
Reynand Pov
"Rey? Rey?" Suara seorang pria sontak membuyarkan lamunanku. Pandanganku ikut berkelebat mengarah lurus ke depan.
"Wisnu...." Aku membuang napas pelan. Orang yang sedari tadi kutunggu akhirnya datang.
"Ngelamun aja!" Wisnu menarik garis bibirnya tipis kemudian duduk di depanku, "kenapa? Mikirin dia lagi?"
"Sedikit," kataku lalu meraih cangkir espresso yang sejak tadi kuabaikan dan meminumnya, "gak enak."
"Lo cuekin sih dari tadi." Wisnu terkekeh. Perkataannya membuatku menekuk wajah sebal. Tak lama, Wisnu menghentikan tawanya, "Hebat! Seorang Sheryl bisa bikin seorang direktur Pradipta nelangsa kayak gini. Adik lo aja udah move on. Malah udah mau punya anak lagi sama cewek itu."
Aku membuang napas kesal. "Baruna 'kan bukan gue! Seneng banget ya lo! Bukannya bantuin malah ngeledek!"
"Sheryl lagi?"
Wisnu sepertinya paham dengan maksudku yang siang ini ingin bertemu dengannya. Ya! Aku meminta bantuannya lagi untuk mencari Sheryl.
"Ck! Lo benar-benar, deh!" Wisnu menggeleng pelan, "Udah gue bilang, 'kan? It's different case, Rey. Dia itu bukan diculik kayak dulu. Dia itu memang pengen menghilang dari lo!"
Wisnu menolak dengan alasan yang sama seperti waktu beberapa bulan lalu aku meminta pertolongan kepadanya. Dulu dia juga menasihatiku agar aku bisa menghormati keputusan Sheryl yang ingin pergi menjauh. Dan akhirnya aku menurut, tapi sekarang... aku tak bisa melakukan hal yang sama. Percakapan antara aku dan ayah Sheryl terus terngiang akhir-akhir ini.
"Gu-gue cuma mau tahu keadaan dia, Nu." Aku menyahut Wisnu tergagap. Padahal dalam hati berharap kami bisa bertemu dan dia belum melupakanku.
"I know. Terus kalau udah tahu?"
Perkataan Wisnu sontak membuatku mengedikkan bahu sambil menarik senyuman tipis. "Ya, udah gitu aja."
"Gue gak percaya."
"Ayolah, Nu. Setelah ini gue gak bakal ngerongrong lo lagi. It's the last time. Gue terus kepikiran sama percakapan itu. Om Agung yang nyuruh gue gak cari-cari Sheryl makin bikin gue nyesek. Sekali lagi, gue pengen ketemu biar hati gue lega."
Wisnu terdiam dengan tatapan iba. "Lo bener-bener masih mau tahu di mana dia apapun yang terjadi?"
"He-em." Aku mengangguk pelan.
"Oke misalnya kita udah tahu di mana dia nih, Rey. Terus lo ketemu, dan di saat itu ternyata dia udah punya pasangan gimana?"
Pertanyaan Wisnu membuatku menahan napas sesaat. Ya! Benar juga. Kalau Sheryl sudah memiliki kekasih itu artinya dia sudah melupakanku, bukan? Lalu untuk apa lagi aku berharap?
"Ya, gak apa-apa. Gue cuma mau tahu kabarnya. Paling gak, gue tahu dia baik-baik aja."
"Benar-benar ya lo.... Heran deh gue ngeliat lo sampe segininya padahal waktu udah berlalu lumayan lama."
Mendengar perkataan Wisnu membuatku menarik senyum tipis. "Gak semua orang bisa meninggalkan masa lalunya."
Wisnu mengguratkan senyuman yang sama. Tiba-tiba meraih kopiku yang sudah dingin lalu meminumnya. "Sheryl di London," katanya seraya meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja.
Sontak aku memasang raut semringah kala mendengarnya. "London? Lo udah cari dia, hah?"
"Sebelum ke sini gue udah coba cari di mana dia. Ya, dia di sana." Wisnu mengangguk-angguk, "bukannya nanti malam lo juga mau ke sana liat perkembangan proyek yang lo kerjain setahun lalu?"
__ADS_1
"Astaga! Iya! Gue lupa, Nu!" Aku menepuk jidat.
"Kebanyakan mikirin dia jadi rada-rada lo Rey." Wisnu menggelengkan kepalanya. Aku tak peduli dengan raut meremehkan itu. Setidaknya kini aku tahu ke mana harus mencarinya.
"Nu, makasih, ya. Gue sayaaang banget sama lo."
Wisnu mencebik. "Giliran begini aja lo sayang sama gue, Rey. Gak gratis, ya. Lima puluh juta!" katanya seraya membuka telapak tangannya.
"Gampang! Gue kasih ginjal gue juga boleh."
"Dih! Ogah!"
Aku tertawa renyah. Ya! Setidaknya sahabatku yang ini bisa luluh hatinya dan memberikan informasi yang kuinginkan.
"Nyokap lo dan keluarga Sheryl gimana? Mereka pasti gak suka lo nemuin Sheryl lagi," tambahnya.
"Gue pikirin nanti!"
***
Sheryl Pov
London, musim gugur.
Siang ini kota London terasa cukup dingin. Aku beringsut memasuki Lorraine kafe yang berada di dekat kantor untuk menghabiskan waktu istirahat makan siang.
Saat hendak duduk, ponselku tiba-tiba berbunyi. Nama yang tak asing terlihat di layar. Wildan.
"Halo, Wil."
Mendengar perkataannya, sontak aku menengok ke arah kanan. Wildan dan Fandy terlihat duduk di sana. Aku memasang senyum lalu melambaikan tangan.
"Kebetulan banget. Kok lo berdua bisa ada di sini?" tanyaku saat menghampiri mereka.
Keduanya tak langsung menyahut. Hanya menyunggingkan senyum mereka lalu saling menatap sesaat
"Duduk, Sher!" Wildan mempersilakanku duduk di depannya. Tak lama, ia pun menjawab pertanyaanku, "Gue sama Fandy lagi ada urusan di sini, Sher." Wildan memasang senyum semringahnya. Aku menoleh ke arah Fandy. Dia tersenyum tipis.
"Bagaimana... kabarmu?" tanyanya terdengar hati-hati sekali saat menanyakannya. Ya. Aku rasa Fandy sudah tahu semuanya. Selain dari kekasihnya, dia juga masih bekerja di Asyraf Corp.
"Baik sekali," jawabku menarik senyum yang sama.
"Sayang, jangan begitu nada bicaranya." Wildan memperingatkan kekasihnya.
"Gue gak apa-apa kok, Wil. Tenang aja. Itu semua udah berlalu." Aku mengelak pernyataan Wildan. Sungguh! Aku tak ingin dikasihani oleh siapapun.
"Jadi, lo udah move on dari mantan suami lo?" Wildan membulatkan pandangannya.
"Ya." Aku mengangguk cepat.
Wildan ikut mengangguk. Dia mengusap bahuku pelan. "Maafin gue, Sher. Gue gak ada di saat lo terpuruk saat itu."
__ADS_1
"Haish! Beneran. Gue gak apa-apa."
Wildan tak menyahut lagi. Ia hanya mengulas senyumnya. Tak lama menoleh ke arah Fandy. "Perutku mulas. Aku ke toilet dulu, ya."
"Ya." Fandy mengangguk.
Wildan bangkit berdiri meninggalkan kami berdua. Aku segera memesan makanan kepada salah satu pelayan restoran.
"Eh, aku tidak apa 'kan bergabung dengan kalian?" tanyaku yang segera tersadar seharusnya tak berada di satu meja dengan mereka.
"Tak apa," jawabnya lalu menyeruput minumannya, "aku dan Wildan akan menikah, Sher. Kami ke sini untuk bertemu kedua orang tua Wildan."
"Oh, ya? Selamat kalau begitu!" Aku menyahut semringah. Segera mengulurkan tanganku, memberikan selamat. Fandy lalu menyambutnya.
"Sepertinya kau belum tenang, ya?" Fandy mengalihkan pembicaraan.
"Maksudmu belum tenang?" Aku mengangkat sebelah alisku.
"Kau bilang kau sudah tak apa-apa, tapi raut wajahmu mengatakan hal sebaliknya. Wildan bilang kau juga belum ingin pulang ke Indonesia."
Aku tak menyahut. Fandy terlalu sok tahu berkomentar tentangku, padahal tak tahu semua hal yang terjadi dalam hidupku.
"Kau tahu? Tiga bulan setelah perceraianmu dan Pak Baruna, tak hanya di kantor pusat, kantor di Jepang pun menjadi rusuh. Kondisi perusahaan sempat menjadi tak stabil karena hal itu. Banyak gosip yang mengatakan kalau Pak Baruna berselingkuh. Kau mendapatinya tidur dengan wanita lain di ruang pribadinya. Tadinya aku pikir itu hanya sekadar gosip karena yang kutahu Pak Baruna sangat mencintaimu. Namun, tak lama Wildan mengonfirmasi hal itu. Dia bilang hal itu benar terjadi karena kau sendiri yang bercerita. Kau pasti sangat sakit. Diselingkuhi dua kali oleh pria yang benar-benar kau cintai."
"Sudahlah. Itu sudah berlalu. Aku juga sudah mendengar berita pernikahan mereka. Bahkan sekarang Fely sedang mengandung."
"Maaf ya, Sher." Fandy menatapku iba.
"Mengapa jadi kau yang meminta maaf?"
"Ya, aku merasa ikut sedih. Bagaimanapun kita pernah dekat. Aku tahu kau. Dan aku ingin kau juga bisa berbahagia sama seperti kami."
"Haish! Sudah kubilang aku baik-baik saja. Seharusnya kau menunjukkan kebahagiaanmu saja. Tak usah menunjukkan simpatimu kepadaku hingga seperti itu. Aku tak suka dikasihani," protesku.
Fandy tampak mengembuskan napas panjang. "Kudengar dari Wildan, kau ke luar negeri juga untuk menjauh dari Pak Rey."
Deg!
Wildan benar-benar ember!
"Aku–"
Kling!
Ponselku berbunyi. Sebuah pesan chat masuk. Pesan dari bosku. Ben Reagan Amancio.
[Sheryl, can you go back to the office now? there is another urgent task for you.]
Aku mengembuskan napas panjang. Bosku di Diamond Smith Company ini memang sebelas dua belas dengan pria itu. Tak suka melihat anak buahnya menganggur sebentar saja.
Setelah membaca pesan itu, aku segera bangkit berdiri. "Fan, aku harus pergi. Bosku menyuruh kembali ke kantor sekarang. Sampaikan salamku kepada Wildan. Maaf karena tak bisa berlama-lama bercengkrama dengan kalian."
__ADS_1
--------------------
Ada yang mau tahu Ben gak? Wkwkwk ujung-ujungnya promosi. lihat profil ku dan baca aku... sang putri?