
Baruna PoV
H-3 dini hari pukul 01.30.
Aku baru saja tiba di bandara di kotaku. Menggendong tas ransel berjalan menuju parkiran bandara. Pikiranku sudah bercabang ke mana-mana. Membayangkan raut wajahnya yang sudah mengetahui isi surat perjanjian tersebut. Bagaimana marah dan kecewanya ia padaku.
Panggilanku terus diabaikannya, membuat perasaan ini tiba-tiba tidak enak. Entah mengapa rasanya sekarang aku ingin sekali bertemu dengan calon istriku itu. Bergegas menemuinya sampai aku lupa entah sekarang sudah jam berapa.
Sheryl, jawablah panggilanku! Jangan kamu siksa aku seperti ini.
Aku mulai putus asa dan mengetik sebuah pesan terakhir di aplikasi berwarna hijau kepadanya. Semoga ia segera membacanya.
Jalan raya terlihat sangat sepi. Membuat aku tergoda untuk melajukan kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata agar secepatnya tiba di kediaman Sheryl.
Perasaanku semakin tidak enak. Pikiranku kacau tertuju pada pujaan hatiku itu.
Sheryl, semoga kamu baik-baik saja!
Bunyi ponsel membuyarkan lamunanku seketika, Aku melirik layar ponsel di dekatku. Sebuah panggilan dari Tante Rini.
Ada apa Tante Rini meneleponku dini hari seperti ini?
Konsentrasi mengemudi terpecah begitu saja saat hendak mengangkatnya.
Di dalam sini, terlihat sinar lampu menyilaukan berasal dari sebuah mobil truk dari arah berlawanan, melaju dengan kencang keluar dari jalur jalannya.
Truk melaju ke arahku dengan tidak terkendali. Aku tidak punya pilihan dan segera membanting setir ke kiri. Namun terlambat, sang supir truk menghantam mobilku dengan hebat.
Ckiiit!
Brak!
Mobilku berguling, dengan aku yang masih dalam keadaan sadar, kepalaku menghantam stir kemudi dan ...
Brak!
Semua terjadi begitu cepat dan saat mobilku berhenti dan berguling. Di bayanganku ada sheryl yang tersenyum, tapi bayangannya itu segera hilang dalam sekejap.
"Sheryl!" gumamku, lalu semuanya tiba-tiba menjadi gelap.
****
Reynand PoV
Rumah sakit, pukul 10.00 pagi.
Aku dan Sheryl berlari menuju ruang ICU rumah sakit. Tampak keluarga Baruna dan keluarga Sheryl yang sedang menunggu di ruang tunggu ICU. Tertunduk sedih menunggu Baruna yang belum menunjukkan perkembangan berarti.
Pujaan hatiku itu menangis tersedu-sedu menghampiri kedua orang tuanya. Kemudian menghampiri Ayah Anton dan Tante Meri. Dia memeluk Tante Meri erat.
"Tante, Kak Baruna ...." isaknya.
Tante Meri memeluknya dan mengusap punggung belakang Sheryl. Kasih sayangnya begitu terlihat nyata di kedua mataku. Dia ikut menangis. Anak satu-satunya sedang meregang nyawa. Aku menghampiri kedua orang tua Sheryl, bersalaman dengan mereka.
Suasana yang pilu itu menjadikanku merasa tambah bersalah. Baruna akan memberikan semuanya untukku. Jabatan dan hartanya untukku. Namun, aku malah sibuk ingin memiliki Sheryl.
__ADS_1
Rey, kamu sungguh manusia bejat. Tidak ada yang positif dari dirimu. Sekarang lihatlah adikmu sedang tidak berdaya di atas ranjang. Bisa-bisanya kamu sudah merenggut kehormatan Sheryl dan berpikir akan melamar wanita itu tadi.
Aku mengerjapkan mata sejenak. Berpikir apa yang harus aku lakukan sekarang. Sungguh, aku menyesal telah melakukan perbuatan sekeji itu. Ayah Anton yang melihatku segera beranjak dari duduknya. Dia merangkul bahuku.
"Rey, apa sekarang kamu ikut bersedih?"
Aku terdiam tidak menjawab. Sungguh malu dan berdosanya diri ini, memanfaatkan yang bukan haknya.
"Ayah tahu kamu ikut sedih. Doakan Baruna agar ia bisa kembali bersama kita. Maafkan dia jika dia ada salah padamu."
"Tidak Ayah, aku yang bersalah padanya. Anak Ayah yang itu, tidak memiliki salah satu pun. Tapi aku ...." Aku tidak sanggup meneruskan kata-kataku. Kata-kata berikutnya berganti dengan tangis yang pecah.
Ayah memegang kedua lengan atasku, lalu memelukku. "Hei .... Kamu laki-laki. Sudah dewasa pula. Jangan menangis seperti ini."
"Ayah ...." Aku masih terisak.
"Tenanglah, Baruna akan segera sadar. Ayah yakin!" Ayah menatap mataku, begitu yakin akan kata-katanya.
Aku hanya mengangguk, menggigit bibirku penuh keraguan. Rasa takut menyelimuti.
"Rey!" panggil Tante Meri.
Aku menoleh ke arahnya. Tante Meri menyunggingkan senyum tipis di hadapanku. Langsung segera kubalas dengan senyum yang sama.
"Ayo ikut Tante," ajaknya.
Aku segera menghampiri Tante Meri. Mengikutinya dari belakang. Kami akan melihat Baruna bersama.
Baruna, berjuanglah! Walau aku tidak tahu bagaimana caranya menatap wajahmu jika kamu bangun nanti. Namun, aku juga tidak tahu bagaimana mengampuni diriku jika kamu pergi selamanya.
****
Aku dan Pak Reynand baru saja sampai di ruang tunggu ICU. Mendapati kedua orang tuaku dan kedua orang tua Kak Baruna yang sudah berada di sana. Tertunduk sedih menunggu kabar dari dokter dan perawat.
Aku menghampiri Mama dan Papa. Tangisku pecah. Mereka memandang dengan tatapan sendu. Mataku lalu mengarah pada Tante Meri yang berkali-kali menyeka air matanya.
"Tante, Kak Baruna ...." isakku menghambur ke dalam pelukan Tante Meri.
Tante Meri menyambut pelukanku dengan hangat. Kami menangis bersamaan.
"Sheryl, kamu yang tabah. Baruna akan sadar. Yakin itu!"
"Tante ...." Aku tidak bisa mengontrol perasaanku yang begitu sedih. Hanya bisa menangisi semuanya.
"Sheryl, apa kamu mau melihat Baruna?"
Aku mengangguk.
Tante Meri lantas menoleh ke arah Pak Reynand. Dengan suaranya yang serak dia memanggil lelaki itu, "Rey!"
Pak Reynand menoleh ke arahnya. Sebuah senyum tipis diperlihatkan oleh pria itu.
"Ayo ikut Tante," ajak Tante Meri.
Pak Reynand lalu menghampiri kami. Tante Meri menggandeng tanganku. Kami pun berjalan masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Empat buah ranjang berjejer di sana. Masing-masing ditiduri oleh pasien yang tidak berdaya. Kami masuk ke dalam dinding kaca dengan tirai yang menutupi sekeliling ruangan itu.
Bip-bip-bip!
Suara yang berasal dari monitor di dekatnya berbunyi teratur. Memperlihatkan angka-angka atas kondisi Kak Baruna yang tertidur. Aku terkesiap melihatnya tidur tidak berdaya di atas ranjang. Matanya yang tertutup terlihat begitu damai.
Aku melihatnya dari dekat. Kepalanya penuh perban. Rambutnya yang tebal menghilang. Memandang kondisinya yang memprihatinkan.
Sayang, mengapa kamu jadi jelek seperti ini? Lihat rambutmu menghilang. Kamu sudah tidak tampan lagi.
Aku mengangkat kedua sudut bibirku tipis. Air mata jatuh mengalir dengan deras. Tante Meri buru-buru menyeka air mataku.
"Masih kuat?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Jika kamu sudah tidak sanggup, kita keluar saja," katanya lagi dengan suara serak
"Aku mau di sini sebentar. Aku ingin menemaninya walau sedetik saja, Tante," jawabku.
Tante Meri mengangguk. Aku membelai wajahnya dengan jari jemariku yang baru saja melakukan pengkhianatan padanya. Menggenggam tangannya yang kekar. Kakinya pun dibalut dengan gips tebal.
Sayang, bangunlah! Berjuanglah sekuat tenaga! Aku tidak tahu bagaimana nanti berhadapan denganmu. Apa kamu akan memaafkanku? Bagaimana jika kamu meninggalkanku? Aku tidak yakin menghadapi dunia ini hanya sendiri tanpamu.
Aku menoleh ke arah Pak Reynand yang memalingkan wajahnya. Entah apa yang dia pikirkan. Kami adalah orang paling munafik dan egois. Begitu sesak melihat Kak Baruna yang hanya bisa terbaring tidak berdaya.
"Sheryl, maafkan Baruna jika mempunyai salah padamu," ucap Tante Meri tiba-tiba mengusap lengan atasku.
Tidak Tante, aku yang banyak mempunyai salah padanya. Dia tidak pernah salah. Dia pelindungku.
"Tante, jangan berkata seperti itu. Dia akan sembuh. Kak Baruna-ku akan sembuh!" jeritku.
Tante Meri kembali memelukku. Dia berbisik, "Iya dia akan sembuh. Kalian akan menikah."
Kata-kata Tante Meri sangat menyejukkan sekaligus sebuah beban yang sangat berat. Aku kembali menangis tersedu-sedu. Pikiranku melayang menyesali semua yang telah terjadi.
Tante, aku telah mengkhianati anakmu!
Tiba-tiba teringat sebuah pesan terakhir yang kuterima dari Kak Baruna.
"Sayang, entah kenapa aku merasa tidak tenang saat ini. Pikiranku selalu tertuju kepadamu, Semoga kamu baik-baik saja di sana. Ketika kamu membaca pesan ini, maka ada satu yang perlu kamu ingat, kalau aku akan selalu mencintai kamu, wahai calon istriku."
The End Season 1
____________________
Hai Readers ....
Terima kasih sudah mengikuti cerita Marriage Order hingga sejauh ini. Dukung terus karyaku.
Bertemu lagi di season 2.
Salam Sayang,
Viviani
__ADS_1