tidak boleh lama-lama, Kak."


"Iya, aku ingin tahu bagaimana keadaannya," sahut Kak Daniel.


"Kalian bisa masuk sendiri. Aku sudah melihatnya tadi. Dia belum sadar."


Mereka mengangguk dan berjalan ke arah ruang ICU. Aku kembali mendudukkan tubuhku bersandar di atas kursi. Kepalaku menengadah ke atas. Aku sangat bersyukur masih ada orang-orang yang mengingat kami.


Lima menit kemudian, mereka berdua keluar dari ruangan. Menatap wajahku dengan tatapan sendu, begitu sedih.


"Gue pulang ya, Sher. Lo yang sabar, ya. Baruna akan segera bangun dan pasti cari lo," pamit Indira.


"Iya, Sher. Baruna pasti sembuh. Kalian tetap akan menikah nanti," tambah Kak Daniel menghibur.


Aku mengangguk seraya tersenyum, "Terima kasih sudah menyempatkan datang menengok Kak Baruna."


"Iya, sama-sama. Kami pamit ya, Sher." Indira memelukku erat. Dia memberiku sedikit kekuatan untuk berdiri dan terus berharap.


Indira melepas pelukannya. Wanita yang sedang mengandung dan suaminya itu berbalik arah meninggalkanku. Mereka bergandengan tangan berjalan menuju lift. Aku kembali duduk.


Sepuluh menit kemudian. Tante Meri datang membawa dua paper cup kopi di tangannya. Dia menghampiriku dan mengulurkan satu paper cup kopinya untukku.


"Terima kasih, Tante," ucapku.


"Sama-sama."


"Keluarga Tuan Baruna!" Tiba-tiba panggilan perawat ICU mengagetkan kami.


Kak Baruna! Ada apa dengannya?


Kami bergegas berdiri dan melangkah cepat masuk ke dalam ruangan. Dokter dan perawat terlihat sibuk memantau perkembangannya. Sebuah surat pernyataan dan persetujuan diperlihatkan di atas meja. Kami disuruh membaca dan menandatangani persetujuan resusitasi jika terjadi sesuatu padanya.


"Ada apa?" tanya Tante Meri bingung dan sangat terkejut.


"Kondisinya tiba-tiba tidak bagus. Keadaan umumnya menurun. Mohon untuk memberikan persetujuan jika sewaktu-waktu kondisinya merosot," jelas dokter jaga.


Kami saling memandang. Tante Meri meraih pulpen di dekatnya. Tangannya gemetar ketika membubuhkan tanda tangan di atas kertas. Dadaku bergemuruh hebat melihat keadaan seperti ini. Dokter dan para perawat mengamati keadaan Kak Baruna pada setiap detiknya melalui monitor yang berada di samping tempat tidur.


Aku menerobos masuk ke dalam ruang berdinding kaca itu, menjerit seraya terisak, "Sayang, jangan pergi! Aku mencintaimu! Bangunlah!"


Setelah perkataanku itu, entah mengapa tiba-tiba kondisinya berangsur-angsur membaik. Angka-angka di monitor perlahan kembali normal. Kak Baruna bernapas dengan teratur kembali.


Jantungku yang tadinya berdetak begitu kencang, lambat laun mulai teratur. Aku menghela napas panjang seakan mimpi burukku sudah berlalu.


Tante Meri tertegun seketika melihat keadaan Kak Baruna. Dia lalu berkata, "Syukurlah, kamu masih ingin bersama kami, Nak."

__ADS_1


__ADS_2