
Acara pertunangan hari itu berjalan dengan lancar. Acara ramah tamah pun dimulai. Aku melirikkan mataku ke arah Kak Baruna yang tidak konsentrasi sepanjang acara. Padahal dia yang dari kemarin ingin acara ini berlangsung secepatnya.
"Sayang, aku lihat kamu tidak menikmati acara kita. Ada apa?" tanyaku saat duduk di salah satu meja khusus untuk kami beristirahat.
Kak Baruna menggigit bibirnya sendiri merasa ragu untuk bercerita.
"Bukankah tidak ada rahasia di antara kita?" tanyaku lagi.
Dia menelan ludah, memandang ke arahku, "Maaf sayang, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana."
"Katakanlah hal yang mengganggu pikiranmu saat ini saja," sahutku.
"Aku benar-benar tidak punya muka untuk bercerita. Aku malu mengatakannya." Kak Baruna menatapku cemas. "Penilaianku terhadap kedua orang tuaku berubah. Ternyata dulu ayahku saat masih menikah dengan Tante Aina, dia berselingkuh dan melakukan kekerasan kepada istrinya itu. Parahnya lagi ibuku menjadi wanita perebut suami orang, yaitu ayahku sendiri sayang." Air muka Kak Baruna berubah kecewa.
Aku membelalakkan mata terkejut menoleh ke arahnya. Kata-katanya bagaikan petir di siang bolong. Kedua orang tuanya yang terlihat begitu harmonis mempunyai masa lalu seperti itu.
"Benarkah? Kamu dapat cerita itu dari mana sayang?"
"Ayahku sendiri yang menceritakannya. Kemarin ayah, Tante Aina, dan Reynand bertemu. Diam-diam aku menyusul ke tempat mereka bertemu. Semuanya terungkap di sana. Ayah berencana meminta maaf kepada Tante Aina untuk kesalahan yang telah diperbuatnya bertahun-tahun lalu. Dia ingin menyelesaikan permasalahannya kepada mantan istrinya itu."
"Lalu?" tanyaku.
"Aku tidak mengerti apa-apa sampai aku menanyakan hal itu secara pribadi kepada ayah. Ayah meminta maaf padaku karena telah menyembunyikan cerita yang sebenarnya terjadi di masa lalu." Kak Baruna bercerita padaku dengan tatapan nanar.
Aku mengerlingkan mataku ke arah keluarga Kak Baruna. Semua sedang menikmati makan siang mereka. Kakek Awan juga hadir sedang bercengkerama dengan keluarga lainnya.
"Sudahlah sayang. Itu masa lalu mereka. Kamu tidak perlu ikut campur masalah ini."
"Aku malu sayang, keluargaku yang kubela mati-matian di hadapan Reynand tapi ternyata pihak kami yang sebenarnya salah. Reynand yang berhak menjadi pewaris sayang."
"Apa kamu keberatan jika itu terjadi? Kamu kan yang bilang sendiri padaku kalau kamu tidak menginginkan warisan itu bukan?"
"Aku tidak masalah jika memang sudah diputuskan seperti itu oleh kakek tapi nyatanya kan berbeda sayang. Dia yang bersikeras menjadikanku pewaris," ucapnya menggebu. "Sejak kemarin aku sudah memutuskan untuk mundur dan berbicara dengan kakek setelah pulang dari Jepang."
"Aku selalu mendukungmu sayang. Aku ambil minuman sebentar ya," kataku sambil menatap lembut Kak Baruna.
Aku beranjak dari tempat duduk berjalan menuju meja tempat berbagai minuman disediakan. Di sana berdiri Tika yang sedang menggendong bayinya.
"Hai Tik, apa kabar?"
"Hai Sheryl, congrats ya sayang! Sebentar lagi pecah telor. Hahaha," ujarnya dihiasi gelak tawa.
"Makasih ya Tika sudah datang ke acaraku. Di mana suamimu?"
"Toilet. Gimana kasus kemarin, sudah selesai?" tanyanya mengenai perkelahian yang terjadi di reuni.
"Aku harap begitu."
"Iya Satya benar-benar keterlaluan tapi netizen juga lebih parah dengan jempolnya."
__ADS_1
"Aku tidak memikirkannya. Nyatanya kabar itu hilang begitu saja," sahutku sambil tersenyum menggoda bayinya.
"Cepetan buat yang begini," kata Tika melirik bayinya sambil tersenyum.
"Iya Tika kalau sudah resmi. Nikmati pestaku ya, aku duluan," sahutku seraya memegang dua gelas minuman dingin lalu disambut anggukkan Tika.
Aku berjalan menuju tempat dudukku yang tidak jauh dari meja minuman yang berada di tengah-tengah aula.
Buk!
Tiba-tiba tubuhku ditabrak salah seorang tamu yang berjalan tergopoh-gopoh dari depan. Dia tidak menghentikan langkahnya dan terus berjalan terburu-buru. Aku kehilangan keseimbangan, tubuhku jatuh ke belakang. Sepatu heels yang kupakai tersandung gaunku sendiri. Mataku terpejam, disusul bunyi gelas yang jatuh dari genggaman tanganku.
Set!
Tubuhku tidak jadi menyentuh lantai. Seseorang menahan tubuhku dengan tangannya. Wangi parfum yang kukenal tercium di hidungku. Aku membuka mata. Wajah Pak Reynand terlukis jelas di mataku. Tidak lama mata kami pun saling bertemu, menatap hampir setengah menit lamanya. Kemudian dia menarik tangannya kembali membiarkan aku jatuh. Terlihat jelas dia benar-benar salah tingkah.
Buk!
Aku benar-benar terjatuh di lantai dengan bokong menyentuh lantai lebih dahulu. Kakiku terkilir menahan berat badan yang terjatuh lebih dulu.
"Aduh!" pekikku.
Semua orang mengalihkan pandangan matanya ke arah kami. Dua gelas air yang kupegang pun jatuh ke lantai setelah sebelumnya mengotori gaun yang kupakai.
"Tega banget Pak Reynand ini. Sudah bagus menahan tubuhku tapi kenapa dia menarik tangannya lagi?"
"Maaf Sher," ucapnya panik.
"Rey, sedang apa kamu di sini? Baru kutinggal sebentar dan kamu sekarang bersama sekretarismu," ucap Kayla.
Aku dan Pak Reynand menoleh ke arah Kayla. Kayla melipat tangannya di atas dada. Wajahnya ditekuk masam.
"Kamu gak apa-apa Sher?" tanya Pak Reynand tidak mempedulikan kata-kata kekasihnya itu.
"Jelas apa-apa Pak," sahutku kesal.
Wajahku meringis kesakitan. Kakiku terkilir sakit sekali. Kayla menatapku dengan tatapan tajam mengisyaratkan kalau Pak Reynand miliknya dan aku tidak boleh berada di dekatnya.
Kayla kamu lihat kamu sedang berada di acara apa? Masih cemburu juga denganku, hah?
"Maafkan aku tidak sengaja," ujar Pak Reynand.
"Hei Sheryl jangan dekat-dekat dengan kekasihku," seru Kayla marah.
"Maaf Mbak Kayla yang terhormat, sekarang kamu dengan berada di acara pertunangan saya."
Kayla terdiam tidak membalas langsung menarik lengan Pak Reynand mengajaknya pergi. Pak Reynand bergeming tidak menghiraukan. Tidak lama Kak Baruna datang menghampiri kami bertiga.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.
__ADS_1
"Lumayan sakit," jawabku lalu menoleh ke arah Pak Reynand. "Terima kasih sudah membantuku berdiri Pak."
Pak Reynand mengangguk tersenyum.
"Terima kasih Rey," tambah Kak Baruna. "Kamu bisa jalan?" tanyanya kembali menatapku.
"Sepertinya kakiku terkilir," kataku.
Kak Baruna lalu berjongkok di hadapanku membantuku membuka sepatu heels yang kupakai dan menentengnya kemudian merangkul dan memapahku berjalan menuju tempat duduk kami. Kami meninggalkan Pak Reynand dan Kayla yang masih berdiri di tengah-tengah.
"Berapa senti heels mu?" tanyanya.
"Sepuluh senti."
"Jangan pakai lagi. Setelah ini aku antar kamu ke dokter untuk memeriksa kakimu," perintahnya dengan nada kesal.
"Tidak perlu. Nanti juga akan sembuh sendiri," bantahku.
"Jangan membantah!"
"Okay, as you wish honey," jawabku tidak ingin membuatnya marah.
Kak Baruna tiba-tiba tertawa mendengar jawabanku, lalu membalas, "Anything for you, honey."
Mama yang melihatku berjalan terpincang-pincang datang menghampiri dengan raut wajah cemasnya. Dia membantuku berjalan sampai duduk di kursiku.
"Aduh Sheryl kamu ceroboh sekali."
Aku menggigit bibirku menahan sakit.
"Ma, maaf ya membuat malu di acara sepenting ini," kataku seraya menatap wajah Mama.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan sayang. Namanya juga musibah," jawabnya menenangkan.
"Iya aku malu dilihat semua orang."
"Ayo Mama antar ke ruangan lain." Mama dan Kak Baruna membantuku berdiri memapahku kembali ke ruangan tempatku menunggu.
Belum sempat kami melangkah, Tante Meri menghampiri kami dengan raut wajah yang tidak kalah cemas.
"Aduh Sheryl kok bisa jatuh sih?"
"Iya Tante maaf sudah membuat acaranya berantakan."
"Ya ampun tidak apa-apa sayang," sahutnya lalu mengerlingkan matanya ke arah Mama, "Kamu mau antar Sheryl ke mana Rin?"
"Ruangan tadi Mer," jawab Mama.
"Tidak usah, langsung ke kamar saja ya, istirahat di sana," ucap Tante Meri. "Bar, kamu jaga di sini saja," perintah Tante Meri kepada Kak Baruna.
__ADS_1
Ka Baruna hanya mengangguk dengan air muka yang datar menanggapi perintah ibundanya.