
Baruna PoV
Arlojiku menunjukkan pukul dua siang saat Sheryl dibawa Tante Rini ke dalam kamar. Acara pertunangan kami yang diwarnai dengan insiden kecil itu telah selesai. Para tamu dan keluarga sudah meninggalkan tempat pesta.
Dari kejauhan Tika dan suaminya Mario datang menghampiriku. Raut wajahnya terlihat cemas.
"Bagaimana keadaan Sheryl Bar?" tanya Tika sambil menggendong Cindy bayi mungilnya.
"Dia sudah berada di kamar dengan ibunya."
"Bar, kebetulan Mario dokter spesialis ortopedi kalau kamu berkenan dia bisa memeriksa kaki Sheryl sekarang juga," ujar Tika.
"Oh ya? Baik aku antar kalian ke kamar."
Tika dan Mario mengangguk bersiap melangkahkan kakinya. Belum sempat kami berjalan, suara Reynand memanggilku.
"Baruna!"
Aku menoleh ke arahnya. Dia berjalan menghampiriku tanpa kekasih di sampingnya, lalu kami saling berhadapan.
"Gue mau kasih ini untuk Sheryl. Anggap saja hadiah pertunangan dari mantan bosnya." Reynand memberikanku sebuah paper bag kecil.
"Wah sejak kapan kalian akrab?" Aku tercengang melihat sikapnya yang berbeda.
"Jangan berpikiran negatif. Hadiah itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanannya karena ditindas olehku," katanya seraya berbalik arah melangkah meninggalkanku.
"Hei Rey, itu saja?" tanyaku.
"Iya Bar," jawabnya seraya menengok ke belakang.
Aku menatap paper bag kecil itu dan langsung memasukannya ke dalam saku jasku. Oh ya, aku hampir lupa pada sepasang suami istri yang sudah berbaik hati ingin menolong tunanganku. Aku menoleh ke arah mereka yang setia menungguku berbicara dengan Reynand.
"Ayo ikut aku," ajakku diikuti oleh anggukan mereka.
Kami berjalan menyusuri lorong kamar hotel sampai akhirnya kami pun tiba di depan pintu tempat sheryl berada. Aku mengetuk pintu itu, tidak lama kemudian Tante Rini membukanya dan mempersilakan kami untuk masuk.
"Tante, perkenalkan dia Tika teman Sheryl saat sekolah dulu dan ini suaminya, Mario. Mario adalah spesialis ortopedi. Dia akan memeriksa kaki Sheryl yang terkilir tadi." Aku memperkenalkan sepasang suami istri itu.
"Syukurlah ada dokter juga di sini. Silakan dokter." Mama mempersilakan dokter Mario untuk mendekati Sheryl yang duduk bersandar pada dinding tempat tidur.
Aku melihat wanitaku itu sudah berganti pakaian, mengenakan pakaian kaus pendek dan celana pendek jinsnya. Kaki jenjang putih mulusnya dibiarkan begitu saja terlihat tanpa kain yang menutupi, sungguh menggoda imanku sebagai seorang pria.
Kenapa kamu memakai celana sependek itu sayang?
Sontak aku menoleh ke arah dokter Mario. Dia pria juga bukan? Dokter Mario melangkah mendekati Sheryl.
__ADS_1
"Tunggu!" seruku.
Segera, aku mengambil selembar kain yang tergeletak di atas tempat tidur untuk menutupi setengah kaki jenjangnya. Sheryl hanya menganga melihat tindakanku, lalu dia tersenyum dan hampir tertawa.
"Tenang saja Bar, aku sudah khatam seluruh bagian tubuh wanita. Kamu tidak perlu merisaukannya. Aku hanya mencintai istriku." Dokter Mario tertawa.
Tetap saja aku tidak rela, Dok.
Aku bangkit berdiri menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Tika dan Tante Rini melihatku sambil menahan tawanya.
"Maaf ya Sher aku pegang pergelangan kakimu."
Dokter Mario mulai memeriksa pergelangan kaki Sheryl. Aku melihat dia meringis menahan sakit membuat jantungku berdebar seakan merasakan sakit yang ia rasakan.
"Tidak apa-apa. Tidak ada yang serius dan tidak ada dislokasi. Aku akan menuliskan resep untuknya. Jika sakitnya berlanjut kalian bisa datang ke rumah sakit tempatku praktek. Ini kartu namaku." Dokter Mario memberikan kartu namanya.
"Baik dokter. Terima kasih," ucapku sembari melihat kartu itu.
"Sama-sama. Kamu bisa menghubungiku dulu jika terjadi sesuatu," katanya lalu menuliskan resep obat di secarik kertas dan memberikannya kepadaku.
Selang beberapa lama kemudian aku mengantarkan Tika dan suaminya itu keluar sampai dengan halaman parkir mobil.
"Sekali lagi terima kasih ya," ujarku.
Mereka masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian meninggalkan halaman parkir. Aku melambaikan tangan sampai mobil tersebut hilang dari pandanganku.
"Baruna!" seseorang memanggilku.
Aku menoleh melihat ke arah suara itu terdengar. Ayah memanggilku, dia melangkah menghampiriku.
"Ayah, kenapa ada di sini?"
"Ayah habis mengantar relasi ayah."
"Oh ...," sahutku datar.
"Kamu masih marah dengan ayahmu ini?"
"Lalu menurut Ayah bagaimana aku harus bersikap? Selama ini Ayah menutupi cerita sebenarnya," balasku ketus.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah terlalu takut membicarakan hal yang sebenarnya. Mari kita membicarakan hal ini lebih serius." Ayah mengajakku masuk ke dalam hotel, membawaku masuk ke dalam kafe.
Kafe di dalam hotel terlihat sepi. Hanya ada beberapa tamu yang singgah di dalamnya. Aku dan ayah duduk di sebuah meja bar panjang di mana hanya ada kami berdua.
"Jadi apa yang mau Ayah bicarakan?"
__ADS_1
"Dulu sekali, Ayah mempunyai seorang kekasih. Dia adalah cinta pertama ayah. Ayah sangat mencintainya. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Tapi kakek dan nenekmu menentang rencana kami karena dia berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja."
Ayah menghentikan ceritanya, lalu menyesap kopi yang berada di hadapannya.
"Lalu apa?" tanyaku.
"Wanita itu adalah Meri, ibumu. Tapi takdir berkata lain. Orang tua Ayah menjodohkan Ayah dengan wanita pilihan mereka, yaitu Aina. Dia wanita cantik dan terpelajar tapi sedikit ambisius dan angkuh."
"Ayah tidak memperjuangkan Bunda?" tanyaku.
"Sudah sekuat tenaga, Nak. Kamu tahu kakekmu itu sangat keras kepala. Mana bisa ayah membantahnya. Ayah menerima perjodohan itu. Tapi di belakangnya, diam-diam kami masih berhubungan."
"Ayah benar-benar berselingkuh?"
Ayah mengangguk kemudian melanjutkan ceritanya, "Perjodohan itu membuat Ayah marah dan kecewa. Ayah pun melampiaskan segalanya dengan melakukan kekerasan fisik dan menindasnya dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Dia tidak pernah mengadu apa pun yang ayah lakukan, menghabiskan waktunya seharian di perusahaan keluarganya yaitu Pradipta Corp. Dengan segala ambisi yang dia miliki, dia berhasil memajukan bisnis keluarganya dengan begitu cepat. Hal itu juga yang membuat Ayah semakin marah padanya. Sampai akhirnya dia menyerah dan meminta cerai. Kedua pihak keluarga tidak tahu apa alasan kami bercerai. Tapi bangkai pasti akan tercium juga bukan?"
"Ayah aku tidak mengerti. Lalu bagaimana dengan Reynand?"
"Ayah tidak tahu dia sedang mengandung. Sampai akhirnya terdengar kabar dia melahirkan. Tapi Ayah tidak diizinkan bertemu mereka sampai dengan akhirnya dia sudah dewasa sekarang ini."
"Kakek dan nenek, bagaimana dengan mereka?"
"Akhirnya tahu setelah sebelumnya Ayah membohongi mereka dan menuduh hal-hal yang sebenarnya tidak Aina lakukan. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, Ayah sudah mengatakan semuanya kepada kakek dan nenekmu. Ayah tidak pernah bahagia menikah dengannya. Sampai akhirnya mereka menyetujui hubungan Ayah dengan ibumu karena tidak tega melihat Ayah menderita. Apa kamu bisa memaafkan Ayahmu ini?"
"Entah, aku tidak mengerti Ayah. Kenapa mencintai harus sampai seperti itu? Ayah dan Bunda harus meminta maaf kepada Tante Aina secepatnya."
"Iya itu salah satu hal yang ingin ayah lakukan tapi kamu lihat sendiri kemarin bagaimana."
"Iya, Tante Aina sudah sangat membenci ayah."
"Iya entah sampai kapan dia akan bersikap seperti itu. Kamu juga tidak akan mengerti karena hidupmu begitu lurus tanpa hambatan, Nak."
Aku terdiam mematung, menelan ludahku. Tenggorokanku tercekat tidak bisa berkata-kata. Kata-kata ayah barusan menohok langsung ke dalam hatiku. Hidupku memang lurus, bahkan lurus sekali sesuai dengan yang kuinginkan. Peraturan memang adalah sebuah peraturan, tapi jika aku menyukai peraturan itu, kenapa juga aku harus melanggarnya?
"Apa Ayah tidak takut mengulang sejarah yang sama terhadapku dan Sheryl?" tanyaku tiba-tiba.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu? Bukankah kamu memang menyukainya dari dulu?" Ayah menoleh wajahku heran.
"Iya aku tahu. Tapi apa yang bisa menjamin aku tidak melakukan hal seperti itu. Di dalam tubuhku mengalir darah Ayah. Apalagi dulu dia tidak mempunyai perasaan apa-apa padaku."
"Hei anak Ayah, mengapa kamu begitu pesimis? Kalian sudah saling mencintai," ucap Ayah menghiburku. "Satu hal yang berbeda adalah hubungan kalian memiliki perjanjian tertulis. Kami menyebutnya Marriage Order Agreement."
Aku mendelik, mataku membulat terkesiap mendengar kata-kata ayahku. Dia memandangku dengan raut wajah serius.
Apa lagi itu ayah? Mengapa begitu banyak rahasia?
__ADS_1