
Tok tok tok.
Bunyi pintu yang diketuk berkali-kali membuatku terbangun dari mimpiku. Aku membuka mata beranjak dari kasurku yang empuk, membuka pintu dengan mata setengah terpejam.
"Hai sayang," sapa Kak Baruna dengan senyum cerianya.
"Oh hai sayang," sahutku sambil mengucek mata.
"Maaf aku mengganggumu istirahat. Sekarang sudah jam enam sore dan kamu baru bangun tidur. Apa seharian ini kamu tidur?" tanya Kak Baruna.
"Tidak. Tadi Pak Reynand datang menyuruhku mengerjakan prosposal proyek untuk meeting hari Senin."
"Astaga benar-benar ya dia. Kamu kan sudah tidak bekerja mulai Senin depan. Kenapa dia masih memanfaatkanmu sih?!" seru Kak Baruna kesal.
"Iya sayang tapi tugas itu memang masih tanggung jawabku yang belum kuselesaikan."
"Ya - ya aku mengerti." Kak Baruna memelukku erat.
Aku membalas pelukannya. Kemudian dia menarik tubuhnya mulai mencium dahiku turun hingga akan mencapai bibirku. Dengan sigap aku membekap mulutnya.
"Kenapa? Kamu tidak ingin aku menciummu sayang?"
"Aku sedang flu dan radang. Nanti aku akan menularkanmu sayang."
"Aku tidak peduli." Kak Baruna menyingkirkan tanganku dari mulutnya.
Dia mulai menyentuh bibirku dengan bibirnya, memagut mesra hingga tidak rela untuk melepaskan. Napas kami saling memburu. Sudah lama sekali rasanya dia tidak menyentuhku seperti ini. Aku membalasnya dengan kecupan lembut bertubi-tubi membuatnya semakin ganas menyentuhku.
"Kamu tahu sayang, kamu sudah membangkitkan macan yang tidur," katanya di sela-sela ciumannya.
Aku sontak berhenti, jantungku berdebar kencang, begitu gugup membayangkan yang akan terjadi kemudian. Aku tersadar bahwa ternyata aku masih berada di kamar. Aku mendorong tubuhnya sampai keluar pintu.
"Hei aku masih ingin menciummu sayang," katanya.
"Tidak. Maaf aku lupa sudah membangunkan macanmu," kataku.
Dia mengedikkan bahunya tapi menurut melangkah keluar dari kamarku. Cepat-cepat aku menutup pintu kamarku. Lemas dengan detak jantung yang menggebu-gebu menyerangku bersamaan. Peluh keringat yang keluar membuat tubuhku yang tadinya demam jadi tidak terasa lagi. Apakah ini penyakit malarindu?
Aku mengambil handuk dan mandi secepatnya. Takut jika Kak Baruna lama menungguku di bawah.
Tidak lama kemudian aku bertemu Kak Baruna yang menungguku di ruang keluarga sedang mengobrol dengan Kak Reza.
"Seru banget ngobrolnya. Ngobrol apa sih?" tanyaku saat melangkah masuk ke ruang keluarga.
"Dek sini." Kak Reza memanggilku.
"Ada apa?"
"Kakak tadi bilang ke Baruna kalau besok Papa mengundang keluarga Satya untuk makan siang."
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bilang padaku sayang?" tanya Kak Baruna menatap kesal.
"Ah aku lupa. Baru kemarin malam Papa bilang padaku. Lalu kamu gimana? Mau ikut?"
"Lihat besok. Sepertinya besok kakek sudah diizinkan pulang rawat. Aku yang akan mengurus kepulangannya. Nanti aku sempatkan untuk datang. Kamu tenang saja."
"Iya sayang kabari saja. Oh iya aku ke dapur dulu bantu Mama menyiapkan makan malam ya."
Kak Baruna mengangguk, aku segera berbalik arah meninggalkan mereka berdua yang masih meneruskan obrolan mereka.
"Ma apa yang bisa kubantu?" tanyaku kepada Mama yang sedang menata meja makan.
"Tidak perlu Nak. Sudah selesai semua."
Papa yang sudah duduk sedari tadi di situ tiba-tiba memanggilku.
"Sher, Papa dengar kamu sudah tidak bekerja dengan Reynand."
"Iya Papa."
"Baguslah. Mulai Senin kamu bisa datang ke kantor."
"Maksud Papa?"
"Kamu bantu Papa di kantor. Sayang kalau kamu tidak bekerja dan hanya di rumah saja," sahut Papa.
"Iya Papa," sahutku lirih.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam saat Kak Baruna dan aku duduk di ruang keluarga sambil memilih beberapa film dari aplikasi yang akan kami tonton di televisi.
"Kamu mau nonton film apa sayang? romance or action?" tanyaku.
"Terserah kamu sayang."
"Sayang ini ada beberapa film yang diangkat dari novel online. Aku sebutkan ya, nanti kamu pilih. Genre romantis ada 'Reinkarnasi Cinta Si Cantik Ruby', 'Fell In Love With My Arogan Fiance', 'Singking Of Love', 'Tersimpan Dalam Kenangan', 'Senior', 'The Mafia Queen', 'Mine', 'Cinta yang Bicara', 'Mereka Adalah Kakakku?', 'Neira', 'Mengagumimu', dan 'We Need Happiness'. Jadi kamu pilih yang mana?"
"Banyak banget pilihan film romantisnya? Action gak ada?"
"Tadi kamu bilang terserah padaku. Gimana sih? Ada nih film action sayang. Judulnya 'Pendekar Elang Putih'. Kamu mau nonton ini?"
"Iya boleh deh, itu saja."
"Siap pangeranku," kataku. Kak Baruna hanya cengar-cengir mendengar ucapanku.
Aku mulai menyalakan televisi dan memutar film yang ingin Kak Baruna tonton. Kami berdua duduk di atas sofa. Tangan Kak Baruna merangkulku dari belakang. Aku bersandar di bahunya.
Terlihat wajahnya sangat serius menonton film tersebut. Jujur saja aku kurang menyukai film action. Tapi karena aku ingin menikmati waktu berdua saja dengannya aku mengalah mengikuti maunya.
Di pertengahan film dia menoleh ke arahku seraya berbisik, "Hari Senin aku ke Tokyo dengan Fandy. Keberangkatannya ke Jepang dipercepat."
__ADS_1
Aku sontak mendongakkan kepalaku memandang wajahnya, "Berapa lama?"
"Seminggu."
"Lama sekali. Aku tidak bisa menunggu selama itu sayang."
"Iya sabar ya. Kalau bisa nanti aku pulang cepat atau kamu mau ikut kami ke sana sekalian liburan?" tanya Kak Baruna sambil mengecup sebelah pipiku.
"Mana bisa. Aku mulai hari Senin membantu Papa di kantor," keluhku.
"Yah sayang sekali. Kan bagus kalau kita bisa bersama ke sana habis acara pertunangan."
"Kamu memangnya mau apa kalau aku ikut ke sana?" Aku membulatkan mataku menatapnya.
"Hahaha .... Tidak ada." Kak Baruna tertawa terbahak-bahak tapi seperti mempunyai maksud yang lain. Aku mencubit punggung tangannya sampai dia kesakitan.
"Jangan punya pikiran mesum ya," kataku.
"I - iya maaf tuan putri, hamba bersalah," sahutnya di sela-sela tawanya. "Ngomong-ngomong mengenai kamu membantu Papamu mulai hari Senin itu, aku sangat mendukungmu sayang daripada kamu membantu Pak Reynandmu itu, lebih baik kamu membantu Papamu."
"Iya mungkin memang seharusnya dari awal aku bekerja dengan Papa," sahutku lirih dengan tarikan napas yang berat.
Entah kenapa ada rasa sedih meninggalkan kantor itu. Kantor yang membuatku mandiri seperti sekarang. Bos yang begitu galak tapi perhatian. Mungkin aku akan merindukannya.
Kak Baruna mendengarkan ucapanku sambil mengusap rambutku dengan lembut.
"Sayang bagaimana dengan Pak Reynand? Apa dia sudah resmi menggantikan posisi kakek?" tanyaku tiba-tiba.
"Belum. Kemarin hanya perkenalan saja. Ayah juga belum mengatakan apa-apa. Kakek kan masih sakit. Dewan direksi saja yang ingin buru-buru menggantikanku akibat video itu. Keputusan tetaplah berada di tangan kakek."
"Oh gitu ya."
"Iya sayang." Kak Baruna mencium keningku.
Seketika tubuhku mulai meleleh dengan sikapnya itu. Aku menegakkan badan dan bangkit berdiri.
"Mau ke mana?"
"Sepertinya aku butuh air putih sayang," ucapku menatap dengan salah tingkah.
---------------------------
Udah baca sampai sini?
Jangan lupa dukung author terus ya.
Kritik, saran, rate, like dan komennya jangan lupa.
Semangat terus untuk teman-teman yang aku sebutkan judul novelnya di atas. Kalian yang baca dukung juga ya.
__ADS_1
Thanks
Viviani