
Baruna PoV
Dua hari kemudian ....
Pukul 11.30
Aku dan Bunda baru saja keluar dari ruang fisioterapi. Kakiku terasa nyeri dan pegal setelah melakukan beberapa latihan pada kaki.
Kami berjalan beberapa langkah. Aku meringis merasakan nyeri kembali pada kakiku. Bunda menoleh ke arahku dengan raut wajah khawatir. Dia segera mengarahkanku untuk duduk di kursi tunggu pasien poli umum yang letaknya bersebelahan dengan ruang fisioterapi.
"Duduk dulu, Nak. Kelihatannya kamu menderita sekali setelah melakukan latihan di dalam," perintahnya menyuruhku duduk sebentar.
Aku mengangguk. Kemudian menggerak-gerakkan sedikit kakiku. Membuatnya lemas agar bisa digerakkan kembali.
"Bun, kapan aku bisa berjalan normal?" Aku menghela napas.
"Yakin dong, Sayang. Kamu pasti bisa. Keyakinan juga salah satu faktor kesembuhan."
"Iya, Bun," jawabku pelan.
"Kamu kenapa jadi tidak yakin untuk sembuh? Apa karena Sheryl akan segera menikah minggu depan?"
"Tidak ada hubungannya dengan dia. Bunda 'kan tahu hubungan kami sudah berakhir. Kami akan menjalani kehidupan kami masing-masing," jawabku.
"Iya, iya, nanti kamu akan bertemu dengan wanita Melayu yang cantik sebagai kekasihmu," celoteh Bunda sambil terkekeh.
"Aku masih suka produk lokal," sahutku.
"Nayara?"
"Entah. Aku akan menyerahkan semuanya pada waktu yang bergulir," balasku lagi seraya menoleh ke arah Bunda.
Wajah Bunda mendongak menatap lurus ke depan. Aku ikut mendongak melihat ke arah yang sama. Sosok Nayara dengan jas dokternya sedang berdiri di hadapan kami sembari tersenyum simpul.
"Hai, Tante Meri, Baruna. Kalian sedang apa?" tanyanya.
"Hai, Nay. Habis terapi tadi. Karena kakinya masih terasa sakit, jadi duduk dulu di sini," jawab Bunda.
"Oh .... Masih sakit sekarang, Bar?" tanyanya dengan raut wajah sedikit khawatir.
"Sedikit."
"Mungkin harus dipanaskan lagi. Ayo aku antar ke dalam."
"Tidak usah, Nay. Aku sudah tidak apa-apa."
"Sudah tidak apa-apa. Ayo ke dalam kembali!" Nayara menarik tanganku paksa. Aku bangkit berdiri terpaksa melangkah mengikutinya.
__ADS_1
Kami pun masuk kembali ke ruangan itu. Nayara meminta petugas fisioterapi untuk memasangkan alat pemanas lagi pada lututku.
Tidak lama kemudian, kami keluar ruangan. Rasa sakit sudah berkurang. sudah lebih ringan dalam melangkah.
Bunda yang menunggu kami di kursi langsung berdiri dan bertanya pada Nayara, "Kamu masih ada pasien, Nay?"
"Kebetulan sekali, jam praktekku sudah selesai. Kenapa, Tante?" tanyanya.
"Kita makan siang bersama, yuk," ajak Bunda.
"Boleh, Tante. Di mana?"
"Di mall seberang saja. Tante sekalian ingin mengontrol butik di sana. Sudah lama tidak pernah mengontrol. Boleh kan, Bar?" Mama bertanya kepadaku.
"Ya sudah, aku juga sudah lama tidak ke sana," sahutku.
Aku ingat terakhir kali ke sana bersama dengan Sheryl. Membeli sepasang anting-anting untuknya.
"Ayo kita pergi!" kata Bunda lagi.
Kami bertiga pun melangkah berjalan menuju lobi. Tidak lama, sebuah mobil jenis MPV berwarna hitam berhenti di depan kami. Pak Amri keluar dan membukakan pintu menunggu mobil. Mempersilakan kami masuk ke dalam.
Hanya lima menit menuju ke sana. Pak Amri menurunkan kami di depan lobi. Kemudian pergi memarkir kendaraan di area parkir.
Butik perhiasan itu terletak di lantai dua. Mama segera masuk ke dalam butik, diikuti olehku dan Nayara dari belakang. Langkahku terhenti, tampak sepasang kekasih sedang memilih sesuatu di sana. Aku melihat wanita itu dari belakang. Postur tubuhnya mirip dengan Sheryl.
Namun, tiba-tiba saja Bunda menyapa kedua orang itu dengan senyum hangatnya.
"Sheryl, Reynand!" serunya.
Aku terkesiap mendengar seruan Mama. Tenyata pasangan itu memang Reynand dan Sheryl. Mereka sedang memilih perhiasan.
"Tante Meri? Kok bisa di sini?" tanya Reynand tidak yakin.
"Ini butik Tante, Rey. Kamu pasti tidak tahu."
"Oh ya? Pantas tadi Sheryl menolak ke sini." Reynand menoleh ke arah Sheryl.
"Loh kenapa, Sher? Kamu tidak suka perhiasan rancangan Tante?" tanya Bunda.
"Su-suka kok, Tante."
"Tante sama Baruna dan Nayara, loh. Tuh di belakang kalian," tunjuk Bunda.
Reynand sontak menoleh ke belakang. Melihat ke arahku dan Nayara yang masih berdiam diri di sana. Sheryl ikut menolehkan kepalanya melihat kami.
"Hai, Nay!" sapa Reynand langsung menyapa wanita di sampingku.
__ADS_1
"Hai, Rey. Kebetulan sekali kita bertemu di sini."
"Iya, aku sedang memilih cincin untuk pernikahanku minggu depan.
"Wah, aku ikut senang, Rey." Nayara tersenyum.
Deg!
Aku menelan ludah. Seketika jantungku terasa berhenti berdetak. Kembali bertemu dengan pasangan calon suami istri ini. Memilih cincin di butikku dan Mama.
Mengapa kami harus bertemu lagi di sini? Rasanya kakiku lemas tidak mampu menopang tubuh.
Aku yang mendengar interaksi mereka berdua segera menarik tangan Nayara ikut masuk menyusul Bunda. Kami bertiga berdiri berhadapan dengan Sheryl dan Reynand.
"Sher, kamu pilih yang mana?" tanya Reynand.
"A-aku te-terserah padamu," jawabnya terbata. Matanya menatap lurus ke arahku. Air mukanya bukan air muka kebahagiaan pasangan yang akan segera menikah. Terlihat sendu tidak bergairah. Tidak lama, dia menundukkan wajahnya.
"Tante, aku ingin cincin yang spesial untuk pernikahanku. Bisa tidak ya, selesai kurang dari seminggu?" tanya Reynand sambil tersenyum.
"Yah, maaf sekali Rey, tidak bisa. Paling yang tersedia di sini saja. Kalau mau, nanti Tante buatkan, tapi setelah menikah saja."
"Bagaimana, Sher?" Reynand kembali menoleh ke arah Sheryl.
"Aku ikut apa katamu saja," sahutnya.
"Gampang deh kalau masalah itu. Aku pilih yang tersedia di sini saja sekarang," katanya. Reynand lalu menunjuk ke sepasang cincin di hadapannya, lalu meminta pramuniaga mengambilkannya, "Aku pilih yang itu, Mbak."
Seorang pramuniaga segera mengeluarkan sepasang cincin–untuknya dan Sheryl. Entah mengapa, aku malah memperhatikan mereka. Menyorot tajam apa yang mereka lakukan di butikku. Walau sebenarnya, aku tidak bisa berbohong. Hatiku sangat sesak dan sakit berada di sini.
Nayara tiba-tiba saja berbisik, "Ayo kita keluar, Bar. Aku merasa kamu tidak nyaman berada di sini."
Nayara tiba-tiba saja menarik tanganku keluar. Dia menyelamatkanku dari perasaan yang mungkin lambat laun bisa membunuhku
"Bun, aku tunggu di restoran," kataku pamit.
Bunda hanya mengangguk. Nayara terus menarikku menjauh dari butik. Aku yang tidak bisa berjalan cepat segera menghentikan langkah dan menarik tanganku hingga lepas dari tangannya. Wanita itu segera memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat menatapku.
"Aku baru ingat kalau Sheryl adalah kekasihmu. Maaf, aku baru mengingatnya. Aku baru menegaskannya kemarin saat melihat postingan fotomu di media sosial," jelasnya.
"Haah ... pasti banyak pertanyaan di benakmu," sahutku.
"Iya, tapi aku tidak peduli. Itu urusanmu. Aku hanya tidak suka melihat tatapan matamu yang terlihat menderita di sana."
"Kamu berlebihan, Nay."
"Sebagai teman aku prihatin. Aku tahu dirimu yang dulu sangat mencintainya hingga sekarang. Sampai-sampai aku tidak memiliki kesempatan untuk merobohkan dinding pertahananmu. Namun, lain cerita jika ia jadi menikah dengan saudaramu, bukan?" tanya Nayara diplomatis.
__ADS_1
Aku hanya diam tidak menanggapi perkataannya. Perasaanku belum berubah sama sekali. Bahkan dinding pertahananku makin kuat. Tidak membiarkan siapa pun masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.