Marriage Order

Marriage Order
Penyesalan


__ADS_3

Mata Kak Baruna menatap tajam punggung Satya yang berjalan pelan dipapah oleh salah satu panitia reuni itu. Dia mengepalkan tangannya masih dengan amarahnya seraya menoleh ke arahku dan menarik paksa tanganku turun dari atas panggung. Aku tidak berdaya terpaksa mengikutinya dari belakang. Aku melihat beberapa orang alumni yang masih sibuk dengan ponselnya merekam kejadian itu tapi Kak Baruna tidak menghiraukannya dan terus berjalan menuju pintu keluar.


Tika dan Mario menghampiri kami. Mereka terlihat cemas menatap ke arah kami. Mereka berdua mengikuti kami berjalan beriringan.


"Cowok lo gak apa-apa Sher?" tanya Tika.


"Entahlah." Aku mengedikkan bahuku.


"Bisa-bisanya Satya berusaha mempermalukan gue dan terutama lo Sher."


Aku menggelengkan kepalaku tidak ingin mengomentari kata-kata Tika. Tiba-tiba aku mendengar suara seorang pria yang memanggilku dari belakang. Aku sangat hafal dengan suaranya, Fandy yang memanggilku.


"Sher .... Sheryl!" teriaknya.


Kami semua berhenti lalu menoleh ke belakang. Tampak Fandy berdiri di samping Wildan. Wildan menatap ke arahku dengan sinis.


"Wildan, udah lama gak ketemu lo. Apa kabar?" sapa Tika ramah mencium pipi kanan dan kirinya seraya bersalaman.


"Baik. Lo gimana? Wah udah punya baby, lucu banget," ucap Wildan basa-basi.


"Iya dong. Wah bagus kita semua ketemu di sini. Tapi yang di samping lo itu bukannya mantan pacar Sheryl ya," bisik Tika yang tidak peka situasi. Wildan hanya tersenyum menyeringai.


Aku mencubit lengan Tika, dia meringis kesakitan lalu menoleh ke arahku memanyunkan bibirnya kesal.


"Gue pulang aja deh. Ayo Pa kita pulang saja. Panas banget di sini." Tika menarik lengan suaminya memaksa pulang.


"Kami pulang duluan ya semua," pamit Mario pada kami semua yang merasa tidak enak pada permintaan istrinya. Keluarga kecil itu lalu berjalan menjauh menuju pintu keluar.

__ADS_1


Kak Baruna menatap tajam ke arah Fandy. Air mukanya masih marah dengan kejadian tadi.


"Mau apa lo panggil-panggil Sheryl?!" tanya Kak Baruna masih dengan amarahnya.


"Enggak ada urusan sama lo. Gue punya urusan sama Sheryl," jawab Fandy santai.


"Sayang kamu masih ada urusan yang belum selesai dengannya?" Kak Baruna menoleh ke arahku.


"Ada. Aku mau bicara sebentar dengan mereka berdua boleh?"


"Baik, aku beri waktu sepuluh menit. Aku tunggu kamu di mobil."


Kak Baruna lalu meninggalkan kami bertiga. Suasana reuni pun kembali kondusif tapi tidak membuat kami ikut larut dalam acara reuni itu lagi dan tidak ada orang yang memperhatikan keberadaan kami juga. Aku mengajak mereka berdua duduk di sebuah meja bundar yang berada tidak jauh dari pintu keluar.


"Sekarang aku mau selesaikan ini semua." Aku membuka pembicaraan. Wildan kembali menatapku sinis tanpa berkata apa-apa.


"Selesaikan apa? Aku hanya ingin berdamai denganmu. Kita bisa menjadi teman walaupun hubungan kita sudah putus. Aku sudah move on darimu." Fandy melirik Wildan.


"Maksudnya? Aku tidak mengerti. Aku akui memang dulu pernah berselingkuh darimu. Tapi kamu berkata seperti ini seakan-akan kamu menilai aku dan Wildan pacaran di belakangmu?"


"Iya. Kalian memang sudah jadian sejak aku belum putus kan?"


Fandy tidak bisa menjawab. Tampak kegelisahan di wajahnya, ragu untuk berkilah dari kata-kataku. Dia hanya diam menatapku dengan wajah memelas. Wildan yang melihat raut wajah Fandy merasa kesal dan membelanya.


"Sheryl, lo enggak perlu bilang hal kayak gitu ke gue dan Fandy. Buktinya lo juga udah punya cowok lain. Gue cewek yang paling tahu siapa Fandy, bagaimana dia sangat cinta sama lo dulu dan bikin gue ikut menderita saat lo mencampakkannya begitu aja cuma gara-gara perjodohan yang gak masuk akal itu dan yang gue tahu, lo itu cuma pion catur orang tua lo dari dulu. Tapi lo sok-sokan berontak padahal gak bisa. Terus sekarang lo malah menikmati hubungan lo dengan cowok yang dijodohin sama lo itu. Fandy sama gue cuma jadi korban lo. Gue paling benci melihat orang yang merasa paling menderita di dunia padahal masalah lo seujung kuku. Kecil!" Wildan menyela, berkata panjang lebar membela Fandy dengan emosinya.


Aku terdiam, menarik napasku dalam-dalam lalu mengembuskannya pelan-pelan. Aku tidak boleh ikut tersulut emosi akibat kata-katanya. Semua yang dikatakannya memang benar adanya. Tidak ada yang salah satu pun. Aku memang wanita yang tidak tahu diri.

__ADS_1


"Wildan, gue pikir lo itu teman yang baik sampai akhirnya gue tahu lo pernah berhubungan dengan Fandy dari dulu dan ternyata hubungan kalian berlanjut di belakang gue sampai sekarang. Teman yang makan teman sendiri itu memang lebih menantang ya?" Aku menyindirnya retoris.


"Lo enggak usah mengalihkan pembicaraan. Gue begini karena rasa cinta gue ke Fandy dan gue gak suka dia berhubungan sama cewek kayak lo Sheryl." Wildan setengah berteriak hampir menangis.


"Sudah-sudah .... Kamu tidak perlu membelaku sampai seperti itu. Aku juga laki-laki yang plin-plan tidak bisa memilih selama ini," bisik Fandy sambil membelai punggung Wildan menenangkan.


"Kalian berdua bikin gue muak. Menikah ajalah kalian berdua. Gue enggak peduli." Aku beranjak dari tempat dudukku berbalik arah meninggalkan mereka yang menatap dengan raut wajah kesal.


"Iya aku akui aku bukan wanita sempurna seperti tokoh utama dalam film atau sinetron yang lemah namun tidak ada cacat. Aku Sheryl menjadi diriku sendiri, dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Benar kata Kak Baruna, semua yang terjadi adalah akibat pilihan-pilihan hidup yang kupilih. Di mana siapa yang menabur, maka dia yang akan menuainya. Aku benci hatiku menjadi sakit seperti ini. Di mana aku menjadi lemah dan tidak berdaya menghadapi mereka berdua. Bukannya tidak ikhlas akan hubungan mereka, tapi aku lebih menyalahkan diriku atas keputusan-keputusan hidupku."


"Sudah selesai?" tanya Kak Baruna saat aku memasuki mobilnya.


"Iya. Maafkan aku. Kamu berkelahi untuk kedua kalinya karena aku." Aku menoleh ke arahnya.


Kak Baruna tertawa menyeringai lalu berkata, "Kalau aku tidak seperti itu, siapa yang akan membelamu tadi? Kamu hampir dipermalukan oleh orang itu."


"Iya aku tahu. Aku yang salah memaksamu untuk datang ke acara ini. Bagaimana lukamu?"


"Ini tidak seberapa." Kak Baruna memegang pipinya lalu berkata, "Penyesalan memang selalu ada di akhir sayang. Kamu tidak perlu meminta maaf untuk hal-hal yang merupakan kewajibanku untuk melindungimu."


"Bagaimana kalau dia membalas dendam?" tanyaku khawatir.


"Ya sudah hadapi saja. Apa yang bisa kita perbuat? Nasi sudah menjadi bubur."


"Sekali lagi aku minta maaf sayang." Aku menunduk.


Kak Baruna mengangkat daguku menatapku lembut, "Kita hadapi ini berdua. Perbaiki semua satu persatu. Jika kamu lelah, kamu bisa bersandar padaku dan begitu pun sebaliknya."

__ADS_1


"Iya sayang. Kamu selalu membuatku lemah berada di hadapanmu. Aku ingin menangis."


Kak Baruna mendekatkan bahunya dan membiarkanku menangis di bahunya yang tegap itu. Entah aku menangis untuk apa. Tapi rasanya dadaku sesak. Tidak bisa lagi menahan beban.


__ADS_2