Marriage Order

Marriage Order
Perdebatan Berulang


__ADS_3

Samar-samar aku mendengar suara dua orang pria yang sedang berbicara serius. Begitu nyata dan membuatku ingin mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Semakin aku berusaha berkonsentrasi mendengarkan kata-kata mereka, kepalaku semakin terasa berat. Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan? Apakah aku sedang bermimpi? Tapi kalau ini mimpi, aku juga merasa ini terlalu nyata. Jari jemariku saja terasa hangat seperti sedang digenggam erat oleh seseorang.


Aku membuka mataku pelan-pelan. Di depan mataku tampak langit-langit dengan ukiran-ukiran indah. Aku menoleh ke samping kiriku. Kak Baruna dan Om Anton sontak berhenti berbicara saat menyadari diriku yang baru saja sadar. Tante Meri yang sedang berdiri di samping suaminya tersenyum melihatku. Aku baru ingat aku telah mengalami hal yang mengejutkan dan menangis tersedu-sedu hingga hilang kesadaran.


"Akhirnya kamu bangun juga," ucap Kak Baruna. Manik cokelatnya berbinar-binar menggambarkan kegembiraan.


"Sayang, kamu tidak apa-apa? Apa sakit sekali?" Aku menunjuk sudut bibirnya yang sedikit membiru.


"Aku tidak apa-apa. Ini tidak seberapa," jawab Kak Baruna memegang sudut bibirnya.


Aku melihat sekeliling. Terbangun di sebuah kamar yang tidak kukenal. Aku menoleh ke arah Kak Baruna yang berada di sampingku. Dia masih menggenggam tanganku dengan erat.


"Aku ada di mana?"


"Kamu masih di rumahku. Ini kamarku," jelas Kak Baruna.


Aku berusaha untuk bangkit duduk di atas tempat tidur. Tangan Kak Baruna cepat-cepat menyangga tubuhku dari belakang membantuku duduk dengan tegak.


"Syukurlah kamu sudah bangun Sher." Tante Meri tersenyum.


"Apa ada yang sakit?" tanya Om Anton.


Aku menggelengkan kepalaku dan berkata, "Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menghawatirkanku."


Aku mengerlingkan mataku ke arah Kakek Awan yang sedang duduk menatapku di atas sofa. Dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar kamar Kak Baruna tanpa berkata apa-apa. Entah apa yang dipikirkannya. Dia seorang kakek tua yang sedikit misterius walaupun kuakui dia adalah orang yang baik.


"Sebentar Tante ambilkan sesuatu." Tante Meri berbalik arah keluar dari kamar.


"Om tinggal dulu ya Nak." Om Anton ikut meninggalkan aku dan Kak Baruna di kamar.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Aku terdiam tidak ingin mengingat kejadian yang membuatku sesak. Aku menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan lalu menatap Kak Baruna.


"I'm oke hon."


"Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu sekarang?" Kak Baruna tampak kesal, kemudian berkata, "Bagaimana bisa kamu dan dia ...." Kak Baruna tidak meneruskan kata-katanya.

__ADS_1


"Aku minta maaf. Salahku yang terlalu ikut campur urusan keluarga kalian dan berani menghadapinya sendirian padahal dia sedang marah," jawabku.


Kak Baruna melepaskan jari jemarinya dari tanganku lalu berdiri bangkit dari tempat duduknya berjalan mondar-mandir di hadapanku. Wajahnya tampak serius.


"Aku tidak terima dia melakukan itu padamu!"


"Sayang, kamu pun sudah menghajarnya tadi." Aku berusaha menenangkan.


"Iya, tapi tetap saja aku jadi marah kalau ingat hal itu. Padahal sebelumnya aku bahkan tidak peduli apa yang akan dia lakukan untuk mendapatkan keinginannya. Tapi saat dia menciummu di depan mataku, aku ingin sekali membunuhnya."


Aku menundukkan kepalaku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Semua memang adalah jelas-jelas salahku yang membuat hubungan antar saudara tiri itu bertambah rumit.


"Mulai senin besok kamu tidak perlu bekerja lagi dengannya." Tiba-tiba Kak Baruna meminta hal yang mengejutkan.


"Kita sudah pernah membicarakan hal ini sebelumnya. Bukankah kalau aku mundur malah akan terlihat kamu takut dan menghindarinya?"


"Aku hanya ingin kamu tidak terlibat masalah ini sayang. Tolong mengertilah," kata Kak Baruna memohon. Wajahnya yang berubah teduh membuatku sedikit iba.


"Akan aku pikirkan."


"Sheryl kepala kamu itu terbuat dari apa sih? Batu? Keras sekali mematahkan pemikiranmu yang aneh itu. Sudah jelas-jelas kamu tidak bisa melindungi dirimu sendiri," sahut Kak Baruna menatap tajam ke arahku. Air mukanya berubah marah kembali.


"Baiklah aku akan menurutimu sayang. Tapi beri aku waktu sampai selesai acara pertunangan kita minggu depan. Aku akan buktikan kalau aku bukan batu seperti yang kamu bilang."


"Hei aku menyuruhmu untuk tidak bekerja dengannya mulai hari senin besok dan aku tidak bilang kamu boleh menawar kata-kataku. Kamu kira selama ini aku tidak kepikiran kamu berada di dekatnya? Laki-laki angkuh itu bisa-bisanya memperlakukan calon istriku seperti babu," seru Kak Baruna masih berapi-api.


Aku tertawa kecil kemudian tertawa terbahak-bahak. Kak Baruna yang sedang berbicara dan marah-marah di depanku lalu diam seketika menatapku dan mengernyitkan dahinya heran. Dia melangkah mendekat ke arahku. Wajahnya begitu dekat dan serius.


"Aku sedang tidak bercanda sayang," katanya.


"Iya aku tahu. Aku senang kamu mengkhawatirkanku. Aku janji tidak akan terjadi hal-hal seperti ini lagi." Aku menempelkan bibirku di atas bibirnya cepat.


Kak Baruna sontak kaget dengan sikapku yang tiba-tiba itu. Wajahnya langsung merona merah seketika. Dia lalu terdiam menunduk sebentar lalu menatap mataku.


"Kamu pintar sekali membuatku berhenti berbicara," ujarnya tersenyum.


"Iya aku pusing mendengarkan ocehan yang sama setiap kita bertemu. Kepalaku masih berat dan kamu membuatnya lebih berat lagi. Sudahlah kamu tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu. Aku tahu kapan waktunya berjalan, beristirahat, dan berhenti. Kalau bisa aku yang akan membantu kalian untuk berdamai."

__ADS_1


"Damai? Hahaha .... Lakukanlah yang kamu mau sayang walaupun mungkin itu adalah hal yang mustahil. Tapi ingat janjimu ya." Kak Baruna memandangku seraya tersenyum.


"Iya sayangku," jawabku sambil mengecup pipinya. Dia terdiam kembali merona malu.


"Astaga kamu melakukannya lagi, hah." Kak Baruna tersenyum lalu cengar-cengir di hadapanku.


Aku tertawa, seketika dia duduk di sampingku dan memeluk tubuhku erat. Dia berucap lirih, "Hari ini kamu bisa meluluhkan hatiku lagi. Apa pun itu kamu harus menceritakannya padaku." ucapnya lirih


Aku hanya mengangguk lalu melirik jam dinding yang menempel di dinding kamar, menunjukkan pukul setengah tiga. Tidak lama kemudian Tante Meri masuk membawakan sebuah bungkusan kotak besar. Dia berjalan ke arah kami.


"Nak Sheryl, ini Tante bawakan gaun yang nanti kamu akan pakai minggu depan di acara pertunangan kalian. Kemarin Melani datang khusus membawakannya."


"Kemarin kan sudah fitting Tante," sahutku


"Iya sih. Tapi ini kan gaun yang sudah siap pakai. Tidak ada salahnya mencoba lagi," jawab Tante Meri.


Aku meraih kotak besar itu dan membukanya. Sebuah gaun cokelat muda yang kemarin kupilih sudah benar-benar selesai siap pakai. Aku membawa gaun itu dan mencobanya di sebuah ruangan walk in closet di mana Kak Baruna biasa menyimpan pakaian dan barang-barang pribadinya.


Ruangan itu tidak terlalu besar tapi cukup banyak barang-barang di sekitarnya yang diatur sedemikian rupa hingga tampak rapi. Cukup teratur untuk penataannya mengingat pemiliknya adalah seorang pria.


"Bagaimana aku bisa hidup dengan pria yang begitu apik nantinya? Bahkan kamarku sendiri saja tidak pernah rapi jika asisten rumah tangga tidak membereskannya," pikirku.


Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat menyingkirkan pikiran itu dan mulai berganti pakaian. Beberapa menit kemudian aku sudah berdiri melihat bayanganku sendiri di depan cermin. Sebuah gaun yang sangat elegan itu menempel sempurna dengan tubuhku. Melani memang jenius. Dia tidak mengecewakan pelanggannya.


Aku keluar dari ruangan itu dan berdiri memperlihatkan penampilanku di depan Tante Meri dan Kak Baruna.


"Sempurna sayang. Kamu terlihat cantik memakai apa pun." Mata Kak Baruna tidak lepas dari penampilanku.


"Cantik. Kamu boleh membawanya dan memakainya nanti. Persiapannya sudah sembilan puluh sembilan persen. Tinggal menunggu hari H nya saja," jelas Tante Meri.


"Iya Tante. Terima kasih sudah mengurus semuanya."


"Tidak perlu sungkan sama Tante. Tante tinggal dulu ya. Oh iya kalian kan belum makan. Bi Rindang memasak banyak hari ini," kata Tante Meri mengingatkan lalu melangkah keluar dari kamar Kak Baruna.


"Ayo kita ke ruang makan sayang," ajak Kak Baruna.


"Tunggu sebentar aku harus melepas gaun ini dulu."

__ADS_1


"Kelihatannya sulit melepaskannya. Kamu butuh bantuanku?" godanya sambil tertawa.


Aku sontak kaget dengan kata-katanya. Penggoda itu memang nyata. Wajahku memerah, buru-buru meninggalkan Kak Baruna yang sedang tertawa masuk ke ruangan ganti.


__ADS_2