Marriage Order

Marriage Order
Perdebatan Hati


__ADS_3

Baruna PoV


Rintik hujan baru saja turun. Awan kelam menunjukkan kuasanya malam itu. Aku baru saja sampai depan halaman rumahku setelah aku mengantar Sheryl kembali ke rumah. Waktu baru saja menunjukkan pukul delapan malam. Dengan langkah pelan, aku menginjakkan kakiku masuk ke dalam rumah.


Aku melihat seluruh keluargaku sedang berada di ruang tengah. Mereka terlihat sedang membahas hal penting. Aku tetap berjalan lurus, tidak ingin banyak berbicara. Aku masih marah pada keluargaku sendiri.


Bunda yang melihatku berjalan sontak menoleh ke arahku. Dia memanggil namaku.


"Baruna!"


Langkahku terhenti sejenak lalu menoleh. Tanpa kata-kata, aku berjalan menghampiri mereka.


"Sini duduk!" perintah Bunda.


Aku mengambil posisi duduk bersama mereka. Wajah mereka yang tampak serius sedikit menggangguku. Aku ingin segera membongkar semua hal yang mereka sembunyikan selama ini.


Kakek Awan menghela napas panjang. Sepertinya dia akan berbicara panjang lebar.


"Baruna, sepertinya kami memang tidak bisa menyembunyikan hal ini lebih lama lagi," Kakek membuka pembicaraan. Aku menyimak perkataan orang nomor satu di keluargaku itu.


"Ayah tahu belakangan kamu meminta bantuan Pak Wicak mencari tahu isi perjanjian Marriage Order itu. Ayah diam saja dan membiarkan kamu mengetahuinya."


"Apa Kakek dan Ayah sadar, kalau kalian semua sedang bersandiwara dan berada di pihak yang salah?" tanyaku.


"Karena itu Kakek ingin menjelaskan padamu. Perjanjian ini semata-mata Kakek lakukan untukmu dan Elvina, neneknya Sheryl."


"Astaga .... Kenapa aku dibawa-bawa, Kek? Memang ada apa dengan Nenek Elvina itu?"


"Elvina adalah sahabat Kakek dari kecil. Perjodohan ini pun lahir dari mulutnya. Dia ingin salah seorang keturunannya menikah dengan keturunan Kakek. Kakek pun sudah berjanji mewujudkannya. Suka atau tidak suka, dari kecil kami membiasakan kalian bertemu. Tumbuh bersama, berharap ada benih-benih cinta yang muncul. Kenyataannya, kamu benar-benar jatuh cinta padanya."


"Jika memang semua ini berdasar dari hal itu, mengapa harus ada kata hutang di antara kalian? Aku tidak habis pikir, Kakek dan Ayah memanfaatkan kondisi perusahaan yang sedang collapse dengan syarat seperti itu. Sahabat karib apa yang seperti itu?" dengkusku.


"Kakek membelinya untukmu, Bar. Kami tahu kalau kamu mencintainya sejak lama. Tapi kelihatannya dia tidak tertarik padamu sama sekali. Kakek hanya membantu kalian bersatu. Sekarang buktinya dia benar-benar mencintaimu, bukan?"


"Sheryl bukan mainan, Kek. Aku tidak pernah memaksa ia menjadi milikku. Aku mencintai dia apa adanya. Andai dia tahu keluargaku dan keluarganya memperlakukan dia seperti ini, dia pasti akan kecewa sekali."


Mereka semua terdiam. Mereka benar-benar tidak pernah memikirkan perasaan kami. Sang pion catur yang pasrah dimainkan kedua empunya.


"Aku juga tidak pernah berharap menjadi satu-satunya pewaris. Kakek harus adil sebagai kepala keluarga. Kalian semua harus segera berdamai dengan Tante Aina. Perjanjian itu pun harus segera diakhiri. Satu lagi, asal kalian tahu, Reynand pun menyukai Sheryl. Aku tidak ingin hal itu menjadi sebuah persaingan di antara kami!" seruku panjang lebar.


Ayah dan Bunda menarik napas dalam. Mereka tahu aku sedang berbicara tentang apa. Kakek pun hanya diam membisu. Memang berdamai bukanlah hal yang mudah, apalagi jika kesalahan sudah terlalu lama dilakukan. Rasa gengsi untuk meminta maaf bagaikan tembok besar yang menghalangi.


Aku bangkit dari tempat dudukku. Hatiku rasanya sesak mengetahui semua ini. Rasa kecewa menyeruak masuk ke dalam seluruh aliran darahku. Mempunyai keluarga yang seperti ini, miris rasanya.

__ADS_1


Aku masuk ke dalam kamarku yang sunyi, termenung. Terdengar alunan musik lembut dari ponselku, Sheryl meneleponku.


"Sayang, kamu sudah sampai rumah?"


"Iya, aku sudah sampai."


"Aku menunggu kabarmu dari tadi."


"Maaf, tadi aku sedang berbincang dengan keluargaku."


"Oh ... ya sudah, aku hanya ingin menanyakan hal itu. Kamu bersih-bersih dulu saja. Nanti aku telepon kamu lagi."


"Sayang, bagaimana kalau setelah menikah kita pergi saja dari negara ini? Kita tinggal di mana orang-orang tidak mengenal kita sama sekali."


"Hei ... kamu mabuk?"


"Tidak. Aku sangat sadar saat ini."


"Aku akan selalu ikut ke mana pun suamiku pergi. Di mana ada dia, di situ letak kebahagiaanku."


"Syukurlah kalau kamu berpikiran seperti itu. Aku sangat senang."


"Aku mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu. Ya sudah, aku mandi dulu."


Sheryl mengakhiri panggilan teleponnya. Aku masih terpaku duduk di sofa tempat tidur. Pikiranku masih melayang jauh berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran negatif yang menggelayuti.


****


Reynand PoV


Aku baru saja memarkirkan kendaraanku di halaman rumah Kayla. Mengantarnya dengan selamat sampai dengan rumahnya. Kayla membuka sabuk pengamannya bersiap untuk turun. Dia menoleh ke arahku.


"Mau mampir, Rey?"


"Tidak Kay. Aku lelah dan ingin segera beristirahat," jawabku.


"Kamu tidak ingin bertemu dengan kedua orang tuaku?"


"Nanti sajalah," sahutku singkat.


Kayla menarik napas dan berkata, "Kamu benar-benar ya...."

__ADS_1


"Aku kenapa? Dari dulu aku seperti ini. Tidak ada yang berubah."


Kayla mendekatkan wajahnya ke arahku. Mencium bibirku, menyerangnya dengan tiba-tiba. Aku tidak membalas permainannya. Aku memegang bahunya, mendorong tubuhnya menjauh. Menatap wajahnya tajam, menunjukkan kalau aku benar-benar marah padanya.


"Kamu menolakku, Rey?" Kayla terlihat kecewa.


"Aku hanya tidak ingin. Jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi.


"Tapi Rey, aku mencintaimu," ucap Kayla memelas.


"Tapi aku tidak mencintaimu, Kay. Kamu tahu hal itu. Kita akhiri saja semua ini."


"Tidak! Aku tidak mau! Kamu jangan mengatakannya lagi!" Kayla menutup kedua telinganya. Di tidak ingin mendengar kata-kata yang sudah sering aku ucapkan berkali-kali.


"Kalau bukan karena ibuku, aku tidak akan melakukan ini. Kamu sebaiknya menyadari itu. Aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya bermain-bermain saja."


"Jahat kamu, Rey!"


"Aku memperingatkanmu sebelum semuanya terlambat. Sebelum hatimu jatuh terlalu dalam kepadaku."


"Aku tahu, aku paham, aku sangat mengerti siapa yang ada di hatimu saat ini. Tapi dia akan segera menikah. Kamu tidak bisa merebutnya. Dia milik saudara tirimu. Kamu tega, Rey?"


Aku terdiam tidak menjawab pertanyaan Kayla. Perkataannya memang ada benarnya. Apalagi aku bukan siapa-siapanya.


"Perkataanku benar, kan?" Kayla menatap mataku seraya tersenyum.


"Kamu bisa turun sekarang." jawabku dingin.


"Kamu ingin lari dari pertanyaanku? Cih ... Rey yang ini sangat memuakkan!" Kayla memanyunkan bibirnya kesal.


Dia lalu membuka pintu mobil dan membantingnya keras. Berjalan cepat tanpa menoleh lagi ke belakang.


Aku meraih selembar tisu membersihkan bibirku yang memerah akibat lipstik yang dia kenakan. Kekesalanku memuncak, seharusnya dari dulu aku tidak memberikan Kayla kesempatan untuk masuk ke dalam kehidupanku.


Tidak ada seorang pun yang berhak melarangku untuk mencintai wanita lain, termasuk Kayla.


Aku menginjak pedal gas mobilku berjalan meninggalkan halaman rumah Kayla menembus rintik hujan yang mulai turun ke bumi.


___________________


Masih baca karya ini?


Dukung terus ya dengan memberikan vote, komen, like, dan rate bintang 5.

__ADS_1


Terima kasih


Viviani


__ADS_2