Marriage Order

Marriage Order
S3 Astaga, Rey!


__ADS_3

Sheryl POV


Aku memandang Baruna dengan tatapan tidak percaya. Ia hampir membentak dengan nada suara tinggi. Seumur-umur mengenalnya, dia tidak pernah seperti ini kepadaku. Dalam sekejap, air mataku luruh. Aku jadi begitu sensitif.


"Sa-sayang kamu tidak apa-apa?" Air muka Baruna sangat panik melihatku tiba-tiba saja menangis.


"Kenapa kamu membentakku?" Aku menyahut di sela-sela tangisku. Hilang sudah keinginan untuk menceritakan semua yang terjadi padaku dan Reynand tadi siang.


"Membentak? Aku tidak membentakmu, Sayang," sahutnya.


"Iya, tadi kamu melakukannya." Aku tidak mau kalah.


"Kamu terla-" Perkataannya terpotong. Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Baruna hanya melirik ponselnya sesaat dan mengabaikannya.


"Kenapa tidak kamu angkat?" Bibirku mencebik lalu melirik tajam pada ponselnya. Tulisan "Frans memanggil" tertera di layar.


Kedua alis hitam Baruna menukik hampir bertemu. Bola matanya begitu tegang menatapku. "Tunggu sebentar," katanya langsung meraih ponsel dan pergi menjauh keluar dari ruang kerjanya.


Aku menghela napas panjang. Kembali merebahkan tubuh di atas sofa. Hari ini terasa amat melelahkan dan aku merasa sangat lapar.


Baruna keluar cukup lama. Entah ada urusan apa pria bernama Frans meneleponnya. Ini sudah sepuluh menit lebih. Menunggu Baruna terasa amat membosankan.


Aku menegakkan tubuhku beranjak dari sofa. Berjalan menuju kursi kebesaran direktur utama Asyraf Corp itu. Sebuah bingkai foto kecil bergambar kami yang sedang berbalut setelan pengantin dipajangnya. Kami saling memandang dan tersenyum malu-malu.


Aku meraih bingkainya. Memandangi gambar itu sambil tersenyum. Perasaan hangat muncul begitu saja. Teringat suasana saat itu. Kami yang sangat bahagia walau sempat terjadi beberapa cerita pahit di dalam hubungan kami.


"Aku hanya mencintaimu," ucapku lirih.


Sekitar lima menit kemudian, aku mendongak melihat Baruna kembali ke ruangannya diikuti oleh sosok Pak Wicak yang membawa sebuah nampan berukuran sedang di tangannya.


"Makan dulu," ujarnya kepadaku lalu menoleh kepada Pak Wicak.


Pak Wicak mendekat, mencondongkan tubuhnya. Ia mengeluarkan mangkuk berisi soto ayam, nasi, dan segelas air putih dari atas nampan.


"Silakan dimakan, Nyonya. Maaf, hanya ada menu ini yang bisa saya sediakan dengan cepat," ujar Pak Wicak seraya menundukkan kepalanya.


"I-iya tidak apa-apa," sahutku terbata. Terkadang aku merasa tidak enak sering merepotkannya. Dia jauh lebih tua dariku dan begitu setia kepada perusahaan dan keluarga Asyraf.


Pak Wicak tidak menyahut lagi. Ia hanya menunduk kepada kami berdua lalu memutar badannya pergi meninggalkan kami.


Aku melihat Baruna menghela napas panjang. Menyunggingkan sedikit senyumnya. Aku sontak menunduk malu karena sempat kesal kepadanya.

__ADS_1


"Maaf," ucapku pelan.


"Iya, aku tahu. Aku juga salah. Sebenarnya, aku hanya mengkhawatirkanmu dan anak kita. Maaf jika suaraku tadi sedikit kencang." Matanya begitu teduh memandang.


Aku hanya mengangguk. Cepat-cepat mengambil sendok dan memakan soto ayam dan nasi yang telah disediakan. Setelah itu tidak ada pembicaraan lain lagi. Aku tidak jadi menceritakan kejadian hari ini. Aku takut merusak suasana di antara kami.


Waktu begitu cepat berlalu. Aku sudah berada di dalam ruang kerjaku lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Waktunya membereskan meja dan pulang ke rumah.


Tiba-tiba saja telepon di atas mejaku berdering. Aku segera mengangkatnya. Suara Viona terdengar di sana.


"Bu, Pak Baruna menelepon."


"Ya, Vi. Terima kasih."


Viona lalu menutup teleponnya. Suara Baruna pun terdengar.


"Sayang, sepertinya aku tidak bisa menjemputmu. Temanku yang tadi menelepon datang dari luar negeri dan kami akan bertemu bersama beberapa teman lainnya."


"Frans?"


"Iya. Jangan khawatir! Aku sudah meminta Pak Amri untuk menjemputmu. Setelah pulang, aku akan mampir ke apartemen Reynand untuk mengambil ponselmu."


"Belum tahu, tapi aku pasti mengambil ponselmu."


Aku terdiam sejenak. Sebenarnya, aku tidak suka menunggu hal yang tidak pasti. Namun, aku juga tidak ingin membatasi Baruna untuk bertemu dengan teman-temannya.


"Aku tidak bisa menunggu lama. Beberapa projek pekerjaanku ada di dalam ponsel itu. Sepulang kerja, aku akan mengambilnya sendiri, Sayang."


"Ya sudah, tidak apa, 'kan?"


"Tidak apa-apa."


"Tadi Rey mengabariku kalau dia pulang lebih cepat karena merasa tidak enak badan. Mungkin saat ini dia sudah berada di apartemennya."


"Oh. Ya sudah, aku akan langsung pergi ke apartemennya."


Setelah mengatakan hal itu, aku menutup telepon kantor. Baruna menyudahi panggilannya. Entah mengapa aku langsung menarik napas dalam-dalam dan membuangnya. Hal itu kulakukan berkali-kali seperti orang yang sedang grogi karena akan menghadapi sesuatu.


Baiklah ... dengan terpaksa aku sendiri yang akan mengambil ponselku, walau sebenarnya aku masih merasa kesal jika melihat dia lagi,


Selang setengah jam kemudian, Pak Amri—supirku sudah memarkirkan kendaraannya di pelataran parkir bangunan apartemen Reynand. Bangunan yang sama yang kudatangi tadi siang saat bertamu di kediaman Felicia. Lagi-lagi aku mengembuskan napas panjang.

__ADS_1


Pak Amri yang menyadari ketidaknyamananku berada di tempat itu tiba-tiba menoleh ke belakang. "Bu, apa Ibu ingin ditemani masuk ke dalam?" tanyanya.


"Tidak usah, Pak." Aku mengangkat tanganku menolak. Tidak ingin merepotkannya. Lagipula mengambil ponsel hanya sebentar saja.


"Baik, Bu," sahut Pak Amri patuh. Ia pun keluar dari mobil hendak membukakan pintu belakang penumpang.


Aku keluar dari dalam mobil. Berjalan menuju pintu masuk. Suasana bangunan itu terlihat sepi. Terasa sekali suasana individualnya.


Ting!


Pintu lift terbuka di lantai delapan. Aku berjalan keluar menuju sebuah unit apartemen yang sudah lama tidak pernah kujejaki.


Aku menekan bel berkali-kali, tapi tidak ada tanda-tanda Reynand akan membukakan pintunya. Seperti tidak ada kehidupan di dalam sana. Padahal Baruna bilang sendiri kalau pria itu pulang kantor lebih cepat dari biasanya karena sakit.


"Rey?!" panggilku setengah berteriak. Namun tidak ada jawaban.


Aku menelan ludah. Perasaanku tiba-tiba saja menjadi tidak enak. Bel terus berbunyi karena aku menekannya berkali-kali. Aku juga memanggilnya terus-menerus, tapi Reynand tetap tidak membalas ataupun membukakan pintunya.


Aku mengerling, menatap angka-angka yang terlihat di samping pintu sebagai pengantar kunci pintu itu sendiri.


Sandi! Ya, berapa sandinya?


Aku mulai berpikir keras. Tidak ada petunjuk. Sandi sederhana maupun rumit kupilih, tapi tidak ada yang berhasil membukanya.


"Dia pria yang sangat percaya diri. Mungkinkah tanggal lahirnya?" gumamku yang langsung mengingat-ingat kapan pria itu lahir. Anehnya, dalam waktu beberapa detik aku dapat mengingatnya.


Haish! Mengapa aku dengan mudah mengingatnya?


Tanggal lahirnya menempel begitu saja dalam ingatan. Segera kutekan angka-angkanya, tapi pintu itu tidak juga mau terbuka. Tanggal lahirnya juga bukanlah sandi kunci pintu itu.


Tidak mungkin 'kan, kalau sandinya adalah tanggal ulang lahirku?


Entah mengapa aku mulai curiga ke arah sana. Kutekan angka tanggal lahirku sendiri. Ajaib! Pintu itu terbuka begitu saja.


Rey, kau sangat menyebalkan!


Aku melangkah masuk ke dalam apartemen. Pandanganku mengedar ke sekeliling. "Rey! Rey! Apa kau ada di rumah?" teriakku ke segala penjuru tapi tidak juga ada jawaban darinya


Aki mencarinya hampir ke seluruh tempat, tapi dia tidak ada. Tiba-tiba telingaku menangkap suara erangan lirih seorang pria yang terdengar sangat menderita. Suara itu berasal dari dalam kamar Reynand.


Aku hampir berlari menuju kamarnya. Membuka pintu itu dengan terburu-buru. Sosok Reynand terlihat sedang terbaring begitu menderita di atas tempat tidurnya dan kesulitan bernapas.

__ADS_1


__ADS_2