
Sheryl Pov
Aku memutuskan untuk bertemu Baruna. Kak Reza pun pergi meninggalkan kamarku. Seraya berjalan menuruni tangga, ponsel dalam genggaman kembali bergetar dengan tak sabar. Reynand menelepon.
"Mengapa kau tiba-tiba mematikan teleponmu?!" Suara teriakannya membuatku langsung menjauhkan alat komunikasi itu dari telinga.
"Maaf, Rey. Kurasa ini bukan saatnya kita berbicara," kataku yang tanpa melihatnya lagi langsung memasukkan ponsel ke dalam saku.
Setibanya di ruang tamu, Baruna tak ada sana. Padahal tadi jelas-jelas Kak Reza mengatakan ia datang ke rumah.
Di mana dia? batinku seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling, tapi dia tak ada sosoknya di sekitarku.
Tak lama, terlihat Mama yang muncul dari pintu utama. Dia menghentikan langkah sedikit terkejut melihatku. Entah apa yang terjadi.
"Apa Mama melihat Mas Baruna?"
"Ya. Dia ada di halaman samping," jawab Mama lalu menengadah sesaat seolah menahan sesuatu yang jatuh dari wajahnya, "Mama tak mengizinkan ia menginjakkan kakinya di rumah ini," tambah Mama dengan raut kecewanya hingga membuatku ingin menelisik lebih jauh.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Tak ada karena tangan Mama yang berbicara." Mama menarik setengah senyumnya. Aku sontak membeliak terkejut.
"Mama menamparnya?"
"Dia pantas mendapatkan hal itu. Hukuman ini lebih ringan dibandingkan jika ia bertemu Papamu. Untungnya Mama berhasil meyakinkan Papamu untuk tidak pulang dengan emosi yang meledak-ledak. Kau tahu sendiri bagaimana ia langsung marah kala tahu putrinya diselingkuhi. Hubungan pertemanan antara Papamu dan ayah mertuamu tak dipandangnya sama sekali. Ia langsung memutuskan hubungan itu begitu saja!" Mama menyahut dengan nadanya yang meledak-ledak. Ya! Untungnya sejak tiga hari yang lalu Papa sedang berada di luar negeri. Papa yang seharusnya pulang hari ini, menunda kepulangannya karena Mama yang memintanya.
__ADS_1
Mendengar hal itu bola mataku gemetar hendak membanjiri pipi. "Mama...."
Bagaimanapun aku merasa sangat beruntung memiliki kedua orang tua yang mengerti bagaimana posisiku saat ini, terlepas dari kesalahan masa lalu yang memang tak sesuci memerankan tokoh sebagai seorang istri.
Mama melangkah mendekat, lalu dengan tangan terbukanya memelukku erat. "Kau tak pantas menangis lagi karenanya, Nak. Lakukan yang seharusnya kau lakukan. Mama akan mendukungmu."
"Mama, maaf." Air mataku menggelinang begitu saja.
"Tak perlu minta maaf. Kebahagiaanmu yang terpenting."
Mama mengurai pelukannya. Dengan ibu jarinya menyeka air mata yang terlanjur menyusuri pipi putrinya ini. Tak lama, aku tiba di halaman samping rumah. Baruna terlihat duduk di dalam gazebo, tertegun sendirian.
"Ada apa mencariku?" tanyaku seraya berjalan menghampirinya.
Baruna buru-buru bangkit dari duduknya, keluar dari gazebo. Kini aku dapat melihat dengan jelas bagaimana wajahnya terlihat memar di sana sini, tapi kuyakin itu bukanlah pekerjaan Kak Reza yang membuatnya seperti itu.
Keningku mengernyit, langsung melihat isinya. "Lukisan?"
"Maaf telah membukanya," kata Baruna.
Aku meraih bingkai lumayan besar itu, dan tentu saja wajahku yang gembil terpampang jelas di sana. Lalu pandanganku mengarah ke bawah. Perut buncitku yang dulu telah menghilang. Anak kami yang seharusnya lahir dengan selamat, tak akan mungkin bisa kembali ke dunia.
"Aku tak tahu kapan pelukis bernama Freddy Cakra Darmawan itu melukismu. Namun yang pasti, membaca suratnya membuatku yakin kau datang bersama Rey saat itu," tambah Baruna.
Aku yang masih terdiam sontak merogoh kembali isi tote bag itu. Sebuah amplop putih terlihat di sana. Segera, aku membacanya.
__ADS_1
[Sheryl semoga kau adalah orang pertama yang membaca surat ini. Jika tidak, aku tak tahu bagaimana nasib pernikahanmu ke depannya. Sungguh! Aku hanya ingin mengatakan suatu hal penting yang kurasakan saat matamu mengarah kepada Reynand yang berdiri di belakangku saat itu. Melukismu adalah hal yang paling menyenangkan karena merasakan banyak cinta di sana. Awalnya, aku merasa sangat aneh. Bagaimana mungkin seorang wanita hamil datang ke galeri bersama seorang pria yang bukan suaminya? Aku tak percaya walau kau bilang kalian hanya berteman. Kau dan Reynand sama-sama tampak nyaman dan bersemangat. Tatapan mata kalian saat itu seolah memperlihatkan pendaran cinta yang tak seharusnya, seperti pasangan yang saling mencintai tapi tak bisa bersatu. Am i right? Maaf, bila kata-kataku salah dan malah menyakitimu dan pasanganmu saat ini. Namun yang pasti, aku yakin jodoh tak akan pernah tertukar. Sebagai pelukis, aku hanya ingin mengatakan kejujuran dari hatiku. Semoga kau menyukai lukisanku karena kau sangat menggemaskan!]
Deg!
Gila! Apa-apaan ini?! Surat ini membuatku berharap ingin menghilang saat ini juga. Teman Reynand yang ini benar-benar harus disumpal hatinya agar isi hatinya tak berceceran ke mana-mana.
Selesai membaca surat itu, aku mengalihkan pandanganku, tapi Baruna menarik senyum setengah seolah mengejekku.
"Lihat! Bahkan orang asing pun bisa melihat bagaimana kalian saling mencintai," ucap Baruna lalu terdiam sebentar, "padahal aku hanya ingin menyampaikan kepada kedua orang tuamu bagaimana putrinya memperlakukanku saat ia sedang mengandung. Aku memberikan surat itu kepada Mamamu. Namun sayangnya dia malah menamparku."
"Kamu benar-benar keterlaluan...." Aku menggeleng pelan.
"Lebih keterlaluan mana? Kamu yang membuat hubungan kita seperti ini! Bahkan sekarang aku pun jadi ragu, anak siapa yang kamu kandung saat itu? Jangan-jangan anak itu adalah anak Rey–"
Sekali lagi, aku melayangkan sebuah tamparan keras untuk Baruna. Dia benar-benar telah menyakitiku hingga ke ubun-ubun rasanya. Bahkan dia sendiri tak mengakui calon anak kami dan malah menuduh macam-macam.
"Kamu tidak perlu mencari pembenaran atas perselingkuhanmu dan Fely. Jika ingin berpisah, ya sudah! Jangan menyakiti lebih dari ini, Mas!" seruku kesal lalu berbalik, hendak meninggalkan dirinya sendirian. Namun langkahku terhenti ketika suara terisaknya mulai terdengar.
"Sheryl, hatiku yang sakit.... Mengapa kau yang berlagak menjadi korbannya? Kau tahu berapa lama aku menunggumu? Sangat lama, lebih dari separuh usiaku. Hanya karena kehadiran Rafael dan Reynand dalam pernikahan kita, kau malah menyia-menyiakan pernikahan kita seperti ini. Aku masih mencintaimu Sheryl. Aku mencintaimu."
Baruna memang seorang pria, tapi ia tak pernah memperlihatkan kelemahannya karena baru kali ini dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat dirinya yang menangis. Sangat lemah dan membuatku bergeming.
"Bukankah kita sudah sama-sama tahu kalau aku tak akan pernah menerima anak itu di rumah? Tapi kamu malah sengaja melakukannya. Kamu dan keluargamu berbohong saat ingatanku menghilang. Kamu juga telah memilih Fely untuk melayanimu saat amnesia itu menghilangkan perasaanku kepadamu. Lalu aku harus bagaimana, Mas? Apa aku harus mengerti kamu yang seperti itu? Aku benar-benar tidak bisa melakukannya. Aku sadar diriku bukanlah istri yang bisa memahami jalan pikiran suaminya hingga saat ini."
"Apa itu karena kau telah berpaling mencintai Rey?"
__ADS_1
"Ini bukan saatnya membahas tentang cinta. Setidaknya aku tahu, cintanya tulus karena mulai bisa meninggalkan egonya."