
Reynand PoV
Dua hari kemudian ....
Aku melihat pantulan bayangan di cermin. Seorang pria gagah berdiri di sana memakai setelan jas berwarna coklat muda dengan model rambut curtain cut berdiri di hadapannya. Pria itu diam mematung melihat bayangannya sendiri.
Apa aku kurang tampan? "Bapak Reynand"
Aku tersenyum geli mengingat perkataannya. Bagiku kata "Bapak" atau "Pak" sekarang menjadi kata yang begitu spesial. Tidak ada yang lebih spesial selain panggilannya itu untukku saat ini. Walaupun aku tahu kemarin dia membuatku sedikit sedih dan kecewa.
Hari ini aku akan pergi ke Asyraf Corporation. Ayah Anton mengundangku datang untuk membicarakan suatu hal. Aku belum tahu apa yang ingin dia bicarakan. Tapi sepertinya sebuah kabar baik untukku.
Aku bergegas keluar dari kamarku menuju ruang makan. Tampak Mama sedang duduk menungguku sarapan di meja makan. Aku mencium sebelah pipinya. Dia tersenyum melihatku.
"Bagaimana tidurmu, Nak?"
"Nyenyak sekali, Ma."
"Syukurlah. Semalam pulang jam berapa dari rumah Kayla?"
"Jam sepuluh. Aku langsung pulang, Ma," jawabku sambil mendudukkan tubuhku di kursi.
"Kamu jangan seperti itu, Rey. Kamu juga harus bertemu dengan orang tuanya," nasihat Mama.
"Aku tidak mempunyai kewajiban untuk bertemu mereka, Ma," sahutku sambil mengoles selembar roti dengan selai kacang.
"Jangan seperti itu! Orang tuanya Kayla sangat berharap kalian segera menikah."
Aku mengedikkan bahuku tidak peduli. Dari awal aku tidak ada niat untuk berhubungan sampai ke jenjang yang lebih serius dengannya.
"Mama ada berita bagus untukmu," ujar Mama tiba-tiba.
"Berita bagus apa, Ma?" tanyaku sambil meraih minumanku.
"Mama dan orang tua Kayla sudah sepakat merencanakan pertunangan kalian bulan depan."
Aku yang sedang meneguk minumanku sontak tersedak mendengarnya. Aku terbatuk-batuk, mama yang melihatku terkejut langsung mengusap punggungku.
"Mama kenapa tidak membicarakan hal ini dulu kepadaku?"
"Kenapa? Dari awal Mama perkenalkan dia denganmu, kamu terlihat menerimanya."
"Maksudku, hal ini terlalu cepat untukku. Aku bahkan baru mengenalnya dua bulan."
"Nanti juga kamu akan jatuh cinta padanya, Rey."
Aku menghela napas panjang, sepertinya ini adalah waktu yang tepat untukku berbicara jujur pada Mama.
"Ma, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Katakanlah."
"Aku mencintai orang lain."
__ADS_1
"Siapa? Mama lihat kamu tidak pernah membawa wanita lain selain Kayla."
"Aku mencintai Sheryl, Ma."
"Sheryl? Jangan bercanda kamu, Nak." Mama melihatku tidak percaya. Dia pikir aku bermain-main.
"Aku serius." Aku menatap serius wajah Mama.
Mama terdiam mematung sejenak. Kemudian dia balas menatapku.
"Kamu memang anak Anton!" dengkusnya.
"Maksud Mama?"
Mama masih menatapku sedikit menahan tawa, "Rey ... Rey ... Mama tidak akan menyalahkanmu. Kamu bebas menyukai siapa pun. Tapi Mama minta jangan wanita itu! Dia sudah akan menikah dan kamu tahu hal itu. Mama hanya ingin kamu fokus pada tujuanmu. Pewaris Asyraf Corporation hanya kamu seorang."
"Tapi aku mencintainya, Ma. Hanya dia yang ada di hatiku sekarang. Di setiap helaan napasku. Bahkan pikiran dan mimpiku. Aku hampir gila dibuatnya!"
Aku bangkit berdiri dari tempat dudukku meninggalkan Mama yang memandangku dengan tatapan amarahnya.
"Rey!"
"Rey!"
"Rey!"
Aku terus berjalan meninggalkan ruang makan. Tidak peduli dengan teriakan Mama yang memekakkan telinga.
Aku ikut memarkirkan mobil di bahu jalan. Membuka pintu mobil dan kacamata hitamku. Aku berjalan menghampiri mereka.
"Sher, ada apa?" tanyaku.
Sheryl menoleh ke arahku, wajahnya tiba-tiba berubah ceria.
"Syukurlah kamu di sini, Pak Rey. Lihat ban mobil saya bocor terkena batu tajam di tengah jalan," jelasnya seraya menunjuk sang sopir yang sedang mencopot ban mobilnya.
Aku mengedarkan pandanganku. Di tengah pembatas jalan memang sedang ada pembangunan jalan layang. Di sekeliling jalan raya pun sudah berdiri banyak rangka bangunan yang akan membentuk sebuah kota modern buatan yang lengkap dengan fasilitas. Mungkin saja batu kecil yang tajam itu terpelanting jauh akibat dari pembangunan jalan layang.
"Di mana, Baruna?"
"Hari ini dia tidak bisa menjemput. Ada hal yang harus dia urus pagi-pagi sekali."
"Ayah dan kakakmu?"
"Hari ini saya bangun telat. Mereka sudah pergi pagi-pagi sekali," keluh Sheryl.
Aku tertawa kecil, melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul delapan.
"Kamu ternyata tidak berubah," ujarku.
"Hei ... dari pada Bapak mengejek saya, lebih baik membantu Pak Erwin mengganti bannya," sahut Sheryl menunjuk supirnya itu.
Belum sempat aku menjawab, sang supir berkata, "Mbak, sepertinya ini akan membutuhkan waktu lama. Lebih baik Mbak Sheryl ikut Masnya saja."
__ADS_1
"Pak Erwin, kamu sedang bercanda? arah kantor kami berlawanan. Bagaimana bisa aku menyuruhnya mengantarku? Dia mantan bosku," jawabnya setengah berteriak.
"Saya bisa mengantarmu, Sher," celetukku.
"Tuh Mbak, Masnya saja tidak keberatan memgantar. Sudah, Mbak ikut saja," ucap Pak Erwin.
Sheryl menoleh ke arahku, wajahnya terlihat ragu-ragu. Tanpa basa-basi aku menggenggam tangannya, membawanya masuk ke dalam mobilku.
Sheryl memasang sabuk pengamannya. Pandangannya lurus ke depan. Sepanjang perjalanan dia hanya diam.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Tidak ada."
"Hari ini saya ke kantor Baruna jadi kita searah," ujarku.
"Untuk apa?"
"Bertemu ayah saya."
"Oh ...."
Sheryl lalu terdiam kembali. Suasananya hening seketika. Aku menoleh sebentar ke arahnya. Mobil berhenti di perempatan jalan lalu lintas yang menunjukkan lampu merah.
Ayo Rey berpikir! Jangan sampai kesempatan ini menjadi sia-sia.
"Saya suka padamu, Sher," lirihku.
Sheryl memandang ke arahku seketika, membelalakkan matanya terkejut. Aku lalu ikut memandangnya. Memberikan senyuman dengan gigi seri berbaris rapi di hadapannya.
"Ma-maksud saya, sa-saya suka cara kerjamu dan belum mendapatkan sekretaris pengganti sampai sekarang," tambahku canggung karena tatapan matanya.
Sheryl belum sempat berkata apa-apa. Aku sontak menginjak dalam pedal gasku. Mobil berjalan cepat membuatnya terkejut. Aku benar-benar tidak siap mendengar tanggapannya. Aku sangat malu mengakui perasaanku.
Mobilku berhenti tepat di halaman parkir gedung kantor Kusuma Corporation tepat pukul sembilan kurang lima belas menit. Sepanjang perjalanan dia tetap diam, mungkin di takut mengatakan sesuatu yang akan menyakitiku.
Sheryl membuka sabuk pengamannya bersiap turun dari mobilku.
"Terima kasih, pak," ucapnya.
Aku menarik tangannya, mencegahnya keluar. Hatiku benar-benar sudah tidak sanggup menahan ini semua.
"Saya serius .... Saya benar-benar menyukaimu, Sher," ucapku lagi.
"Tapi Pak ...."
Belum sempat dia menjawab, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Aku menyerang bibirnya yang lembut itu. Mencurahkan segala rasa yang bergejolak terhadapnya. Sebuah cinta yang tertanam indah di dalam sanubariku. Menikmati anugerah yang telah Tuhan berikan. Bibir seorang bidadari cantik yang sedang kunikmati dengan sebuah keberanian besar.
Sheryl mendorong tubuhku. Dia buru-buru membuka pintu mobil dan berjalan cepat masuk ke dalam gedung kantor. Aku memandangnya dari belakang. Sosoknya yang hilang begitu cepat membuatku tertegun seketika.
Aku menarik dan membuang napasku pelan. Berusaha menenangkan napasku yang saling memburu tidak teratur. Detak jantungku begitu cepat terasa. Aku menggigit bibirku lalu tersenyum.
Dia menyukaiku.
__ADS_1