
Reynand POV
Mungkin ini terdengar klise, tapi aku mulai menyukainya saat senyum itu terukir indah pada wajahnya yang cantik. Sayangnya, Sheryl sudah menjadi istri orang lain.
Aku berhutang nyawa kepadanya. Disamping bagaimana perasaanku untuknya. Dia menyelamatkanku dari maut yang hampir menjemput.
Aku memandang wajahnya yang sedang tersenyum manis itu. Ingin sekali memujinya. Apalagi saat dia bilang dia akan merasa sangat bersalah kalau aku jatuh sakit. Dengan segera kuhilangkan kuat-kuat niat seperti itu.
"Mengapa kamu harus merasa bersalah? Aku yang sakit bukanlah urusanmu, Sher," sahutku yang sudah mulai bisa berbicara dengan lebih lancar.
"Aku merasa hal itu menjadi tanggung jawabku, Rey. Nay bilang akhir-akhir ini kamu tidak bisa mengendalikan konsumsi rokok dan minumanmu."
Aku hanya terkekeh walau dalam hati mengutuk dokter wanita itu. Bukankah keluhan pasien juga adalah rahasia?
"Tidak. Nay terlalu berlebihan. Aku tidak seperti itu. Semuanya normal saja. Tidak ada yang lebih, tidak ada yang kurang." Aku menyanggah perkataannya. Tentu saja, aku tidak ingin malu di depannya karena wajahku rasanya sudah mulai menghangat.
"Syukurlah." Dia memperlihatkan senyum itu lagi, lalu terdiam sesaat. "Aku sudah menelepon keluargamu. Sebentar lagi mereka akan datang."
Aku mengangguk pelan. Tiba-tiba teringat bagaimana aku sangat menyusahkannya tadi siang dengan perkataan dan tindakan yang seharusnya tidak kulakukan kepadanya. Dalam hatinya, mungkin ia sudah sangat membenciku.
"Mengenai tadi siang, aku ingin meminta maaf kepadamu, Sher. Aku malu mengakuinya, tapi sungguh, itulah perasaanku yang sebenarnya. Aku mencin—"
"Rey, jangan mulai lagi!" Sheryl memotomg perkataanku. Menempelkan telapak tangannya pada bibirku. Kali ini menatap begitu serius. "Jika kamu tidak bisa menjadi saudara iparku, bagaimana jika kita berteman saja."
"Vheman?" Aku menyahut dengan suara yang tidak jelas karena jemarinya masih menempel di bibirku.
Sheryl buru-buru menarik tangannya. "Iya. Semua status yang pernah ada di antara kita rasanya tidak pernah berhasil mengubah segalanya. Bagaimana jika kali ini kita berteman saja?" Sheryl bertanya dengan alisnya yang terangkat.
Aku terdiam, berpikir sejenak. Perkataannya tidak ada yang salah. Rasanya status sebagai teman tidak pernah singgah dalam benakku.
"Ya, mungkin sudah saatnya seperti ini," sahutku masih mengarahkan pandangan kepadanya.
Lagi-lagi Sheryl tersenyum dan aku hanya bisa tersenyum kecut. Mudah-mudahan keputusan ini bukanlah keputusan yang salah.
__ADS_1
Pintu ruang rawat tiba-tiba saja terbuka. Mama, Indira, Daniel, Nayara, dan juga ... Kayla terlihat memasuki ruangan. Sheryl sontak berdiri melihat rikuh ke arah mereka. Situasi yang tadinya sedikit serius karena pembicaraan kami pun usai begitu saja.
"Malam," sapa Sheryl langsung menundukkan tubuhnya.
"Malam, Sher," sahut Indira dan Daniel berbarengan. Keduanya tersenyum ke arah Sheryl, tapi Mama masih dengan keangkuhannya menatap wanita itu. Aku melihat ia hanya diam seraya menegakkan kepala berleher jenjangnya.
"Malam, Tante." Sekali lagi Sheryl menyapanya. Hanya anggukan yang diberikan oleh wanita nomor satu di kehidupanku.
Kayla yang berjalan di belakang bersama Nayara sontak menghambur memelukku. Keningnya mengerut, menatap dengan sorot belas kasihannya. "Rey, kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanyanya.
"Ya, sudah lebih baik," sahutku singkat lalu merasakan pelukannya yang berat menimpa tubuhku. "Kay, bisakah melepaskan pelukanmu? Aku masih sesak."
"Ma-maaf, Rey." Dengan cepat Kayla sontak menegakkan tubuhnya.
Sheryl menoleh sesaat ke arahku, lalu mengalihkannya lagi kepada seluruh anggota keluargaku. "Karena semuanya sudah datang, sebaiknya aku pulang," katanya segera meraih tasnya.
"Aku antar, Sher!" ucap Nayara yang langsung mengekor langkah Sheryl tanpa menunggu persetujuannya. Keduanya lalu melangkah pergi.
Suara Mama mampu menghentikan langkah Nayara dan Sheryl. Kedua wanita itu memutar tubuhnya. Namun hanya Sheryl yang kembali membungkuk hormat.
"Sudah kewajiban saya untuk menolong sesama manusia. Apalagi, Rey bukanlah orang asing bagi saya, Tante. Dia kakak ipar saya," sahutnya memperjelas status kami.
Sedetik kemudian tanpa berbasa-basi lagi, mereka meneruskan langkahnya pergi. Aku tidak menyangka Mama akan berbicara seperti itu. Setelah Sheryl memilih bersama Baruna, Mama adalah wanita yang paling sakit hatinya dibandingkan denganku.
***
Baruna POV
Aku menyetir sendirian di dalam mobil. Setelah kegeraman itu, aku buru-buru pergi. Entah mengapa perkataan Andra dan Frans terus terngiang di telingaku. Felicia dan anak itu ....
Aku menyesal hadir di acara itu dan bertemu dengan Felicia. Mungkinkah anak itu benar-benar anakku?
Aku melirik layar pada dashboard mobil. Sheryl tiba-tiba menelepon. Beberapa waktu lalu istriku itu juga menelepon, tapi aku tidak ingin menjawabnya karena sedang berbicara serius dengan Andra dan Frans. Aku sangat marah dan ingin memberikan pelajaran kepada mereka. Namun aku harus pintar mengatur amarahku, segera pergi dari tempat itu sebelum situasinya semakin memanas.
__ADS_1
"Halo, Sayang?" sapanya.
"Maaf, Sayang. Tadi aku tidak bisa mengangkat teleponmu. Bagaimana? Sudah di rumah?" tanyaku.
"Sayang, aku di rumah sakit. Bisakah kamu menjemputku?"
"Rumah sakit? Apa yang terjadi? Kamu dan calon anak kita tidak apa-apa, 'kan? Di mana Pak Amri?" Seketika aku panik mendengar ia berada di rumah sakit.
"Tidak. Aku baik-baik saja, begitupun calon anak kita. Tenanglah. Kamu tidak usah panik. Aku menyuruh Pak Amri pulang lebih dulu karena aku ingin berada di dekatmu," jawabnya lalu ia terdiam.
"Sayang?" panggilku.
"Rey masuk rumah sakit. Aku tidak sengaja menemukannya dalam keadaan kritis. Dadanya sesak dan hanya sendiri di dalam kamarnya."
Kamar? Pikiranku melayang. Mungkinkah mereka .... Aku menggeleng kuat-kuat. Menghilangkan segala pikiran negatif tentang semua hal yang menjurus pada masa lalu. Mereka tidak mungkin berkhianat lagi dan aku sangat yakin mengenai hal itu. Jika Sheryl berkata seperti itu, Reynand pasti benar-benar dalam kondisi kritis.
"Baiklah tunggu aku, Sayang."
"Ya, kamu hati-hati di jalan."
Pembicaraan itu pun selesai. Aku memutar arah menuju rumah sakit. Jalan raya malam hari tidak terlalu padat hingga aku bisa tiba dalam waktu singkat.
Dengan langkah terburu-buru, aku membuka pintu sebuah kafe dua puluh empat jam yang terletak di lobi rumah sakit. Sheryl tampak duduk sendirian menunduk sambil menyeruput jus buah di salah satu meja. Aku segera menghampiri dan duduk di depannya.
Sheryl mengangkat wajah lalu tersenyum kepadaku. "Sayang, akhirnya kamu datang juga. Maaf kalau aku mengganggu waktumu bersama teman-temanmu dengan meminta datang menjemput."
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Mereka tidak keberatan aku pulang duluan. Aku terlalu khawatir dengan keadaanmu." Aku balas tersenyum lalu menghela napas panjang. "Aku ingin melihat keadaan Rey."
Sheryl melirik jam tangannya sejenak. "Tidak perlu, Sayang. Ini sudah sangat malam. Lagipula seluruh keluarganya sudah datang menemani dia. Kita jenguk besok saja, ya," sahutnya seraya mengulurkan tangan, mengelus pipiku.
"Baiklah." Aku melirik sepotong kue coklat di depannya. "Tidak biasanya kamu makan cake seperti itu. Apa kamu sangat lapar, Sayang?"
Sheryl menggeleng. "Bukan aku. Sepertinya anak kita butuh asupan manis. Dia tahu bagaimana perasaan kedua orang tuanya saat ini," timpalnya seraya menyengir. Entah apa maksud perkataannya.
__ADS_1