
Reynand PoV
Pukul satu siang ....
Aku duduk mematung di ruang kerjaku. Ingatan tadi membekas begitu dalam. Dia menolak dengan sangat tegas. Bahkan aku disuruh menikahi Kayla.
Tidak terbayang bagaimana rasanya. Seperti luka lama yang pernah kurasakan dulu saat memutuskan mengakhiri hubungan dengan Indira. Namun, ini lebih sakit. Waktu yang singkat tidak menjamin dangkalnya luka yang ditorehkan. Perasaanku terlalu dalam untuknya. Tiba-tiba air mataku turun begitu saja. Mengekspresikan kesedihan tanpa komando dariku yang tangguh ini.
Pintu ruanganku tiba-tiba saja terbuka. Aku buru-buru menyeka air mata yang terlanjur jatuh. Ayah muncul berjalan menghampiri meja kerjaku kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi berhadapan denganku.
"Rey, Ayah dan Baruna sudah memikirkannya. Mengenai pewaris itu, Ayah dan Baruna setuju memberikan posisinya untukmu setelah ia menikah dengan Sheryl. Dia juga sudah membuat surat pernyataan resmi."
"Kalian sedang mempermainkanku!" dengkusku.
"Tidak. Ini sebuah kesepakatan antara Ayah dengannya. Kami tidak sedang mempermainkanmu, Rey. Ini adalah keputusan yang sangat adil untuk kalian berdua dan Ayah pun mendukungnya. Semua secara sadar telah diputuskan karena dia berencana akan tinggal di luar negeri setelah menikah."
"Ayah, yang benar saja! Ayah pun tahu bagaimana perasaanku terhadap Sheryl. Berapa hutang keluarga Kusuma? Aku bisa melunasinya demi membuat Sheryl tidak jadi menikah dengannya," tantangku.
Ayah menelan ludah mendengar perkataanku. Dia mengerutkan keningnya bingung. Mungkin baginya aku sudah sakit jiwa. Setelah ditolak masih juga berharap Sheryl menjadi milikku.
"Setengah kekayaan Pradipta Corporation," jawab Ayah mengangkat sebelah alisnya.
Aku lantas bergeming. Mengerucutkan mulutku kesal. Tidak bisa berbuat apa-apa. Mama juga sudah menolak permintaanku mengambil hakku di Pradipta.
"Bagaimana? Masih ingin menghancurkan pernikahan adikmu?" tanya Ayah lagi.
"Ayah sungguh keterlaluan! Ayah tidak mendukungku!" teriakku.
"Sudahlah kamu menyerah saja. Mereka memang berjodoh." Ayah mengangkat kedua sudut bibirnya tersenyum simpul.
"Ayah, aku akan mencari pinjaman."
"Sekuat apa? Tidak akan ada bank yang berani meminjamkanmu uang sebanyak itu."
Aku terdiam tidak bisa menjawab. Ayah kemudian bangkit dari duduknya membalikkan badannya berjalan keluar ruangan.
Aku bertopang dagu melihat kepergian Ayah. Mama benar, dia memang biang masalah. Apa aku harus diam saja menunggu pernikahan mereka? Paling tidak, seharusnya Sheryl membuka map itu dan membacanya agar dia tahu betapa bobroknya dua keluarga harmonis itu.
Tuhan, bisakah ia tercipta hanya untukku?
****
Baruna PoV
Aku berada di dalam mobil menunggu Sheryl yang keluar dari lobi. Halaman parkir sore ini masih penuh. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah lima. Sudah setengah jam aku menunggunya. Namun, dia belum juga keluar.
Tidak lama, dia masuk ke dalam mobil. Wajahnya terlihat kusut entah mengapa. Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum menggoda.
"Calon istriku kenapa kusut begitu, sih? Calon suamimu ini butuh senyum darimu."
Dia menoleh ke arahku balas tersenyum lalu perlahan tertawa. Mencubit lenganku dan menciumku tiba-tiba.
"Aku mencintaimu."
"Sudah tahu! Jika tidak, kamu tidak akan sakit padahal belum ada satu hari putus denganku."
"Kamu menyebalkan!" Dia lalu mencubit pipiku.
__ADS_1
"Sakit, Sayang." Aku meringis sambil membelai pipiku yang memerah, kemudian menoleh ke arahnya, "sudah siap?" tanyaku.
"Iya."
Aku memacu mobilku keluar area parkir. Sheryl terdiam sambil melamun. Entah apa yang dipikirkannya. Aku memperhatikan wanitaku itu dari pantulan kaca spion tengah. Dia masih saja melamun begitu lama.
"Ada apa?"
Sheryl tersentak kaget seperti sadar dari lamunan. Aku menatapnya penuh arti.
"Ada yang sedang kamu sembunyikan?"
Dia menggelengkan kepalanya.
"Kamu pasti sedang menyembunyikan sesuatu. Aku tahu dirimu."
Sheryl hanya diam tidak menjawab.
"Aku di sini. Lelaki yang mencintaimu berada di sampingmu dan kamu hanya diam dan menggelang?" tanyaku seraya mencengkeram setir mobil geram.
"Aku sudah katakan semuanya, Sayang. Pak Reynand tidak akan mengganggu kita lagi."
"Kamu bertemu dengannya?" tanyaku lagi seraya menepikan kendaraan di pinggir jalan.
"Iya, tadi pagi aku berbicara dengannya. Menyuruhnya agar tidak mengganggu hubungan kita lagi."
Aku menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya berkali-kali mencoba untuk tenang. Kemudian memandang wajahnya yang cantik tapi dia menundukkan kepalanya.
"Lihat wajahku!"
Dia mengangkat wajahnya balas memandangku. "Kalian membicarakan apa saja? Apa dia menyampaikan sesuatu yang membuatmu berpikir seribu kali untuk menikah denganku?"
Aku bergeming tidak menjawab. Sungguh kesal rasanya hanya mendengar dia menemui Sheryl. Tapi aku yakin, Sheryl tidak akan mengecewakanku lagi. Aku percaya padanya.
"Baiklah, aku percaya kamu. Tidak usah diceritakan. Membuatku emosi saja!" Aku mulai melajukan mobilku kembali.
Sheryl kembali diam. Aku meraih telapak tangannya dan menggenggamnya erat. Dia menoleh ke arahku, membulatkan matanya ke arahku. Aku balas menoleh dan membelai pelipisnya.
"Aku mencintaimu," ucapku pelan.
Satu jam kemudian kami telah tiba di hotel Luxury tempat Dirga Mahesa Wijaya merayakan pesta ulang tahun putranya yang bernama Gavriel Wijaya. Ruang ballroom Cendrawasih sudah penuh dengan tamu undangan yang datang. Aku menggandeng Sheryl masuk dengan langkah percaya diri.
Seorang pria tiba-tiba berjalan dengan tergesa-gesa menyenggol bahu Sheryl. Dia terus berjalan tanpa berhenti dan menoleh meminta maaf. Aku melepas gandengan tanganku lalu berjalan menghampirinya. Pria itu berjalan dengan seorang wanita di sampingnya. Sheryl pun ikut menyusul langkahku. Segera aku menepuk bahu pria tersebut dan dia menoleh terkejut.
"Maaf, anda sudah menyenggol tunangan saya. Mengapa tidak berhenti meminta maaf?"
Pria itu mengerlingkan matanya melihat ke arah Sheryl. Dia tersenyum lalu berkata, "Mbak Sheryl!"
"Loh, Mas Dion di sini juga?" Sheryl ikut terkejut melihat lelaki itu. Aku terdiam menoleh kanan dan kiriku.
"Sayang, dia Mas Dion. Aku kenal dia karena dulu pernah bekerja di Pradipta Corp," jelas Sheryl.
Aku mengangkat sudut bibir tipis lalu mengulurkan tangan bersalaman. Pria itu membalas salamku.
"Maaf tadi saya terburu-buru. Maaf loh Mbak, saya tidak bermaksud ...."
"Sudah!" Aku memotong kalimatku tidak suka jika Sheryl ramah terhadap lelaki lain.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih? Dia ini cuma teman kerjaku dulu." Sheryl menoleh ke arahku gemas. Aku menatap kedua orang di hadapanku dingin. "Wanita di sampingmu siapa Yon?"
"Rosa, Mbak. Kekasihku."
"Hai Rosa," sapanya ramah.
Sheryl, jangan perlihatkan keramahanmu pada orang lain. Nanti dia bisa salah paham.
"Hai, Mbak Sheryl." Rosa balas menyapaku.
"Mbak Sheryl, kami duluan ya." Dion dan kekasihnya yang merasa tidak nyaman dengan tatapanku lantas berbalik arah meninggalkan kami.
Sheryl kembali menoleh padaku dan berkata, "Kamu jangan menunjukkan tatapan seperti itu pada orang lain. Nanti mereka salah paham."
"Aku tidak suka kamu ramah pada lelaki lain, Sayang."
"Kamu terlalu berlebihan."
"Sudah, yuk masuk." Aku kembali menggenggam tangannya. Kami berjalan ke tengah acara menemui sang penyelenggara acara yaitu Dirga Mahesa Wijaya.
"Hai, Ga!" Aku menyapa rekan kerjaku itu seraya memeluknya. Dia balas memelukku. Begitu pun Sheryl yang lantas memeluk Kiara dan baby Gav.
"Hai, Bar. Terima kasih sudah datang."
"Sama-sama, Ga. Terima kasih juga sudah mengundang kami. Selamat ulang tahun baby Gav." Aku membelai pipinya yang gembil itu.
"Terima kasih Baruna dan Sheryl sudah menyempatkan waktu datang ke pesta kami yang sederhana ini," tambah Kiara.
"Kami sangat senang datang ke sini," sahut Sheryl.
"Jadi kapan kalian menikah? Undangannya belum sampai tuh," tanya Dirga melirikku.
"Masa? Gue udah mengirimkannya lewat sekretaris lo. Hari Minggu ini rencananya."
"Oh ya? Baiklah nanti gue akan cek," timpal Dirga.
"Kalian harus membuat yang seperti ini," celoteh Kiara sambil menggendong anaknya.
Wajahku dan Sheryl sontak memerah malu. Kami belum membicarakan masalah itu lebih dalam tapi semua orang pasti ingin memiliki keturunan, bukan?
"Sudah, Sayang. Jangan menggoda pasangan ini. Lihat mereka malu," Dirga menegur istrinya.
"Oh oke, Sayang."
"Tidak apa kok. Semua juga ingin memiliki anak, 'kan?" Sheryl menanggapi sambil menahan tawa.
"Lihat Sayang. Tunangannya juga tidak keberatan. Daripada temanmu yang di sana datang ke sini hanya sendirian." Kiara menunjuk seseorang dengan mulutnya.
Aku menengok ke belakang. Tampak Reynand datang sendiri. Dia berjalan menghampiri kami. Aku sontak menggandeng tangan Sheryl.
"Ga, gue ke sana dulu ya," pamitku berbalik arah menjauh dari pusat perhatian.
"Oke," sahut Dirga.
Aku menarik tangan Sheryl agar dia tidak menjauh dariku. Aku sama sekali tidak ingin Reynand mendekatinya dan menyampaikan isi surat itu. Dia sudah melangkah terlalu jauh.
_____________________
__ADS_1
Baca juga kisah Dirga dan Kiara (Fell in love with my arogan Fiance)
Rosa dan Dion (Tentang Hati)