Marriage Order

Marriage Order
S2 Antara Sedih dan Bahagia


__ADS_3

Baruna PoV


Aku duduk di tepi ranjangku, menelepon Sheryl dan meminta penjelasan darinya atas berita yang kubaca di media berita online. Berita skandal Reynand dan dirinya yang mengkhianatiku dan Kayla.


Lama dia terdiam tidak menjawab pertanyaanku. Rasa marah, kecewa, dan sedih bercampur jadi satu masuk ke dalam hati mengakibatkan rasa yang teramat sesak dan sakit. Teganya mereka melakukan hal seperti ini padaku.


"Katakan sejujurnya, Sheryl! Jangan membuatku berburuk sangka padamu. Aku ini tunanganmu dan calon suamimu. Tidak berhakkah aku tahu yang telah terjadi?" tanyaku lagi.


Dia menjawab, "Benar. Aku memang telah melakukan hal itu dengan Pak Reynand, saudara tirimu sendiri. Namun, aku mabuk saat itu dan aku tidak hamil. Itu yang salah dari pemberitaan!"


Kali ini aku yang diam tidak dapat berkata-kata. Berkali-kali aku menghela napas panjang, menelan segala kekecewaan dan kemarahan karena dia tidak jujur padaku. Desahan napas yang memburu sesak mengantarku pada kata-kata terakhir untuknya.


"Sheryl, maaf aku harus mengatakan ini lewat sambungan telepon, karena kita tidak bisa bertemu. Hubungan kita cukup sampai di sini saja."


"Tidak, Sayang. Aku benar-benar ingin bersamamu. Aku–,"


Aku memotong perkataannya, "Sungguh, lebih dari dua bulan ini merupakan hal yang paling membahagiakan. Mungkin, waktu kita selama ini tidak bisa membuatmu benar-benar mencintaiku hingga harus membaginya pada lelaki lain. Masa depanmu milikmu sendiri mulai sekarang."


"Tidak! Tidak! Jangan seperti ini–,"


Aku menyela perkataannya kembali, "Kamu sudah cukup mengecewakanku. Aku pikir, aku yang akan menjadi pemenangnya sebentar lagi. Menikah denganmu dan berbahagia selamanya. Namun, kenyataannya tidak seperti itu."


"Bawa aku pergi! Aku tidak ingin bersama lelaki itu, Say–"


"Selamat tinggal."


Aku memutuskannya. Hanya lewat sambungan telepon. Kemudian meluruhkan air mata kesedihan. Ini air mata kesekian kalinya yang kukeluarkan deminya. Bertahun-tahun lamanya menelan kekecewaan. Apa ada yang salah padaku? Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik. Menjadi yang seperti keluargaku inginkan. Namun, tidak pernah menjadi idaman baginya. Sesak ... sakit ... benci ... hanya itu yang kurasakan sekarang. Maaf, kesabaranku sampai pada batasnya.


Ponsel itu terus menyaringkan bunyinya. Sheryl terus menghubungiku berkali-kali dan aku tidak ingin berbicara dengannya. Membiarkannya berdering sampai ia bosan menghubungiku.


Beberapa jam kemudian ....


Tok-tok-tok!


Terdengar suara pintu kamar diketuk. Aku berteriak, "Tidak dikunci!"


Handel pintu ditekan, Ayah dan Bunda masuk ke dalam. Mereka melangkah mendekat ke arahku, memandangku dengan penuh keprihatinan. Aku memalingkan wajahku, tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka.


"Baruna, kuatkan hatimu atas semua yang terjadi. Tadi Om Agung menelepon dan ingin mengadakan pertemuan antar keluarga malam ini juga bersama Reynand dan juga keluarganya. Kami akan membatalkan surat perjanjian itu, karena keluarga Reynand bersedia membayarkannya," ujar Ayah.


"Aku tidak ikut. Hubunganku dengan Sheryl pun baru saja kuakhiri. Selesai sudah rencana pernikahanku," dengkusku.


"Bar, percayalah kami sebagai kedua orang tua juga ikut merasakan kepedihanmu. Kita yang memulainya dan kita juga yang akan mengakhirinya. Sabar ya, Nak." Bunda menghiburku. Dia memelukku dengan penuh kehangatan. Matanya ikut berkaca-kaca menatapku.


"Bun, aku tidak apa-apa."


"Tidak ... seorang ibu lebih mengetahui perasaan anaknya dibanding siapa pun. Bunda tahu kamu habis menangis." Bunda melepas pelukannya. Dia lalu berkata, "Tubuhmu boleh tinggi dan besar, tapi hatimu hanya sebesar ini," tambahnya sambil mengepalkan tangan menunjukkannya kepadaku.


"Masa depanku sekarang milikku. Tidak akan ada yang bisa mengaturnya kembali."


Bunda mengangguk. Ayah memalingkan wajahnya, mungkin dia merasa tersindir oleh perkataanku.

__ADS_1


"Ayah tidak perlu merasa tidak enak. Aku sudah pernah mengatakannya, dari dulu tanpa surat perjanjian itu pun, aku sudah mencintai Sheryl dan berniat menikahinya. Namun, kalau jadinya seperti ini, aku juga tidak akan memaksa. Hatiku sudah terlanjur hancur berkeping-keping. Walau rasa cinta masih kurasakan untuknya. Aku akan ikhlas menjalankan ini semua." Aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya berkali-kali. Ingin melegakan hatiku dari rasa cinta yang membuncah sekaligus mengecewakan.


"Maafkan, Ayah. Semuanya terjadi gara-gara Ayah," ujar Ayah dengan wajah penuh penyesalan.


Aku bangkit berdiri dengan krukku dan memeluknya. "Tidak. Aku yang harus meminta maaf," balasku.


"Mengapa kamu yang harus meminta maaf?" Ayah membalas pelukanku.


"Mempermalukan keluarga ini sampai ke media."


"Berita seperti itu nanti akan hilang dengan sendirinya, Bar. Bukan kamu yang salah."


Aku terdiam tidak menjawab. Bunda menepuk-nepuk bahuku, lalu bangkit beranjak meninggalkanku, disusul oleh Ayah yang juga ikut keluar kamar. Aku kini sendiri di dalam kamar. Meratapi kembali kesedihan yang mendalam.


Sheryl, apakah kamu merasakan hal yang sama? Ataukah malah kamu sedang berbahagia? Maafkan aku Kakek, aku tidak bisa menepati janjiku.


****


Reynand PoV


Pukul 13.00


Aku sedang berbaring bermalas-malasan di atas tempat tidur. Kadang kala tersenyum dan tertawa sendiri seperti orang gila. Hatiku terasa berbunga-bunga. Sebentar lagi mimpiku akan menjadi nyata.


Tok-tok-tok!


Terdengar suara ketukan pintu. Belum sempat beranjak, tiba-tiba handel pintu ditekan dari luar dan indira masuk dengan terburu-buru. Wajahnya terlihat sangat khawatir.


"Tuh di meja!" Aku menunjuk ke arah meja tanpa bangkit berdiri. Sesekali menguap karena mengantuk.


Indira menghidupkan televisi di kamarku. Mencari stasiun televisi yang menyiarkan infotainment. Aku memejamkan mata bersiap untuk tertidur.


"Berita perselingkuhan kembali terjadi. Artis yang juga dikenal sebagai seorang model, Kayla Nabila Putri. Mengaku jika ia telah putus dengan calon tunangannya seorang pengusaha muda keluarga Pradipta yaitu Reynand Alex Pradipta."


Mendengar berita tersebut, aku sontak membuka mata terkejut. Mendorong tubuhku hingga duduk dan fokus pada layar televisi.


"Hubungan yang kandas itu adalah akibat perselingkuhan yang dilakukan sang pengusaha dengan calon istri saudara tirinya hingga dikabarkan hamil. Sampai berita ini timbul, Kayla hanya bisa dihubungi lewat sambungan telepon


...."


Segera kurebut remote dari tangan Indira dan mematikan siaran televisi itu. Indira melihatku dengan tatapan terkejut.


"Bagaimana bisa?" tanyanya.


"Kayla," sahutku buru-buru meraih telepon genggam, lalu menghubunginya.


Lama nada sambung terdengar, tapi dia tidak juga mengangkatnya. Indira melihatku bingung sambil mengangkat bahu.


"Dasar wanita sialan!" umpatku geram.


"Kok bisa ... Kayla?" tanya Indira.

__ADS_1


"Sebentar, aku telepon Sheryl dulu," kataku sambil mencari nomornya, lalu melakukan panggilan.


Indira masih memperhatikanku menelepon. Nada sambungnya terdengar. Namun, teleponku tidak juga dijawab.


"Haish! Ke mana sih, dia?!"


"Siapa, Kak?" tanya Indira.


"Sheryl. Siapa lagi?"


"Mungkin dia tidak ingin diganggu. Kakak pasti sudah membuatnya marah," tebaknya.


"Jangan ikut campur. Sana keluar!" usirku.


Indira mengerucutkan bibirnya kesal. Dia bergegas keluar dari kamarku. Wanita itu sangat takut jika melihatku marah. Pikiranku menjadi kacau akibat kelakuan Kayla. Wanita itu sungguh membuatku naik darah.


Malam hari, Pukul 20.00 ....


Malam ini aku dan Mama datang ke kediaman Ayah Anton. Membahas mengenai berita yang sudah beredar luas. Kami hanya datang berdua ingin menyelesaikan segala urusan mengenai pembatalan surat MOA.


Aku menekan bel pintu utama. Tidak lama, Pak Edi–kepala pelayan kediaman Asyraf membukakan pintu. Senyum mengembang di wajahku. Pak Edi mempersilakan kami masuk.


Tante Meri, Om Anton, dan Pak Irfan–notaris keluarga Ayah sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Om Agung, Tante Rini, Reza, dan Sheryl yang juga duduk di sana. Mereka semua sontak menatap kami yang baru saja datang.


"Aina, Reynand! Ayo, silakan duduk!" Tante Meri menyambut kami.


Aku dan Mama pun duduk di atas sofa berhadapan dengan mereka semua. Aku melihat Sheryl yang menundukkan pandangannya. Dia seperti malu melihat semua orang berada di sana.


Haish .... Apa hanya aku yang tidak tahu malu?! Wajah pun masih mendongak seperti tidak terjadi apa-apa.


Wajah Ayah tampak menegang. Rahangnya mengeras. Dia juga tampak dingin menatapku. Tangannya terus mengepal di atas pahanya. Namun, aku tahu dia berkali-kali menahan diri untuk memberikanku pelajaran. Seperti yang dia bilang bahwa akan menghajarku, jika aku merebut Sheryl dari Baruna. Aku tidak peduli.


Baruna mana? Aku tidak melihatnya.


Ayah bangkit berdiri, dia kemudian berkata, "Karena semua sudah lengkap, mari kita semua ke ruang kerja. Saya dan Pak Irfan sudah mempersiapkan semuanya."


Ayah dan Pak Irfan lebih dulu beranjak dari ruang tamu berjalan menuju ruang kerjanya. Kami mengikutinya dari belakang.


Ruang kerja itu cukup luas. Kapasitasnya bisa menampung lebih dari sepuluh orang. Kami semua duduk di atas sofa. Menatap Ayah yang sebentar lagi akan berbicara.


"Saya sebagai tuan rumah di sini. Ingin menyampaikan beberapa hal. Seperti yang sudah kita ketahui, Baruna dan Sheryl akan menikah. Namun, karena ada kejadian ini, Pak Agung ingin membatalkan semua rencana itu. Aina juga sudah setuju untuk mengeluarkan hartanya membayar semua hutang Kusuma Corporation. Maka dengan sangat berat hati, saya pun tidak akan mempersulit hubungan Sheryl dan Reynand. Baruna pun sudah mengerti dan menerima semuanya, tapi hari ini dia sedang tidak bisa diganggu," jelas Ayah panjang lebar.


Pak Irfan terlihat mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya. Map itu berisi surat penyataan pelunasan hutang. Surat itu harus ditandatangani tanpa ada paksaan dari pihak mana pun, sekaligus menjadi bukti pembatalan perjanjian Marriage Order Agreement yang telah dibuat sebelumnya.


"Saya tidak perlu menandatangani ini, 'kan?" tanya Mama menaikkan sebelah alisnya.


"Tentu saja harus tanda tangan. Artinya anda sebagai saksi adanya surat ini dan sebagai pihak yang melunasi semua hutangnya," jawab Pak Irfan.


"Hmm ... baiklah," sahut Mama.


Aku dan Reza ikut menandatangani surat itu sebagai saksi. Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka, tampak Baruna berdiri dengan kruknya di sana. Melihat kami semua dengan tatapan matanya yang dingin.

__ADS_1


__ADS_2