Marriage Order

Marriage Order
Hari yang Bermasalah


__ADS_3

Aku masih berada di ruang kerja pak Reynand. Menurunkan tanganku yang baru saja mendarat di pipinya. Aku mengerjapkan mataku menarik napas perlahan. Dadaku bergemuruh dengan detak jantung yang kencang. Dia menyentuh pipinya yang memerah, menatapku dengan sorot mata yang mengerikan dan aku baru saja sadar kalau aku menamparnya begitu saja.


Dia tersenyum sinis berjalan ke arahku sampai batas dinding ruang kerjanya. Aku memejamkan mataku kuat-kuat menghalangi wajahku dengan kedua lenganku. Detik demi detik kutunggu tapi tidak ada sesuatu yang terjadi. Tiba-tiba ponsel pak Reynand berdering. Aku membuka mataku. Dia berbalik arah melangkah meraih ponselnya tidak menghiraukanku. Aku cepat-cepat mengambil langkah seribu kabur darinya.


Aku kembali ke meja kerjaku. Mengerjakan pekerjaan yang tertunda. Mencetak kembali surat pengunduran diri yang kubuat. Masa bodoh dia akan terima lagi atau tidak. Kalau perlu, aku mencetak ratusan surat agar dia kerepotan merobeknya.


Tiba-tiba pintu ruanganku terbuka, Kayla dengan langkah manjanya masuk tanpa basa-basi menoleh ke arahku kemudian membuang mukanya. Dia melangkah masuk ke ruangan pak Reynand.


"Sombong sekali wanita ini. Dia pikir dia putri raja?" batinku.


Tidak lama kemudian dia keluar dengan wajah masam. Aku melihatnya mengangkat dua sudut bibirku tersenyum. Dia menoleh ke arahku.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Kayla menatap mataku, mengangkat sebelah alisnya.


"Melihat bagaimana?" tanyaku bingung.


"Kamu senang melihatku kesal? Ah jangan-jangan memang benar kamu menyukai Reynand." Kayla mengarahkan jari telunjuknya ke hadapanku.


Aku menepis jarinya dan berkata seraya tersenyum menyeringai, "Mbak, kalau mau cemburu yang benar sedikit. Sudah lihat kan cincin saya kemarin?"


"Yah siapa tahu saja kan. Reynandku agak berubah sedikit terlihat lebih cuek padaku. Cincinmu itu bagus sih. Kamu simpanan om-om ya?" Kayla tertawa terkekeh.


Aku menarik napas dalam-dalam berusaha untuk tidak emosi, "Kalian memang pasangan yang cocok. Hanya bisa membuatku emosi. Aku tidak ada waktu meladenimu. Silakan tinggalkan tempat ini jika pak Reynand tidak bersedia bertemu." Aku mengusir Kayla mempersilakannya pergi dari ruangan kerjaku.


"Cih ... berani sekali sekretaris sepertimu," dengkus Kayla berlalu melangkah keluar dengan langkah manjanya.


Aku kembali fokus pada layar komputer di hadapanku. Ruangan pak Reynand masih tertutup rapat. Mungkin dia masih kesal dengan sikapku tadi.


Tidak terasa waktu istirahat tiba. Irene menelepon mengajak makan siang bersama. Aku pun keluar dari ruangan menuju kantin kantor.


Suasana kantin kantor tidak seperti biasanya. Meja-meja sudah penuh diisi oleh para karyawan yang sedang menikmati makan siang. Mereka enggan untuk sekedar delivery makanan mengingat sekarang masuk tanggal tua.


"Sher sini!" Irene melambaikan tangannya. Mengajakku duduk satu meja bersamanya dan tentu saja ada Wildan di sampingnya.


"Oke," sahutku sambil membawa nampan makananku.


Wildan melengos tidak peduli. Dia tidak mau bertatapan mata denganku. Dia pun bangkit berdiri bersiap beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Mau ke mana?" tanyaku sambil meletakkan nampan di atas meja.


Wildan menoleh lalu berkata, "Udah enggak nafsu makan."


"Duduklah," pintaku. Irene memandang kami berdua heran. Wildan menurutiku untuk duduk, masih dengan wajah yang menoleh ke lain arah.


Aku terdiam sebentar mempersiapkan diri untuk berbicara. Gemetar tubuhku ikut terbawa suasana hatiku yang ingin meminta maaf kepada Wildan. Egoku yang tinggi aku akui menjadi penghalang diriku yang selalu merasa di atas angin. Aku tidak ingin mempunyai musuh. Cukuplah Satya dan Pak Reynand yang membuat pusing kepalaku.


Irene terdiam menatap kami. Ponsel yang ada di tangannya dia lepas dan letakkan langsung di atas meja. Menunggu perkataan diriku selanjutnya.


"Gue mau minta maaf sama lo, Dan," ucapku menyesal.


"Minta maaf untuk apa?"


"Semua hal yang menyakiti hati lo baik sengaja maupun enggak sengaja. Ucapan lo semalam bikin gue sadar kalo gue emang persis yang lo bilang. Lo yang paling kenal gue dari dulu, Dan."


Wildan menunduk terdiam. Tidak lama kemudian melihat ke arahku dengan mata yang berkaca-kaca. Butiran-butiran air mata mulai jatuh dari sudut kedua matanya. Dia menangis sesenggukan.


Aku terkejut melihat responnya, sontak memeluknya erat. Dia membalas pelukanku sambil berkata, "Maafin gue juga Sher. Gue enggak bisa menjaga pandangan mata gue dan merebut Fandy dari lo."


"Iya udah enggak apa-apa. Gue udah ikhlasin semua. Mungkin memang ini yang terbaik untuk gue dan lo sebagai sahabat gue dari dulu." Aku membelai punggungnya pelan.


Kami lalu melanjutkan makan siang kami dengan ceria. Berdamai bukan berarti kalah dan bertengkar bukan berarti menang. Tidak ada yang salah dengan anggapan itu. Itu hanya ego semata. Aku hanya ingin lebih mengenal diriku yang punya banyak kekurangan ini. Membereskan satu persatu permasalahanku.


Empat jam telah berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima. Aku merapikan barang-barangku memasukkannya ke dalam tas. Tiba-tiba telepon di mejaku berdering.


"Halo, Sekretaris bapak Reynand berbicara. Ada yang bisa dibantu?"


"Masuk ke ruangan saya." Suara pak Reynand terdengar jelas.


"Iya Pak."


Aku beranjak dari tempat duduk melangkah menuju ruang kerja pak Reynand. Dia sedang duduk di sana masih sibuk dengan berkas-berkasnya. Aku masuk dan berdiri di hadapannya. Pak Reynand mendongakkan kepalanya melihat ke arahku tersenyum.


"Apa yang bisa saya kerjakan lagi? Sekarang hampir jam pulang kantor," kataku.


"Tidak ada. Saya hanya ingin melihat ekspresimu setelah melihat ini." Pak Reynand menunjukkan sebuah video di ponselnya. Aku pun melihatnya. Sebuah video perkelahian semalam antara Kak Baruna dan Satya.

__ADS_1


"Iya saya sudah tahu. Video itu sudah rilis sejak semalam," jawabku datar.


"Bukan hanya itu. Sebagai calon menantu Asyraf Corp. sebaiknya kamu juga berhati-hati dalam bersikap."


"Maksud Bapak?"


"Kamu pikir saya tidak tahu kejadian semalam dia berkelahi dengan laki-laki dari keluarga Mahardika itu akibat dari kemarahannya untuk membelamu? Sampai dengan saat ini harga jual saham perusahaan Asyraf terjun bebas. Tentunya perusahaan ayahmu juga pasti sedikit terpengaruh mengingat Mahardika itu hampir mengakuisisi setengah perusahaan ayahmu."


Aku terkesiap mendengar kata-kata Pak Reynand. Aku sama sekali tidak menyangka dampak yang terjadi akibat perkelahian itu akan seperti ini.


"Satu lagi, ini hanya prediksi saya, Baruna tidak akan dipercaya jadi pewaris perusahaan mengingat sikapnya yang emosional seperti itu. Kepercayaan dewan direksi terhadap Baruna akan berkurang." Pak Reynand menatapku tersenyum senang.


"Hal itukah yang membuatmu senang?"


"Tentu saja. Anak Bapak Anton Wirawan Asyraf hanya kami berdua bukan? Hahaha." Pak Reynand tertawa terbahak-bahak. Terlihat sekali dia menikmati penderitaan adik tirinya.


Aku menatap sosok pria di depanku ini dengan rasa kesal. Tidak ada rasa simpati sedikit pun dia ungkapkan. Padahal mereka satu keluarga.


"Pak saya mohon undur diri. Saya harap anda tidak membuat saya sulit selama seminggu ini. Bisa saja saya langsung meninggalkan tempat ini dan lebih memilih bekerja di perusahaan keluarga saya." Aku mengalihkan pembicaraan.


"Sheryl kamu begitu menantang saya rupanya. Menarik!" ucapnya lirih seraya tersenyum sinis.


Aku tidak peduli lagi dengan jawaban pak Reynand dan cepat-cepat berbalik arah melangkah meninggalkan ruangannya. Perasaanku begitu kalut memikirkan dua orang yang kucintai. Banyak pertanyaan-pertanyaan muncul di otakku seketika.


"Bagaimana dengan Papa dan Kak Baruna? Sekarang pasti mereka sedang mengalami masa-masa sulit. Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika mereka berdua hancur."


Aku duduk di kursi. Meraih ponselku mencoba menghubungi kak Baruna. Ponselnya tidak bisa dihubungi. Hanya pesan mailbox yang terdengar. Padahal tadi pagi dia mengantarku biasa saja. Aku mengirimkan pesan untuknya.


"Sayang, apa ada masalah serius? Tidak seperti biasanya kamu seperti ini. Kamu tidak menghubungiku sejak tadi. Balas pesanku secepatnya."


Aku mencari nomor telepon kak Reza dan cepat-cepat meneleponnya. Nada sambung terdengar cukup lama sampai dia menjawab panggilannya.


"Ada apa Dek?"


"Kakak apa ada yang tidak beres? Aku tidak bisa menghubungi kak Baruna. Bagaimana ini? Kakak juga, bagaimana kondisi di perusahaan?"


"Tolong bertanya dengan jelas Dek. Kalau kamu bertanya secepat itu, Kakak juga tidak bisa menjawabnya."

__ADS_1


"Apa benar perusahaan kalian sedang benar-benar sulit akibat video semalam?"


Kak Reza terdiam cukup lama. Dia tidak menjawab iya atau pun tidak. Dia berusaha menenangkanku. Aku benci situasi di mana aku tidak mengetahui apa-apa. Seakan-akan semua menutupinya dariku.


__ADS_2