Marriage Order

Marriage Order
Pilihan


__ADS_3

Suara alarm ponsel membangunkanku. Aku membuka mata melihat alarm pukul enam pagi. Aku mematikan alarm dan melihat sebuah pesan dari Kak Baruna. Dia akan menjemputku pagi ini dan aku membalas "iya" tanpa sadar. Oh My God aku baru ingat Fandy juga akan menjemputku. Bagaimana ini?


Aku beranjak dari tempat tidurku, berjalan mondar-mandir tanpa arah dan kebingungan. Berpikir .... Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku menggigit bibirku sendiri khawatir akan ada pertengkaran.


Tok-tok-tok!


Terdengar pintu kamar yang diketuk.


Aku berteriak, "Siapa?"


"Kakak, Dek."


Aku cepat-cepat membuka pintu. Kak Reza berdiri di depanku lalu masuk ke kamarku. Aku masih berjalan mondar-mandir di hadapannya.


"Kamu kenapa mondar-mandir?"


"Aku bingung harus bagaimana."


"Bagaimana apanya?"


"Kedua laki-laki itu akan datang bersamaan."


"Jangan dipersulit! Kakak sih di pihak Baruna." Kak Reza terkekeh.


"Kakak tidak membantu. Cepat keluar dari kamarku." Aku mendorong Kak Reza keluar dari kamar.


Apa aku bawa mobil sendiri saja ya? Tapi nanti terlihat menghindar. Kalau pilih salah satunya bagaimana? Nanti aku dibilang sudah memilih. Tapi memilih atau tidak memilih ternyata aku sudah dipilihkan. Ah ... masa bodoh! Lihat nanti saja.


Aku bergegas masuk kamar mandi. Setengah jam kemudian sudah bersiap berangkat kerja. Aku meraih tasku, berjalan melangkah keluar kamar. Wangi masakan Bi Ati membakar semangatku pagi ini. Mama, Papa, dan Kak Reza sudah menungguku di meja makan. Aku pun ikut bergabung bersama mereka.


"Sheryl, Papa sebenarnya sudah lama ingin bertanya tentang ini. Kamu masih berhubungan dengan si Fandy itu?" Papa tiba-tiba menanyakan hubunganku dan Fandy.


"Iya Pa, masih," jawabku.


"Kamu masih keras kepala saja. Sudahi semuanya. Papa tidak akan pernah merestui kalian," sahut Papa.


"Aku tahu! Papa tidak pernah peduli perasaanku," jawabku pelan.


"Kamu selalu mengedepankan perasaanmu sendiri. Harusnya kamu tahu orang tua itu lebih banyak memakan asam garam kehidupan." Papa menasihatiku geram.


Aku menghabiskan sarapanku tanpa banyak berbicara. Papa mengalihkan wajahnya kesal. Mama pun menengahi perdebatan kami.


"Sudah Pa, Sheryl sudah cukup dewasa untuk memutuskan."


"Keputusannya masih di bawah usia dewasanya Ma. Masih idealis sama kata-kata cintanya yang cinta monyet itu," Kak Reza tertawa menyeringai.


"Kakak keterlaluan!" Aku beranjak dari kursiku dan berjalan cepat meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Sher! Sher!" Mama memanggilku tapi aku tidak menghiraukannya.


Aku berhenti melangkahkan kakiku saat mataku menangkap dua sosok lelaki yang sedang duduk di teras rumahku. Mereka adalah Kak Baruna dan Fandy yang saling membuang muka masam.


Fandy dan Kak Baruna menyadari kehadiranku. Senyum mereka mengembang seketika saat melihatku. Aku memandang kedua lelaki itu.


"Sher!" panggil Kak Reza yang muncul tiba-tiba. Langkahnya terhenti ketika melihat Kak Baruna dan Fandy.


"Lagi pada ngapain kalian pagi-pagi begini udah absen di rumah gue?" tanya Kak Reza sambil cengar-cengir.


"Jemput Sheryl," jawab Kak Baruna.


"Jemput Sheryl Kak," jawab Fandy.


Tiba-tiba Papa juga muncul, berdiri di belakang Kak Reza.


"Sheryl, sana kamu berangkat dengan Baruna. Papa mau bicara dulu dengan Nak Fandy."


"Tapi Pa ...." Aku memandang Fandy khawatir. Aku tidak ingin meninggalkannya.


"Kamu berani bantah?!" teriak Papa.


Aku menunduk. Aku tidak memiliki keberanian yang besar untuk menentang kata-katanya. Amarah Papa terlihat lebih menyeramkan dari hal lainnya.


"Ayo Sher, kita pergi." Kak Baruna menarik tanganku.


"Sudahlah mungkin Papamu mau bicara serius dengan pacarmu."


Aku berjalan terpaksa mengikuti Kak Baruna. Dia lalu membukakan pintu mobilnya. Aku masuk dan memasang sabuk pengaman. Perlahan air mataku jatuh tidak terbendung. Aku menangis.


Kak Baruna menghidupkan mesin mobilnya. Mobil mulai melaju membelah jalanan ibu kota. Pemandangan kemacetan lalu lintas tidak mampu membuat tangisanku berhenti. Aku masih menunduk menangis tersedu-sedu.


"Bisa diam tidak?" ucap Kak Baruna pelan. Dia masih fokus pada jalan.


Aku tidak memedulikan kata-katanya. Kak Baruna mengemudikan mobilnya perlahan mengikuti arus lalu lintas yang tersendat. Kemudian dia berbelok arah ke arah jalan yang sepi dan menghentikannya di bahu jalan yang juga sepi.


Kak Baruna mencopot sabuk pengamanku dan sabuk pengamannya. Dia memegang bahuku. Mendekatkan wajahnya berhadapan dengan wajahku.


"Sheryl, lihat aku! Tolong kamu berhenti menangis."


Aku mencoba membuka mataku. Masih dengan air mata yang berlinang. Wajahku berhadapan dengan wajahnya. Dia menatap mataku lekat-lekat.


"Sheryl, dengarkan aku! Aku tidak tahu seberapa dalam rasa cintamu padanya. Tapi kamu menangis pun percuma. Papamu itu orang yang sangat berkomitmen dengan ayahku. Tidak ada yang bisa dilakukan. Kalau aku bisa, aku akan mundur sejak dulu dari rencana perjodohan ini. Aku tidak tega melihat kamu menangis. Tapi jauh di lubuk hatiku aku kecewa karena kamu menangisi laki-laki yang tidak memiliki komitmen masa depan denganmu."


"Kakak tidak akan mengerti."


"Kamu pikir aku tidak mengerti apa? Kehidupanmu tidak jauh berbeda dengan hidupku yang penuh aturan. Hanya saja aku menjalaninya dan tidak pernah membantah selama ini. Satu kali, hanya satu kali aku membantah adalah keputusan Kakek semalam. Menggantikan Kakek adalah beban tersendiri buatku."

__ADS_1


Aku terdiam seribu bahasa. Aku teringat cerita Tante Meri tentang Kak Baruna yang tidak pernah menyusahkan keluarganya. Aku merasa malu dan tidak tahu harus menjawab apa. Situasi ini bukan hanya aku yang merasakan.


Kak Baruna menyeka air mataku yang jatuh berlinang. Dia memelukku dan menenangkanku. Entah mengapa aku merasa lebih tenang seketika saat berada di dekatnya.


"Aku janji akan terus membahagiakan kamu. Aku akan terus menunggu hatimu terbuka untukku," tambah Kak Baruna lagi.


Aku hanya mengangguk dan mencoba untuk memercayai kata-katanya. Kak Baruna menjalankan kembali mobilnya. Mobil melaju cepat menuju kantorku.


Dua puluh menit kemudian aku sampai di kantorku. Irene menyambutku dengan senyumnya yang semangat. Aku pun membalas senyumnya dengan wajahku yang masih sembab.


"Selamat pagi, Sher. Gimana weekend kemarin? Tuh muka lo kenapa lagi? Lo abis nangis?"


"Pagi Ren. Gue no comment dulu," jawabku.


Aku menghidupkan komputerku kemudian meraih berkas-berkas pekerjaan yang akan kukerjakan hari ini. Irene menoleh padaku seraya tersenyum kecil.


"Jangan nangis terus dong, Sher. Nanti akan indah pada waktunya," ucap Irene.


"Iya Ren terima kasih udah hibur gue," sahutku dengan suara serak.


Irene menepuk bahuku menyemangati. Aku kembali fokus menatap layar komputer hingga tiba-tiba manajer HRD, Pak Burhan memanggilku melalui sambungan telepon.


"Mbak Sheryl, bisa datang ke ruangan saya sebentar."


"Ada apa ya, Pak?"


"Ada hal penting yang mau saya sampaikan."


"Baik Pak, saya segera ke sana."


Ada apa manajer HRD memanggilku? Tidak seperti biasanya. Apa aku melakukan kesalahan?


"Kenapa Sher?"


"Gak tahu Ren. Pak Burhan panggil gue ke ruangannya. Gak biasa-biasanya," jawabku.


"Asik mau naik jabatan nih kayaknya," Irene menggoda.


"Ada-ada aja lo. Masa iya gue gantiin Pak Renaldy. Eh ngomong-ngomong mata gue masih bengkak gak?"


"Udah gak terlalu sih. Enggak apa-apa juga kalo buat ketemu Pak Burhan aja sih."


"Oke Ren. Gue pergi ya." Aku berdiri melangkah ke ruangan Pak Burhan.


Sementara ponselku berbunyi. Sebuah panggilan dari Fandy.


"Sher, Fandy telepon tuh," panggil Irene.

__ADS_1


"Udah biarin aja. Nanti gue telepon balik," sahutku.


__ADS_2