Marriage Order

Marriage Order
Makan Malam


__ADS_3

Aku dan Kak Baruna berjalan ke ruang keluarga menyusul para orang tua mengobrol. Kak Baruna menggandeng tanganku. Dia ingin menunjukkan bahwa ada keakraban di antara kami. Rasanya aku masih tidak percaya momen seperti ini benar-benar datang dalam hidupku.


"Nah, itu Baruna dan Sheryl. Duduk di sini Nak." Tante Meri memanggil kami.


Kami kemudian duduk saling berhadapan. Mama melihat kami dengan senyum kecil tersungging di bibirnya.


"Ceritakan pada Mama tadi kalian pergi ke mana saja?" Mama membuka pembicaraan.


"Fitting baju dan makan saja sih, Tante," jawab Kak Baruna.


"Bajunya sudah ada yang cocok?"


"Sudah Tante."


"Baguslah! Padahal waktunya sebentar lagi. Mudah-mudahan nanti acaranya berlangsung lancar."


"Iya Tante," sahut Kak Baruna sopan.


Aku menoleh ke arah Papa dan Om Anton. Mereka sedang membicarakan kondisi perusahaan mereka masing-masing.


Aduh ... bosan sekali berada di sini. Rasanya aku ingin pulang saja.


"Nak Sheryl, ikut Tante sebentar yuk," ajak Tante Meri penuh arti.


Aku menengok kanan dan kiri, bingung apa yang harus aku jawab.


"Ikut saja," bisik Kak Baruna.


Aku lalu mengikuti Tante Meri yang berjalan lebih dulu. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan? Aku sangat penasaran.


Tante Meri mengajakku ke kamarnya. Kamarnya luas dengan berbagai macam furnitur impor, foto, dan lukisan antik. Dia mengeluarkan sebuah kotak dari lemari pribadinya, sebuah kotak perhiasan.


"Ayo duduk dulu." Tante Meri menyuruhku duduk di depan sebuah meja rias.


"Hmm .... Ini memang sangat cocok untuk kamu. Pilihanku memang selalu tepat," gumam Tante Meri sambil meraih sebuah kalung berlian yang berkilauan.


Aku melirik ke arah Tante Meri. Tiba-tiba saja jantungku berdetak lebih cepat. Aku sangat gugup.


"Menurut kamu kalung ini bagaimana?" tanyanya.


"I-indah sekali Tante," jawabku.

__ADS_1


"Sudah lama Tante ingin berikan ini kepada kamu. Ini hadiah dari Tante untuk kamu."


"Tidak usah repot-repot Tante," tolakku.


"Tante sakit hati loh kalau kamu menolaknya," timpalnya dengan wajah masam.


"Iya Tante, boleh." Aku tidak enak hati menolaknya.


"Sini, Tante pakaikan." Tante Meri membantu memakaikanku kalung berlian yang indah itu.


"Lihat di cermin! Bukankah ini sangat cocok denganmu?"


Kalung yang indah ini, apa aku pantas mendapatkannya?


Aku melihat diriku di cermin. Pikiranku berkecamuk. Aku merasa tidak pantas mendapatkan hadiah seperti ini mengingat tadi aku dan Kak Baruna sedikit bertengkar.


"Kamu cantik, pantas anakku tergila-gila padamu, Nak," puji Tante Meri.


Aku melihat bayanganku di cermin. Wajahku memerah malu mendengar pujian Tante Meri. Aku lalu menundukkan wajahku. Tante Meri yang melihat sikapku langsung menyentuh daguku mengangkatnya sehingga wajahku kembali terpantul di cermin.


"Sheryl, Baruna itu anak Tante satu-satunya. Dia tidak pernah menyusahkan orang tua. Sekolah dan kuliahnya berprestasi. Dia selalu menuruti keinginan kami. Ayah Baruna itu pria yang tegas. Dia mendidik anaknya selalu untuk disiplin dalam berbagai hal. Dia pun tidak pernah berpacaran. Walaupun sebenarnya ada satu atau dua orang gadis yang pernah dekat dengannya saat itu. Tante percaya kamu gadis yang baik. Meski pada awalnya kamu menolak, tapi Tante yakin cinta akan muncul seiring berjalannya waktu," cerita Tante Meri sambil membereskan kotak perhiasannya.


Aku hanya diam membeku mendengar cerita dan nasihat Tante Meri. Perasaanku campur aduk jadi satu. Aku melihat diriku lagi di depan cermin. Bola mataku mulai berkaca-kaca. Perlahan air mataku mulai jatuh mengalir di pipi. Tante Meri yang melihatku sangat panik.


Aku menggelengkan kepalaku. Kedua telapak tanganku menutupi wajahku yang malu karena menangis. Entah kenapa air mata ini tidak bisa diajak kompromi. Tante Meri sibuk menenangkanku. Kak Baruna tiba-tiba menyusul kami masuk ke dalam kamar.


"Bunda, Sheryl kenapa?" tanyanya.


"Bunda tidak tahu Nak, tiba-tiba Sheryl menangis. Bunda cuma kasih masukan sedikit kok," jawab Tante Meri masih panik.


"Sher ... Sher! Lihat aku!" ucap Kak Baruna lembut.


Aku masih menangis. Aku malu menampakkan wajahku yang seperti ini. Lalu Kak Baruna spontan memelukku dan menenangkanku. Tangisanku menjadi lebih kuat di depannya seakan-akan ingin mengeluarkan segala beban yang ada.


"Maafin Bunda ya sayang." Tante Meri ikut menenangkan.


Setelah beberapa lama tangisanku berhenti. Kak Baruna melepaskan pelukannya. Wajahnya bersemu merah. Dia memalingkan wajahnya terlihat salah tingkah.


Aku memperhatikannya dan berkata, "Terima kasih Kak, sudah menenangkanku."


"Iya sama-sama." Kak Baruna tersenyum memandangku.

__ADS_1


Lama kami saling memandang membuatku sadar akan wajah Kak Baruna. Alisnya yang begitu lebat, matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, dan bentuk bibirnya yang selalu tersenyum kepadaku itu membuat degup jantung ini lagi-lagi berdebar kencang. Aku cepat-cepat memalingkan wajahku.


"Ayo kita kembali ke ruang makan. Pasti yang lain sudah menunggu." Tante Meri memecah keheningan mengajak kami.


Kak Baruna dan aku pun ikut keluar kamar untuk makan malam. Aku melihat kedua keluarga inti sudah berkumpul di ruang makan. Pandanganku tertuju pada seorang wanita cantik yang duduk di samping Kak Reza.


Sesosok pria tua juga ikut bergabung bersama kami di mana yang kutahu dia adalah Kakek Awan.


"Kakek!" panggil Kak Baruna menghampiri dan memeluknya.


"Cucuku!" Kakek itu tertawa gembira melihat Kak Baruna.


"Kapan Kakek datang?"


"Belum lama," jawab Kakek.


"Kek, ini Sheryl. Masih ingat tidak?"


Aku membungkuk bersalaman layaknya kepada orang tua.


"Wah, tidak terasa ya pernikahan kalian sudah di depan mata. Sudah dewasa ternyata kamu, Nak. Wajahmu mengingatkanku dengan sosok Elvina." Kakek Awan menyebut sebuah nama yang tidak asing di telingaku. Elvina adalah nenekku.


"Sher, kamu ingat tidak Kakek Awan dulu pernah menolong kamu saat terjatuh di danau belakang."


Terjatuh di danau?


Aku mencoba mengingat kejadian itu. Kejadian itu sudah lama sekali terjadi. Kira-kira saat umurku tujuh tahun di mana aku, Kak Reza, dan Kak Baruna bermain dan berlarian di pinggir danau buatan bersama. Tiba-tiba kakiku tergelincir jatuh di danau yang dalam itu. Kakek Awan yang saat itu sedang memancing langsung sigap menolongku. Akhirnya nyawaku terselamatkan. Dia adalah sosok yang berjasa menyelamatkan nyawaku.


"Mungkin Sheryl lupa, Nak," ujar Kakek Awan.


"Maaf aku memang sempat lupa. Tapi sekarang aku ingat. Mungkin kalau bukan karena Kakek aku tidak akan ada di sini," ujarku.


"Itu sudah kewajiban Kakek melindungi cucu-cucu Kakek," Kakek Awan terkekeh. "Sheryl dan Baruna silakan duduk. Kita harus menikmati acara makan malam hari ini. Ada yang ingin Kakek sampaikan setelahnya."


Aku dan Kak Baruna pun duduk berdampingan. Aku menangkap sosok cantik yang berada di samping Kak Reza. Dia terlihat anggun dan begitu elegan. Kak Reza tidak pernah menceritakan sosok kekasihnya selama ini.


Tiga orang pelayan dan seorang koki datang membawa menu-menu yang akan dihidangkan dengan troli makanan. Menu makan malam itu terlihat begitu lezat. Kami semua menikmatinya. Suasana makan malam pun jadi terasa hangat.


"Makan yang banyak ya, Sher," bisik Kak Baruna.


"Iya Kak. Boleh aku tanya sesuatu?" Aku melirik wanita yang duduk di samping Kak Reza.

__ADS_1


Kak Baruna yang mengerti dengan isyaratku langsung menjawab, "Iya dia adalah pacar Reza."


__ADS_2