
Reynand PoV
Mobil yang dikendarai Daniel baru saja berhenti di halaman rumahku. Aku membuka pintu, melangkah keluar dengan terburu-buru. Daniel mengejarku dari belakang. Dia membuatku kesal.
"Rey! Rey! Lo jangan begitu dong! Masa lo marah karena gue ngomong begitu?"
Aku berbalik arah memandang wajahnya kesal, "Dengar ya Niel, gue juga enggak butuh support dari lo. Tapi lo gak usah ngelarang gue mendekati Sheryl. Gue tahu dan sadar apa yang gue lakuin."
Daniel terdiam menelan ludah, mungkin saat ini aku terlihat menakutkan baginya. Raut wajah tidak suka kulukiskan di depan matanya. Dia menatap dengan takut-takut.
"Rey, gue cuma takut nanti lo terluka lagi," sahutnya pelan.
"Maksud lo apa? Kenapa bisa bilang gue bakal terluka lagi?"
"Gue baru tahu akhir-akhir ini kalau ternyata dulu lo sama Indira ...." Daniel tidak meneruskan kata-katanya.
"Pasti Indira yang cerita sama lo?!" Aku menunjuknya kesal.
"Enggak sengaja gue denger pembicaraan antara Indira dan Sheryl beberapa waktu lalu. Dia udah cerita semua yang terjadi antara lo dan dirinya dulu. Awalnya gue juga gak percaya, tapi lama-lama gue ngerti kalau itu memang benar adanya. Setelah gue ingat bagaimana lo memandangnya, berkata lembut padanya, sikap lo itu lebih dari seorang kakak ke adiknya. Jujur, gue sedikit cemburu. Tapi semuanya gue tepis dengan mengingat lo hanya sebagai kakaknya." Panjang lebar Daniel menjelaskan padaku.
Aku menarik napas dalam-dalam, menengadahkan kepalaku dan bertolak pinggang di hadapannya. Melihat langit sore yang mulai redup karena sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan oleh sinar mentari. Cukup lama aku terdiam tidak menanggapi perkataan Daniel. Kemudian memutar tubuhku melangkah kembali masuk ke dalam rumah.
Daniel menghela napasnya. Ikut terdiam dan mengikuti langkahku terpaksa. Aku tidak pernah menyangka kalau Sheryl mengetahui kisah asmaraku begitu cepat. Mau ditaruh di mana mukaku, menyukai adik sendiri di masa lalu? Aku jadi kesal dengan pasangan suami istri yang seperti ember bocor itu.
Di ruang tamu tampak Mama yang sedang duduk termenung menunggu kami datang. Dia mengangkat wajahnya melihat aku yang masuk tiba-tiba dengan langkah cepat tanpa menoleh sedikit pun. Aku merasa sikap Mama memang sedikit berlebihan pada keluarga Baruna. Hari ini keluargaku memang adalah orang-orang yang ingin aku jauhi secepatnya. Aku perlu menyendiri dan berpikir sejenak.
"Rey!" panggil Mama dengan wajah bersalahnya.
Mulutku tertahan untuk menjawab panggilannya, bergegas naik ke atas, masuk ke dalam kamar, membuka lemari yang berada di sudut ruangan. Aku mulai membereskan barang-barangku, memasukkannya ke dalam sebuah koper. Aku akan pergi dari rumah ini. Keluarga yang membuatku muak karena terlalu banyak drama di dalamnya.
"Rey, kamu mau ke mana?" tanyanya sambil memegang pergelangan tanganku, menghalangi untuk pergi.
__ADS_1
"Aku mau pergi dari rumah ini. Mama jangan menghalangiku," sahutku.
"Rey, kamu tidak bisa meninggalkan Mama begitu saja."
"Mama sudah berbohong padaku. Menceritakan semuanya hanya dari sudut pandang Mama sendiri. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Hanya rasa benci dan dendam yang sudah Mama tanamkan di hati ini. Hatiku sesak, Ma!" tegasku tanpa melihat wajahnya. Aku tidak akan tega mengatakan hal seperti itu jika aku menatap wajah ibuku.
"Tapi Rey ...."
"Lihat tindakan Mama, Kakek tua itu kini berada di ruang ICU dan belum sadar hingga sekarang."
Aku berbalik arah meninggalkan Mama yang menangis sedih melihat kepergianku. Langkah kaki yang cepat membawaku keluar hingga di depan pintu rumah. Tampak Indira menghalangiku di depan pintu.
"Kakak, kenapa Kakak harus pergi? Tidak bisakah dibicarakan baik-baik?" tanyanya.
"Minggir, Dir!" perintahku.
"Aku tidak mau."
Mata Indira membelalak terkejut mendengar kata-kataku yang kasar. Wajahnya berubah sedih seketika. Dia lalu menatap dalam mataku. Tidak lama setelahnya dia terisak. Daniel yang melihat istrinya menangis karena cercaanku, segera menghampiri dan merangkul istrinya.
"Sudah Dir, biarkan kakakmu pergi. Mungkin dia butuh tempat yang tenang untuk berpikir jernih apa yang dia inginkan."
Sebenarnya aku tidak tega membuatnya bersedih, tapi wanita hamil itu membuatku kesal karena tidak bisa menjaga rahasia yang merupakan aibku di masa lalu.
Aku bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraank dengan kecepatan penuh.
Aku tidak pernah meminta dilahirkan dari keluarga seperti ini. Sekian tahun menjadi seorang laki-laki dingin penuh dengan dendam yang ditanamkan. Aku benci mengakuinya, di dalam hatiku aku tahu tidak ada pihak yang menang maupun kalah, yang ada adalah memiliki rasa tulus tiada batas. Ketulusan itulah yang belum bisa kumiliki sampai sekarang.
Aku berhenti di sebuah lahan parkir sebuah gedung apartemen lima belas lantai. Langkahku terasa berat menginjakkan tempat ini. Aku akan hidup mandiri sekali lagi seperti dulu saat hidup sendiri di luar negeri. Tiba-tiba aku teringat kembali wajah Mama yang menangis, terbayang begitu nyata di dalam pikiranku.
Aku masuk ke dalam lift yang membawa ke lantai delapan. Ponsel di dalam tas terus saja berbunyi, namun kuabaikan begitu saja. Memang benar kata Daniel, aku hanya butuh ketenangan saat ini.
__ADS_1
****
Baruna PoV
Lorong sepi rumah sakit membuat mataku sedikit mengantuk. Ayah dan bunda sudah kembali ke rumah. Aku menunggui kakek di sini. Dia bisa bangun dari komanya sewaktu-waktu.
Jam tanganku sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Aku menyilangkan kedua tanganku dan bersandar di kursi. Pikiranku selintas melayang pada pembicaraanku dan Sheryl di restoran tadi. Aku tidak menjawab pertanyaan Sheryl mengenai pewaris harta keluarga.
Aku tidak memiliki pilihan di sini. Apa lagi pikiranku sudah ke mana-mana. Aku sangat takut kalau tiba-tiba kakek .... Ah, aku harus menghilangkan pikiran negatif itu. Kakek pasti kuat. Dia pasti sehat kembali.
Bunyi dering telepon membuyarkan semua pikiran burukku. Reynand meneleponku.
Tumben dia telepon.
Aku segera mengangkatnya walaupun otakku penuh tanda tanya.
"Bar, atas nama nyokap gue, gue minta maaf udah membuat Kakek seperti ini. Gue gak tahu gimana cara meminta maaf lebih baik lagi. Gue hanya bisa melakukan ini."
Aku terkejut mendengar perkataannya. Seorang Reynand meminta maaf untuk ibunya padaku secara pribadi, mengenai kakek yang jatuh sakit. Tetapi suaranya terdengar seperti suara orang mabuk. Begitu tidak jelas jika tidak didengarkan secara baik-baik.
"Lo mabuk, Rey?"
"Enggak, gue cuma minum sedikit. Gue cuma mau bilang itu. Bye."
"Hei Rey ...."
Aku belum selesai berbicara, tapi Reynand sudah mematikan teleponnya. Saudara tiriku itu suka memberikan kejutan-kejutan aneh. Bisa-bisanya dia minta maaf atas nama ibunya saat mabuk. Aku menggelengkan kepalaku.
Mengenai Reynand, aku sebenarnya sangat khawatir jika dia merebut Sheryl dariku. Aku tidak akan memaafkannya jika itu terjadi. Andai saja waktu bisa kembali, hubungan kami tidak akan seperti ini. Aku akan menemuinya dan menganggapnya sebagai abang yang baik. Tapi khayalan tetaplah khayalan.
Aku menghela napas panjang menyadari bahwa ini adalah kenyataannya. Kenyataan yang tidak bisa diubah dan diputarbalikkan. Waktu akan terus berputar walau kita tidak menginginkannya.
__ADS_1