
"Aku pulang dulu ya," pamit Kak Baruna kepadaku sambil melirik jam tangannya.
"Iya. Kabari aku kalau sudah sampai."
"Mau melanjutkan yang tadi tertunda?" Kak Baruna tertawa.
"Sudah basi. Sana pulang." Aku mendorong tubuhnya ke luar pintu.
"Iya. Sini kupeluk dulu."
Kak Baruna menarik tubuhku masuk ke dalam pelukannya. Dadanya yang bidang dan aroma tubuhnya membuatku betah berlama-lama di antara kedua tangannya yang kekar. Hormon oksitosin sepertinya mulai menyebar di seluruh tubuhku. Aku membalas pelukannya seakan-akan ia telah menjadi milikku yang tidak boleh dibawa pulang oleh siapa pun.
"Hei ini sudah malam. Kamu tidak mau melepaskanku?" Kak Baruna melirikku.
"Oh iya maaf Kak." Aku segera melepaskan pelukanku. Wajahku kembali bersemu merah.
"Sabar ya. Besok kita ketemu lagi. Ya sudah aku pulang dulu," ucapnya.
"Iya hati-hati Kak."
Aku segera masuk ke dalam kamarku. Berdiri bersandar di belakang pintu lalu terduduk lemas di lantai. Jantungku berdebar-debar tidak karuan rasanya. Napasku sesak berkejaran dengan detak jantung. Senyum terus tersungging di bibirku. Selain terkena penyakit diabetes, mungkin nanti aku akan terkena sakit jiwa dan sakit jantung jika terus-terusan seperti ini.
------------------------------
Dua hari kemudian ....
Pagi-pagi sekali aku sudah berada di kantor menyiapkan berkas-berkas dan presentasi yang akan Pak Reynand gunakan dalam meeting bersama beberapa kliennya di kantor. Aku masih sibuk melihat layar laptopku ketika Pak Reynand tiba-tiba keluar dari ruangannya.
"Bagaimana? Sudah selesai?" tanyanya.
"Sedikit lagi Pak."
"Aduh Sheryl rapat sudah hampir dimulai dan kamu belum selesai menyiapkan bahan-bahannya!" Pak Reynand mondar-mandir di depanku kebingungan. Sesekali tangannya memegang dahinya yang mengernyit.
"Bapak sih kasih tahunya dadakan. Meeting ini kan harusnya baru bulan depan."
"Kamu tuh ya .... Ah .... Bisa sakit kepala saya setiap hari punya sekretaris bodoh seperti kamu!" seru Pak Reynand menatapku dengan sorot matanya yang tajam seperti siap menerkam siapa pun yang menentangnya.
"Maaf ya Bapak Reynand yang terhormat. Kemarin anda kan sakit dan tidak masuk kerja. Kabar meeting pun baru Bapak sampaikan tadi malam. Saya sungguh meminta maaf atas kelalain saya. Tapi saya tidak terima Bapak mengatakan saya bodoh. Saya ini jadi sekretaris baru tiga hari dan bukan sekretaris yang diserah terima jabatan jadi saya tidak tahu sama sekali yang harus saya kerjakan. Semua saya kerjakan berdasarkan intuisi saya sendiri. Kalau Pak Reynand tidak suka dengan cara kerja saya silakan kembalikan saya ke unit saya semula," debatku sinis.
"Berani ya kamu sama bosmu sendiri!"
"Sudah Pak, jangan mengajak saya berdebat lagi! Sekarang tidak ada waktu untuk berdebat. Lebih baik Pak Reynand duduk dulu di sini. Untuk presentasi sudah saya siapkan. Silakan Bapak lihat. Sisanya untuk berkas-berkas saya sedang rapikan." Aku mencoba menenangkan amarahnya.
Pak Reynand hanya diam tapi dia menurutiku untuk duduk meskipun dia masih terlihat memanyunkan bibirnya karena kesal. Dia menatap layar laptop itu dengan wajahnya yang serius. Suasana pun mulai hening. Kami benar-benar sangat sibuk.
"Sudah oke kan Pak?" tanyaku memecah keheningan.
__ADS_1
"Iya. Berkasnya sudah?"
"Sudah. Ada sepuluh map dokumen yang sudah saya siapkan untuk bahan."
"Kalau begitu ayo ke ruang meeting," ajaknya.
Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan keluar mengikuti Pak Reynand yang berjalan lebih dulu. Tanganku penuh dengan map dokumen dan laptop yang harus dibawa ke ruang meeting. Kemudian kami masuk ke dalam lift menuju lantai lima.
"Ting!" Lift terbuka. Aku dan Pak Reynand keluar. Kami berjalan menuju ruang meeting dan aku tidak sengaja berpapasan dengan Wildan dan Irene yang baru saja keluar dari toilet. Wildan menatapku diam.
Irene menyapaku, "Hai Sher. Mau kemana?"
"Ada meeting sebentar lagi," jawabku.
"Sukses ya."
"Terima kasih."
Aku berlari menyusul Pak Reynand yang sudah berjalan jauh dariku. Tiba-tiba dia berhenti dan aku menubruk punggungnya. Untungnya barang bawaanku tidak terjatuh. Pak Reynand yang terkejut lalu menoleh ke belakang.
"Bisa-bisanya karyawati seperti kamu diterima bekerja di sini. Pak Burhan itu lihat kamu dari apanya sih?" tanya Pak Reynand sambil tersenyum menyeringai.
Aku menghela napas dalam-dalam, hanya diam dan tidak membalas kata-katanya. Padahal aku sangat kesal sampai ingin meledak pagi-pagi sudah disuruh datang tapi tidak ada penghargaan. Pak Reynand meneruskan langkahnya. Aku buru-buru menyusulnya kembali.
"Kerja begini amat sih? Sama-sama cari uang kok bisanya hanya mengejek? Aku kan cuma ingin bisa mandiri. Kalau aku mau, keluar masuk perusahaan keluarga juga bisa. Tidak usah menghinaku," batinku kesal dan terus mencari pembenaran.
Dua jam kemudian meeting yang melelahkan itu selesai. Hasilnya tidak mengecewakan. Kelima orang klien itu bahkan berniat membantu kami dalam menciptakan suatu produk baru hasil pemikiran Pak Reynand dengan keuntungan yang masih terbilang minimal.
Pak Reynand masih berada di ruangannya saat jam makan siang. Pria itu masih sibuk menandatangani dokumen-dokumen yang terbengkalai saat dia tidak masuk kemarin. Aku mengintip ke ruangan kerjanya. Pak Reynand yang menyadari keberadaanku langsung memanggilku.
"Ada apa Sher?"
"Sudah jam makan siang Pak."
Pak Reynand melirik jam tangannya. Lalu kembali membaca dokumen di hadapannya. Matanya tidak lepas dari dokumen itu.
Dia lalu berkata, "Oh iya .... Ya sudah kamu makan siang duluan saja. Pekerjaan saya masih banyak."
"Bapak ingin pesan apa untuk makan siang?"
"Sushi seperti kemarin juga boleh."
"Baik. Saya pesan ya." Aku berbalik arah dan meninggalkan ruangan Pak Reynand tapi tiba-tiba dia memanggilku.
"Terima kasih untuk bantuannya pagi ini. Saya tidak tahu akan jadi bagaimana tanpa kamu."
"Iya Pak sama-sama." Aku lalu meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
"Tumben dia bilang terima kasih," gumamku.
Tiba-tiba telepon di meja kerjaku berbunyi. Aku mengangkatnya.
"Halo. Sekdir Pak Reynand di sini. Bisa dibantu?"
"Halo Mbak Sheryl, ini Maya mau kasih tahu ada paket lagi buat Mbak Sheryl."
"Apa lagi Mbak?"
"Donat selusin Mbak."
"Ada suratnya?"
"Ada."
"Ya sudah aku ke bawah. Donatnya untuk kamu saja. Jangan buka suratnya."
"Iya Mbak."
"Aduh siapa lagi sih yang sok misterius kirim paket terus?" keluhku.
Aku bergegas turun ke lobi. Aku masuk ke dalam lift yang berhenti di hadapanku sambil mengeluarkan ponselku melihat aplikasi pesan antar makanan untuk Pak Reynand. Lift terbuka di lantai lima. Dua orang wanita masuk. Dia adalah Irene dan Wildan.
"Hei Sher, kebetulan ketemu. Baru saja mau telepon. Makan bareng yuk," ajak Irene.
"Iya tapi gue ke meja resepsionis dulu ya. Ada paket."
"Paket misterius lagi?"
"Sepertinya."
Wildan hanya mendengarkan obrolan kami dan memalingkan wajahnya. Dia tersenyum menyeringai. Aku yang melihatnya merasa sangat kesal.
"Dan, maksud lo apa senyum begitu?"
Wildan gelagapan mengetahui aku memperhatikannya, "E-enggak kok Sher. Gue lagi mikirin hal lain aja. Lo kok curigaan mulu bawaannya sama gue. Emangnya gue ngetawain lo? Ge er banget sih lo!!"
Aku lalu diam tidak ingin memperpanjang masalah. Tidak lama pintu lift terbuka. Aku berpisah dengan dua orang wanita itu dan berjalan menuju meja resepsionis.
"Mana Mbak suratnya?"
"Eh Mbak Sheryl terima kasih ya donatnya. Ini suratnya," jawab Mbak Maya sambil memberikan amplop surat itu.
Aku lalu membukanya.
"Sebentar lagi kamu akan tahu siapa diriku. Aku tunggu di kafe X jam enam sore. Aku membawa setangkai bunga mawar kuning sebagai tanda persahabatan kita."
__ADS_1