Marriage Order

Marriage Order
Resign


__ADS_3

"Sayang kita sudah sampai." Kak Baruna menepuk bahuku.


Aku tersadar membuka mataku melihat ke arahnya lalu melihat sekeliling, kami sudah sampai di depan rumahku. Ternyata aku tertidur di dalam mobil Kak Baruna selama perjalanan kami pulang ke rumah.


"Sekarang jam berapa?" tanyaku.


"Jam sepuluh."


"Kamu mau mampir dulu sayang?" tanyaku.


"Lain kali ya. Besok aku ada meeting pagi. Salam saja sama orang rumah ya," jawab Kak Baruna.


"Terima kasih untuk hari ini sayang." Aku membuka pintu mobil.


"Iya sayang."


Kak Baruna tersenyum lalu menarik tanganku dengan tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya, kembali terduduk di jok mobilnya, dia merangkul belakang kepalaku mencium keningku dan turun mencium bibirku dengan cepat.


"Selamat malam sayang. Have a nice dream," ucapnya.


Aku memperhatikan wajahnya, tampak bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di pipi sampai dengan dagunya. Aku mengerutkan keningku.


"Ada apa?" tanya Kak Baruna.


"Bulu-bulu halus sudah mulai hinggap di wajahmu sayang."


"Ah iya beberapa hari ini aku tidak mencukurnya. Aku pikir kamu tidak akan memperhatikannya. Bagaimana? Keren tidak?"


"Wajahmu terlihat tidak rapi dengan bulu-bulu itu. Jangan sampai kamu tidak mempunyai teman karenanya. Seperti tokoh utama novel online yang kubaca akhir-akhir ini. Judulnya 'Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot But Lillahi'taala'. Novelisnya bercerita tentang dirinya sendiri yang tidak punya teman. Aku pikir itu pasti karena cambang dan jenggotnya yang tidak rapi."


"Hahaha .... Kamu lucu. Tidak ada kaitannya antara cambang dan teman."


"Iya sih tapi tetap tidak menjadi tampan menurutku. Ya sudahlah besok cukur ya."


"Apa pun untuk kamu sayang," sahut Kak Baruna.


Aku lalu turun melangkah keluar dari mobil dan melambaikan tanganku sampai mobil Kak Baruna menghilang dari pandanganku. Hari yang panjang memiliki banyak perasaan yang campur aduk.


Kak Reza menungguku di ruang tamu. Wajahnya sedikit menunjukkan ketegangan. Dia langsung menghampiriku.


"Dek, ini apa?" Kak Reza menunjukkan sebuah video yang diunggah satu jam yang lalu.


Aku melihatnya, sebuah rekaman video perkelahian antara Kak Baruna dan Satya yang terjadi tiga jam yang lalu sudah terpampang di sebuah akun media sosial. Aku menelan salivaku sendiri tegang melihatnya.


"Cepat sekali video ini beredar? Ada saja orang yang sengaja menyebarkannya. Kak Baruna lalu bagaimana sekarang?" Aku bertanya-tanya dalam hatiku.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Kak Reza lagi.


"Kakak lebih tahu kenapa itu terjadi. Kami bertemu orang itu lagi dan membuat Kak Baruna marah."

__ADS_1


"Kamu cari-cari masalah saja. Masalah ini bisa jadi panjang mengingat dia adalah pewaris tunggal perusahaannya."


"Benarkah?"


"Ck .... Sudahlah kamu tidak akan mengerti." Kak Reza menatapku kesal dan berjalan meninggalkanku sendiri di ruang tamu.


Aku melangkah menuju kamarku, mengambil ponsel dari dalam pouch kecilku. Berusaha menelepon Kak Baruna tapi dia tidak menjawabnya. Aku merebahkan diriku di atas kasur. Pikiranku terus tertuju padanya. Tidak lama kemudian Kak Baruna meneleponku. Aku cepat-cepat menjawab teleponnya.


"Sayang aku baru sampai," ujar Kak Baruna mengabariku.


"Kamu baik-baik saja?" tanyaku cepat.


"Tidak apa-apa. Tenang saja lukaku tidak parah."


"Bukan soal itu sayang. Ada orang yang menyebarkan video perkelahianmu dengan Satya di media sosial."


"Kamu tidak perlu memikirkannya."


"Tetap saja, aku merasa bersalah. Aku tidak bisa diam saja."


"Lalu menurutmu apa yang bisa kamu lakukan? Kita tidak bisa mencegah orang lain untuk tidak mengunggah video itu di dunia maya."


"A-Aku, aku tidak tahu," jawabku sambil membanting pergelangan tanganku sendiri di atas garis mataku bingung memikirkannya.


"Nanti aku yang akan membereskannya. Kamu sebaiknya istirahat. Jangan tidur larut malam," sahut Kak Baruna mengingatkan.


"Aku benci kamu mengatakan hal itu. Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Sebagian juga adalah kesalahanku. Sudah tidurlah sayang."


"Iya, kamu juga sebaiknya istirahat. Aku hanya bisa mendukung setiap langkah yang kamu ambil."


"Iya sayang. Good night."


"Night too."


Kak Baruna lalu mengakhiri panggilannya. Aku merutuki diriku sendiri yang selalu berbuat ceroboh sehingga membuat orang lain susah. Kemudian aku beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi. Mandi malam yang aku harap bisa sedikit meringankan sebagian kecil bebanku saat ini.


_____________________


Pagi hari pukul sembilan di ruang kerjaku ....


Aku sedang sibuk mengetik surat yang akan kutujukan langsung ke Pak Reynand. Entah dia akan terkejut atau tidak tapi saat ini aku sedang mengetik surat pengunduran diriku.


Pintu ruang kerjanya sudah tertutup rapat sejak aku datang. Seperti biasa dia selalu datang pagi-pagi sekali. Secangkir kopi sudah kusiapkan dan kutaruh di mejanya saat dia sedang berada di toiletnya.


Tidak lama surat pengunduran diri itu selesai kubuat. Aku langsung mencetaknya dan memasukkannya ke dalam amplop. Tiba-tiba telepon di mejaku berdering. Aku pun mengangkatnya.


"Sheryl saya ingin berbicara," ucapnya singkat.


"Baik Pak." Lalu terdengar telepon yang ditutup.

__ADS_1


"Mau bicara apa? Rasanya aku masih segan bertemu muka dengannya jika mengingat kejadian sabtu lalu. Aku benci padanya."


Aku membawa beberapa berkas map dokumen yang harus dia tanda tangani dan mengantongi surat resign yang baru saja kubuat lalu beranjak dari kursiku menuju ruang kerja Pak Reynand. Aku mengetuk pintu, membuka pintu pelan-pelan saat dia mengizinkanku untuk masuk. Dia masih fokus membaca beberapa berkas laporan di mejanya.


Aku membanting berkas map dokumen yang kubawa di hadapannya. Dia mendongak menoleh ke arahku menatapku terkejut.


"Kamu masih bawahan saya Sheryl," katanya.


Aku memberikan amplop surat pengunduran diriku di hadapannya. Dia terkejut melihat amplop polos itu.


"Apa ini?" tanyanya sambil membuka amplop surat itu.


"Surat resign saya Pak," jawabku singkat.


Pak Reynand terdiam sebentar sambil membaca surat itu, kemudian menatapku dan tersenyum. Tiba-tiba dia merobek surat itu menjadi potongan kertas kecil yang tidak berharga.


"Saya tidak menerima surat resign kamu," ucapnya sambil mengangkat satu alisnya.


Aku menarik napas dalam-dalam berusaha mencegah emosi yang mungkin timbul. Pak Reynand beranjak dari tempat duduknya dan melangkah berdiri di hadapanku.


"Saya tidak sedang meminta persetujuan Bapak tapi sedang meberikan informasi pengunduran diri saya."


"Iya saya tahu dan saya tidak setuju. Saya masih butuh kamu Sheryl." Pak Reynand menatapku dengan air mukanya yang marah. Menyentuh pipiku dengan punggung tangannya. Aku menghindari sentuhan tangannya menarik tubuhku agar mundur menjauh dari hadapannya.


"Tenang saja saya masih di sini sampai dengan minggu depan. Bapak harus cepat mencari sekretaris pengganti untuk bapak."


"Saya tidak sedang meminta saran kamu. Tapi saya tahu kenapa kamu melakukan ini semua. Pasti Baruna yang menyuruhmu melakukan ini semua. Ternyata dia memang pengecut. Takut saya merebutmu dari pelukannya." Pak Reynand tertawa menyeringai.


"Ini keputusan saya sendiri. Saya tidak bisa memaafkan bapak atas peristiwa itu."


"Jangan terlalu membesar-besarkan. Jangankan kamu, seratus wanita seperti kamu pun bisa saya dapatkan."


Plak!!


Aku sontak menampar wajah Pak Reynand yang baru saja mengatakan hal yang tidak sepantasnya di depanku. Merendahkan harga diriku sebagai wanita dengan santainya seperti itu. Padahal dia pun lahir dari rahim seorang wanita. Tidakkah dia memikirkan hal itu?


*****


Halo semua!


Masih ikutin cerita ini?


Yuk dukung authornya biar selalu semangat!!


Like, komen, kritik dan sarannya ditunggu.


Terima kasih reader tercinta


with love

__ADS_1


__ADS_2