Marriage Order

Marriage Order
S2 Apa Hanya Akan Menjadi Mimpi?


__ADS_3

Baruna Pov


Setengah jam, kami hanya saling terdiam. Tidak ada interaksi sama sekali. Sheryl menundukkan pandangannya melihat layar ponsel dalam genggamannya. Sama seperti Reynand yang diam sibuk dengan ponselnya.


"Sayang, kamu sedang mengabaikanku lagi?" Aku menarik benda canggih itu dari dalam genggamannya.


Sheryl mendongak ke arahku. Menarik sudut bibirnya hingga dua sentimeter, mengembuskan napas berat.


"Kamu butuh apa sekarang?" tanyanya.


"Butuh kasih sayang darimu," ucapku terkekeh.


"Bagian mana yang kamu butuhkan?" Dia balas tertawa.


"Ah, aku ingin menambah yang tadi. Bagaimana?" tanyaku sambil melirik ke arah Reynand yang tidak bergeming dari posisinya.


"Hei, ada dia di sana. Kamu tidak malu?" Sheryl menolak.


"Biarkan saja. Biar dia sadar dan jangan mengganggu hubungan orang lain," sahutku kesal.


Aku sengaja membuatnya tidak betah berada di ruangan ini. Wajahnya membuatku muak.


Reynand tiba-tiba bangkit berdiri. Dia melangkahkan kakinya berjalan ke arahku.


"Gue pamit pulang, Bar. Titip salam untuk Tante Meri. Semoga keadaan lo cepat membaik," katanya.


"Pulang? Tunggulah Bunda sebentar lagi. Nanti dia juga datang."


"Nanti gue telepon Tante Meri. Salam buat Ayah. Sher, saya pulang dulu."


"Iya," jawabku datar. Sorot matanya tajam, terlihat marah bercampur rasa kecewa.


Sheryl hanya mengangguk. Pria itu pun membalikkan badannya berjalan keluar ruangan. Aku melihat Sheryl yang mematung menatap kepergian lelaki itu. Segera kuraih tangannya hingga menyentuh dadaku. Dia sontak menoleh dan tersenyum.


"Apa ada yang sakit?" tanyanya.


"Hatiku sakit jika kamu memperhatikan orang itu."


"Maksud memperhatikan?" tanyanya bingung.


"Kamu menyukainya?"


Dia terdiam sejenak lalu menjawab, "Tidak!"


"Kamu pikir berapa lama aku sudah mengenalmu?"


"Lalu?"


"Seumur hidup aku sudah mengenalmu. Masih ingin mengelak?"


Dia tidak menjawab. Melihatnya seperti ini, dadaku kembali bergemuruh sesak. Aku harus mengakui kenyataan dirinya yang tidak berpendirian. Namun, dia tetaplah milikku. Aku tidak ingin menjadi Baruna yang dulu. Mulai hari ini harus tegas akan hubungan kami. Apa lagi sejak tadi kami saling bertukar rasa rindu. Keraguanku hilang begitu saja. Aku tahu, dia juga memiliki rasa cinta padaku.


"Kamu masih ingin bersamaku?" tanyaku.

__ADS_1


"Iya."


"Maka lupakan dia!"


Dia mengangguk, lalu menatap mataku seperti hendak mengatakan sesuatu.


"Apa yang ingin kamu katakan, Sayang?"


"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Bahkan aku tahu kamu yang paling tahu diriku."


Aku kembali merengkuhnya masuk ke dalam dadaku. Piyamaku tiba-tiba terasa basah. Dia menangis sedih. Aku mengusap punggungnya berkali-kali.


"Jangan membuatku kecewa untuk kedua kalinya," ucapku pelan.


Dia mengangguk dalam dekapan. Aku mencoba menarik tubuhku hingga bersandar pada bantal yang menempel pada dipan ranjang. Agar ia semakin nyaman berada dalam pelukanku. Sheryl menarik tubuhnya hingga wajah kami saling berhadapan.


"Apa tidak masalah duduk seperti ini?" tanyanya.


"Tidak apa. Hanya sedikit sakit dan itu tidak masalah. Kakiku saja yang tidak bisa digerakkan," ucapku, lalu menatap wajahnya, "sedetik pun, aku tidak ingin berpisah darimu lagi, Sayang."


"Itu pun yang aku rasakan."


Tanpa keraguan aku mendekatkan wajahku dan mulai memagut bibirnya. Ciuman yang dalam kembali mengisi kerinduan. Saling membelai bibir perlahan dengan gerakan yang lembut, hingga saling menekan indra pengecap masuk. Kemudian menciumnya sampai ke daun telinga dan leher. Dia mengerang kegelian menikmati sentuhan yang kubuat dan aku makin menikmatinya.


Segera, melingkarkan tangan di pinggang dan merengkuh tubuhnya dengan erat hingga dada kami saling bertemu. Begitu hangat, membuat jantungku berdebar begitu kencang. Wajahnya yang memerah membuatku makin bersemangat menuruni ciumanku pada tengkuknya yang memanas.


"Sudah! Hentikan, Sayang!"


"Hmmm ...." Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Aku terlalu merindukannya dengan hasrat yang menggebu.


"Aduh!" Aku mengaduh hingga mengurai ciumanku.


"Kamu waktu koma seminggu bermimpi apa, sih? Mengapa jadi liar seperti ini?" protesnya.


Aku tertawa melihat wajahnya. Segera membelai rambutnya yang panjang.


"Kalau aku bermimpi kehilangan dirimu, apa kamu percaya?" Aku menatap dalam bola matanya.


"Mengapa jelek sekali mimpimu?" Lagi-lagi dia protes.


"Entahlah. Mungkin aku terlalu takut jika kamu memilih bersama dengan saudara tiriku."


"Dia lagi ...," keluhnya. "Kamu tahu, hari ini tanggal tiga puluh satu Desember. Besok sudah pergantian tahun. Aku hanya ingin bersamamu."


"Kamu ingin menginap?"


Sheryl menganggukkan kepalanya.


"Ah, pasti Bundaku tidak akan memperbolehkan," sahutku kecewa.


Dia memanyunkan bibirnya kecewa. Aku kembali menempelkan bibirku sejenak di sana. Dia membulatkan matanya terkejut. Kemudian memandang wajahku mesra. Membuat mataku berbinar saat menatapnya. Aku sangat bahagia.


"Sayang ... aku mencintaimu," ucapnya tiba-tiba.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu," jawabku masih memeluk tubuhnya.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam saat Reza dan Bunda masuk ke dalam kamar.


"Sudah kangen-kangenannya?" Bunda tersenyum melihatku.


"Belum puas sih, Bun," jawabku terkekeh.


"Nanti akan puas kalau kalian sudah menikah," sahut Bunda.


"Segera!"


"Anak ini .... Kaki dan luka di kepalamu harus sembuh dulu. Seenaknya bilang segera!" seru Bunda.


"Lama dong." Aku mengerucutkan bibirku kecewa.


Sheryl tersenyum melihat tingkahku. Dia bangkit berdiri, "Kamu harus bersabar. Yang terpenting kesehatanmu, Sayang."


"Hei, kamu pun juga sama."


Dia menatap wajahku datar. Tangannya membelai pipiku, lalu tersenyum lagi.


Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan dariku. Ah .... Aku tidak ingin berpikiran negatif lagi.


"Bar, gue pulang ya? Ayo Dek, kita pulang."


"Ayo!" jawabnya kemudian menoleh ke arahku, "besok aku akan datang lagi."


Aku mengangguk. Sheryl lalu mencium keningku. Kedua bersaudara itu pun bersalaman pamit pulang dengan Bunda. Aku menatap kepergian mereka walau rasa rindu ini masih menguasai hati.


****


Reynand PoV


Malam itu aku melihat Sheryl berdiri menghadap jendela besar apartemen kami. Memandang lurus ke gedung-gedung tinggi di sekitarnya.


Aku melangkah menghampirinya. Dia menoleh ke arahku sambil tersenyum. Wajahnya yang merona merah memperlihatkan kecantikannya saat ditimpa sinar lampu yang terang.


"Apa yang kamu lihat, Sayang?" tanyaku sambil memeluknya dari belakang.


"Tidak ada. Hanya teringat keluargaku."


"Besok kita ke sana." Aku mencium pipi dan turun sampai ke lehernya, lalu menopang daguku di atas bahunya.


"Apa kamu bahagia?" tanyanya.


"Tentu saja. Kamu sudah jadi milikku. Kehadiran Sheeren di keluarga ini juga menambah kebahagiaan di hidup kita, Sayang."


Istriku itu memutar tubuhnya hingga berhadapan denganku. "Kamu dan Sheeren adalah kebahagiaanku, Rey. Hanya kalian milikku sekarang. Tidak ada tempat lain yang bisa kutuju untuk pulang. Hanya kepadamu, hatiku merasa lega."


"Berbahagialah hanya denganku. Walau semua orang menolak pernikahan kita," ucapku.


"Aku mencintaimu, Rey."

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, Sher."


Aku menautkan sebuah ciuman di bibirnya. Memandangnya dengan mesra. Begitu dalam rasa cintaku membuncah dalam dada. Kami saling menikmati rasa cinta kami. Perjuanganku tidak menjadi sia-sia saat ini. Hanya dia dan Sheeren yang menjadi kebahagiaanku selamanya.


__ADS_2