
Aku benci mengakui ini, tapi otakku terus merekam perdebatanku dengan Papa sampai dengan pagi ini. Pukul setengah tujuh kami sudah berkumpul di meja makan menikmati sarapan. Papa diam tidak banyak berkomentar. Kak Reza sibuk meracik dua lembar roti di tangannya dengan selai rasa buah kesukaannya. Wangi semerbak kopi yang memenuhi seluruh sudut ruang makan tidak mampu meluluhkan perasaan sedih dan kesalku sejak semalam. Aku memasang wajah masam berada di antara mereka. Mama yang sedang mengaduk kopi untuk Papa di atas meja makan memperhatikanku gemas.
"Sheryl ini masih pagi loh. Tidak pantas menekuk wajah seperti itu di depan Papamu," tegur Mama.
Mendengar teguran Mama membuatku berinisiatif mengangkat kedua sudut bibir tersenyum paksa walau hanya dua detik kemudian melanjutkan kembali sarapan pagiku.
"Ehem .... Ehem .... Kamu tidak perlu melakukannya jika tidak ingin," celetuk Papa yang tiba-tiba mendongakkan kepalanya memperhatikanku.
Aku terdiam mendengar kata-kata Papa yang begitu menusuk tepat dengan suasana pagi hariku ini.
"Papa jangan mulai lagi," sahut Kak Reza.
"Reza, Papa sudah memutuskan untuk melakukan pertemuan dua keluarga membereskan masalah antara Sheryl dan Satya. Masalah ini tidak boleh berlarut-larut. Papa sungguh malu memiliki anak gadis yang berkelakuan buruk walaupun hal itu terjadi di masa lalu. Apalagi keluarganya sudah menjadi keluarga besar Mamamu."
Aku sontak menatap wajah Papa yang memang terlihat sedang berbicara serius itu.
"Haruskah hal itu dilakukan? Aku sudah meminta maaf padanya."
"Tentu saja. Jika permintaan maafmu tidak berguna, maka butuh orang lain untuk bantu melakukan mediasi bukan?" tanyanya retoris.
"Benar Sher, kali ini Mama setuju omongan Papamu." Mama menatap mataku lembut.
"Apa harus melakukan mediasi antar keluarga untuk hal seperti ini? Apa tidak terlalu berlebihan? Satya itu tidak waras, dia terobsesi padaku." batinku.
"Kalau dipikir-pikir bener juga sih Dek. Apalagi ini juga menyangkut masalah perusahaan. Mau ditaruh mana muka Kakak dan Papa kalau bertemu dengan mereka?" tambah Kak Reza membela omongan Papa.
"Aku sudah selesai," kataku bangkit dari tempat duduk berbalik arah cepat-cepat melangkah keluar.
"Sheryl! Papa belum selesai bicara." Papa berteriak tapi aku tidak menghiraukannya dan mempercepat langkahku.
Kak Reza ikut menyusulku dari belakang, menarik tanganku. Aku menoleh hingga berhadapan dengannya.
"Jangan keras kepala. Ikuti saja kata-kata Papa. Kita tidak akan tahu jika belum mencobanya, bukan?"
"Kakak tidak usah ikut campur," sahutku ketus.
Mobil Kak Baruna muncul masuk ke dalam gerbang mengalihkan pandangan kami. Lelaki tampan dan gagah itu keluar dari mobilnya dengan penampilan rapi menjemputku.
"Hai sayang bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanyanya dengan wajah yang berseri-seri.
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Kak Reza melirik tajam ke arah Kak Baruna memberi kode agar dia jangan berbicara lebih lanjut lagi.
__ADS_1
"Pokoknya kali ini kamu harus patuh pada Papamu."
Aku melengos dan buru-buru masuk ke dalam mobil Kak Baruna, tidak ingin berdebat lebih jauh.
"Ada apa?" tanya Kak Baruna pelan.
"Biasa, dia sedang menjadi sekeras batu," sahut Kak Reza tersenyum pada sahabatnya itu.
"Oh ... oke duluan ya Za," pamit Kak Baruna sambil masuk ke dalam kursi kemudi.
Kak Reza hanya mengangguk tersenyum lalu melambaikan tangannya pada kami. Kak Baruna menoleh ke arahku yang masih berwajah masam. Menghidupkan mesin mobilnya dan mulai menginjak pedal gasnya.
Mobil berjalan perlahan membelah jalan raya yang mulai padat pengguna jalan. Kak Baruna menaruh tangannya di atas punggung tanganku menggenggamnya erat.
"Lakukan bila itu adalah hal yang positif sayang," ucapnya.
"Kamu sama saja dengan keluargaku. Padahal kamu juga melakukan perkelahian itu. Apa itu perbuatan positif?" kataku tepat menusuk pernyataannya.
Kak Baruna menarik napas dalam-dalam, menjawab pertanyaanku dengan tenang. "Bagaimana perasaanmu jika orang yang kamu sayang dihina di depan umum setelah sebelumnya kamu tahu dia hampir diperlakukan semena-mena di dalam toilet? Menurutmu apa yang akan kamu lakukan setelahnya? Hanya diam bertopang dagu menonton saja? Atau buru-buru pergi menghindar dengan perasaan takut?"
"Papa ingin melakukan pertemuan dua keluarga untuk bermediasi," celetukku pelan.
Aku mengangguk dan berkata, "Kamu tahu Satya tidak sekedar ingin maaf dariku kan? Dia itu sudah tidak waras. Dia sudah terobsesi denganku sayang. Aku bingung apa yang harus kulakukan."
"Kapan acara itu?"
"Baru rencana saja. Papa belum mengabariku."
"Kabari aku juga. Aku akan ikut acara itu."
"Kamu juga akan meminta maaf padanya?" tanyaku.
"Buat apa? Aku merasa sudah melakukan hal yang benar."
"Kamu harus janji padaku, jangan buat keributan di acara itu," ucapku.
"Iya aku janji."
Setengah jam kemudian kami tiba di gedung kantor Pradipta Corp. Aku keluar dari dalam mobil melangkah menuju pintu lobi, berdiri menunggu di depan lift yang sudah mulai turun. Beberapa orang ikut menunggu. Tapi yang menarik perhatianku adalah Ibu Aina yang ikut menunggu lift berdiri di sampingku. Wajahnya yang cantik tidak termakan usia itu berhasil membuatku fokus memperhatikannya.
Ting!
__ADS_1
Lift terbuka lebar, aku masuk dengan langkah percaya diri diikuti olehnya. Anehnya tidak ada seorang pun yang berani ikut masuk bersama kami padahal ada sekitar enam orang lagi yang ikut menunggu bersamaku. Mungkin mereka takut jika berada satu lift bersama Ibu Aina yang mempunyai air muka terlihat mengerikan.
Ibu komisaris itu menoleh ke arahku, menaikkan alisnya lalu menatap dengan angkuh. Aku balas tersenyum ramah padanya walaupun sebenarnya hati tidak ingin melakukannya.
"Selamat pagi Ibu Aina," sapaku pelan.
"Pagi," balasnya tegas. "Anak gadis Agung Praja Kusuma mengapa masih ada di sini?" celetuknya tiba-tiba.
"Maksudnya?" tanyaku bingung.
"Apa yang dilakukan seorang anak pengusaha bekerja di perusahaan orang lain? Aneh." Ibu Aina menggelengkan kepalanya.
Aku membelalakkan mataku terkejut dengan kata-katanya yang tiba-tiba itu.
"Apakah hal itu mengganggu Ibu?" tanyaku.
"Entahlah, tapi saya tidak punya masalah dengan keluarga bapak Agung. Saya hanya takut kamu mengganggu konsentrasi anak saya terhadap tujuan awalnya. Hari ini dia pergi ke perusahaan ayahnya untuk bertemu dengan dewan direksi."
"Asyraf Corporation?"
"Tentu saja."
"Apa dia akan menjadi satu-satunya pewaris?"
Ibu Aina tidak menjawab pertanyaanku. Dia melangkah pongah meninggalkanku saat lift terbuka di hadapannya. Aku menggigit bibirku cemas memikirkan bagaimana dengan Kak Baruna yang nantinya mungkin akan digantikan oleh Pak Reynand.
Terdengar dering ponsel dari dalam tas kerja yang kubawa. Aku meraih ponsel pintar itu melihat nama Nesya sepupuku memanggil.
"Sher, kamu di mana?" tanya Nesya.
"Baru sampai kantor," jawabku sambil duduk di meja kerja.
"Nanti siang makan siang bareng yuk."
"Di mana Nes?"
"Mall dekat kantor kamu sajalah. Aku tunggu pokoknya. Kabari kalau sudah di sana," ujar Nesya.
"Oke deh."
Aku mengakhiri panggilan Nesya, meletakkan ponsel di atas meja, mengusap wajah dengan kedua telapak tanganku tidak peduli akan riasan yang mungkin berantakan, dan memulai aktivitas pagi ini dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1