Marriage Order

Marriage Order
S3 Pengakuan Sheryl


__ADS_3

Sheryl Pov


Reynand menatapku dengan pandangan penuh amarah. Dia tampaknya tahu aku membohonginya. Ya! Aku tak memiliki pasangan di sini. Aku masih sendiri. Dan aku mungkin terlihat sangat menyedihkan tanpanya.


Bingung. Bagaimana aku harus menjawabnya? Haruskah aku jujur alasanku meninggalkannya?


"Mengapa kau tak menjawabku?" Reynand kembali bertanya.


Embusan dan tarikan napasku makin tak beraturan berada di situasi seperti ini. Sungguh. Tak pernah kubayangkan dia akan sangat marah.


"Aku tak mengerti pertanyaanmu, Rey," sahutku mengelak.


"Kau tidak tinggal dengan seorang pria. Kau tidak memiliki pacar. Ya! Kau sudah membohongiku." Reynand berkata sengit.


"A-aku...."


"Jangan berkilah lagi! Sebenarnya apa maumu? Kau datang dan pergi seenak hatimu dan meninggalkan luka yang begitu dalam kepadaku, Sher!"


Aku menelan ludah mendengar perkataannya. Sorot tajamnya bergetar menampakkan kesedihan sama seperti yang kurasakan jauh di dalam lubuk hatiku.


"Rey, sadarlah! Aku tak bisa bersamamu! Sungguh!"


"Tapi kenapa? Karena ibuku, huh? Kau disuruh menjauh dariku, iya?!"


"Aku telah berjanji kepadanya, Rey. Aku telah berjanji untuk menjauh darimu. Mamamu benar! Aku hanya bisa meninggalkan banyak luka untukmu. Aku ini wanita yang tak pantas bersanding denganmu. Selain itu...."


"Selain itu apa? Bicara yang benar, dong! Kau benar-benar membuatku muak! Bisa-bisanya kau seperti ini!" Reynand memarahiku. Dia seperti akan mengamuk sebentar lagi.


"Papa dan Mamaku tak suka kita bersama. Mereka ingin aku menemukan kebahagiaan lain jauh dari keluarga Asyraf dan yang berkaitan dengan mereka!"


Dada Reynand tampak mengembang dan mengempis. Aku tahu bagaimana emosinya dia. Dibohongi, ditolak mentah-mentah, dan kali ini aku menyebut-nyebut nama keluarga ayahnya.

__ADS_1


Reynand seketika bangkit dari duduknya. Aku pun ikut bangkit berdiri. Seketika pandangan kami saling bertemu. Reynand berjalan mendekat. Kedua tangannya terulur mengguncang pundakku dengan emosinya.


"Mereka bukan aku! Sial! Mengapa jadi seperti ini hanya karena Baruna mengkhianatimu, Sheryl?!" teriaknya.


Napasku tertahan menjadi sasaran kemarahannya. Air mataku seketika jatuh. Dengan segera, aku menepis dua lengan kekar yang mengguncang tubuhku.


"Ya! Itu kenyataannya! Karena itu, kita harus berpisah. Kau tak bisa terus-terusan mengharapkanku! Raih kebahagiaanmu sendiri. Kebahagiaan yang sesuai dengan keinginan Mamamu!" Aku balas berteriak. Emosi yang terpendam selama satu tahun lamanya pun meluap begitu berapi-api.


"Sebenarnya kau menganggapku apa, Sher?" Reynand menyeka buliran air matanya yang sejak tadi tertahan.


"Kau hanya seorang pria yang terobsesi kepadaku!" Aku mengatakan perkataan paling pahit untuknya. Perkataan yang pastinya akan langsung menusuk jantungnya saat ini juga. Biarlah ia membenciku. Biarlah kupendam sendiri perasaan ini.


Reynand mendorongku hingga kembali terduduk di atas sofa. Pandangan tajam dan menyakitkan itu makin menusuk hingga hatiku yang terdalam.


"Baiklah... baiklah jika itu maumu...." Pria itu mengangguk-angguk, "aku juga akan menjauh darimu."


Aku dapat melihat rasa kecewa dan marah yang terpancar di bola matanya. Sekali lagi aku menyakitinya. Ya! Ini yang terbaik untuk semua orang.


Reynand tanpa ragu membalik badan. Dan dengan langkahnya yang menghentak meninggalkanku.


***


Reynand Pov


Aku membanting pintu apartemen Sheryl kuat-kuat. Marah? Ya! Aku benar-benar marah. Dia sudah berubah atau memang sengaja telah membuatku sakit hati untuk ke sekian kali?


Rey, jika kau meninggalkannya sekarang, kau akan kehilangan dia selamanya. Kau mencintainya. Dan kau yakin dia juga mencintaimu. Itu saja cukup, bodoh! Tak perlu kau pikirkan hal lain lagi.


Batinku terus berteriak menolak ego dan emosiku saat ini. Kalimat Sheryl yang menolak seketika kutelan bulat-bulat. Setidaknya, aku harus melakukan sesuatu.


Aku mengurungkan niatku untuk pergi dari bangunan itu. Sontak tubuhku memutar, beringsut kembali ke unit apartemen Sheryl. Tanpa ragu, aku menekan belnya.

__ADS_1


Dalam hati, detik demi detik begitu lama berdetak dan berlalu. Aku tak dapat lagi melawan perasaan cinta yang membuncah dan membuatku mabuk sekian lamanya. Sheryl adalah milikku. Dia wanita yang harus kuperjuangkan.


Pintu itu terbuka. Aku menatap wajahnya yang dipenuhi linangan air mata yang sama. Tanpa ragu, aku menerobos masuk. Dan dengan dorongan cinta yang menggebu, menariknya mendekat. Aku menciumnya dengan penuh amarah dan rindu yang kuat menggebu. Menyapu bibir ranumnya dengan lumatann tak tertahankan. Sedetik kemudian, melepaskan sepasang bibir merah muda yang terengah-engah.


Aku berkata dengan napas yang ikut terengah, "Sheryl, jika perkataanmu benar berasal dari hatimu, maka katakanlah dengan lantang kalau kau tidak mencintaiku!"


"Aku tidak mencintaimu, Rey!" Sheryl mengatakannya dengan cepat dan lantang. Meski begitu, aku dapat melihat pandangan sayu matanya yang baru saja menikmati ciuman kami. Tidak hanya itu saja, wajah Sheryl memerah padam saat menatapku.


Sesungguhnya aku tak peduli dengan jawaban Sheryl seperti apa. Aku tahu dia akan berbohong untuk melindungi alibinya. Tanpa ragu, aku menyerangnya lagi. Menciumnya kembali hingga indra pengecap kami saling bertukar dan menyusup ke dalam rongga mulut.


Di sela-sela tindakan gilaku, aku berkata kepadanya, "Aku tak percaya perkataanmu barusan. Lidahmu boleh berbohong, tapi tubuhmu tidak. Aku dapat merasakan hasrattmu yang ikut bergejolak. Aku tak akan berhenti sebelum kau mengakui perasaanmu!"


"Rey, sudah, Rey!" mohonnya mendesakku untuk melepaskan ciuman kami padahal aku tahu ia menikmatinya. Desahaan itu membuatku makin ingin mendekapnya dalam pelukan.


Aku tak peduli dan tak ingin melepaskan dia. Tanpa membuang waktu aku menarik tubuhnya makin menempel padaku. Lalu aku mulai memaksanya melangkah mundur tanpa melepaskan pagutanku yang mulai bergerilya menuruni lehernya yang jenjang.


"Kau sudah gila!" katanya, tapi aku hanya mengulas senyuman tipis melihat ia yang terus mendeesah menikmati permainan lidah dan bibirku.


Beberapa saat kemudian kami sama-sama terjebak dalam kondisi yang memabukkan. Aku terus menciumnya hingga berani melepas satu kancing atas kemejanya dengan mulut. Langkahku memaksa ia masuk ke dalam kamar. Lalu dengan cepat aku merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Sekarang katakan dengan jujur, bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya?" kataku dengan napas yang terus memburu. Sheryl membuat hasrattku memuncak dan menginginkan hal lebih darinya.


Sheryl yang tampak terdesak pun akhirnya berkata lantang, "Ya! Ya! Aku mencintaimu, Rey! Dasar sial! Tak bisakah kau bermain lebih lembut?" Wajah Sheryl menekuk. Ia langsung membuang wajahnya yang memerah malu ke arah lain.


Aku yang baru saja membuka jasku sontak menyeringai miring. "Aku juga mencintaimu, Sher. Jangan membuatku lebih menyedihkan dari ini. Mari kita perjuangkan cinta kita!"


Sheryl tak menyahut. Ia terdiam cukup lama, tenggelam dalam pikirannya.


"Sher?" aku memanggilnya.


"Kau tahu? Sejak dulu, aku sangat takut kepada Ibumu," katanya tiba-tiba, tapi wajahnya belum juga berani menatap wajahku. Padahal aku yakin kalau wajah ini juga sama-sama memerah bagai tomat busuk. Ya! Bukan lagi memerah seperti tomat masak karena saking lamanya cinta itu dibiarkan menganga begitu saja.

__ADS_1


"Ibuku?" Aku membeliak terkejut.


"Dia seperti monster saat berbicara denganku," jawab Sheryl malu-malu.


__ADS_2