
Aku melihat suasana yang begitu canggung terjadi antara Kak Baruna dan Fandy yang saling bertemu muka. Apa lagi yang Kak Baruna pikirkan? Mengapa dia mengenalkan dirinya sebagai calon tunanganku? Padahal aku sudah katakan padanya kalau kami merajut tali kasih kembali.
Fandy sontak memandang Kak Baruna masih dengan tatapan tidak percaya. Dia menyambut uluran tangan Kak Baruna. Wajahnya kemudian berubah menjadi lebih tenang.
"Perkenalkan saya pacar Sheryl, Pak," ucapnya pelan.
"Fandy Raihan Ardhito. Tidak usah formal seperti itu. Ini sudah di luar jam kantor. Panggil saja saya dengan nama," Kak Baruna tersenyum.
"Iya Bar. Maaf sudah mengganggu. Tapi saya tidak akan menyerahkan Sheryl menjadi tunangan, apalagi jadi istri anda kelak," ujar Fandy. Dia lalu melirik ke arahku, "Ayo kita pulang Sher."
Fandy menarik tanganku dan mengajakku pulang. Wajahnya kembali menegang. Ada sedikit kemarahan terpancar di wajahnya.
"Kita lihat saja nanti. Bukankah semua bergantung pada keputusan Sheryl sendiri?"
"Sepertinya anda kurang mengerti dengan kata-kata saya. Sheryl kekasih saya. Tentu saja dia akan memilih saya."
"Tunggu! Mengapa aku jadi seperti piala kalian? Kalian tidak menghargai perasaanku?" protesku. Suasana pun jadi memanas.
"Lalu Sheryl, siapa yang kamu pilih? Aku atau dia?" Fandy tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sulit kujawab.
Fandy memang pacarku, aku sudah kembali padanya tapi masa depan kami masih abu-abu. Dia belum melamarku. Kak Baruna sendiri sudah seperti kakak yang aku hormati dan sayangi. Dia bukan orang asing bagiku. Aku hanya diam tidak menjawab pertanyaan Fandy.
"Maaf Pak, saya mohon undur diri." Fandy memecah keheningan dan pamit pada Kak Baruna sambil menundukkan kepalanya sopan.
Fandy menarik lenganku, menggenggamnya erat. Kami meninggalkan Kak Baruna yang masih menatap duduk santai di restoran tersebut.
"Hati-hati di jalan," pesan Kak Baruna. Dia melambaikan tangannya.
Aku mengangguk lalu membalas lambaian tangannya. Fandy membawaku ke mobilnya. Dia mengintrogasiku. Wajahnya mulai memerah menahan amarah.
"Begini ya sikapmu di belakangku. Pakai lambai-lambai tangan segala. Kamu genit sekali padanya!" seru Fandy marah.
"Kamu kenapa sih? Dia itu Kak Baruna sahabat kakakku dan sudah aku anggap dia sebagai kakakku sendiri," jelasku memandang wajahnya.
"Dengar Sheryl Novia Cantika, kamu adalah milikku seorang. Tidak ada yang boleh kamu perhatikan selain aku pacarmu. Lihat ... jaket siapa yang kamu pakai?" tambah Fandy masih dengan amarahnya karena cemburu.
"Jaket Kak Baruna," jawabku polos.
"Lepas! Aku akan kembalikan."
Aku pun melepas jaket itu. Fandy lalu membawanya masuk kembali dan mengembalikannya.
__ADS_1
Tidak lama dia pun kembali. Wajahnya masih menampakkan kekesalan. Aku yang melihatnya jadi begitu takut. Selama kami menjalin kasih sikapnya tidak pernah seperti ini.
"Tolong kamu jangan cemburu. Dia hanya seorang kakak bagiku."
"Kakak-kakak ... Dia juga laki-laki! Kamu bisa jatuh cinta padanya. Tidak ada yang namanya hubungan kakak adik antara laki-laki dan perempuan kecuali salah satunya ada yang memendam perasaannya sendiri. Saat ini yang aku tahu dia adalah direkturku di kantor."
Aku hanya diam seribu bahasa mendengar semua omelan Fandy.
"Aarrghh ... aku merasa kalian berdua mempermainkanku. Hebat!" teriak Fandy geram.
Aku tidak membalas kata-katanya. Aku tidak tahu harus berkata apa.
"Sekarang aku akan antar kamu pulang," kata Fandy lagi.
Fandy menghidupkan mobilnya, menginjak gas dan melaju dengan kecepatan penuh menembus angin.
"Kamu kalau marah jangan membahayakan nyawa orang lain!" Teriakku protes.
Fandy diam tidak menyahut. Dia tidak peduli dengan kata-kataku. Wajahnya yang masih menegang itu membuatku takut. Aku menutup mataku berharap kami cepat sampai.
Aku turun dari mobil Fandy saat mobilnya berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahku. Aku sangat marah padanya. Cepat-cepat aku berlalu meninggalkannya sendiri. Melangkahkan kaki tanpa menoleh lagi. Fandy masih diam di dalam mobilnya.
Sesampainya di depan teras rumah langkahku terhenti. Fandy memelukku dari belakang. Lengan kekarnya menggelayut manja memeluk bahuku.
Aku tidak menjawab kata-katanya. Lidahku terasa kelu, tidak bisa berkata apa-apa.
"Hanya aku yang paling mencintaimu," tambahnya.
Aku menarik nafas dalam. Lalu menghelanya berkali-kali. Sungguh bukan pertengkaran demi pertengkaran yang aku harapkan. Pertengkaran hanya akan menguras energi.
"Lepaskan tanganmu!"
"Tidak. Biarkan aku seperti ini sejenak." Fandy mencium kepalaku.
Fandy memutar tubuhku hingga kami saling berhadapan. Dia menatapku dan tersenyum. Aku memalingkan wajahku. Aku tidak ingin luluh melihat wajahnya. Fandy mulai menyentuh kepalaku membuatku menatapnya lalu mantap mengecup bibirku dengan lembut secara tiba-tiba.
Fandy mulai memainkan setiap guratan syaraf di bibirku. Dia melangkah mendorong tubuhku hingga aku tertahan pada batas dinding teras. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mmmm .... Hentikan!" teriakku masih di situasi yang sama.
Fandy tidak menghiraukan kata-kataku. Ciumannya terasa lebih memanas. Tidak lama bibirnya mulai turun menjelajahi leherku. Tubuhku mulai menghangat. Sepertinya aku akan meledak.
__ADS_1
Aku lalu mendorong tubuhnya.
"Bukan seperti ini caranya!" teriakku.
Aku sadar setiap kami bertengkar dia selalu merayuku dengan tindakan yang sama.
"Sayang, aku tahu kamu masih mencintaiku,"
"Kamu pulang saja!" Aku mengusir Fandy pulang.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba mobil Kak Reza muncul dari arah pintu gerbang menuju halaman. Dia masuk dengan langkahnya yang dingin tidak menghiraukan kehadiran kami. Memang seperti itulah dia setiap Fandy hadir di dekatku. Dia terlihat sangat tidak menyukai kehadiran Fandy.
"Sekarang aku baru tahu kenapa sikapnya selalu seperti itu kepadaku. Tentu saja dia akan mendukung temannya, bukan?" liriknya ke arah Kakakku kemudian berkata, "Ya sudah, aku pulang saja."
"Sudah, jangan kamu pikirkan! Sekarang kamu pulang saja." Aku berusaha menghentikan pikiran negatif Fandy.
"Aku pulang dulu ya," Fandy pamit padaku
Dia mengecup keningku dan berlalu. Aku hanya diam tidak berkata apa-apa lalu masuk ke dalam rumah. Kak Reza yang menungguku di ruang keluarga menghentikan langkahku.
"Sudah pacarannya?" tanyanya seraya melirik tajam padaku.
"Ada apa lagi kak?"
"Kakak tanya padamu, apa sudah selesai saling merindunya?"
"Bukan urusan kakak." Aku meninggalkan Kak Reza dengan langkah gontai.
"Kamu berani tidak mengacuhkanku?" Kak Reza setengah berteriak.
"Kalau kakak ingin membicarakan masalah pertunangan, aku tidak ingin mendengarkan apa pun itu."
"Selama Papa tidak ada di rumah, aku adalah kepala keluarganya."
"Besok-besok sajalah." Aku menutup telingaku tidak ingin mendengar kata apa pun yang terlontar dari mulutnya. Dengan langkah cepat aku masuk ke dalam kamar.
"Sheryl!" Mama tiba-tiba muncul.
"Mama satu kubu dengan Kak Reza?" sindirku.
"Buang semua pikiran negatif yang ada di kepalamu. Kakakmu benar, selama Papa masih di luar kota. Kamu seharusnya mendengarkan dulu apa kata-katanya sebagai kepala keluarga. Sejak kapan Mama mengajari kamu untuk bersikap tidak sopan kepada yang lebih tua?"
__ADS_1
Aku tidak menyahut, langsung membanting pintu. Kak Reza dan semua yang ada di rumah ini sama saja. Tiba-tiba terbesit sebuah keinginan untuk pergi dari rumah ini. Menjauhi orang-orang yang tidak sejalan dengan pemikiranku.