
Reynand Pov
Setelah mendapatkan penjelasan dari si penerima telepon, aku segera berlari keluar dari ruangan. Ternyata bukan hanya Sheryl yang mengalami kecelakaan. Baruna pun demikian. Pihak rumah sakit pun mengatakan kondisi mereka cukup parah.
"Maaf, Jul. Saya duluan, ya!"
Julian yang juga belum pulang karena lembur bersamaku hanya menatap bingung begitu aku melewati meja kerjanya.
"I-iya, Pak. Hati-hati di jalan."
Aku hanya mengangguk, bergegas meninggalkan kantor. Dalam perjalanan, aku terus berharap tak terjadi hal yang serius pada Sheryl dan Baruna. Tak pernah terbayangkan jika mereka benar-benar pergi dari hidupku. Kuinjak gas mobil dalam-dalam, mengebut di antara rombongan anak hujan yang masih betah membasahi bumi.
Ayah … aku harus menghubunginya dan memberitahu kabar ini.
Tidak ingin membuang waktu lagi, aku segera menghubungi Ayah. Untungnya Ayah langsung menjawab panggilanku.
"Ya, Rey?"
"Ayah, Ba-Baruna … dia da-dan Sheryl kecelakaan," kataku tergagap saking paniknya memberi kabar buruk ini.
"Apa?! Bagaimana bisa, Rey?"
"Aku tidak tahu. Aku menelepon Sheryl, tapi bukan dia yang menjawab. Orang itu bilang keduanya langsung dibawa ke rumah sakit Citra Kasih," jawabku yang tanpa sadar meluruhkan air mata.
"Astaga! Kau di mana sekarang?"
"Aku dalam perjalanan menuju ke sana."
"Ya, sudah. Kau urus semuanya. Ayah akan mengabari yang lain dan menyusulmu."
"Iya, Ayah. Terima kasih."
.
.
.
Selang beberapa waktu kemudian, aku pun tiba di ruang emergensi. Dokter mengatakan keduanya harus menjalani operasi secepatnya. Satu yang sangat kusesalkan, Sheryl harus kehilangan bayinya. Malaikat kecilnya tak tertolong lagi.
Aku memandang lampu merah yang menyala di depan ruang operasi. Menunggu keduanya keluar dari sana merupakan sebuah penyiksaan.
Ya, Tuhan ….
__ADS_1
Aku mengusap wajah beberapa kali. Rasanya kedua mataku tak bisa mengeluarkan air mata lagi. Sudah mengering dan enggan mengalir. Jantung ini berdentum tak karuan rasanya. Keduanya seakan sedang berada di ambang kematian dan tidak ada yang bisa kulakukan sekarang selain menunggu dan berharap.
***
Sheryl Pov
Aku memandangi pantulan bayanganku sendiri. Bergaun pengantin biru muda di depan cermin sebuah ruangan. Kedua bola mataku melebar tak percaya dengan apa yang terlihat di sana.
Menikah? Apa aku akan menikah? Fandy tidak mungkin mengubah rencana hidupnya untuk menikah denganku. Lalu dengan siapa aku menikah?
Aku terus bertanya-tanya dalam hati, tapi tidak juga menemukan jawabannya. Lama aku memikirkannya hingga tak sadar suara ketukan pintu terdengar sangat jelas. Di sela-sela suara ketukannya terdengar suara seorang pria yang memanggil.
"Sher? Sheryl? Apa kau sudah selesai mencoba gaunnya?"
Mendengar suara itu membuatku sontak menoleh ke belakang.
Aku mengenal suara ini.
"Sebentar!" jawabku bergegas membukakan pintu.
Benar saja! Aku melihatnya berdiri menatap dengan tatapan sinisnya seperti biasa. Dia adalah bos yang sangat menyebalkan dan aku sangat membencinya. Walau membenci, harus kuakui kalau aku tak dapat jauh darinya. Dia seperti bayangan yang terus mengikutiku. Mungkin hal itu membuat hubungan kami menjadi dekat.
Reynand menarik dagunya. Matanya memandang dengan buatan penuh. "Cantik," katanya.
"Sungguh. Lebih cantik lagi bila kau hanya memandangku," tambahnya yang langsung menarik tubuhku mendekat padanya.
"Tentu saja hanya memandangmu. Kau pikir aku bisa memandang siapa, huh?!" Aku mencolek hidung Reynand dengan senyuman menggoda.
"Entahlah. Mungkin mantan kekasihmu?" Alis tebal Reynand seketika terangkat.
"Sembarangan!" Aku menepuk jidatnya, tapi Reynand malah terkekeh.
Tiba-tiba saja, aku merasakan sakit pada bagian perut. Reynand melepaskan tautan tangannya. Wajahnya berubah menjadi sangat cemas.
"Ka-kau kenapa, Sher?"
"Entah. Aku tidak mengerti. Tiba-tiba saja sakit. Sungguh! Aku sungguh tak tahan. Tolong aku, Rey!" Dengan melelehkan air mata, tanganku mencengkeram lengan Reynand, meminta pertolongannya.
***
Baruna Pov
Perlahan, aku membuka mata. Seketika cahaya lampu berpendar di langit-langit asing merasuk ke dalam kornea. Sedetik kemudian, aku memejamkan mata kembali. Berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi.
__ADS_1
Astaga! Sheryl!
Aku sontak membeliak. Bayangan peristiwa nahas yang menimpa kami terakhir kali menari di otakku. Kecelakaan yang begitu cepat terjadi dan tak dapat kuhindari. Mataku kembali memejam saat tiba-tiba saja rasa sakit menyerang kepalaku. Tidak hanya kepala, saat hendak mengangkat tangan kanan rasanya sakit luar biasa. Pandanganku menyipit, memastikan apa yang terjadi. Tanganku terbungkus gips.
"Arrgh …."
Tak lama kemudian, terdengar suara seorang wanita. "Bar? Kau tidak apa-apa?"
Aku membuka mataku, memastikan siapa wanita itu. Felicia. Dia duduk di samping ranjang, menatap dengan air muka khawatir.
"Mengapa kau ada di sini?" tanyaku kepadanya.
Bukannya menjawab, ia malah mengalihkan pembicaraan. "Hati-hati, Bar. Jangan sembarang bergerak. Tangan kananmu patah."
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan cepat. Rasa sakit pada kepalaku belum juga hilang dan Fely tiba-tiba muncul menambahkan sakitnya. Aku berusaha menegakkan tubuhku, tapi tidak semudah yang kubayangkan. Tangan kananku tak bisa diandalkan.
"Apa susahnya sih mengatakan kalau ingin duduk? Aku 'kan bisa membantumu." Felicia tiba-tiba berkata dengan nada ketus.
Aku tidak menyahut. Pandanganku mengedar ke sekeliling ruangan. Tak ada orang lain selain Felicia. "Kau meninggalkan Rafael sendirian?"
"Tidak, Bar. Rafa ada, kok. Dia sedang bersama Tante Meri yang mengajaknya ke minimarket lobi."
"Ayah?" tanyaku lagi.
"Ayahmu sedang bersama kedua orang tua Sheryl dan Reynand di luar," jawabnya kemudian mengambil segelas air putih dan menyodorkannya kepadaku, "kau minum dulu."
Deg!
Reynand lagi …. Rasanya sangat muak mendengar namanya.
Aku meraih gelas itu, lalu meneguknya dengan cepat. "Aku ingin melihat keadaan Sheryl!" kataku yang langsung menurunkan kedua kaki ke lantai.
"Tunggu, Bar! Kau tidak boleh sembarangan-"
Baru berjalan satu langkah, tubuhku tiba-tiba saja limbung. Kepala ini pun terasa sangat pusing. Untungnya Felicia berhasil menahan tubuhku dari belakang.
"Kau mengalami gegar otak, Bar. Bersabarlah!" katanya yang langsung memapahku duduk kembali di atas ranjang rumah sakit. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menurutinya.
Aku mengusap wajah begitu gemas. Merasa menjadi suami yang tidak berguna. Padahal sangat yakin, Sheryl membutuhkan keberadaanku di sampingnya sekarang.
"Aku tidak bisa diam saja, Fel. Sheryl celaka karena aku. Bagaimana keadaan istriku sekarang? Bayi kami … bagaimana keadaannya? Apakah selamat?" Aku melontarkan pertanyaan bertubi-tubi kepada Felicia, tapi wanita itu tak menjawabnya.
Tidak lama, dia membuka mulutnya, menjawab pertanyaanku, "Sebaiknya kau menguatkan hatimu, Bar. Anakmu tak bisa diselamatkan. Keadaan Sheryl juga sangat parah. Dia belum juga sadar hingga saat ini."
__ADS_1
Kedua mataku gemetar menatap Felicia. Air mukanya begitu serius mengabarkan keadaan paling buruk dalam hidupku. "Kau sedang berbohong 'kan, Fel? Katakan bila kau sedang membohongiku!" teriakku begitu marah kepadanya.